
"Bergerak! Akhirnya!" kata Mu Lian.
Mu Lian menatap susunan bintang yang mulai bergerak. Indah. Setelah tiga minggu akhirnya ada pergerakan pada susunan bintangnya.
Mu Lian memusatkan perhatiannya lagi, takut jika perasaan menggerakkan susunan bintang tersebut hilang hingga ia lupa bagaimana melakukannya.
Beberapa saat kemudian Mu Lian membuka matanya kemudian bangkit untuk merayakan keberhasilannya memanipulasi energi spiritual.
"Kakek, aku berhasil!" kata Mu Lian.
"Bagus! Kerja bagus, bagaimana perasaanmu?" kata Mu Haocun.
"Tubuhku terasa ringan!" kata Mu Lian.
"Hmm? Tunggu, apa kau merasakan seperti sedang membuka gerbang kemudian setelah melewati gerbang tersebut tubuhmu terasa ringan?" kata Mu Haocun.
"Benar, bagaimana kakek tahu?" kata Mu Lian.
Mulut Mu Haocun terbuka. Bagaimana bisa gadis ini mendapat ilham sesaat sebelum dirinya berhasil memanipulasi energi spiritual?
Mu Lian berhasil naik ke tingkat selanjutnya energi spiritual. Sama halnya dengan tingkat kultivasi, energi spiritual seseorang pun bisa naik ke tingkat selanjutnya.
Hanya saja untuk naik, seseorang memerlukan usaha lebih dan sangat jarang yang bisa naik ke tingkat selanjutnya.
"Selamat atas naiknya energi spiritualmu ke tingkat selanjutnya, Lian'er," kata Mu Haocun sambil tersenyum.
Bagaimanapun juga pencapaian ini patut dirayakan. Mu Haocun bertanya apakah malam ini Mu Lian hendak merayakan pencapaiannya bersama yang lain namun Mu Lian menolak.
Mu Lian berkata ingin segera belajar api pil agar dia bisa membuat pil. Meski awalnya Mu Lian tidak begitu peduli dengan membuat pil, jika sudah terlanjur belajar membuat api pil sebaiknya Mu Lian belajar cara membuat pil.
Mu Lian memaksakan diri untuk melakukan perjalanan ke ibu kota pun, keadaan tidak memungkinkan.
Mu Haocun mengatakan bahwa berpergian pada musim dingin sangat berbahaya. Apalagi pada penghujung musim dingin, yaitu beberapa jam memasuki musim semi.
Musim di negeri ini dibagi menjadi dua saja, yaitu musim semi dan musim dingin. Secara logika perbedaan suhunya terlalu jauh sehingga cuacanya pun terbilang cukup ekstrim.
Misalnya saja, musim peralihan antara musim semi ke musim dingin yang berlangsung selama dua bulan.
Pada dua bulan tersebut akan terjadi angin tornado dimana-mana, yang diakibatkan oleh perbedaan suhu yang cukup jauh.
Dampak musim peralihan saja terasa sangat mengerikan, apalagi yang terjadi dalam beberapa jam memasuki musim semi.
Pada jam-jam terakhir memasuki musim semi, suhu perlahan-lahan semakin naik. Meskipun begitu, karena perubahan suhu terjadi hanya dalam kurun waktu singkat, menyebabkan fenomena yang disebut heat blast.
Orang-orang menyebutnya ledakan panas namun yang sebenarnya terjadi adalah sel-sel dalam tubuh makhluk hidup yang terpapar perubahan suhu pada jam-jam terakhir memasuki musim semi akan membeku hingga tak bersisa. Makhluk hidup tersebut pecah berkeping-keping disertai bunyi yang keras.
Seluruh tumbuh-tumbuhan yang sejak awal musim dingin sudah dilapisi es biasanya akan selamat dari ledakan ini.
Dipercaya bahwa es-es yang melapisi tumbuhan tersebut lah yang menyelamatkan mereka. Entah mengapa lapisan-lapisan es tersebut dapat melindungi tumbuhan agar tidak meledak akibat dampak perubahan suhu tersebut.
Mu Lian selalu dibuat bergidik mengingat cerita tersebut. Hingga akhirnya Mu Lian mengalihkan perhatiannya pada belajar membuat pil agar Mu Lian tidak terlalu memikirkan cerita tersebut.
"Hmm baiklah, apa kau lelah? Sebaiknya kita lanjutkan nanti malam," kata Mu Haocun.
"Yah, padahal aku benar-benar menantikan api pil," kata Mu Lian murung.
"Jangan begitu. Kau harus merawat tubuhmu agar bisa belajar lebih banyak lagi," kata Mu Haocun.
