Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Pria misterius (2)


__ADS_3

Tiba-tiba tanah di bawah kaki pria itu melesak ke dalam tanah, pria itu terkejut karena gagal mendeteksi jebakan tersebut.


"Awas!" seru Meimei dan Meng Zhi bersamaan.


Meimei melesat ke arah pria itu kemudian sebelum tubuh pria itu jatuh ke dalam lubang, Meimei menarik lengannya dan membawanya ke tempat aman.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Meimei.


"Terimakasih! Aku kira tamat sudah riwayatku," kata pria itu.


Meimei tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum dan diam seribu bahasa setelah melihat pakaian pria itu mirip dengan orang-orang yang menyerang gua dua hari yang lalu.


Pria itu hendak mengucapkan sesuatu namun raungan spirit beast membuatnya terkejut dan memandang ke arah datangnya suara.


Pria itu membelalakkan mata ketika melihat Meng Zhi menghabisi tipe pelacak dalam beberapa kali gerakan.


"Seorang pembentukan jiwa? Tidak mungkin!" gumam pria itu.


"Kenapa? Karena di dunia bawah ini paling tinggi tingkat pembentukan inti?" kata Meimei sambil mendengus.


Pria itu tidak sadar sikap Meimei mulai dingin padanya. Dia terlalu fokus melihat Meng Zhi yang sekarang sedang menghadapi tipe penjebak. Tak lama Meng Zhi kembali pada Meimei dan pria itu.


"Terimakasih, saudaraku! Kalau tidak ada dirimu, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi," kata pria itu sambil menangkupkan kedua tangan.


Tubuhnya gemetar karena luka di seluruh tubuhnya namun pria itu memaksakan diri memberi hormat kepada dua penyelamatnya.


Meimei mengangguk memberi tanda pada Meng Zhi bahwa pria ini mencurigakan. Meng Zhi membalas mengangguk kemudian mengarahkan jian miliknya ke arah pria itu.


Meimei juga melakukan hal yang sama. Pria itu terkejut melihat Meimei dan Meng Zhi. Namun dia benar-benar tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan mereka berdua.


"Maaf kawan. Kami ada sedikit dendam dengan orang-orang yang berpakaian sama dengan dirimu," kata Meng Zhi melanjutkan


"Tapi aku tidak ingin asal menuduh, jadi aku tanya apa kau berasal dari golongan yang sama dengan orang-orang yang membuat spirit beast di gunung ini kabur menuruni gunung?"


Pria itu tertegun. Raut wajahnya gelisah dan menunjukkan dilema. Keringat mengalir dari keningnya dan pria itu menelan ludah. Melihat Meimei dan Meng Zhi sepertinya bukan berasal dari sekte aliran sesat, akhirnya pria itu buka suara.


"Aku bukan berasal dari golongan yang sama dengan mereka. Aku...aku tidak bisa mengatakan lebih jelas darimana asalku karena kami sedang melaksanakan misi rahasia," kata pria itu gugup.


"Kami? Kau memiliki rekan? Dimana rekanmu?" kata Meimei dingin.


Meimei yang berada di depan pria itu berubah seratus delapan puluh derajat dari Meimei yang biasa berada di dekat Mu Lian. Tidak ada kelembutan serta perhatian di setiap kata-katanya.


"Ah, tolong rekanku, Senior!" kata pria itu memohon. Pria itu bersimpuh di depan Meng Zhi dan Meimei. Kedua tangannya disatukan di depan Meimei dan Meng Zhi.


"Kenapa dengan rekanmu?" tanya Meng Zhi.


"Dia mengalami hal yang sama denganku, kami berdua dikejar tipe pelacak," kata pria itu.


Meimei dan Meng Zhi saling menatap. Meng Zhi merasa jika pria itu berasal dari sekte aliran sesat, dia tidak akan memohon untuk menyelamatkan rekannya. Meimei pun sepikiran dengan Meng Zhi.


"Kumohon, aku akan menceritakan apa yang bisa kuceritakan pada kalian," kata pria itu takut jika Meimei dan Meng Zhi tidak mau menyelamatkan rekannya.


