Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Keputusan Xu Ke


__ADS_3

Mu Lian mengamati dahan paling tinggi pohon misterius karena saat itu Wei Cheng dan Han Shi sedang 'hinggap' dan terlihat menyatu dengan dahan pohon misterius.


Tempat itu adalah tempat 'nongkrong' favorit mereka. Meski keduanya terasa menjaga jarak demi kebaikan Mu Lian, kalau keduanya terlalu dekat Mu Lian selalu memiliki niat untuk melakukan ritual tanya jawab yang membuat Hong Bai, sang naga ketakutan setengah mati.


Mulai saat itu, Wei Cheng dan Han Shi terlihat seperti petapa yang mengamati Mu Lian dari jauh. Selain mereka berdua, mata-mata Hong Bai tak pernah lepas dari gerobak.


Pendar cahaya masih menyelimuti gerobak namun bukan itu yang membuat hewan-hewan yang Mu Lian dan yang lain bawa terdiam. Mereka diam dan tunduk di hadapan Hong Bai.


Tatapan menilai dari Wei Cheng juga membuat kepala-kepala hewan itu menunduk. Berbeda dengan Wei Cheng, Han Shi memberi sinyal kepada Mu Lian untuk membawa hewan-hewan itu ke pohon misterius.


"Tolong angkat kandang-kandang ini ke pohon misterius, aku akan mencoba sesuatu. Aku akan ke ruang kendali," kata Mu Lian.


Xu Jing dan Xu Ke melakukan yang Mu Lian minta sedangkan Mu Lian bergegas ke ruang kendali. Mu Lian merasakan keberadaan Mu Haocun di kediaman Meimei.


Bulan menyinari jalan di depan Mu Lian serta pemandangan di sekitar ketika hampir seluruh penghuninya sudah tidur.


Hanya ada pohon yang daunnya melambai-lambai, bukan karena angin melainkan karena aliran chi di lingkungan dalam gerobak.


Semua tumbuhan yang hidup di dalma gerobak telah mengalami mutasi dan sedikit berbeda dari tumbuhan di luar sana.


Meski begitu, pemandangan malam di dalam gerobak terlalu sunyi untuk anak-anak. Dan kini sesaat lagi, beberapa pasang hewan yang berhasil


dijinakkan akan menjadi penghuni baru sekaligus pendamping pertumbuhan anak-anak.


Mu Lian tidak sabar melihat reaksi anak-anak namun sebelum itu, Mu Lian harus memasukkan kandang-kandang tersebut ke dalam gerobak.


Dengan isyarat dari Han Shi, Mu Lian menyimpulkan bahwa kandang-kandang tersebut bisa dimasukkan ke dalam gerobak melalui ruang 'void' yang menjadi jalan keluar pohon misterius.


Ketika Mu Lian memasuki ruang kendali, bulu putih terlihat tergeletak dekat akar pohon misterius yang hampir menyentuh Cermin Langit.


Xiaobai mendengar ada pergerakan dan terbangun untuk melihat Mu Lian sedang mengendap-endap ke atas kendali.


"Lian jie! Sedang apa?"


"Aku sedang mencoba menyusutkan pohon misterius ke ukuran semula tanpa membangunkan yang lain," kata Mu Lian berusaha dengan keras mengendalikan aliran chi miliknya.


Sangat sulit. Chi milik Mu Lian selain sangat murni cenderung melimpah ruah, terkadang dirinya pun kesulitan jika mengendalikan chi miliknya dalam mode output paling kecil.


"Ingat latihan manipulasi energi spiritual tingkat tinggimu Lian jie," kata Xiaobai menyemangati.


Bicara lebih mudah ketimbang praktiknya, Mu Lian harus berusaha selama 30 menit untuk membiasakannya mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari kepada aliran chi.


Dan ketika berhasil, ada pelajaran baru yang dipetik oleh Mu Lian. Mu Lian berhasil mendapat ilham setelah beberapa bulan terjebak di situ-situ saja.


Pohon berhasil menyusut sedikit lebih halus dan perlahan daripada biasanya, namun getarannya masih bisa dirasakan di sepenjuru gerobak. Untungnya anak-anak tidur sangat nyenyak.


Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu pun yang biasanya sangat mudah terbangun, hari itu tidur sangat nyenyak.

__ADS_1


Kandang-kandang hewan berhasil dimasukkan ke dalam gerobak dengan selamat. Xu Jing dan Xu Ke berpencar masing-masing ke pegunungan Timur Laut dan Barat Daya untuk memeriksa kecocokan hewan-hewan tersebut dengan daerah yang dimaksud.


