Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Home sweet home


__ADS_3

Mu Lian menatap botol-botol porselen yang bergeletakan di akar-akar kemudian mengamati kepala Bai Wenlan yang sudah terkulai lemah di dekat kaki depannya.


Meski sudah diberi pil internal hingga pil berharga kualitas unggulan lainnya oleh Mu Haocun, kondisi Bai Wenlan tak kunjung membaik.


Mu Haocun sempat melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan jarum miliknya yang menyerupai jarum akupuntur. Hanya saja jarum-jarum tersebut terlihat seperti rambut, sangat tipis dan mengkilat.


Sayangnya, ketika jarum-jarum tersebut baru memasuki peredaran darah Bai Wenlan, kondisinya menurun dengan eksponensial. Sehingga, Mu Haocun memasukan kembali jarum-jarum miliknya ke dalam kotaknya semula.


"Aku benar-benar salut dengan kegigihan Anda untuk bisa bertahan sejauh ini," kata Mu Haocun menggeleng.


Mu Haocun bergidik membyangkan bagaimana rasanya hidup kesakitan hanya dengan mengambil napas saja!


Mu Haocun memperkirakan Bai Wenlan berada dalam penderitaan tersebut selama berpuluh-puluh tahun.


"Kakek..." kata Mu Lian tercekat ketika mendengar bahwa Bai Wenlan telah kesakitan selama berpuluh-puluh tahun.


"Maaf kakek tidak berani memberi pil lebih dari yang sudah kakek berikan. Lian'er tahu kan kalau pil diberikan kepada kultivator di bawah tingkat pembentukan pondasi, mereka akan keracunan karena tidak bisa menguraikan pil tersebut di dalam tubuh mereka?" kata Mu Haocun.


Itu artinya Bai Wenlan terluka hingga menyebabkan kondisi tubuhnya setara dengan kultivator tingkat pembentukan pondasi.


Sebenarnya tingkat kultivasi Bai Wenlan tidak benar-benar menurun hingga setara dengan kultivator tingkat pembentukan pondasi. Bai Wenlan tetaplah kultivator tingkat tinggi.


Yang dialami Bai Wenlan setelah terluka adalah penguasaan chi serta energi spiritualnya menjadi sangat buruk sehingga kekuatannya menyerupai kultivator tingkat pembentukan pondasi.


Untungnya, daerah rawa-rawa ini (Bai Wenlan menyebutnya dunia semu) tidak bergantung lagi pada tingkat kultivasi Bai Wenlan setelah berhasil dibuat sehingga ketika kondisi Bai Wenlan kian memburuk, dunia semu tetap terjaga seperti saat pertama kali dibuat.


"Tidak apa-apa. Jangan menyalahkan diri kalian sendiri karena tidak bisa menyelamatku. Aku sudah mengetahui bahwa waktuku sudah dekat, makanya aku memaksakan diri menghancurkan array yang melindungi kamar dari sini," kata Bai Wenlan lemah.


Meski tak kunjung membaik, setidaknya kini Bai Wenlan tidak begitu kesakitan dan ucapannya pun dapat didengar oleh Mu Lian dan Mu Haocun.


Berdasarkan ucapan


Bai Wenlan melakukan hal tersebut karena takut meninggalkan anaknya sendiri. Tingkat kelahiran makhluk mitos sangat rendah. Dan untuk membesarkan mereka hingga dewasa tak kalah sulit.


Bayi makhluk mitos membutuhkan setidaknya beberapa harta berharga agar tumbuh menjadi makhluk mitos dewasa yang sehat.


"Mu Lian. Ini adalah keinginan egoisku. Tolong...setidaknya hingga anakku mampu hidup mandiri dan membuat dunia semu miliknya," kata Bai Wenlan melanjutkan


"Aku akan memberimu hadiah sebagai bayaran telah menerima permintaanku ini,"


Mu Lian menunggu Bai Wenlan hingga selesai bicara kemudian mengatakan,


"Kenapa anda percaya padaku? Aku hanya lah kultivator tingkat pengkondensasian chi...apa anda sebenarnya meminta tolong pada kakek juga?" kata Mu Lian bingung.


Tentu saja Mu Lian akan menolong Bai Wenlan apalagi Bai Wenlan telah memintanya baik-baik.


Namun Mu Lian tidak memiliki kepercayaan diri untuk membesarkan seekor makhluk mitos. Membesarkan hewan peliharaan pun dirinya tak pernah.


"Haha. Tidak, tentu saja aku minta tolong kepadamu. Kenapa aku memilihmu? Mungkin karena aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu.


Kakek mu pun memiliki aura yang sama denganmu. Jadi yah, kupikir kalian adalah orang yang tepat untuk kuminta tolong," kata Bai Wenlan.


