
"Akhirnya! Setelah tiga hari lamanya!" kata Mu Lian gembira melihat kalung yang ada di tangan Mu Haocun.
Ketika Mu Haocun masuk ke kamar bersama Meng Zhi, Mu Haocun sudah menunjukkan kalung ajaib yang baru saja selesai dibuat. Tiga hari sebelumnya, Mu Haocun dan Meng Zhi pergi ke toko untuk memesan kalung ini.
Mu Lian hendak berdiri dan segera mengenakan kalung tersebut namun sayangnya, tiga ekor kelinci seukuran anak kambing sedang berada di pangkuannya, membuat Mu Lian sulit bangkit dari tempat tidur.
"Hati-hati. Sepertinya mereka tidak mau lepas darimu," kata Meimei tersenyum. Mu Lian hanya bisa pasrah dan kembali duduk.
Mu Lian menatap Kelinci-kelinci yang berwarna coklat tersebut, berbeda dengan kelinci-kelinci yang Mu Lian temui pada hari kedatangannya di penginapan.
Kelinci-kelinci berwarna putih yang pertama Mu Lian lihat sudah pulang bersama ibu dan ayah mereka hari itu.
Dan kelinci-kelinci ini adalah anak-anak dari pasangan muda yang menyewa kamar di sebelah kamar Mu Lian.
"Lian'er beruntung hanya harus menunggu selama tiga hari. Biasanya harus menunggu satu minggu dulu baru kalung ajaib ini selesai," kata Mu Haocun sambil meletakkan kalung ajaib ke tangan Mu Lian yang sudah menengadah.
"Kakek benar. Entah mengapa semenjak datang ke dunia ini, keberuntunganku sangat bagus," kata Mu Lian kemudian segera mengalungkan kalung ajaib ke lehernya.
Beruntung karena pertama kali di temukan oleh Mu Haocun, beruntung karena mendapatkan orang-orang yang menyayanginya di dunia ini, beruntung terjebak ditengah-tengah penyusupan sekte aliran sesat di Lembah Ufuk Timur, beruntung bertemu dengan kawanan spirit beast yang sedang menuruni gunung...
Mu Lian menggeleng. Semakin dekat dirinya dengan ibu kota, semakin sering Mu Lian memikirkan kejadian yang telah dialaminya ini selama hampir satu tahun.
Waktu yang tidak sebentar untuk ukuran orang yang ingin segera pulang seperti dirinya bukan? Mu Lian menghela napas. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah.
Mu Lian mengamati liontin yang terbuat dari kerangka metal yang terdapat batu ajaib di dalamnya, yaitu material yang sering digunakan agar alat ajaib berfungsi dengan baik.
Permukaannya penuh goresan-goresan pola serta tulisan-tulisan. Benar. Untuk membuat sebuah alat ajaib, dibutuhkan ahli Array, ahli mantera serta ahli Metalurgi.
Kalung tersebut terlihat misterius dan memancarkan aura tak biasa, sesuatu yang dapat dilihat pada alat ajaib pada umumnya. Intinya, orang awam pun dapat membedakan mana alat ajaib dan mana yang bukan.
Ditengah-tengah pengamatan yang dilakukannya pada kalung ajaib, Mu Lian tertarik dengan anak-anak kelinci yang sedang mengendus-endus dirinya dengan hidung berwarna pink mereka.
Kumisnya bergerak naik-turun bersamaan ketika mereka mengendus-endus Mu Lian. Hal tersebut dilakukan anak-anak kelinci ketika tiba-tiba mereka merasakan energi spiritual Mu Lian terasa seperti ditutupi oleh tabir tak kasat mata.
Meski begitu, anak-anak kelinci tersebut hanya mengendus-endus Mu Lian setelah itu kembali bersantai di pangkuan Mu Lian seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hm? Aku kira anak-anak ini akan langsung menjauhiku," kata Mu Lian.
"Mereka sudah terbiasa dengan baumu jadi sikap mereka tetap sama seperti sebelumnya," kata Meimei. Mu Lian mengangguk.
"Oh iya. Apa kau jadi berkeliling kota? Kalau jadi, kita bisa menambah durasi sewa kamar," kata Meng Zhi.
Mu Lian terdiam. Tiga hari yang lalu, Mu Haocun menyampaikan isi dalam surat yang dititipkan Master Zhengheng di pos pusat.
