
[Mengingat situasi yang sudah sangat diluar kendali dan tidak ada solusi tepat untuk mengalahkan makhluk yang dulunya adalah Tuan Xiaoman, kepala dewan memutuskan untuk melakukan deportasi.
Memang sangat disayangkan, tapi untuk menghindari korban lain, hanya satu pilihan itu saja yang dirasa paling tepat untuk saat ini]
Ucapan Dongfang Xing yang di dengar Mu Lian dua hari yang lalu masih saja terngiang di telinganya. Nasib Xiaoman yang telah jatuh menjadi makhluk abyssal, deportasi. Di dunia ini, seseorang yang dideportasi sama saja sudah mati.
Orang tersebut akan dibuang dari dunia ini melalui ujung dunia. Mu Lian mengingat gambar dunia bawah yang menyerupai bunga dengan empat kelopak.
Ujung dunia merupakan bagian ujung kelopak bunga. Apa yang ada setelah ujung kelopak tersebut tidak ada yang tahu. Satu yang pasti, orang yang terjun bebas dari ujung kelopak tersebut akan mati.
Mu Lian memikirkan akhir tragis bagi orang yang mejadi pengikut salah satu dari makhluk mistis yang sangat jarang itu.
Mu Lian terus memandangi ujung-ujung pohon cemara yang kini terlihat seperti duri berwarna hijau untuk mengalihkan perhatiannya dari topik menyedihkan tersebut.
Duri-duri berwarna hijau itu terlihat melewati Mu Lian dengan sangat cepat atau sebenarnya Mu Lian lah yang berjalan melewati mereka dengan cepat.
Alasan mengapa Mu Lian memiliki kecepatan setinggi itu karena saat ini Mu Lian dan yang lain sedang naik transportasi ajaib.
Transportasi yang sedang dinaikinya ini berbentuk seperti *tandu dengan ukuran yang cukup besar untuk memfasilitasi enam orang namun tidak terlalu besar sehingga tidak mempengaruhi kecepatan tandu tersebut.
Meski berjalan dengan kecepatan tinggi, Mu Lian tidak merasakan angin kencang atau pun guncangan-guncangan lain ketika ia melintasi sekelompok awan karena tandu yang sedang dinaikinya sudah dilengkapi berbagai macam alat keamanan.
Anti angin termasuk salah satunya, bukan berarti oksigen tidak bisa masuk sehingga orang-orang yang naik tandu kehabisan napas.
Angin yang dimaksud adalah gaya gesek yang diakibatkan oleh angin ketika tandu berjalan dengan kecepatan tinggi. Jadi tetap saja, ventilasi di dalam tandu sangat terjaga.
Tujuan Mu Lian kali ini adalah Desa Jinan, tempat terakhir yang keluar dari mulut Xiaoman sebelum benar-benar berubah. Mu Lian dengar dari Meng Zhi kalau dirinya akan menemukan petunjuk jika pergi ke sana.
"Lian'er, beristirahatlah. Perjalanan masih enam jam lagi. Kalau sudah sampai, pasti kubangunkan," kata Meimei.
"En," kata Mu Lian kemudian merebahkan tubuhnya tak jauh dari jendela.
Ketika tubuh Mu Lian menyentuh 'lantai', tidak ada rasa keras atau pun dingin melainkan empuk dan nyaman karena seluruh lantai tandu dilapisi bantalan empuk berwarna merah.
Alat transportasi ini sengaja dipilihkan oleh Mu Haocun mengingat waktu yang sangat mendesak. Untuk menaiki tandu ini, sebelumnya Mu Lian dan yang lain harus keluar ibu kota terlebih dahulu.
Di terminal selanjutnya, terminal yang paling dekat dengan terminal yang ada di ibu kota, barulah tandu ini mulai dioperasikan ke tujuan-tujuan yang cukup terpencil dan membutuhkan alat transportasi berukuran kecil agar mempersingkat lamanya perjalanan.
Alat transportasi ini dijalankan oleh satu orang operator saja, namun Mu Haocun menyuruh Ling Zizhou membantu sang operator agar mereka lekas tiba di Desa Jinan.
Enam jam kemudian, Mu Lian dibangunkan oleh goncangan di tubuhnya. Meimei berkata bahwa mereka sudah tiba. Setelah semuanya turun, sang operator segera membawa pulang serta tandu ajaib.
