
3 jam sebelum suara pria menggemparkan sepenjuru Gua Suci, di pegunungan utara, akhirnya anggota elit sekte aliran sesat menunjukkan taringnya.
Yang pertama bergerak adalah nomer 3, anggota elit dari sekte aliran sesat. Dengan menggunakan senjatanya, rantai yang ujungnya dipasang belati menyerupai kunai, menyusup ke gua yang didiami sebuah kelompok.
"Uakh!"
"Hati-hati!"
Senjata itu merayap diam-diam seperti ular dan menerkam siapa saja yang lengah. Aura abyssalnya yang memiliki sifat ilusi optik menyulitkan orang-orang menentukan lokasi senjata tersebut.
Meski memiliki keuntungan tidak bisa ditentukan lokasinya, senjata itu tidak pernah menyerang orang yang sama lebih dari sekali. Gaya serangan nomer 3 menyerupai assasin.
"Sialan! Keluar kau pengecut!" seru salah seorang korban pria bermata panda. Pria itu sangat kesal karena diserang entah dari mana, namun ketika dicari, dia tidak menemukan apa yang menyerangnya.
Pria itu dan rekan-rekannya menghiraukan luka sayatan yang dibuat oleh senjata itu dan keluar untuk mencari siapa yang berani menyerang mereka secara diam-diam.
Semuanya tidak menyadari bahwa luka sayatan pada tubuh mereka, mulai infeksi dan proses pembekuan darah menjadi berhenti sama sekali sehingga darah mengalir dari luka tersebut.
Ketika sadar, orang-orang yang terluka dengan senjata si pria bermata panda telah mengalami anemia dan merasakan kepala mereka pusing.
Belum lagi aura abyssal menggerogoti meridian mereka perlahan tapi pasti mengarah ke dalam dantian.
Di luar, pria bermata panda dan tiga orang rekannya sudah menunggu. Wanita yang berdiri disebelah nomer 3 hanya tersenyum melihat orang-orang di depannya yang belum sadar bahwa saat ini nyawa mereka sudah berada di tangannya.
"Aku ingin melemaskan sendi-sendi tubuhku," kata si wanita.
"Kau yakin nomer 2? Luka di bahumu sudah sembuh?" kata si pria pendek. Nomer 2 memutar matanya.
"Sejak kapan kau peduli padaku nomer 7?" kata nomer 2.
"Cukup! Kalian berisik sekali!" kata nomer 3.
"Wkwk, nomer 3 dan pendengarannya," kata nomer 2 menunjukkan ekspresi geli namun tiba-tiba mengernyit karena pria muda yang dari tadi diam disampingnya menerjang mangsanya.
"Hei, nomer 6!" kata nomer 2 dengan kesal mengeluarkan cambuknya yang dilapisi sisik berwarna hitam.
"Ah, karena nomer 6 maju, aku diam saja disini," kata nomer 7 namun tetap mengeluarkan palu gada yang melebihi ukuran tubuhnya. Palu itu diletakkan disampingnya.
Misi mereka adalah mengekstrak dantian semua orang yang ada di kelompok itu. Dalam prosesnya, membutuhkan keakuratan yang tinggi. Senjata nomer 7 memiliki ukuran sangat besar sehingga tidak mungkin melakukan ekstraksi.
Cambuk milik nomer 2 dan jarum-jarum milik nomer 6 lah yang tepat dalam misi ini. Sebelum bala bantuan datang, nomer 2 dan nomer 6 selesai mengekstrak dantian, tinggal jasad tanpa dantian saja yang tergeletak di depan mereka.
__ADS_1
"Oh! Menarik sekali, aura abyssal semakin kuat saat aku terluka! Hei nomer 6, kau merasakannya juga bukan?!" kata nomer 2.
"Benar. Perasaan ini..." kata nomer 6 dengan tatapan candu.