Di dalam surat itu Master Zhengheng menjelaskan bahwa mereka tidak jadi ke ibu kota melainkan ke negeri Chen karena terjadi perubahan rencana.
Setelah mendengar kabar tersebut, Mu Lian jadi sedikit murung. Mu Lian hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Xiaoxiao untuk yang terakhir kalinya di ibu kota.
__ADS_1
Perjalanannya ke ibu kota adalah untuk mencari cara untuk mencari jalan pulang ke keluarganya. Sudah lama Mu Lian merasakan perasaan cemas mengenai hal tersebut.
Perasaan cemas pertama kali Mu Lian rasakan ketika pertama melihat peta daerah Lembah Ufuk Timur di ruang kerja milik Mu Haocun di sekte Embun Pagi.
Kemudian keberadaan makhluk legenda seperti Meng Zhi, chi, spirit beast dan lain sebagainya. Dari kejadian-kejadian yang telah dialaminya Mu Lian sudah mengetahui bahwa dunia ini bukanlah Bumi.
Dan jika perjalanannya di ibu kota membuahkan hasil, Mu Lian harus berpamitan dengan Xiaoxiao, Mu Haocun, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi.
Jadi wajar saja Mu Lian merasa ingin
menghabiskan waktu dengan mereka sebelum kembali ke Bumi. Entah Mu Lian akan bertemu dengan mereka lagi atau tidak.
Pada akhirnya, kabar mengenai Xiaoxiao membuat Mu Lian memutuskan untuk segera berangkat ke ibu kota.
Semakin lama menunda-nunda, semakin jauh Mu Lian berpikiran untuk kembali ke Bumi. Hatinya pun semakin berat untuk merelakan.
"Tidak. Aku ingin berangkat ke ibu kota secepatnya," kata Mu Lian. Mu Haocun hanya diam menatap Mu Lian. Sedangkan Meimei dan Meng Zhi saling menatap.
"Baiklah. Dua hari lagi kita berangkat?" kata Meng Zhi.
"Besok," kata Mu Lian dengan kepala tertunduk.
Transportasi ajaib yang membawa mereka ke ibu kota beroperasi setiap hari. Jadi Mu Lian memutuskan untuk berangkat keesokan harinya, karena menurut Mu Lian lebih cepat lebih baik.
Suasana di kamar Mu Lian tiba-tiba menjadi berat dan murung. Mu Lian pun hanya menunduk menatap anak-anak kelinci tanpa berbicara sepatah kata lagi.
Ketiganya pun keluar setelah memberitahu Mu Lian bahwa mereka akan menunggunya di restoran yang terletak di depan penginapan.
Waktu sudah menunjukkan makan siang sehingga meski ketiganya belum membutuhkan makan, mereka akan menemani Mu Lian dan Ling Zizhou sambil minum teh.
Dengan tingkat kultivasi yang dimilikinya, Ling Zizhou pun sebenarnya sudah dapat mempraktikan apa yang Mu Haocun, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi lakukan.
Namun karena latihan keras yang diberikan oleh Master Yi dan dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan kultivasi Ling Zizhou, Master Yi memerintahkan Ling Zizhou beraktifitas seperti manusia pada umumnya.
Master Yi baru akan mengijinkan Ling Zizhou tidak makan serta tidur selama berhari-hari setelah Ling Zizhou mencapai pembentukan inti.
Kemana pemuda itu saat ini berada tentu saja bersama Master Yi di dalam hutan beberapa kilometer di luar kota X untuk latihan intensif. Ling Zizhou baru terlihat batang hidungnya ketika sarapan, makan siang dan makan malam.
Saat ini, Mu Haocun memimpin Meimei dan Meng Zhi menuju restoran. Hingga saat ini Ling Zizhou dan Master Yi belum menampakkan diri di sekitar penginapan.
Namun keduanya sudah mengetahui bahwa Mu Lian dan yang lain sering mengunjugi restoran yang berada di depan penginapan. Ling Zizhou dan Master Yi sudah pasti datang pada detik-detik terakhir janji temu mereka.
"Master Mu, apa yang terjadi? Mengapa anda mengajak kami cepat-cepat keluar?" kata Meimei penasaran.
"Lian'er butuh waktu sendirian. Kita lihat saja dulu perkembangannya bagaimana," kata Mu Haocun.
"Maksud anda, kita hanya jadi penonton saja? Tidak akan berbuat apa-apa?" kata Meimei sedikit emosi.