Meng Zhi menyuruh Meimei untuk kembali pada Mu Lian dan Ling Zizhou dan membawa pria itu ke tempat peristirahatan.


Tak lupa Meng Zhi menyita seluruh alat yang bisa digunakan sebagai senjata dan komunikasi. Pria itu mengikuti permintaan Meng Zhi dengan patuh dan meminta untuk yang terakhir kalinya untuk menyelamatkan rekannya.


Setelah itu Meng Zhi berpamitan. Meng Zhi menuju lokasi dimana terakhir kali rekan pria itu terlihat.


"Oh, jiejie! Dimana Senior Meng?" kata Mu Lian. Mu Lian dan Ling Zizhou sedang duduk di bawah pohon sambil berbincang ketika melihat Meimei datang membawa seorang pria.


"Lian'er, ada perubahan rencana. Tapi sebaiknya kita segera pergi ke tempat peristirahatan," kata Meimei.


"Sebaiknya kau menjelaskan kepada kami setelah tiba di sana, Senior," kata Ling Zizhou dengan ketus sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Tanpa sadar Ling Zizhou sudah berdiri di depan Mu Lian dan bersikap seperti sedang melindungi Mu Lian.


"Memang itu rencanaku. Ayo!" kata Meimei sambil menghela napas.


Ling Zizhou memimpin berjalan menyusuri hutan. Sedangkan Meimei dan pria itu berjalan beberapa langkah di belakang.


Suasana di antara mereka begitu mencekam hingga membuat punggung Mu Lian terasa dingin. Mu Lian menoleh ke arah pria itu beberapa kali.


Pria itu berjalan pincang. Tangan kanannya memegang tangan kirinya, sepertinya terluka. Pakaiannya koyak dimana-mana dan dipenuhi darah segar yang bercampur dengan darah kering.


"Sepertinya perjalanan kita tidak selancar yang dipikirkan," kata Meimei.


"Bukannya dari kemarin juga begitu, Senior?" kata Ling Zizhou.


"Tunggu disini. Awasi dia," kata Meimei menunjuk pria itu dengan dagunya.


"Baik, Senior," kata Ling Zizhou.


Meimei menghilang ke barisan pepohonan. Beberapa saat kemudian terdengar suara pertarungan dan raungan seekor spirit beast dari kejauhan.


Ling Zizhou membawa Mu Lian dan pria itu duduk di bawah sebuah pohon sedangkan dirinya berjaga di dekat mereka. Mu Lian melihat ke arah pria itu lagi tanpa sengaja bertemu mata dengannya.


"Ini ambillah," kata Mu Lian. Karena terlanjur ketahuan menatapnya, jadi sekalian saja Mu Lian memberi pria itu sebuah kantung air minum.


"Terimakasih," kata pria itu parau. Pria itu mengernyit ketika air membasahi bibirnya yang terluka.

__ADS_1


Mu Lian bertanya mengapa pria itu ada di hutan ini dan jawabannya sama persis seperti yang dilontarkannya pada Meimei dan Meng Zhi.


Namun setelah melihat Mu Lian, pria itu semakin yakin bahwa kelompok Mu Lian bukanlah sekte aliran sesat. Meski pun keraguan pria itu datang lagi ketika melihat wajah Ling Zizhou.


"Wangi ini," kata pria itu. Awalnya dia tidak mencium wangi herbal dari dalam kantung minumnya karena terlalu fokus dengan luka di bibirnya.


"Oh, aku mencampurkan teh herba untuk menghilangkan kelelahan. Memang sedikit pahit karena airnya dingin, tapi efeknya tetap terasa kan?" kata Mu Lian.


"En," kata pria itu. Pantas saja tubuhnya terasa ringan meskipun luka-luka di seluruh tubuhnya masih terasa sakit.


Tak lama, Meimei kembali dan menyuruh Ling Zizhou untuk memimpin perjalanan ke tempat peristirahatan. Meimei takut kondisi pria itu semakin memburuk.


Mu Lian dan yang lain tiba di tempat peristirahatan lebih siang dari yang diperkirakan. Waktu makan siang telah lewat dua jam yang lalu.


Ling Zizhou menyiapkan makan siang sedangkan Mu Lian merawat pria misterius itu. Meimei duduk di pinggir, mengamati Mu Lian yang sedang mengoleskan pasta racikannya ke luka di tubuh pria itu.