"Baik, kakek," kata Mu Lian.
Siang itu Xiaoxiao datang untuk bergabung makan siang. Meskipun wajahnya merah padam sepanjang makan siang karena Han Tengfei, namun suasana di meja makan terasa harmonis.
Xiaoxiao sudah resmi menjadi murid Master Zhengheng. Kemarin sore, sepulang dari klinik, Xiaoxiao langsung meminta Master Zhengheng untuk menerimanya jadi murid.
Mu Lian, Dongshan dan Yi Xue menyaksikan upacara minum teh antara guru dan murid tersebut.
Awalnya Mu Lian hendak mengajak kembali orang-orang yang datang pada jamuan makan malam di rumah Mu Haocun kemarin. Namun sepertinya itu tidak mungkin dilakukan.
Upacara minum teh berjalan sangat khidmat karena dihadiri oleh tiga orang saja. Namun maknanya masih sama sakralnya dengan upacara yang dilakukan secara besar-besaran.
Mu Lian tersenyum mengingat upacara minum teh kemarin sore. Sore ini Mu Lian merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama Xiaoxiao, Ling Zizhou dan Han Tengfei.
Kegiatan yang kali ini yang akan mereka lakukan tentu saja merayakan resminya Xiaoxiao menjadi murid Master Zhengheng.
Mereka akan minum teh bersama dan berbincang. Dan Mu Lian merasa ini kesempatan bagus untuk mendekatkan Xiaoxiao dan Han Tengfei.
Namun sepertinya ada seseorang yang tidak suka dengan kegiatan sore itu. Sepanjang minum teh, Ling Zizhou selalu melontarkan kata-kata pedasnya, baik itu kepada Han Tengfei maupun Xiaoxiao.
__ADS_1
Ketika Mu Lian mengijinkan Ling Zizhou untuk pergi, pemuda itu malah merasa dirinya diusir. Lepas daripada itu, kegiatan minum teh sore berjalan lancar.
Xiaoxiao pulang sebelum matahari terbenam. Meski begitu, langit sudah gelap dan jarak pandang sudah pendek. Mu Lian pun meminta agar Han Tengfei mengantarkan Xiaoxiao pulang ke rumah karena khawatir.Setelah melihat keduanya keluar gerbang, barulah Mu Lian ingat lagi dengan pelajaran malam ini.
Mu Lian tidak mengingat kejadian setelah Xiaoxiao pulang, baik itu ketika Ling Zizhou menegur dirinya agar tidak melamun ketika sedang membantunya memasak ataupun ketika Mu Lian sedang memakan makanan yang ada di hadapannya.
Mu Lian sudah tidak sabar lagi! Seusai makan, Mu Lian segera meluncur menuju kamar Mu Haocun. Mu Lian menunggu dengan sabar hingga Mu Haocun menyelesaikan segala urusannya dan masuk ke dalam kamar.
"Haha, sepertinya ada yang benar-benar tidak sabar," kata Mu Haocun tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja! Kakek tidak tahu, sudah berapa lama aku menunggu waktu ini tiba," kata Mu Lian tak
sabar.
"Baiklah. Tapi jangan memaksakan diri, ya. Jika terasa sulit, jalani perlahan saja," kata Mu Haocun.
"Baik, kakek," kata Mu Lian.
Melihat ketetapan hati Mu Lian, Mu Haocun hanya bisa mengikuti keinginan Mu Lian. Mu Haocun menjelaskan dasar-dasar membuat api pil menggunakan energi spiritual.
Mu Haocun menjelaskan sambil membimbing Mu Lian melakukan langkah-langkah membuat api pil untuk pertama kalinya.
Keringat menetes dari kening Mu Lian. Mu Lian tidak sempat memikirkan untuk menyeka keringat yang menetes itu karena terlalu fokus untuk memanipulasi energi spiritualnya.
Kening Mu Lian mengernyit namun hal itu tidak dapat membantunya memanipulasi energi spiritual.
Mu Lian mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Dia memejamkan matanya sambil mengatur napas.
Sulit. Mu Lian tidak terbiasa memanipulasi energi spiritual dalam keadaan berdiri. Selama tiga minggu terakhir ini dia berhasil memanipulasi energi spiritual dalam posisi meditasi.
"Jangan murung, kau belum bisa karena belum terbiasa," kata Mu Haocun.
"En," kata Mu Lian tersenyum.
Mu Lian memutuskan untuk mengalir mengikuti arus saja. Mungkin jika dia lebih rileks dan tidak terlalu memikirkan target, dia bisa melakukannya.