__ADS_1
"Sayang. Keinginan kita untuk membantu Lian'er tidak akan ada gunanya ketika berhadapan dengan takdir.
Kita hanya bisa membantu dengan berada disisinya saja. Bukan begitu Master Mu?" kata Meng Zhi sambil berusaha mengamati ekspresi Mu Haocun.
Mu Haocun hanya memandang langit tanpa awan di atasnya dengan mata yang terlihat tidak fokus. Saat ini ketiganya sedang melintasi pekarangan.
"Maksudmu, apa yang dikatakan Master Mu sebelumnya benar adanya?!" kata Meimei.
"Hanya waktu yang dapat mengungkapkan," kata Mu Haocun akhirnya setelah lama diam.
...
Keesokan harinya, setelah 'terbang' selama sepuluh jam, akhirnya Mu Lian menginjakkan kakinya di ibu kota.
Karena merasakan kecemasan yang luar biasa, Mu Lian tidak dapat mengamati Terminal dengan seksama, atau menikmati penerbangannya dengan transportasi ajaib.
Sepanjang perjalanan rasanya Mu Lian seperti sedang bermimpi. Mu Lian merasa seperti anak yang hilang di dunia yang asing.
Perasaan tersebut baru muncul lagi setelah berusaha dipendamnya selama hampir satu tahun. Sadar-sadar Mu Lian sudah tiba di kamarnya di salah satu penginapan di ibu kota.
Malamnya Mu Lian makan dengan lesu, membuat Ling Zizhou tak tahan lagi melihat kemurungan Mu Lian.
Akhirnya, meski dengan menyeret Mu Lian, Ling Zizhou pun mengajak Mu Lian berkeliling. Melakukan apa yang Mu Lian suka. Kuliner.
Setelah sedikit terobati dengan makanan-makanan lezat, Mu Lian seperti tersadar dari lamunannya dan pemandangan ibu kota semakin jelas dari matanya.
Bangunan-bangunan serta jalan-jalan di ibu ota menyerupai kota X namun suasananya lebih ramai dibandingkan kota X.
Hutan-hutan dengan pohon cemara mengelilingi ibu kota namun hutan-hutan tersebut terlihat siluetnya saja karena terletak begitu jauh dari ibu kota. Tidak, mungkin hal itu disebabkan karena ibu kota berukuran sangat besar.
Di kejauhan, terdapat dinding raksasa yang terbuat dari batu-batu alam. Seketika itu juga Mu Lian jadi mengingat Forbidden City.
"Ups, maafkan aku," kata Mu Lian setelah menabrak pria dengan tanduk dan rambut berwarna pirang. Pria itu hanya mengingatkan Mu LIan untuk berhati-hati kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.
Mu Lian melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya. Memang benar apa yang dikatakan Mu Haocun, penduduk-penduduk pribumi banyak sekali ditemui di ibu kota. Untung saja Mu Lian sudah mengenakan kalung ajaibnya.
"Jadi ini ibu kota," kata Mu Lian dengan suara sedikit tertahan.
"Benar. Selamat datang di ibu kota," kata Ling Zizhou sambil mengamati Mu Lian. Orang sensitif seperti Ling Zizhou tidak akan melewatkan gejolak emosi yang sedang dialami Mu Lian.
Apalagi Ling Zizhou menyaksikan sendiri apa yang telah Mu Lian lalui hanya untuk bisa mencapai ibu kota.
"Apa fungsinya dinding-dinding raksasa itu? Untuk menjaga istana dari penjajah? Dari spirit beast?" kata Mu Lian sambil lalu. Mu Lian Menyebut kata istana setelah melihat atap megah yang menyembul dari balik dinding-dinding tersebut.
Mu Lian mulai mencari-cari bangunan dengan papan bertuliskan perpustakaan. Dia sekedar bertanya hanya untuk mengisi waktu sampai dirinya dapat menemukan perpustakaan.
"Fungsi dinding-dinding itu bukan untuk melindungi gedung pemerintah melainkan melindungi penduduk dari ujung dunia," kata Ling Zizhou serius.
__ADS_1
Ternyata orang-orang dunia ini menyebut bangunan tersebut gedung pemerintah. Dan dunia ini memiliki tempat yang disebut dengan ujung dunia. Dimana tempat tersebut cukup berbahaya sehingga harus diamankan dengan dinding-dinding raksasa.