
"Ah, maaf. Anda tidak seperti saat pertama bertemu. Berbeda 180 derajat. Apa anda baik-baik saja? Mengapa anda bangun? Ayo kembali ke kamar dulu, setelah itu kupanggilkan kakek," kata Mu Lian berusaha menggapai lengan pemuda itu.
Pemuda itu mundur satu langkah, masih menaruh curiga kepada Mu Lian. Mu Lian ingat kondisi pemuda itu ketika pertama bertemu, pemuda itu pasti masih mengingat pertarungan yang telah dilaluinya sehingga sulit percaya kepada orang asing.
Mu Lian pun menjelaskan bahwa kakeknya lah yang menyelamatkannya serta meyakinkannya bahwa jika Mu Lian berniat jahat padanya mungkin sudah dilakukannya saat pemuda itu tak sadarkan diri.
Ketika pemuda itu mendengar nama Mu Haocun disebut, pemuda itu hanya berkata,
"Mu Haocun?"
"Benar. Kakek sudah lama tinggal di dunia bawah dan bersembunyi di Lembah Ufuk Timur. Dan sekarang kakek sedang berkelana bersamaku," kata Mu Lian.
Mu Lian mengeluarkan tanda pengenal yang terbuat dari batu giok berwarna ungu. Warnanya jernih seperti kristal dan permukaannya sangat mengkilap.Terdapat pahatan bunga teratai di permukaan batu giok tersebut.
(Water Lily/Bunga Teratai Ungu)
Tanda pengenal ini diberikan oleh Mu Haocun ketika Mu Lian dan yang lain menetap di dalam gerobak. Mu Haocun mengatakan bahwa ini adalah tanda pengenal keluarga Mu.
Melihat tanda pengenal yang sudah lama tak dilihatnya itu, si pemuda tak lagi menolak bantuan Mu Lian untuk menopangnya dan membawanya kembali ke kamar. Hanya saja, tatapannya yang penuh tanya tak pernah lepas dari Mu Lian.
"Hmm? Ah, anda pasti bertanya-tanya sejak kapan Master Mu memiliki cucu. Semua yang bertemu dengannya pun sampai tak percaya dengan cerita ini.
Aku akan memperkenalkan diri sekali lagi. Nama ku Mu Lian, satu-satunya cucu dari Master Mu," kata Mu Lian dengan sopan.
Mu Lian sudah menerima Mu Haocun sebagai kakeknya, salah satu keluarganya di dunia yang baru ini. Dia tidak akan mengungkit keluarganya di Bumi.
Lagipula, tidak baik untuk mengungkit pintu ke dimensi lain, mengingat masalah itu pernah menjadi alasan terjadinya perang besar beberapa ratus tahun yang lalu.
Setibanya di kamar, Mu Lian membantu pemuda itu berbaring dan membetulkan selimutnya. Setelah memastikan pemuda itu berbaring dengan nyaman, Mu Lian pun segera mencari Mu Haocun di salah satu kamar.
Mu Lian sangat heran, kenapa tuan muda tak bisa mengetahui keberadaan Mu Haocun, padahal kamarnya dan kamar ini letaknya cukup dekat.
"Lian'er, ada apa? Apa yang kau pikirkan?" kata Mu Haocun bingung ketika melihat Mu Lian sedikit melamun.
"Kakek, kakek sedang apa sih sampai tidak tahu kalau pasiennya berkeliaran begitu saja di luar," kata Mu Lian.
"Oh, kakek sedang memeriksa ini," kata Mu Haocun menunjukkan selembar kertas mantra. Kertas itu adalah satu-satunya kertas mantra yang tersisa setelah mempurifikasi tuan muda.
"Kakek ini ada-ada saja. Sebaiknya kakek ke tuan muda, dia mencari kakek," kata Mu Lian.
Mu Lian mengikuti Mu Haocun kembali ke kamar tuan muda. Di depan kamar, Mu Haocun menatap ke arah Mu Lian dan terlihat sedikit ragu membuka pintu.
"Sebaiknya kakek saja yang menemui tuan muda. Ada sesuatu yang harus kakek katakan padanya," kata Mu Haocun setelah lama diam.
"Baiklah. Awalnya aku ingin menemani kakek agar kakek tidak lama-lama mengobrol dengannya. Kakek Yi menitipkan sesuatu padaku.
Katanya kalau aku ingin melihat benda ini, aku harus membukanya dengan kakek," kata Mu Lian sambil menunjukkan benda yang terbungkus kain berwarna abu-abu.