"Orang-orang yang saudari bilang berpakaian sama dengan kami, aku ingin mendengar kejadiannya," kata pria itu setelah lama diam.


Pria itu tahu bahwa Meimei duduk di dekatnya untuk menunggunya buka suara tentang kejadian di Gunung Kaki Langit.


Namun pria itu hendak memastikan apakah kelompok yang menyerang Meimei dan yang lain adalah kelompok yang sedang mereka kejar.


Mu Lian menoleh ke arah Meimei melihat bagaimana reaksinya terhadap ucapan pria itu. Meimei menghela napas kemudian menceritakan kejadian yang dialami dirinya dan kelompok Mu Lian dua hari yang lalu.


Makan siang sudah siap sejak tiga puluh menit yang lalu namun Ling Zizhou menunggu Meimei menyelesaikan ceritanya.


"Ah, Senior Meng, kebetulan makan siang sudah siap," kata Ling Zizhou. Meimei berhenti bercerita dan menoleh ke arah Meng Zhi.


"He'er!" kata pria itu. Seorang pemuda yang kondisinya tidak lebih parah dengan pria itu sedang ditopang Meng Zhi.


"Su gege!" kata pemuda itu terkesiap.


"Apa Su gege yang mengirim Senior ini untuk menyelamatkanku?" kata pemuda itu.


"Tentu saja, aku kan sudah bilang akan mencari bantuan," kata pria itu melanjutkan kepada Meng Zhi


"Terimakasih, Senior!"


"En. Sekarang apakah kau berniat buka suara soal kejadian ini?" kata Meng Zhi. Meng Zhi menyerahkan pemuda itu untuk dirawat Mu Lian.


"Aku sudah mendengar cerita dari saudari Meimei, dan memang benar ketiga orang itu sedang kami kejar. Mereka membawa benda yang dapat merusak suatu tempat dengan menyerap chi di sekitar," kata pria itu melanjutkan


"Aku dan rekanku berniat pergi ke puncak gunung ini untuk mencegah mereka namun kami masuk ke daerah kekuasaan tipe pelacak. Kami berusaha keluar dari daerah itu dan tidak sengaja bertemu dengan ketua kelompok mereka yang sedang dimakan oleh salah satu tipe pelacak,"


Mu Lian menahan napas ketika mendengar pria itu mengungkit benda yang dibawa kelompok ketiga orang tersebut.


Mu Lian menepuk kantung dimensionalnya, mengeluarkan sebutir biji berwarna coklat kehitaman.


Awalnya Mu Lian terkejut melihat Meimei dan Ling Zizhou membawa barang-barang 'hasil rampasan' dari ketiga jenazah tersebut namun setelah dibujuk Meimei, Mu Lian akhirnya membawa sebuah biji yang memiliki chi yang sangat pekat.


Meskipun terdapat kejanggalan pada biji itu, Mu Lian tetap membawanya untuk diteliti saat pulang ke Lembah Ufuk Timur nanti.


Tetap saja, selama dua hari Mu Lian selalu bermimpi buruk melihat bayang-bayang mereka ketiga orang tersebut mendatangi dirinya.


"Ehem," Mu Lian berdeham, menarik perhatian Meng Zhi.


Kemudian ketika Meng Zhi menoleh ke arah Mu Lian, Meng Zhi melihat Mu Lian menunjuk pada biji di genggaman tangannya.


Saat Mu Lian menunjukkan biji hasil rampasan pada Meng Zhi, si pria misterius dan pemuda itu sedang saling menatap satu sama lain, berkomunikasi melalui mata mereka sehingga tidak melihat biji tersebut.


"Apa yang kau maksud benda ini? Lian'er, tunjukkan padanya," kata Meng Zhi.


"!"


Pria misterius dan pemuda itu menatap biji yang ada di dalam genggaman Mu Lian. Wajah keduanya pucat kemudian setelah lama diam pria itu mengangguk.


"Benar. Biji ini yang kumaksud," kata pria itu.


"Su gege sebaiknya kita segera membawa para penyelamat kita ini ke master," kata pemuda itu.


