
Mu Lian dan yang lain disapa air sebening kristal. Semakin dekat dengan kolam, udara semakin sejuk. Sinar datang dari dalam air yang berasal dari plankton-plankton.
Selain dari plankton-plankton itu, sumber cahaya berasal dari serpihan kerlap-kerlip yang menempel pada dinding gua.
(Sumber: Pinterest)
"Woaah!"
"Indah sekali!"
Anak-anak berlari ke pinggir kolam alami tersebut dan mencelupkan tangan mereka. Bahkan, Xiaohan sudah mulai melepas pakaiannya.
Mu Lian mengamati anak laki-laki bertelanjang dada berusaha menangkap ikan yang bersembunyi di dasar kolam, dibalik bebatuan.
Xiaoqiu muncul ke permukaan, sesekali mengambil napas sekalian minum air kolam, benar. Dia mengeluh betapa lincahnya ikan-ikan itu sehingga sulit ditangkap.
Xiaoqiu jadi lelah dan melepas dahaga. Benar-benar menyelam sambil minum air. Xiaobao dan Xiaohan pun melakukan hal yang sama.
Xiaobao, Xiaoleng, Xiaohan dan Xiaoqiu yang gagal terus menangkap ikan-ikan itu, segera mengalihkan perhatian mereka kepada struktru kolam. Mereka menjelajah sampai seluas apa kolam alami tersebut.
"Ayo kita duduk disana," kata Mu Lian kepada Meimei, Xiaohua dan Xiaojia. Menunggu keempat anak itu pasti lama, jadi Mu Lian mengajak anak-anak perempuan dan Meimei untuk duduk di pinggir kolam sambil merendam kaki mereka yang lelah.
Menemukan tempat yang nyaman, para gadis pun jadi bisa dengan leluasa membuka obrolan dan bergosip.
Sedangkan Ling Zizhou dan Meng Zhi, tidak menyangka jika Xiaohan dan Xiaoqiu muncul ke permukaan hanya untuk melepas pakaian mereka dengan paksa kemudian menarik keduanya masuk ke dalam air.
Rencana mereka untuk singgah di mata air selama 10 menit pun hancur. Mu Lian dan yang lain kembali ke gerobak 2 jam kemudian.
Namun penundaan selama 2 jam tidak membuat mereka khawatir karena dengan pengajuan slip, dapat dipastikan slip menjadi milik mereka.
Setelah episode pendek petualangan Xiaobao, Xiaoleng, Xiaohan dan Xiaoqiu, gerobak melanjutkan perjalanan menuju kota G. Menurut informasi, Gua suci berada 3 jam dari kota G tepatnya di perbatasan antara Kota G dengan kota O.
Kalau berangkat dari ibukota, harus menempuh perjalanan selama satu hari penuh. Namun karena Mu Haocun ingin menunjukkan tempat-tempat menarik kepada Mu Lian dan anak-anak, perjalanan menuju kota G jadi di tempuh selama 2 hari.
Mu Haocun membawa gerobak ke padang sunyi, tempat yang dapat membawa seseorang ke permukaan.
(sumber: pinterest)
Sebelum memutuskan untuk bermalam disana, Meng Zhi dan Master Yi memeriksa keadaan disekitar.
Untungnya, keadaan beberapa hari terakhir cukup aman. Tidak ada tanda-tanda turunnya hujan asam. Terbukti ada beberapa rombongan pengelana yang menempati sudut-sudut tertentu padang sunyi.
Sebenarnya ada dewan yang berjaga di sekitar sini. Dewan mendirikan pos keamanan untuk mengawasi cuaca di permukaan dan mengawasi purifikasi air asam yang dilakukan secara alami oleh padang sunyi ini.
"Yang harus kalian perhatikan adalah hindari semua tumbuhan pakis yang ada di padang ini. Oh, bunga lili putih juga.
Meski padang sunyi sering didatangi pengelana sebagai tempat rekreasi, ada sebutan lain yang cukup terkenal," kata Meng Zhi berhenti sesaat untuk memunculkan ketegangan,
"Padang kematian,"
Mu Lian, Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu sampai lupa bernapas mendengar kata selanjutnya dari Meng Zhi. Dan kata-kata Meng Zhi selanjutnya tidak mengecewakan mereka, karena nama lain padang sunyi cukup menakutkan!
Masih sama seperti formasi sebelumnya, yang keluar gerobak untuk merasakan pengalaman berada di padang sunyi hanya 4 anak berusia 12 tahun dan 2 anak berusia 9 tahun.
__ADS_1
"Ada alasan dibalik nama itu. Semua kriminal yang diberi hukuman mati dari berbagai negeri di dunia bawah akan dibuang ke permukaan untuk mati secara perlahan-lahan di bawah hujan asam.
Saat ada tahanan yang menunggu gilirannya untuk dihukum mati, mereka bermalam disini untuk merenungkan kejahatan-kejahatan yang telah mereka perbuat.