Mu Haocun menatap benda itu kemudian mengangguk, "Kakek tidak akan lama,"
Namun nyatanya, Mu Lian harus menunggu hingga makan malam sebelum akhirnya Mu Haocun pergi menemuinya di Gedung Pertemuan Utara.
"Itu pangsit terakhir! Itu kan milikku, kenapa kau merebutnya!"
"Memangnya di pangsit itu tertulis namamu? Tidak kan?"
"Mei jiejie!"
"Sudah. Ini, bawa pangsitku," kata Meimei.
Mu Lian mengamati Xiaoleng dan Xiaohua yang selalu rebutan makanan dalam diam. Keduanya selalu seperti itu, tiada hari tanpa bertengkar.
"Terimakasih, makanannya," kata Mu Lian meletakkan sumpit kemudian segera bangkit.
"Xiaoleng, Xioahua. Kalian adalah kakak dari adik-adik kalian. Jadi, kalau bisa jangan mencontohkan yang tidak baik. Berbagilah," kata Mu Lian kemudian melihat ke arah Mu Haocun,
"Ayo kakek, kita ke ruang kendali,"
"Kalau sudah selesai membantu Mei'er, jangan lupa bersih-bersih dan segera tidur. Dengarkan anak yang lebih tua, ok?" kata Mu Haocun ke anak-anak yang lebih kecil.
"OK!" jawab anak-anak secara bersamaan.
__ADS_1
Mu Lian dan Mu Haocun segera meninggalkan Gedung Pertemuan Utara. Bulan dan bintang terlihat indah meski di dalam gerobak.
Mu Lian membuat kondisi di dalam gerobak menyerupai kondisi di luar sehingga ketika malam tiba, di dalam gerobak pun begitu.
Hanya saja, Mu Lian membuat bulan dan bintang menyerupai bulan dan bintang yang ada di Bumi. Pasalnya, bulan di dunia ini berbentuk bulat namun bersinar dengan sangat terang seperti matahari.
Untungnya, letak bulan sangat jauh sehingga ukurannya lebih kecil dari bulan yang biasa ada di Bumi namun lebih besar dari pada bintang.
Setidaknya, cahaya dari bulan tersebut tidak seterang cahaya pada siang hari, yang begitu menyilaukan.
Dan bintang di dunia ini, selalu muncul dalam bentuk gerombolan cahaya yang sangat padat hingga menciptakan ilusi permadani cahaya di langit malam.
Dapat dikatakan malam di dunia ini seperti siang ke dua, yang suasananya tak kalah meriah dari siang hari.
Ketika Mu Lian pertama kali melihat hamparan bintang tersebut, Mu Lian selalu merasa dirinya tersesat. Dia merasa kecil di dunia asing.
Maka dari itulah Mu Lian membuat bulan dan bintang dalam gerobak menyerupai dengan bulan dan bintang yang ada di Bumi.
Mu Lian berjalan sambil menatap ke arah bulan dan bintang yang selalu dirindukannya itu. Disebelahnya, Mu Haocun pun selalu menatap bulan dan bintang yang baru pertama kali dilihatnya dengan tatapan penasaran.
Keduanya tiba di ruang kendali. Pada cermin langit terlihat pemandangan sabana, pohon dan langit dengan permadani cahaya.
Mu Lian dan Mu Haocun duduk berdampingan di pinggir kolam kemudian menatap benda yang baru saja dikeluarkan Mu Lian dari kantung dimensional.
"Oh, iya, kakek. Sebelum kita membuka ini, aku penasaran dengan satu hal," kata Mu Lian.
"Penasaran dengan apa?"
"Kenapa tuan muda tidak tahu kakek berada cukup dekat dengannya?"
"Oh, itu. Cedera tuan muda ada pada jiwanya, dia belum bisa menggunakan energi spiritualnya. Otomatis pengendalian chi nya pun berkurang drastis," kata Mu Haocun kemudian diam karena mengingat sesuatu.
"Wah, betapa tidak enaknya hidup tanpa bisa mengendalikan energi spiritual," kata Mu Lian jujur.
Karena memang itulah kesan Mu Lian setelah dapat mengendalikan energi spiritual. Apa-apa menjadi sangat praktis.
"Tunggu, Lian'er. Apa tuan muda mengatakan sesuatu?" kata Mu Haocun.