Mu Lian menumbuhkan pohon misterius kembali hingga menembus 'void' masih dengan Wei Cheng dan Han Shi yang masih hinggap di salah satu dahan pohon misterius.


Tubuh mereka sangat kokoh berdiri di atas dahan meski keduanya terus naik ke ketinggian beberapa kilo dari atas tanah.


"Aneh. Wei Cheng aneh sekali. Awalnya pria itu yang hinggap di salah satu dahan pohon kemudian Han Shi ikut bergabung dan kini mereka betah sekali di dahan itu," kata Xiaobai.


"Lalu? Kenapa kau juga selalu terlihat datang dari arah pohon misterius?" kata Mu Lian. Xiaobai sering menghilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba.


Kadang-kadang Xiaobai terlihat di sekitar anak-anak, kadang-kadang terlihat disekitar Meimei, kadang tak jauh dari Mu Haocun dan sering terlihat datang dari arah pohon misterius.


"Entahlah, nyaman saja jika tidur didekat pohon itu," kata Xiaobai.


Apapun alasannya Mu Lian hanya bisa mengaitkannya dengan satu hal, pohon itu yang membantu menyerap seluruh chi maupun akselerator yang ada di sekitar Gua Sejati.


Mu Lian dan Xiaobai berbincang selama beberapa saat hingga akhirnya Xiaobai kalah dengan kantuknya dan tidur di pangkuan Mu Lian.


Mu Lian menunggu selama beberapa saat memastikan hingga Xiaobai terlelap sebelum akhirnya meletakkan Xiaobai di dekat akar pohon misterius.


Kebetulan akar-akar yang sering dijadikan Xiaobai tempat nongkrong memang terlihat sangat nyaman. Bentuknya menyerupai sofa.


Setelah meletakkan Xiaobai, Mu Lian bangkit dan keluar ruang kendali untuk mengantar Xu bersaudara keluar gerobak.


"Sampai ketemu besok!" kata Xu Jing melambaikan tangannya ke arah Mu Lian.


Xu Ke meminta berbicara empat mata saja dengan Mu Haocun. Mu Lian penasaran namun sepertinya Mu Haocun sengaja menghindari Mu Lian karena ketika di cari, Mu Haocun sudah tidak di kediaman Meimei. Sepertinya sudah kembali ke kediamannya.


Mau tidak mau Mu Lian menunggu hingga keesokan paginya. Dimana Mu Lian melihat Mu Haocun memberikan sebuah gelang yang tersusun dari butiran-butiran biji berwarna merah kecoklatan.


Gelang tersebut mengeluarkan wangi semerbak dan mengandung efek menenangkan. Xu Jing menerima gelang pemberian Mu Haocun dengan eskpresi sedih dan menahan tangis.


...


"Kakek, apa yang kakek berikan kepada Ah Jing?" kata Mu Lian akhirnya bisa bertanya kepada Mu Haocun setelah seharian bermain kejar-kejaran dengan Mu Haocun.


Selama seharian ini Mu Haocun menghindari Mu Lian namun Mu Lian, yang telah menjadi ahli qinggong, tehnik gerak yang sangat penting bagi kultivator, bisa mengejar Mu Haocun kemana Mu Haocun pergi.


Mu Haocun menjawab Mu Lian dengan ekspresi 'kalah' di wajahnya, "Kakaknya telah memutuskan nasib bocah itu,"


Mu Lian terdiam. Melihat kondisi Xu JIng yang seharian ini baik-baik saja, pastinya keputusan yang Mu Haocun maksud bukanlah membebaskan Xu Jing dari penderitaan.


"Tidak mungkin..." gumam Mu Lian. Jadi itu sebabnya Xu Jing terlihat sedih.


Perpisahan adalah hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Apalagi perpisahan ini harus ditunda-tunda, rasa sakitnya akan lebih lama.


Xu Jing sudah mengetahui bahwa umurnya tidak akan lama lagi dan yang Mu Lian lihat, pemuda itu telah menyiapkan hatinya untuk segera pergi.

__ADS_1


Berbeda dengan Xu Jing, kakaknya, tidak siap menerima kepergian Xu Jing yang terlalu cepat. Tidak ada yang bisa menghindari perpisahan, meski ditunda rasa sakitnya akan lebih besar.


Namun kalau Mu Lian boleh jujur, Mu Lian pun tidak siap mendengar bahwa Xu Jing tidak bisa bersamanya lebih lama lagi.