Bai Wenlan tersenyum melihat dua mutiara semesta di hadapannya. Dua mutiara semesta berada di satu tempat yang sama merupakan pemandangan luar biasa baginya.

__ADS_1


"Ukh, maaf sebaiknya kita akhiri dulu sampai disini. Aku, aku ingin menghabiskan waktu bersama anakku. Datanglah kepadaku tiga hari lagi, Mu Lian," kata Bai Wenlan dengan lemah.


Mu Lian dan Mu Haocun mengucapkan sampai jumpa kemudian segera keluar dari pohon raksasa. Mu Lian mengikuti Mu Haocun ke tempat pintu keluar dunia semu.


Awalnya Mu Lian tidak melihat apa-apa namun ternyata, pintu tersebut tersembunyi di bawah air yang berwarna hitam.


Ketika Mu Lian berdiri di lokasi yang tepat, Gaya tak kasatmata seperti sedang menarik dirinya. Mu Lian pun merasakan kembali sensasi seperti tersedot seperti ketika dirinya masuk ke dunia semu.


Beberapa saat kemudian, Mu Lian tertegun melihat pemandangan di sekitarnya. Mu Lian telah kembali ke dunia nyata, tepatnya Mu Lian sedang berdiri di dalam kamar.


Namun keadaan di dalam kamar sangat mengerikan. Semua perabot di geser ke dekat dinding, menyisakan lingkaran array yang sangat besar dan rumit tengah kamar.


Empat jasad tergeletak di dalam beberapa lingkaran, gumpalan organ yang tak Mu Lian ketahui organ milik hewan apakah itu serta yang paling Mu Lian tidak tahan adalah bau busuk yang membuat matanya berair.


"Ukh, apa ini array yang melindungi kamar?" kata Mu Lian dengan suara tertahan.


"Benar. Mereka benar-benar pengikut yang setia. Mereka mengorbankan diri mereka untuk menciptakan array yang sangat kuat. Tahan napasmu Lian'er, lebih baik kita segera keluar," kata Mu Haocun. Mu Lian mengangguk.


"Oh tunggu, kita harus membawa pintu masuk dunia semu," kata Mu Lian sambil berbalik dan menatap jasad pria yang sedang terduduk dengan mata terpejam.


Bai Wenlan sempat mengingatkan Mu Lian untuk membawa pintu masuk dunia semu, meneruskan tugas pengikutnya yang telah gugur.


Mu Lian mendoakan pria tersebut agar jiwanya tenang disana sebelum akhirnya melepas cincin yang terbuat dari *giok berwarna ungu dari jari telunjuk pria tersebut.


...


Dua hari telah berlalu. Kejadian malam itu tidak akan pernah dilupakan oleh Ling Zizhou sebagai pengingat bahwa keberadaan Mu Lian menjadi tidak tergantikan baginya. Begitupula bagi Master Yi, Meimei dan Meng Zhi.


Jati diri Meimei yang merupakan keluarga dewan di dunia Zhongjian. Ibu Meimei adalah Qinglong dan ayahnya adalah seorang manusia. Maka dari itu mata Meimei berwarna biru kehijauan persis yang dimiliki Qinglong.


Mu Haocun dan Master Yi yang kini menjadi sebatang kara karena semuanya gugur di perang besar enam ratus tahun yang lalu.


Mu Lian terkejut ketika mengetahui usia Mu Haocun, Master Yi dan Meng Zhi. Bahkan Meng Zhi ternyata paling tua diantara ketiganya.


Ternyata usia orang di dunia ini panjang disebabkan karena tubuh mereka terpapar dengan chi yang sangat berlimpah. Semakin tinggi tingkat kultivasi seseorang, akan semakin panjang usia mereka.


Asalkan orang tersebut berhasil melewati 1001 cobaan langit, maka dapat dipastikan orang tersebut memiliki usia hingga beratus-ratus tahun lamanya.


Makhluk legenda seperti Meng Zhi, bahkan memiliki usia yang lebih panjang daripada usia manusia.


Usia Mu Lian pun kini bisa mencapai seratus tahun jika tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Mu Haocun dan yang lain bersikeras bahwa mereka tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Mu Lian.


Hal tersebut membuat Mu Lian merasa sedih. Disaat dirinya masih hidup, ibu, ayah, serta kakaknya akan pergi mendahuluinya.


Namun Mu Lian tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan karena ada orang-orang yang mengkhawatirkannya seperti Mu Haocun, Ling Zizhou, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi.


Di dimensi lain Mu Lian memiliki keluarga, namun di dimensi ini, Mu Lian juga memiliki keluarga yang menyayanginya seperti keluarganya sendiri.


Akhirnya, Mu Lian hanya bisa melanjutkan hidupnya di dunia ini. Mu Lian tertegun. Entah bagaimana caranya, Mu Lian langsung bisa memilih untuk melanjutkan kehidupannya di dunia ini.