"Oh, aku ingat mendengar tuan muda berkata 'Siapa?' kepadaku," kata Mu Lian mengangguk.
"Bagaimana? Bagaimana suara tuan muda?" kata Mu Haocun tiba-tiba ingin bergosip.
"Suaranya?" kata Mu Lian mengingat-ingat kejadian tadi sore,
"Bagus, terdengar jantan, tipikal suara cowok tampan,"
"..."
"Kakek tidak akan mengerti. Yang jelas, suara itu adalah suara yang sulit dilupakan. Cukup tentang tuan muda. Ayo, kakek, mari kita lihat apa yang diberikan oleh Kakek Yi!" kata Mu Lian mengalihkan topik.
Tangannya berusaha menggapai-gapai bungkusan abu-abu misterius itu. Mu Haocun menghindari tangan Mu Lian kemudian membuka lapisan-demi lapisan kain abu-abu.
Apa yang ada di balik kain itu membuat Mu Lian sedikit kecewa karena benda itu tidak dapat dikenali bentuk aslinya seperti apa.
Benda itu terbuat dari metal, terdengar dari suara benturannya dengan lantai kayu ketika Mu Haocun meletakannya di atas lantai. Terdengar berat.
Namun benda itu terlihat seperti kertas yang telah diremas hingga bentuknya sedemikian rupa. Belum lagi benda itu dibakar hingga hitam legam, bau gosong tercium dari benda tersebut.
"Ini..." kata Mu Haocun mengingat-ingat dimana dia pernah melihat benda itu, "Pedang Pembelah Langit,"
"..."
Mu Lian tak habis pikir bagaimana Mu Haocun mengenali benda yang ada di depannya itu. Namun melihat wajah Mu Haocun yang sangat sedih dan seperti sedang bernostalgia, Mu Lian pun mau tak mau percaya pada Mu Haocun.
"Aku tak menyangka akan menemukannya dalam kondisi menyedihkan seperti ini," kata Mu Haocun, kesedihan terpancar jelas dari matanya.
Mu Lian diam, menunggu hingga Mu Haocun siap bicara. Ternyata pedang itu adalah salah satu diantara pedang paling terkenal di dunia.
Pedang ini termasuk pedang yang digunakan salah satu ahli senjata terkemuka di perang besar beberapa ratus tahun yang lalu dan berhasil membunuh lebih dari ratusan ribu makhluk abyssal.
"Kenapa pedang sehebat ini ada di Lereng Kaca?" kata Mu Lian akhirnya mulai mengerti mengapa Master Yi menunjukkan benda yang sudah menyerupai rongsokan ini kepada Mu Haocun.
"Lian'er. Yang harus kau ketahui adalah, setiap senjata yang ditempa oleh ahli Metalurgi, apalagi pedang yang memiliki nama setenar pedang ini, tak mudah untuk dihancurkan.
__ADS_1
Semenjak ditempa mengikuti spesifikasi si pemilik pedang, senjata akan sama seperti anggota tubuh seorang ahli senjata. Mereka akan tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan sang pemilik.
Dan seingatku, meski beliau sudah meninggal. Pedang itu seharusnya menyatu kembali dengan alam, bukan dalam kondisi seperti ini.
Pedang ini sudah menghilang sangat lama. Tak kusangka ada orang yang berani memperlakukannya seperti ini," kata Mu Haocun sedih.
"Kakek bilang bahwa pedang bernama tidak akan mudah hancur. Apa itu artinya pedang ini memiliki bahan penyusun istimewa yang dibutuhkan Lereng Kaca?
Mungkin saja mereka ingin mengekstrak sesuatu yang sangat penting dari pedang ini," kata Mu Lian menatap Mu Haocun.
"Kau benar. Penyusun sebuah pedang bernama sangat kompleks. Dari mineral berharga yang memiliki kesadaran sendiri sampai napas ahli Metalurgi yang memperkuat kesadaran si mineral.
Dua hal tersebut juga salah dua dari beberapa penyusun yang berharga. Kalau dilihat dari sejarah pedang ini, bisa kakek simpulkan bahwa Lereng Kaca mengekstrak zat abyssal yang diserap pedang ini.
Ingat, senjata dalam bentuk apa pun itu akan menyerap apa yang pemiliknya berikan padanya. Perang beberapa ratus tahun yang lalu berlangsung dalam waktu cukup lama.
Jadi dapat dipastikan kandungan abyssal yang ada dalam pedang ini sangat banyak," kata Mu Haocun sambil membungkus kembali benda menyedihkan itu.
