
Mendengar bahwa Mu Haocun akan disibukkan membuat kertas mantra, Meng Zhi pun mengurungkan niatnya untuk membawa Mu Haocun ke Lereng Kaca.
Meng Zhi bertukar tempat dengan Master Yi karena harus membantu Mu Haocun mengolah kertas mantra sebelum nanti diukir oleh Mu Lian.
Sedangkan Ling Zizhou ditemani Master Yi, kembali ke penginapan sebelum pihak Lereng Kaca datang dan menemukan jika Ling Zizhou dan Meng Zhi tidak ada di penginapan, yah, sayangnya, Meng Zhi kini digantikan oleh Master Yi.
Hal tersebut sempat membuat gempar pihak Lereng Kaca, karena menemui satu lagi anggota Gerobak Ajaib.
Apalagi Master Yi terlihat sangat tangguh dan tak terkalahkan. Kata-kata si pria paruh baya menjadi tidak setajam biasanya.
Demi mengulur waktu, Ling Zizhou dan Master Yi terus membuat Lereng Kaca kewalahan. Menghilang tiba-tiba saat di ruang tunggu, mengacaukan acara pelelangan, menghilangkan barang-barang yang akan dilelang, dan lain sebagainya.
Berbeda dengan Ling Zizhou dan Master Yi, Meng Zhi dan Mu Haocun dikejar waktu sehingga harus bekerja tanpa henti. Meski sudah terbiasa tidak tidur selama berhari-hari, tetap saja lingkaran hitam menghiasi bawah mata Meng Zhi.
Begitu juga yang dialami Mu Lian. Ketika Mu Haocun tiba-tiba datang ke dunia semu, saat itu Mu Lian sedang menemani Xiaobai bermain, Mu Lian terkejut ketika dirinya harus melakukan kursus kilat mengukir mantra.
Mu Lian tidak tidur semalaman, karena harus bisa mengukir mantra sebelum matahari terbit. Xiaobai yang penasaran, duduk di sebelah Mu Lian, mengamati apa yang dilakukan Mu Lian sebelum akhirnya jatuh tertidur.
"Ukh," kata Mu Lian.
Jika hanya tangannya saja yang pegal karena terlalu banyak menulis, itu masih bisa ditahan. Namun yang Mu Lian rasakan saat ini adalah kelelahan yang luar biasa, setengah jiwanya seperti sudah berada di luar tubuhnya!
"Bagus, sekarang akan kakek bawakan sarapan. Setelah itu Lian'er bisa tidur selama 4 jam," kata Mu Haocun beranjak dari tempatnya.
Mu Lian terkapar di atas tanah. Tubuhnya kedinginan karena keringat membasahi pakaiannya dan meski tidak ada angin, suhu di dunia semu cukup dingin.
Mu Lian hanya bisa menghirup dan menghela udara dari mulutnya, terlihat seperti ikan yang terdampar di daratan, sangat memprihatinkan.
Tak lama, Mu Haocun membawakan Mu Lian sarapan yang sangat banyak. Setelah menghabiskan makanannya dalam waktu sekejap saja, Mu Lian dibantu oleh Mu Haocun pindah ke tempat yang lebih nyaman untuk tidur.
Mu Lian tidur di sisi Xiaobai. Tempat dimana Bai Wenlan terakhir terbaring. Di situ terdapat lumut-lumut yang sangat banyak. Lumut tersebut sangat halus dan empuk.
Mu Lian merasakan kedamaian yang sangat dinantikannya, apalagi kalau sudah bekerja keras, rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat.
Namun, karena saking lelapnya Mu Lian tertidur, Mu Lian tidur tanpa mimpi dan waktu terasa berjalan sangat cepat.
"Hmm?" kata Mu Lian berusaha menghindari tangan yang menggoncang tubuhnya. Mu Lian memeluk benda mungil di sebelahnya yang sedang meronta-ronta.