Mungkin dari lubuk hatinya yang terdalam, Mu Lian sudah tahu bahwa kemungkinannya untuk pulang sangat kecil.


Selain itu, Mu Lian tanpa sadar menemukan rasa nyaman yang senyaman di rumahnya di Bumi ketika berada di sekitar Mu Haocun, Ling Zizhou, Master Yi, Meimei dan Meng Zhi.

__ADS_1


Disaat Mu Lian memikirkan untuk melanjutkan hidup, tanpa disadari tibalah hari dimana Mu Lian harus bertemu dengan Bai Wenlan.


Bahkan Mu Lian harus diingatkan oleh Mu Haocun untuk bersiap menemui Bai Wenlan. Benar saja, sesaat setelah Mu Lian mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, Mu Lian merasa tubuhnya tersedot ke dalam cincin.


Seperti biasa, cahaya yang menyilaukan membuat mata Mu Lian terpejam dan ketika Mu Lian membuka matanya, Mu Lian tengah berdiri di rawa-rawa.


Tanpa membuang-buang waktu dengan mengamati pemandangan di sekelilingnya, Mu Lian segera menuju pohon raksasa.


Di sana, Bai Wenlan tengah menunggu kedatangan Mu Lian. Si mungil terlihat sangat sedih, telinganya mengarah ke belakang, kepalanya dan sayapnya lunglai bahkan ekornya diletakkan begitu saja di samping tubuhnya.


Sepertinya Bai Wenlan telah menjelaskan semuanya kepada si mungil. Dan dengan kecerdasan bayi makhluk mitos, tentu saja si mungil dapat mengerti ucapan ibunya.


Sedangkan sang Baize, Bai Wenlan terlihat lebih kurus, bulu-bulu putihnya terlihat semakin kusam, terdapat retakan-retakan besar pada tanduknya dan sayapnya terlipat dengan canggung di punggungnya.


Padahal baru tiga hari berlalu, namun kematian mendatangi Bai Wenlan dengan sangat cepat sehingga tanda-tandanya pada tubuh Bai Wenlan semakin nampak. Mu Lian berdiri dengan kepala tertunduk di depan Bai Wenlan untuk menjaga perasaan Bai Wenlan.


Selain menatap Bai Wenlan ketika pertama melewati lubang besar, mata Mu Lian tidak pernah lepas dari akar-akar yang sedang dipijaknya.


"Selamat siang," kata Mu Lian.


"Hmm, apakah diluar sudah siang? Maaf...aku berniat untuk memanggilmu lebih cepat, tapi...oh maaf, semakin dekat dengan kematianku, emosiku semakin tak tertahankan..." kata Bai Wenlan lemah.


Mu Lian tidak mengatakan apa-apa dan menunggu Bai Wenlan dengan sabar. Kepalanya terus tertunduk.


"Mu Lian, senang berjumpa denganmu. Aku titip anakku ya," kata Bai Wenlan berusaha sesantai mungkin kemudian melanjutkan setelah lama diam,


"Sebelum aku pergi, boleh aku tahu apa keinginanmu?" kata Bai Wenlan.


Kali ini Mu Lian menatap Bai Wenlan, karena menurut firasatnya, jika tidak sekarang, Mu Lian akan melewatkan kesempatan untuk menatap mata indah Bai Wenlan untuk yang terakhir kalinya.


"Seberapa keras aku berpikir, keinginanku tetap rumah, maksudku bukan rumahku yang ada di Bumi, aku ingin rumah agar keluargaku di dunia ini dapat hidup dengan nyaman bersamaku," kata Mu Lian buru-buru menjelaskan ketika Bai Wenlan mengernyit.


Mendengar ucapan Mu Lian, Bai Wenlan tenang kembali dan tersenyum dengan sangat tulus kepada Mu Lian.


"Terima kasih..." kata Bai Wenlan sambil melanjutkan dalam hati,


"...karena tidak serakah,"


Matanya kini terlihat tak fokus. Meski begitu, Bai Wenlan memeluk serta mencium si mungil selama beberapa saat yang dirasakannya tidak cukup sebagai hadiah perpisahan baginya.


Bai Wenlan kemudian mengernyit, terpancar ketakutan serta keraguan di mata blue stone-nya namun setelah menghela napas panjang, kedua emosi tersebut segera menghilang dari matanya.


"Aku Bai Wenlan, mengakui Mu Lian dan akan mengabulkan satu keinginannya. Semoga dia menjadi gadis yang dapat bermanfaat untuk seluruh dunia," kata Bai Wenlan.


Suaranya semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya Bai Wenlan menghembuskan napas terakhirnya.


...


Note:


* Bentuknya seperti ini bahannya seperti yang telah dijabarkan di atas, terbuat dari batu giok berwarna ungu.


__ADS_1


__ADS_2