"Semua yang berasal dari alam sudah sepantasnya kembali lagi ke alam. Nasib Pedang Pembelah Langit sangat tragis mengingat jasanya yang telah berhasil mencegah malapetaka jatuh ke dunia ini," kata Mu Haocun menghela napas panjang.
Sesuatu yang membakar benda itu hingga menjadi seperti ini mencegahnya untuk dapat kembali ke alam. Entah apa, namun itu mampu menghentikan proses dekomposisi pedang ini.
Jika manusia mengalami pembusukan, maka di dunia ini, senjata dapat mengalami dekomposisi. Hal tersebut terjadi karena senjata yang memiliki kesadaran dianggap hidup dan ketika kesadarannya mati, akan mengalami hal yang serupa dengan manusia yang mati.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk pedang ini?" kata Mu Lian menyentuh buntalan kain di tangan Mu Haocun dengan lembut.
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Mungkin kita bisa memberikan tempat untuknya beristirahat tanpa gangguan," kata Mu Haocun. Setidaknya hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk meredakan rasa bersalah mereka.
Setelah menyerahkan sepenuhnya benda yang dititipkan Master Yi, Mu Lian segera kembali ke dunia semu untuk mengasuh Xiaobai.
Keesokan paginya, Mu Lian melihat wajah serius Mu Haocun dan tekanan yang terasa disekelilingnya. Anak-anak yang biasanya selalu berisik, pagi itu, tak ada yang berani bersuara sedikitpun.
Semuanya fokus pada makanannya masing-masing dan memasang telinga, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kakek yang selalu berwajah ramah itu.
"Lian'er. Kakek akan pergi ke penginapan dan mungkin akan kembali besok. Mei'er, aku titipkan semua yang ada disini padamu, ya," kata Mu Haocun singkat.
"Baik, kakek,"
"Baik, Master Mu. Hati-hati di jalan,"
Setelah memberitahu apa yang harus Mu Lian lakukan untuk merawat tuan muda, Mu Haocun pun segera keluar melalui Pagoda Utara.
...
"Silahkan duduk. Terimakasih sudah mau menunggu, anda mencari pil apa? Kami pastikan bahwa pil buatan ketua kami adalah kualitas terbaik yang pernah ada," kata Meng Zhi dengan senyum bisnis terbaiknya.
"Ini aku," kata Mu Haocun melepas penyamarannya.
"Astaga! Kau selalu membuat jantungku copot," kata Meng Zhi mengelus dadanya.
"Ah Yi dan Ah Zhou?" tanya Mu Haocun.
"Oh, mereka dijemput Lereng Kaca. Sejak tadi pagi mereka berisik sekali agar aku ikut dengan mereka, untungnya Ah Yi bersikeras menggantikanku," kata Meng Zhi menggeleng kemudian mencuri pandang ke arah Mu Haocun.
Melihat wajahnya yang sangat serius, Meng Zhi pun tahu bahwa Lereng Kaca atau siapapun itu telah melewati batas dan membuat Mu Haocun sangat kesal.
"Bagaimana dengan tuan muda?" kata Meng Zhi berusaha mencairkan suasana.
"Kondisinya cukup stabil jadi kuserahkan saja pada Lian'er. Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dunia bawah jadi aku buru-buru kemari.
Penyerangan terhadap makhluk legenda, penjualan anak-anak dibawah umur, penipu yang menyamar menjadi diriku, tersebarnya obat racik yang berbahaya, diburunya makhluk mitos.
Selain itu datangnya tuan muda ke dunia bawah patut dipertanyakan dan Pedang Pembelah Langit yang diperlakukan tidak pantas," kata Mu Haocun mengelus dagunya.
"Peristiwa-peristiwa tersebut tidak bisa disebut sebagai kebetulan bukan?" kata Meng Zhi mengangguk. Hmm?
"Tunggu, kau bilang Pedang Pembelah Langit?" kata Meng Zhi bingung mendengar nama yang sudah cukup lama tidak disebut. Mu Haocun mengangguk kemudain menceritakan semuanya pada Meng Zhi.
"Gila, dunia sudah gila," gumam Meng Zhi.
"Dunia sudah gila ketika ada yang secara terang-terangan menyerangmu," kata Mu Haocun.
"Aku sudah berjanji akan datang ke Lereng Kaca besok. Kita jalankan saja rencananya besok," kata Meng Zhi.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik," kata Mu Haocun mengangguk.