"Jangan diam saja, ayo kita cari makan dulu di desa!" kata Ling Zizhou mendesak Mu Lian untuk segera mengikutinya.
Mu Lian tak sadar jika Mu Haocun, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi sudah berjalan jauh di depan. Matanya terus melekat di tandu ajaib sampai akhirnya tandu itu tidak terlihat lagi.
"Oh," Mu Lian segera menyusul.
Melihat pemandangan di depannya, Mu Lian merasa sedang bernostalgia. Desa Jinan terletak di dalam hutan. Pohon-pohon cemara serta tanaman-tanaman pakis masih tumbuh secara alami tanpa campur tangan manusia seperti di ibu kota.
Kadang-kadang pohon cemara serta tanaman-tanaman pakis terlihat padat dan kadang-kadang terlihat renggang di sekitar rumah penduduk. Menyebabkan beberapa tempat terlihat gelap dan beberapa tempat terlihat terang.
Mu Lian berpikir apa mungkin karena itu suasana Desa Jinan terasa sedikit mencekam? Para penduduk terlihat berlalu lalang, beberapa diantaranya tersenyum ramah kepada Mu Lian dan yang lain. Semuanya manusia biasa, tidak ada yang bertelinga kelinci.
"Selamat datang di Desa Jinan. Tuan dan nona sekalian. Kami telah menyiapkan rumah yang bisa kalian isi selama masa singgah anda di desa kami," kata seorang paman dengan senyum ramah.
Meski begitu, suaranya terdengar begitu lantang sehingga orang yang mendengarnya mengira bahwa paman itu sedang menantangnya berkelahi.
Untungnya, selain Ling Zizhou, tidak ada yang keberatan dengan nada bicara paman itu. Meng Zhi mewakili kelompok Mu Lian untuk berbicara.
Paman itu berkata karena Desa Jinan terletak di daerah terpencil, jarang sekali pengelana yang datang berkunjung menyebabkan tak banyak penginapan serta restoran di sana jadi penduduk menampung pengelana yang datang ke desa mereka.
__ADS_1
Meng Zhi menanyakan persyaratan untuk mengurus ijin bertamu di desa ini namun paman itu berkata tidak perlu repot-repot dan bisa langsung ke rumah yang telah disediakan saja.
"Gila! Desa ini santai sekali. Tidak ada orang yang bertugas menjaga desa, tidak perlu memverifikasi identitas ke kepala desa, mereka langsung menerima kita apa adanya! Tapi kok senyum mereka membuatku merinding ya?" bisik Ling Zizhou.
Mendengar ucapan Ling Zizhou yang dibisikkan kepada Mu Lian, Mu Haocun, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi saling menatap. Ada pandangan saling mengerti dari mata masing-masing.
"Hanya perasaanmu saja. Menurutku, mereka penduduk yang ramah," kata Mu Lian. Tidak terlalu memikirkan ucapan Ling Zizhou. Setidaknya untuk saat ini tidak ada yang mencurigakan.
Paman itu menjelaskan beberapa aturan yang harus dipatuhi ketika tinggal di desa. Yah, setidaknya mereka masih memiiki peraturan untuk menjaga tata tertib penduduk yang tinggal di desa.
Mu Lian mendengarkan sambil mengamati sekeliling. Namun entah mengapa ada perasaan janggal di hutan ini, namun sebelum Mu Lian memikirkan apakah yang menjadi kejanggalan tersebut, Mu Lian dan yang lain tiba di depan rumah yang cukup besar.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, paman itu pergi menyerahkan Mu Lian dan yang lain kepada sang pemilik rumah.
Rumah ini milik seorang Bibi, dimana suaminya telah meninggal dan anak laki-laki satu-satunya sedang merantau ke ibu kota sehingga tidak ada orang lain yang menemaninya di rumahnya yang besar itu.
"Anggap rumah sendiri dan jangan sungkan-sungkan untuk meminta tolong padaku," kata Bibi Fey.
"Terimakasih, Bibi Fey. Kalau begitu, kami akan merepotkan anda. Oh iya, karena sudah masuk jam makan siang, apa kami boleh pinjam dapur anda?" kata Meimei.
"Oh! Tidak usah repot-repot! Kalian tunggu saja di kamar, aku akan memasakkan makan siang," kata Bibi Fey.