Persahabatan yang dibangun Mu Lian bersama Xu Jing sudah mengisi sebagian besar hatinya. Bahkan kini di mata Mu Lian, Xu Jing sama-sama pentingnya dengan Mu Haocun, Ling Zizhou, Master Yi, Meimei, Meng Zhi, Xiaobai dan anak-anak.


"Kenapa...kenapa kakek setuju dengan permintaan Ke Ge untuk mempertahankan Ah Jing lebih lama lagi?" tanya Mu Lian. Mu Lian mengamati kakeknya yang diam seribu bahasa, namun matanya tidak bisa bohong.


Ada rasa sedih, gelisah dan dilema ketika Mu Lian mengungkit nama Xu JIng. Sepertinya pemuda itu berhasil memasuki hati Mu Haocun juga.


Siapa yang tidak akan luluh dengan pemuda ceria, baik hati, perhatian, penuh kasih sayang dan tingkahnya yang mengundang gelak tawa seperti Xu Jing? Bahkan semua yang ada disini pun menyayangi pemuda itu.


Meski Du Luhan menganggap pamannya Xu Jing, Xu Tian sebagai saingan, Du Luhan tetap menyayangi Xu bersaudara seperti keponakannya sendiri, terutama Xu Jing.


"Bagaimana dengan latihanmu?" kata Mu Haocun mengalihkan pembicaraan.


"Ah, kakek, aku penasaran ini kenapa ya?" kata Mu Lian sambil menunjukkan tanah liatnya yang kini selalu mengeluarkan benjolan-benjolan kecil ketika Mu Lian mengerahkan energi spiritualnya ke tanah tersebut.


"Bagus. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Coba kakek periksa dulu meridianmu, kau tidak memaksakan diri kan?" kata Mu Haocun. Mu Lian tidak bisa menjawab. Dia hanya menyerahkan pergelangan tangannya untuk Mu Haocun periksa.


Ada hari-hari dimana Mu Lian nekat melakukan latihan di luar waktu yang disarankan Mu Haocun. Meski hanya satu hingga dua jam lebih lama, Mu Lian takut ketahuan oleh Mu Haocun.


Benar saja. Ekspresi Mu Haocun menegang. Mu Haocun menatap Mu Lian lama kemudian berkata, "Apa yang kau dapat dari lahitan diluar waktu yang disarankan?"


Mu Haocun tidak membentak Mu Lian namun nadanya yang dingin membuat seluruh tubuh Mu Lian menggigil apalagi tatapannya yang tajam itu. Seperti bisa menusuk jiwa Mu Lian.


"Maaf," kata Mu Lian.


"Jangan ulangi lagi. Untung masih tahap awal, kau tahu, kalau sampai deviasimu ini ke tahap menengah, rasanya akan sama seperti dibakar hidup-hidup!" kata Mu Haocun tegas.


Sebelum terbakar hidup-hidup mungkin jiwa Mu Lian akan tercabik-cabik lebih dulu dibawah tatapan Mu Haocun.


Mu Lian mengingatkan dirinya untuk lebih disiplin, jangan keluar dari rencana yang telah diberikan oleh Mu Haocun dan latihan dengan pelan tapi pasti.


"Jangan terbutakan dengan masalah disekelilingmu. Kultivasi pada dasarnya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang banyak. Tidak bisa terburu-buru.


Kau pernah dengar perbedaan kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompongnya secara alami dengan dibantu oleh manusia?


Kupu-kupu yang keluar secara alami meski lama namun sayapnya jadi kuat dan bisa membawanya terbang tinggi ke tempat yang jauh.


Sedangkan yang dibantu, meski bisa dengan cepat keluar dari kepompongnya, kupu-kupu itu hanya bertahan beberapa menit saja di dunia luar.


Kau harus sabar dan tidak hilang arah dari kultivasimu dihadapan banyak masalah. Anggap masalah-masalah itu sebagai kepompongmu. Jalani secara perlahan-lahan, pasti nanti kau menjadi orang yang kuat.


Ingat kalau kau memilih jalan instan kau tidak akan bertahan sama seperti kupu-kupu yang sayapnya tidak terbentuk secara sempurna karena dibantu oleh tangan manusia," kata Mu Haocun.


Mu Lian mengangguk karena pernah mendengarnya di Bumi. Mu Lian tidak menyangka ternyata di dunia ini ada juga yang menjadikan kasus kupu-kupu sebagai bahan pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2