"Ho. Pantas saja racunku bekerja dengan sangat cepat," kata nomer 3. Dari empat orang yang dikirim menjalankan misi ini, hanya nomer 7 saja yang tidak terluka.
"Baguslah. Cepat cari yang lain. Nomer 1 pasti sudah menunggu kita!" kata nomer 7.
"Menunggu kita? Heh, yang ada saat ini nomer 1, 4 dan 5 sedang bertarung mati-matian," kata nomer 3 sambil menyeringai karena ekspresi nomer 2 memburuk.
Nomer 3 tahu bahwa nomer 2 mengejar-ngejar nomer 1. Ketua sekaligus majikan mereka dalam misi bunuh diri ini. Nomer 1 bebas melakukan apa saja kepada nomer 2, 3, 4, 5, 6 dan 7.
Entah karena ingin memanfaatkan nomer 1 ataukah hanya ingin mencari tempat berlindung, yang pasti perasaan yang dimiliki nomer 2 terhadap nomer 1 bukanlah sesuatu yang mirip dengan suka atau cinta.
Tatapan orang yang sedang jatuh cinta bukanlah seperti yang ditunjukkan nomer 2 saat ini. Nomer 2 setelah sempat terdiam, segera masuk ke dalam gua untuk membereskan sisa dari kelompok itu.
"Pfft, HAHA.." nomer 3 tertawa.
Hati nomer 3 senang karena bisa membuat nomer 2 bekerja dengan cepat. Mungkin ada 3 sampai 5 kelompok lagi yang harus mereka kunjungi sebelum akhirnya membantu nomer 1, 4 dan 5 merebut inti Gua Suci.
Dengan motivasi tinggi nomer 2, misi mereka selesai dalam 30 menit. Keempatnya segera kembali untuk bergabung dengan nomer 1, 4 dan 5.
Nomer 2 menghiraukan darah yang telah mengotori pakaiannya karena mendengar suara pertarungan dan pagoda transparan yang bersinar dengan terang. Asap hitam terperangkap dalam pagoda itu.
"Satu orang tertangkap! Cepat, kalahkan satu orang lagi!"
Sebelum nomer 2 bereaksi, aura nomer 7 tiba-tiba meningkat. Tanpa nomer 2 sadari, nomer 7 sudah jauh di depan dan terus menjauh. Hingga akhirnya nomer 7 tak terlihat lagi karena sudah memasuki medan pertarungan.
BAAM.
Suara yang sangat keras seperti suara guntur terdengar, debu dan tanah menghambur ke atas setinggi 10 meter.
Suara pertarungan semakin intens apalagi setelah nomer 2, 3, dan 6 yang bergabung belakangan. Meski ketiganya hanya bisa membantu dari belakang, tak butuh waktu lama hingga akhirnya orang terakhir dari kelompok lawan tumbang.
Nomer 4, yang terperangkap dalam pagoda segera menghampiri nomer 5 dengan kesal setelah pagoda hancur berkeping-keping karena si perapal mantranya mati.
"Nomer 5, kau bercanda ya! Katakan dengan jujur, apa yang terjadi padamu?" kata nomer 4.
"Sudah! Bicaranya nanti saja! Sekarang kita fokus dulu ke inti gua," kata nomer 1. Nomer 1 takut kalau kelompok-kelompok yang menjelajah wilayah perairan telah kembali.
Dengan terlukanya nomer 2, 3, dan 6 kekuatan tempur mereka menurun drastis. Belum lagi ternyata nomer 5 juga terluka, dan yang bersangkutan menutupi kondisinya dari rekan-rekannya!
__ADS_1
Nomer 1 memimpin nomer 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 ke daerah yang kelihatannya biasa saja namun setelah nomer 4 menghancurkan alat ajaib yang disebar di daerah itu, deretan pohon yang penuh dengan energi kehidupan dengan kuncup-kuncup yang berada di sekitar akarnya pun terungkap.