"Jangan, begitu, Bibi. Kami sudah menggunakan rumah anda seperti rumah kami sendiri, masa kami harus merepotkan anda untuk memasakkan makanan untuk kami?
Lagi pula kami punya juru masak andal! bibi harus mencoba masakan Ah Zhou!" kata Mu Lian berusaha meyakinkan Bibi Fey.
Bibi Fey tersenyum semakin ramah kemudian berkata, "Tidak bisa. Kalian adalah tamu terhormat yang jarang dilihat di desa ini.
Biasanya kami harus berjalan sangat jauh untuk menemui orang-orang baru. Kalian tau sendiri bukan, betapa terpencilnya desa ini? Kadang kami merasa sangat terisolasi dari dunia ini,"
Mu Lian dan Meimei saling menatap. Kalau sudah begitu, mereka tidak enak menolak kebaikan Bibi Fey yang ingin memasakkan makan siang untuk mereka.
Akhirnya Mu Lian dan Meimei setuju kemudian berjalan ke arah Mu Haocun, Ling Zizhou, Master Yi dan Meng Zhi yang terlihat sedang asik dengan pembicaraan mereka di pekarangan.
"Silahkan. Maaf bila masakannya sangat sederhana," kata Bibi Fey sambil menyajikan piring-piring berisi makanan. Atau seharusnya yang terlihat seperti makanan. Karena yang Mu Lian lihat hanya warna merah.
Satu jam mereka menunggu makanan datang dan mendapati semua makanan yang dimasak Bibi Fey berwarna merah. Wanginya pun begitu menusuk hidung.
Ling Zizhou yang melihat hidangan serba merah didepannya sudah membuka mulutnya untuk melontarkan apapun yang akan diucapkannya, namun untungnya, Mu Lian yang duduk di sebelah segera menginjak kaki Ling Zizhou sehingga yang keluar dari mulutnya hanya kata aduh.
Mu Haocun, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi yang awalnya hendak makan bersama Mu Lian jadi mengurungkan niat mereka.
Namun ketika melihat Mu Lian dan Ling Zizhou yang terus menatap mereka tanpa memulai makan, akhirnya keempatnya ikut makan dengan keringat deras di sepanjang makan siang itu.
Semua yang sedang makan disana menunjukkan hal yang sama. Bahkan wajah Mu Lian terlihat semerah tomat saking kepedasannya.
Suara 'huah' 'huah' terdengar dari mulut Mu Lian dan yang lain. Bahkan Master Yi yang paling diam pun suaranya paling nyaring diantara yang lain.
Wajah Bibi Fey terlihat sumringah setelah Mu Lian dan yang lain 'berhasil' menghabiskan hidangan yang ada di meja kemudian segera pamit untuk beristirahat di kamar masing-masing.
Tidak lupa meminta teko berisi air minum untuk dibawa. Untungnya Bibi Fey memiliki banyak teko sehingga Mu Lian tidak perlu berebut untuk mendapatkannya.
Total kamar yang ada di rumah Bibi Fey adalah enam. Mu Lian di berikan jatah tiga kamar untuk kemudian dibagi-bagi diantara kelompoknya.
Dan pembagian kamar mereka seperti yang sudah-sudah; Mu Lian satu kamar dengan Meimei, Ling Zizhou satu kamar dengan Meng Zhi sedangkan Mu Haocun satu kamar dengan Master Yi.
Malamnya, Mu Lian, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi keluar kamar dengan lesu. Kali ini hanya mereka berempat saja yang makan malam karena seseorang, dengan cerdasnya membuat dirinya terlihat sakit. Dan temannya, berdalih akan menemaninya di kamar.
"Aku minta maaf karena membuat kakek mu sakit. Aku tidak menyangka perutnya selemah itu.
Masakan di desa ini memang memiliki ciri khas cita rasa yang sangat pedas jadi sejak kecil aku sudah terbiasa untuk memasak masakan yang pedas-pedas," kata Bibi Fey dengan rasa bersalah.
__ADS_1
Dirinya pun mengakui bahwa masakannya 'cukup' pedas dan meminta maaf di depan Mu Lian dan yang lain.
Mu Lian tersedak air mendengar ucapan Bibi Fey. Mu Lian pun tidak menyangka jika Mu Haocun akan menggunakan obat racikannya agar terlihat sedang diare.