Tidak ada makhluk hidup selain tumbuh-tumbuhan yang berhasil beradaptasi di padang ini sehingga ketika malam, tidak ada suara makhluk hidup yang terdengar," kata Meimei menjelaskan.
"Makanya padang ini disebut padang sunyi," gumam Mu Lian. Meimei mengangguk.
Tujuan Mu Haocun membawa Mu Lian dan anak-anak ke tempat ini adalah agar mereka merasakan bagaimana rasanya berada di tempat yang dekat dengan kematian.
Karena kehidupan tidak akan pernah jauh dari kematian, jadi Mu Haocun mau Mu Lian dan anak-anak tidak menghindari kematian melainkan belajar menerima keberadaannya.
"Ayo berbaris! Kita akan menyusuri padang sunyi!" kata Ling Zizhou entah kenapa menjadi orang yang paling bersemangat diantara semuanya.
Mu Lian pergi mengikuti Ling Zizhou diikuti oleh Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu.
Meng Zhi dan Meimei juga mengikuti namun dengan jarak yang sangat jauh. Setidaknya rombongan Mu Lian masih dalam jarak pandang Meng Zhi dan Meimei.
Keduanya memanfaatkan kesempatan ini untuk berduaan. Lagipula banyak pengelana dan 3 dewan yan berpatroli disekitar padang. Jadi Meimei dan Meng ZHi tidak khawatir dengan keselamatan Mu Lian, Ling Zizhou dan anak-anak.
Mu Lian mengikuti Ling Zizhou menjelajah padang sunyi. Mengamati tumbuhan pakis dari dekat karena penasaran dengan kemampuannya mempurifikasi zat asam yang dikandung air hujan asam.
Mengamati tumbuhan yang hidup di padang, mengamati kehidupan di dalam kolam-kolam yang ada di padang. Ternyata hanya ada tumbuhan air yang menyerupai tumbuhan pakis dengan ukuran mini yang hidup disana.
Ling Zizhou menjelaskan kalau air di dalam kolam bisa diminum setelah direbus selama 5 menit. Air tersebut bisa langsung digunakan untuk membasuh wajah ataupun mencuci barang-barang. Selain rombongan Mu Lian, ada 3 rombongan yang juga sedang menjelajahi padang.
Kadang-kadang dua rombongan saling berpapasan dan bertukar sapa. Setelah itu kedua rombongan yang tidak saling berkaitan itu segera mengurusi urusan masing-masing.
Ketika semua daerah padang telah dijelajahi Mu Lian dan yang lain, Meng Zhi dan Meimei mengajak pergi ke permukaan.
"Aku lihat ada rombongan yang meminta ijin kepada dewan untuk diantar ke permukaan. Bagaimana? Tertarik" kata Meng Zhi.
Meimei tidak tahu harus menunggu berapa lama supaya mereka bisa pergi ke permukaan. Lagi pula sebentar lagi matahari terbenam dan dewan tidak mengijinkan siapapun pergi ke permukaan setelah matahari terbenam untuk alasan keamanan.
"Ayo!" kata Mu Lian dan yang lain bersamaan.
Meimei dan Meng Zhi membawa Mu Lian dan yang lain kembali ke daerah datangnya mereka. Disana, berdiri pos penjagaan sederhana yang sudah dikelilingi beberapa rombongan.
Mereka sedang menunggu dewan yang sedang berkomunikasi dengan alat ajaib di tangannya. Tak lama, si dewan mengijinkan semuanya pergi ke permukaan.
Cara pergi ke permukaan sangat sederhana, seseorang hanya harus loncat saja dari lubang yang paling dekat dengan permukaan.
Meski begitu, ketinggian lubang tersebut setara dengan rumah 3 lantai sehingga menyulitkan anak-anak untuk naik ke permukaan.
Mu Lian mencoba menggabungkan tehnik qinggong dengan tehnik loncatannya yang terbukti bisa membawanya ke permukaan.
Sayangnya, Mu lian belum percaya diri untuk membawa satu orang anak bersamanya. Karena membawa dirinya naik saja sudah cukup sulit. Tehnik yang dilakukan harus akurat.
Anak-anak pun dibawa satu persatu oleh Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi. Sisanya, 3 anak dibawa ke permukaan oleh paman-paman baik hati yang juga hendak ke permukaan.
Ketika dirinya pertama kali keluar dari bawah tanah, Mu Lian harus menyipitkan matanya untuk beradaptasi dengan matahari yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya. Padahal saat itu matahari sudah condong ke barat dan sinarnya tidak terlalu tajam.
"Wah, silaunya!" celetuk Xiaohan bersikap seperti vampir yang menderita dibawah sinar matahari.
"Ada-ada saja!" kata Meimei menggeleng.
"Mohon untuk tidak pergi terlalu jauh dan kembali dalam waktu 2 jam lagi!" kata seorang dewan dengan suara lantang.
__ADS_1
"Waktunya hanya sebentar, ayo cepat, kita ke laguna terdekat," kata Meng Zhi mulai memimpin Mu Lian dan yang lain berjalan di hamparan pasir putih.