Mu Lian berkonsentrasi kembali dalam percobaan keduanya memanipulasi energi spiritual.
Setelah beberapa siklus percobaan dan istirahat, akhirnya Mu Lian berhasil memanipulasi energi spiritual miliknya.
Mu Haocun kemudian menjelaskan penggunaan energi spiritual yang dapat menunjang kehidupannya.
Setelah mencoba menggunakan indera spiritual miliknya, Mu Haocun dapat memastikan jika indera spiritual milik Mu Lian lebih jauh jangkauannya dari pada milik Ling Zizhou.
Kemudian Mu Haocun menjelaskan bagaimana caranya menggerakkan benda seperti sedang melakukan telekinesis.
Selain itu Mu Lian diajarkan cara membuat perisai dari energi spiritual, karena sebuah serangan bukan hanya dari serangan fisik atau mantera saja melainkan ada yang berbentuk spiritual seperti serangan spirit beast tipe penjebak.
Ketika Mu Lian berhasil membuat perisai, Mu Lian jatuh terduduk. Mu lian merasa kekuatan menghilang dari kakinya dan tubuhnya seperti tertimpa beban yang sangat berat.
"Sebaiknya kita sudahi pelajaran hari ini. Kau sudah menghabiskan cukup banyak energi spiritual," kata Mu Haocun.
"Uh, tubuhku terasa berat," keluh Mu Lian.
...
Satu minggu berlalu.
Mu Lian terlihat berlalu lalang di sepanjang lorong lantai dua. Angin musim dingin masuk dari celah-celah jendela mengenainya namun Mu Lian tidak menghiraukannya.
Tangannya penuh dengan tanaman herbal, meski begitu Mu Lian harus kembali lagi ke gudang penyimpanan untuk mengambil beberapa tanaman herbal lain.
"Butuh bantuan?" tanya Mu Haocun.
"Tidak perlu, kakek duduk saja," kata Mu Lian tersenyum.
Mu Lian meletakkan tanaman-tanaman herbal tersebut di lantai karena tidak cukup diletakkan di meja Mu Haocun.
Kuali indah miliknya pun diletakkan di tengah lautan tanaman herbal itu. Sudah lama kuali itu ditelantarkan di atas meja.
Meski begitu kuali tersebut nampak bersih dari debu karena setiap malam Mu Lian seka. Kegiatan itu selalu menjadi motivasi agar dia tidak pantang menyerah ketika masih belajar memanipulasi energi spiritual.
"Perlu kakek ulangi lagi apa saja yang dibutuhkan untuk membuat pil kehidupan?" kata Mu Haocun.
"Tidak perlu, aku masih mengingatnya," kata Mu Lian.
Benar. Hari ini untuk pertama kalinya, Mu Lian akan membuat pil kehidupan. Satu minggu terakhir Mu Lian belajar memanipulasi energi spiritual tidak sia-sia.
__ADS_1
Tepat satu minggu Mu Lian belajar, dia mampu membuat api miliknya sendiri! Setelah menstabilkan api miliknya selama lima hari, Mu Haocun menilai jika Mu Lian sudah dapat menggunakan api tersebut.
Mu Lian menatap tanaman-tanaman herbal yang tergeletak di hadapannya kemudian menatap kuali yang terlihat sangat mencolok miliknya.
"Kau bisa mulai," kata Mu Haocun.
Mu Lian mengerahkan energi spiritualnya ke arah kuali miliknya. Kuali itu melayang akibat pengaruh energi spiritual Mu Lian.
Tatapan Mu Lian menajam karena kali ini langkahnya akan semakin sulit. Mu Lian mengerahkan energi spiritual miliknya untuk memisahkan sekian banyak chi miliknya.
Chi tersebut kemudian dipadatkan hingga batas tertentu hingga mampu menciptakan api. Mu Lian melakukan langkah-langkah di atas dengan hati-hati.
Mu Lian merasakan energi spiritualnya sedikit bergetar meski sudah genap satu bulan dia belajar. Mungkin karena Mu Lian kurang pengalaman menggunakan api pil miliknya saja.
Meski begitu, Mu Lian pantang mundur. Lama kelamaan chi yang sudah dipadatkan tersebut akhirnya menciptakan api.
Dengan bunyi menyerupai hempasan angin, api berwarna ungu muda muncul beberapa senti di atas telapak tangan kanan Mu Lian.
Kemudian Mu Lian membuat kuali melayang mendekati telapak tangannya. Kuali tersebut berhenti ketika tegak lurus dengan telapak tangan kanannya.