Master Yi pun tidak tahu kapan Mu Haocun melancarkan aksinya, namun tetap ikut-ikutan menjadi alasan Mu Haocun sakit agar tidak ikut makan malam.
...
"Ukh, panas sekali perutku," gumam Mu Lian sambil terus bolak balik memposisikan tubuhnya di tempat tidur.
Makanan tadi siang dan tadi malam masih mempengaruhi perut Mu Lian. Kini perutnya terasa sangat panas hingga Mu Lian kesulitan tidur, bahkan kesulitan membaringkan tubuhnya.
Mu Lian tidak tahu berapa lama dirinya bertingkah seperti cacing kepanasan di tempat tidurnya sendiri, mungkin beberapa menit, mungkin juga beberapa jam. Yang pasti malam itu Mu Lian tidak bisa tidur.
Semakin lama, panas pada perutnya menjalar ke seluruh tubuh hingga ke ubun-ubun. Mu Lian mulai merasakan perbedaan suhu di dalam ruangan yang kini lebih rendah karena suhu tubuhnya semakin meningkat.
Kemudian Mu Lian jadi tidak bisa mendengar suara apa-apa dengan jelas.Rasanya seperti sedang berkendara di gunung, ketika kendaraan perlahan-lahan menaiki atau menuruni gunung, kalian merasakan telinga kalian *tersumbat.
Karena kondisi tubuhnya mengalami perubahan suhu secara drastis, Mu Lian jadi seperti mengalami apa yang dialami ketika seseorang mendaki atau menuruni turun.
Akibat suhu di kamar Mu Lian lebih rendah daripada suhu tubuhnya sendiri, tekanan di dalam kamar menjadi lebih tinggi dari pada di dalam tubuh Mu Lian.
Adanya perbedaan tekanan ini membuat telinga Mu Lian beradaptasi sehingga Mu Lian merasakan telinganya tersumbat.
Namun anehnya, setelah sekian lama menunggu, Mu Lian belum merasa telinganya membaik, malah suara-suara semakin teredam sehingga malam ini menjadi sangat sunyi seperti tanpa suara.
Mu Lian hanya menatap kanopi tempat tidurnya, berusaha mencerna situasi yang sedang dialaminya.
Kemudian tiba-tiba Mu Lian merasakan guncangan di tubuhnya, ketika melihat ke samping ternyata Meimei.
Mu Lian melihat bibir Meimei sedang berusaha mengartikulasikan kata-kata yang hendak disampaikannya supaya dapat dimengerti Mu Lian.
[Ke kamar mandi...]
[Makan kari..?.]
[Sampai kemari...?]
Tidak. Bukan itu. Baru kali ini Mu Lian berusaha mengartikan gerakan bibir orang. Mu Lian terus menggeleng, memberi tanda kepada Meimei bahwa dia belum mengerti maksud ucapannya.
Meimei terlihat sangat frustasi, namun menarik lengan Mu Lian agar Mu Lian bangun dan segera membawanya ke arah pintu.
Tiba-tiba pintu terbuka dan kepala Meng Zhi muncul dari balik pintu. Melihat siapa yang membuka pintu, Meimei melonggarkan pegangannya pada Mu Lian, seperti lega telah melihat Meng Zhi.
Meng Zhi tersenyum menenangkan dan membuka pintu lebar-lebar, menunjukan Mu Haocun, Master Yi dan Ling Zizhou yang berdiri di belakangnya sambil menghadap lorong dengan tatapan waspada.
Master Yi dan Ling Zizhou telah mengeluarkan jian milik mereka dari sarungnya dan menghunuskannya ke arah lorong yang terlihat lengang, namun Mu Lian tidak tahu apa yang bersembunyi dibalik bayang-bayang hitam itu.
Benar, lorong di depan kamar Mu Lian menjadi sangat gelap gulita seperti ada kain yang telah dicelupkan tinta hitam yang menghalangi.
Atau bisa diumpamakan kamar Mu Lian sedang disorot oleh lampu, menyebabkan sekelilingnya gelap gulita.
Mu Lian bergidik melihat pemandangan di luar kamarnya.
.........
Note:
* Tandu
__ADS_1
* Kalian bisa search barotrauma? author menemukan kata itu di website hellosehat bisa kalian baca lebih lanjut 😂