"Berat sekali!" kata Xiaoleng terkejut mendapati kakinya sangat sulit melangkah.
"Uwah!" teriak Xiaohua nyaris tersungkur. Untung Mu Lian segera menangkapnya.
"Hati-hati. Kita pelan-pelan saja jalannya. Kalau bisa jangan sampai jatuh," kata Meng Zhi dengan ekspresi syahdu.
Bagaimana tidak, tempat ini adalah makam massal. Dari pakaian, daging dan tulang hancur dibawah hujan asam. Secara otomatis, pasir-pasir yang mereka injak ini...
Entah bagaimana caranya pasir-pasir ini bisa berubah menjadi putih sehingga banyak orang melupakan fakta sebenarnya.
Karena berjalan dengan sangat hati-hati, Mu Lian dan yang lain tiba setelah berjalan selama 35 menit.
Diapit oleh dua bukit pasir berdekatan, kolam dengan air kehijauan, menjadi oase ditengah gersangnya padang pasir. Diseluruh tanah kematian ini, hanya laguna-laguna itu lah bukti adanya kehidupan.
(sumber:google)
"Laguna ini terhubung dengan salah satu mata air seperti mata air yang pernah kita kunjungi," kata Meng Zhi.
Namun tidak ada yang tahu pasti laguna mana yang berhubungan dengan mata air mana. Dari sekian banyaknya laguna, baru beberapa saja yang dijelajahi.
Meng Zhi menjelaskan bahwa laguna berfungsi sebagai penyaring paling pertama air hujan asam. Baru kemudian melalui proses penyaringan lagi hingga akhirnya keluar di mata air-mata air yang ada di bawah tanah.
Selain laguna dihadapan Mu Lian, ada laguna-laguna kecil tak jauh dari sana. Mu Lian dan yang lain mengunjungi laguna-laguna tersebut dan menghabiskan 30 menit disana sebelum akhirnya kembali ke lubang.
Ketika Mu Lian dan yang lain kembali ke tempat dewan menunggu di dekat lubang, langit sudah gelap dan permadani bintang mulai memenuhi langit.
"Ups," kata Mu Lian nyaris terjatuh karena meloncat turun lebih berbahaya daripada yang diduganya. Pergelangan kakinya sedikit nyeri namun hilang setelah dilemas-lemaskan.
Mu Lian dan yang lain segera kembali ke gerobak dan membuat api unggun, Xiaohan ingin ikut melakukan kegiatan api unggun, seperti yang dilakukan para pengelana lain yang sedang singgah di padang sunyi.
Dan yang melakukan kegiatan api unggun juga masih sama dengan formasi tadi siang. Yang berbeda hanya Ling Zizhou.
Ling Zizhou harus memasak makan malam untuk anak-anak yang memilih tetap berada di dalam gerobak bersama Mu Haocun.
Mu Lian mengamati api unggun-api unggun yang berada di beberapa titik di padang sunyi. Suasana malam itu begitu syahdu dan hanya ada suara derak api unggun.
Ketika semuanya selesai makan malam dan api unggun dipadamkan, barulah Mu Lian merasakan kesunyian padang sunyi.
Mu Lian dan yang lain mencoba untuk tidur diluar malam itu. Namun bukannya tertidur, Mu Lian malah semakin menyadari semua yang ada di sekitarnya, begitu pula dengan chi yang ada disekitarnya.
Setelah berganti-ganti posisi dan tetap tidak bisa tidur, Mu Lian pun memutuskan untuk bermeditasi. Malam itu kesadaran Mu Lian begitu kuat sehingga energi spiritualnya hampir meledak ke tingkat yang lebih tinggi.
Keesokan paginya, Mu Lian dan yang lain melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah kota G, setengah hari lagi dari padang sunyi.
Namun tujuan akhir mereka bukanlah kota G, melainkan perbatasan antara kota G dan kota O yang ditempuh selama 3 jam dari kota G.
Mu Lian mengira akan menemukan keramaian disepanjang jalan menuju kota G karena dibukanya Gua Suci, ternyata tidak.
Mu Lian baru bertemu keramaian setelah memasuki kota G. Pusat kota penuh sesak, penginapan-penginapan penuh bahkan restoran-restoran juga penuh.
Parahnya lagi, pertengkaran terjadi dimana-mana, meski tidak sampai melewati batas. Banyak orang-orang berpakaian dewan yang berpatroli di sana sehingga orang-orang yang bertengkar hanya adu mulut.
Namun ada juga yang menantang bertukar 'pukulan' untuk menentukan siapa yang lebih pantas mendapatkan slip.
__ADS_1
"Kami dari Sekte Amethys menantang Sekte Fluorite di Arena Kemuliaan untuk menentukan pemilik paling pantas slip yang ada di tangan kalian!" kata seorang pemuda dengan lantang. Tanduknya mengintimidasi siapa saja yang melihat.
"Bah! Siapa takut!" balas pemuda dengan suara yang tak kalah lantang. Menunjukkan tanduknya yang tak kalah mengintimidasi dari pemuda pertama.