Selama proses pembuatan pil, Mu Lian dituntut untuk selalu mengaktifkan indera spiritualnya sehingga Mu Lian mengerahkan indera spiritualnya hingga menyapu kuali yang ada di atas telapak tangannya.
Indera spiritualnya terus menyebar hingga ke luar kamar Mu Haocun. Hal ini tidak bisa Mu Lian hindari karena jangkauan indera spiritual menyesuaikan kekuatan energi spiritualnya miliknya.
Mu Lian merasakan kuali itu bergetar, menandakan bahwa kuali itu siap untuk digunakan.
Mu Lian mengerahkan energi spiritualnya ke arah tanaman-tanaman herbal. Tanaman-tanaman yang terkena energi spiritual miliknya kemudian terangkat satu per satu ke arah kuali.
Mu Lian mulai memasukan tanaman-tanaman herbal secara berurutan. Total ada sepuluh tanaman herbal yang digunakan untuk membuat pil kehidupan.
Berdasarkan panduan membuat pil kehidupan, dua bahan utama yaitu Danggui dan Si Cao, dicampurkan pada pertengahan proses pembuatan pil.
Tutup kuali terbuka dan lima tanaman masuk secara berurutan ke dalam kuali. Kelima tanaman tersebut langsung meleleh setelah mendapatkan panas dari api pil.
Keunikan api pil adalah suhunya yang dapat dikontrol dengan sangat mudah. Hanya dengan memanipulasi energi spiritual, seseorang dapat membuat api pil sangat panas hingga melelehkan besi.
Keunikan yang kedua adalah api pil benar-benar dapat mengubah bentuk tanaman herbal menjadi cairan sepenuhnya tanpa menguapkan cairan tersebut.
Apabila menggunakan api biasa, tanaman tersebut mungkin sudah terbakar habis, kecuali dicampurkan dengan air.
Namun mencampurkan air saat proses pembuatan pil membuat zat pelarut lebih banyak sehingga resiko mengalami kegagalan sangat besar.
Karena sama sekali tidak mencampurkan air kedalamnya, maka sebutir pil memiliki konsentrasi yang tinggi.
Merasakan struktur cairan di dalam kuali sudah pas, Mu Lian memasukkan Danggui dan Si Cao. Tutup kuali yang sejak tadi melayang dekat kuali, akhirnya digunakan juga untuk menutup kuali.
Mu Lian memejamkan mata untuk merasakan 'waktu' yang tepat untuk mencampurkan katalis. Jika dia terlambat sedetik saja, Mu Lian harus memulai dari awal.
Dengan perasaan seperti bulu kuduknya sedang berdiri, Mu Lian langsung membuka tutup kuali dan memasukkan dua tanaman katalis.
Kuali ditutup kembali.
Langkah selanjutnya masih tak kalah menyulitkan karena jika seseorang tidak pandai mengontrol apinya, campuran tanaman herbal tersebut bisa meledak. Demikian pula halnya pada penghujung proses pembuatan pil.
Kuali mulai bergetar hebat dan Mu Lian merasakan tekanan yang sangat kuat dari dalam kuali.
Mu Lian mengontrol apinya dan menjaga indera spiritualnya tetap aktif untuk mengawasi campuran tanaman herbal tersebut.
Sepertinya tidak ada masalah. Namun Mu Lian tidak menyangka akan merasakan tekanan yang kuat ini.
Beberapa detik kemudian getaran mereda hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Mu Lian merasakan tidak ada masalah sehingga dia membuka tutup kuali dan memasukkan tiga tanaman herbal terakhir.
Mu Lian menutup kuali sambil menghembuskan napas. Bukan napas lega, melainkan untuk menenangkan dan menyemangati dirinya.
Mu Lian mengernyit, getaran kali ini terasa sangat kuat. Begitu pun dengan tekanan yang rasakan.
Lima menit berlalu terasa seperti beberapa jam.
Kepanikan melanda Mu Lian ketika lima menit berlalu namun getaran tak kunjung reda.
Mu Lian dapat merasakan dirinya sudah sangat lelah dan energi spiritualnya mulai menipis.
Jangkauan indera spiritualnya yang menyelimuti hingga keluar kamar Mu Haocun semakin menyusut dengan kecepatan yang meresahkan.
Energi spiritual memang tidak bisa habis sepenuhnya. Namun jika energi spiritualnya berada dalam di tingkat terendah hingga tidak bisa digunakan sementara waktu, apa yang terjadi pada pil kehidupannya?
__ADS_1
Mu Lian hanya bisa pasrah dan mengerahkan sisa energi spiritualnya untuk mengontrol api. Kini indera spiritualnya sudah menyusut hingga lima langkah dari dirinya.