"En. Senior, anda sebaiknya ikut dengan kami untuk melakukan purifikasi," kata pria itu.


"Purifikasi?" kata Meimei bingung.


"Kalian bertarung melawan ketiga orang yang sedang kami kejar bukan? Yang dapat kusampaikan adalah mereka bukan anggota sekte aliran sesat biasa. Mereka...ada kaitannya dengan makhluk abyssal," kata pria itu kemudian menoleh ke arah Mu Lian.


"Nona muda, apa kamu terluka karena salah seorang dari ketiga orang tersebut?" kata pria itu.


Meimei langsung beranjak dari tempat duduknya dan memegang kedua bahu pria itu.


"Makhluk abyssal katamu? Bagaimana dengan luka Lian'er?" kata Meimei.


"Lian'er, kau tidak apa-apa kan? Apakah ada bagian yang tidak nyaman?" kata Ling Zizhou sambil memeriksa lengan Mu Lian yang terluka.


"Semua orang yang pernah berhadapan dengan golongan mereka akan sedikit terkontaminasi dengan aura abyssal, jadi harus segera dipurifikasi," kata pria itu.


"Ada dimana master anda?" kata Meng Zhi. Persoalan mengenai makhluk abyssal bukanlah hal yang sepele.


"Besok aku akan menunjukkan jalan. Kalau bisa kita pergi pagi sekali," kata pria itu.

__ADS_1


"Bagus. kalau begitu mari kita makan untuk memulihkan tubuh kita," kata Meng Zhi.


Malam itu Mu Lian terus ditanyai mengenai kondisi tubuhnya, dia harus meyakinkan beberapa kali sebelum akhirnya Meimei dan Ling Zizhou meninggalkan Mu Lian untuk tidur.


"Huahmm," Mu Lian menguap untuk kesekian kalinya pagi itu.


Nampaknya kejadian kemarin membuat mimpi buruk Mu Lian semakin menjadi sehingga membuat tidurnya tidak lelap.


"Dasar tukang tidur," gumam Ling Zizhou yang berjalan tak jauh dari Mu Lian.


Kelompok Mu Lian beberapa kali bertemu dengan si rakus dan untungnya tipe penjebak tidak berada di jalur perjalanan mereka.


Beberapa kali mereka berhenti di sungai untuk mengisi persediaan air minum mereka. Ketika mereka keluar kawasan Gunung Kaki Langit, mereka masih dapat menemukan si rakus tingkat 1.


Kelompok Mu Lian kemudian berjalan ke jalan setapak yang tak Mu Lian kenal. Mu Lian menoleh ke jalan menuju Lembah Ufuk Timur. Sepertinya dia harus menunda kepulangannya.


Kata pria itu dengan kecepatan mereka, mereka akan tiba di desa tempat masternya berada pada malam kedua.


"Apa kau kedinginan?" tanya Meimei.


"Tidak jiejie," kata Mu Lian berbohong. Meskipun berada di depan api unggun, Mu Lian masih merasa kedinginan karena angin malam itu lumayan kencang.


Meimei duduk disebelah Mu Lian kemudian merangkul tubuhnya untuk menghalangi angin malam. Ling Zizhou melakukan hal yang sama di sebelah kiri tubuh Mu Lian.


Ketiganya duduk berdempetan sambil mendengarkan percakapan Meng Zhi dan pria misterius itu. Pria misterius itu bersikeras agar dipanggil dengan nama Su.


Percakapan itu semakin lama semakin terdengar jauh di telinga Mu Lian. Kemudian dengan belaian tangan Meimei, Mu Lian tertidur dalam posisi duduk.


Mu Lian merasa baru sekejap saja dia menutup mata sebelum tanah keras di bawahnya terasa empuk bagaikan kasur. Kemudian Mu Lian merasakan tubuhnya makin tenggelam ke dalam kasur tersebut.


Mu Lian bingung karena tidak bisa beranjak dari kasur tersebut. Dia sadar akan tubuhnya yang semakin tenggelam namun tubuhnya terasa seperti ada yang menahan.


Mu Lian berteriak minta tolong dengan mulutnya yang terkunci. Hanya ada suara tertahan yang terdengar dari balik mulutnya.