Di pusat pohon-pohon yang kaya akan energi kehidupan tersebut tergeletak sebuah batu besar menyerupai telur. Permukaannya retak di bagian tengah dan menampakkan bagian dalam telur tersebut.
Permukaan sehalus pualam memancarkan sinar biru. Sinar itu berdenyut berirama, seperti detak jantung makhluk hidup.
"Kita belum terlambat," kata nomer 1 di depan inti Gua Suci. Inti Gua Suci akan menampakkan diri setelah beberapa siklus.
Ketika banyak yang mengambil harta berharga dari wilayah perairan, Gua Suci langsung mengalami beberapa siklus dengan cepat.
"Setelah menunggu lapisan pelindung inti meluruh sepenuhnya dan kuncup-kuncup bermekaran, tuangkan dantian yang telah kalian ekstrak ke dalam kuncup-kuncup tersebut," kata nomer 1. Semuanya mengangguk.
Nomer 1 duduk di bawah salah satu pohon dalam diam. Tidak meminta penjelasan kepada nomer 5, tidak juga melerai pertengkaran yang terjadi diantara nomer 4 dan nomer 5. Nomer 1 tahu bahwa nomer 4 sebenarnya peduli kepada nomer 5.
Butuh waktu dua jam hingga lapisan batuan yang menutupi inti gua meluruh sepenuhnya. Saat pecahan terakhir jatuh ke tanah, kuncup-kuncup yang berada di akar pohon bermekaran.
Nomer 2, 3, 5 dan 6 menuangkan zat yang diperangkap dalam air, bentuknya menyerupai janin di dalam air ketuban, ke dalam putik bunga yang menyerupai corong.
Satu demi satu zat aneh itu dituangkan ke dalam putik bunga. Bunga lama-lama berubah warna menjadi kehitaman, yang awalnya tidak berbau menjadi bau busuk dan energi negatif mulai terasa di udara sekitar.
Dengan aura negatif yang terakumulasi baik dari bunga maupun dari udara sekitar, inti gua berdenyut sangat cepat. Sinar birunya terlihat berusaha keras menolak kegelapan yang hendak menelannya bulat-bulat.
Nomer 1 mengamati sinar biru tersebut dengan tatapan dingin. Apa yang mereka lakukan ini sebenarnya terlarang.
Merebut dantian dosanya lebih berat dibandingkan membunuh seseorang! Secara tidak langsung mereka menentang prinsip bahwa semua yang sudah mati akan kembali lagi ke alam.
Namun nomer 1 tidak peduli, di hanya ingin cepat-cepat masuk ke Gua Sejati dan mengabulkan keinginan terakhir si empunya Gua Suci dan keluar dari sini.
Namun tiba-tiba sinar yang lebih terang daripada sinar biru muncul dari dalam sinar biru. Awalnya sinar itu menelan sinar berwarna biru kemudian sinar itu menghancurkan kegelapan sepenuhnya.
Seiringan dengan munculnya sinar putih, suara seorang pria yang mengutuknya meresap ke dalam jiwanya. Pupil nomer 1 memipih mendengar suara itu. Tubuhnya pun sempat mematung sebelum ikut melayang bersama akar yang sedang didudukinya.
...
Saat semua makhluk hidup dan benda mati yang ada di Gua Suci mulai tersedot ke arah makhluk raksasa, Mu Lian dan Mu Haocun baru saja memasuki ruang kendali.
Mu Lian dan Mu Haocun terkejut melihat pantulan Cermin Langit. Pohon, tanah, spirit beast, Xiaohan, Xiaoqiu, dan Meng Zhi berterbangan di udara.
Tunggu. Mu Lian dan Mu Haocun saling menatap. Mu Lian segera berdiri di atas kendali dan menyalakan alat komunikasi.
"Siapa saja, kalian mendengarku? Kenapa Xiaohan, Xiaoqiu dan Zhi ge berterbangan di langit?"
__ADS_1