Keringat membasahi wajah Mu Lian, membuat rambutnya menempel menutupi matanya. Mu Lian semakin panik dan mencoba meronta.


"..er!" kata sebuah suara dari kejauhan. Mu Lian mencoba fokus pada suara tersebut. Instingnya mengatakan bahwa dia akan keluar dari sini jika mengikuti suara itu.


"Lian'er!"


Mu Lian mengerjap. Matanya menangkap wajah Meimei, Ling Zizhou dan Meng Zhi. Beberapa saat kemudian Mu Lian dapat merasakan tubuhnya kembali.


Melihat Mu Lian sudah sadar sepenuhnya, Meimei memeluk Mu Lian erat. Setelah Meimei melepaskan Mu Lian, Mu Lian dapat melihat pria bernama Su dan rekannya sedang menatap Mu Lian dengan khawatir.


"Sudah berapa lama nona mengalami mimpi buruk?" kata pria itu.


"Eh? Oh, kira-kira dua hari yang lalu," kata Mu Lian.


"Kenapa kau tidak bilang!" kata Ling Zizhou.


"Sepertinya nona ini mengalami gejala ketika terkontaminasi aura makhluk abyssal. Kemunculan gejala setiap orang berbeda-beda. Nona ini termasuk yang cepat," kata pria itu.


"Kita harus pergi ke master anda sekarang!" desak Meimei.


"Bagaimana kalau Senior menggunakan qinggong?" usul Ling Zizhou.


"Baiklah, Laopo tugasmu adalah menggendong Lian'er, Zhouzhou kau akan menggendong rekan saudara Su. Saudara Su, ini keadaan mendesak jadi sementara ini kau akan kugendong," kata Meng Zhi.


"Senior, sekarang tengah malam, bagaimana kalau-"


"Tidak! kita pergi sekarang!" potong Meimei dan Ling Zizhou bersamaan.


Setelah membereskan tempat kamping mereka, Mu Lian dan yang lain mulai bergerak ke arah yang ditunjukkan Su dengan kecepatan tinggi.


Ling Zizhou jauh tertinggal dibelakang namun dengan indera spiritualnya, Ling Zizhou dapat mengikuti kemanapun mereka pergi.


Meimei menggunakan chi nya untuk menciptakan semacam pelindung agar Mu Lian tidak terkena hembusan angin kencang.


"Lian'er, jangan tertidur! Mari bicarakan tentang embun pagi," kata Meimei.


Embun pagi adalah tanaman herbal yang akan tumbuh pada musim dingin di Lembah Ufuk Timur. Dan nama tanaman herba itu dijadikan nama sekte Embun Pagi


Mendengar tanaman herba itu rasa kantuk Mu Lian langsung hilang. Mu Lian kemudian bercerita tentang rencananya memetik embun pagi dengan mata berbinar.


Hari semakin terang. Matahari hampir di atas kepala ketika Mu Lian melihat sebuah desa. Gapura yang terbuat dari batu bertuliskan 'Desa Mare' dijaga oleh dua orang pria setengah baya.


"Selamat siang, apakah rekan anda terluka?" kata salah seorang penjaga.


"Oh bukankah anda saudara Su? Master Zhengheng memberitahu kami agar segera melapor kalau anda kembali," kata penjaga yang satu lagi.


"Ah, terimakasih," jawab Su singkat kemudian menyuruh Meng Zhi untuk ke arah sebuah penginapan.


Mu Lian membalas senyum kedua penjaga itu ketika melewati mereka. Ternyata masih banyak orang-orang ramah di desa.


Apa mungkin itu sebabnya sekte aliran sesat lebih mudah menyusup di desa seperti ini, termasuk di desa Lembah Ufuk Timur?


Mu Lian masuk ke sebuah penginapan kecil dengan bangunan sederhana. Pekarangannya kecil dan hanya dihiasi kolam mungil tanpa ada apa-apa didalamnya.


Tiba-tiba Mu Lian merasakan nafsu membunuh dan melihat sekumpulan orang berpakaian hitam mengelilingi Mu Lian, Meimei dan Meng Zhi.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini, saudara Su?" kata seorang pria.


__ADS_2