"Lian'er, bangun. Xiaobai juga sudah tidak mau tidur lagi, jadi jangan paksa dia untuk kembali tidur," kata Mu Haocun menggelengkan kepala.
"Huft, apakah sudah...huahm," kata Mu Lian menguap.
"Bangun! Bangun!" Xiaobai meletakkan telapak kakinya, tanpa mengeluarkan cakar, di pipi kanan Mu Lian.
"Oke, Oke!" Mu Lian segera bangun dan berpisah dengan Xiaobai.
Mu Haocun membawa Mu Lian keluar dari dunia semu dan mendapati Meimei sudah ada di ruang kendali.
Meski matanya menatap ke arah cincin yang tersangkut di antara akar pohon dan kristal misterius, Meimei tidak bertanya dan menyapa Mu Lian.
Setelah menepi ke pinggir kolam, sekali lagi, Mu Lian harus mengukir mantra. Namun saat ini Mu Lian harus mengerahkan seluruh kemampuannya.
Mu Haocun mengeluarkan beberapa kertas mantra yang kualitasnya lebih bagus daripada yang kemarin Mu Lian gunakan untuk berlatih. Begitu juga tinta dengan tinta khusus untuk mengukir mantra.
Mu Lian merasakan sensasi yang lebih pekat dan berat ketika mencelupkan kuas ke dalam wadah berisi tinta.
Pada sesi latihan kemarin, Mu Lian masih diperbolehkan membuat satu atau dua kesalahan. Namun sekarang, jika ada satu atau kesalahan saja yang dibuat, nyawa tuan muda tidak bisa diselamatkan lagi.
Karena beberapa kertas yang ada di hadapan Mu Lian adalah kertas terakhir yang telah diolah dari bahan yang berhasil dijarah Master Yi dari lereng kaca.
Master Yi mengatakan bahwa dirinya telah menyikat habis semua bahan untuk membuat kertas mantra yang ada di gudang penyimpanan Lereng Kaca.
__ADS_1
"Lian'er, gunakan sedikit chi dari kristal itu. Kakek yakin dengan begitu mantra lebih kuat dan kau tidak akan terlalu terbebani," kata Mu Haocun.
Mu Lian mengikuti perintah Mu Haocun, dia mengambil sedikit chi yang ada di dalam kristal misterius itu.
Sepanjang proses pengukiran, Mu Lian tidak berani mengambil napas tanpa mengikuti ritme menulisnya. Hal tersebut membuat Mu Lian cepat pusing dan keringat mulai membanjiri keningnya.
Ujung kukunya memutih karena jemarinya menekan kuas dengan sangat kuat namun tidak menghalangi gerakan tangannya yang sangat luwes. Kuat namun disaat yang bersamaan luwes.
Selain menanfaatkan chi, mengukir mantra memerlukan energi spiritual untuk mengaktifkan zak aktif yang terkandung di dalam tinta khusus.
Mu Lian sangat berkonsentrasi penuh pada kertas di depannya sehingga tidak sadar kertas terakhir telah diukirnya. Tangannya menggapai-gapai ke lantai di sebelahnya.
"Kerja bagus, beristirahatlah. Tapi untuk jaga-jaga, Lian'er ikut kakek," kata Mu Haocun segera pergi ke luar ruang kendali.
Meimei tersenyum tipis ketika melihat Mu Lian dengan susah payah berdiri setelah memasukkan kertas-kertas mantra ke dalam kantung dimensional dan dengan gontai mengikuti Mu Haocun. Keadaannya sangat persis dengan Meng Zhi. Mereka sudah sangat lelah bekerja tanpa henti.
Mu Lian mengikuti Mu Haocun ke kediamannya, Dan Shen dan ternyata di salah satu kamar bangunan itu, Meng Zhi sudah ada di sana.
Mu Lian mendengar percakapan ketika dirinya memasuki kamar. Namun anehnya, pada percakapan itu terdapat satu suara yang sedikit unik.
Suara tersebut seperti terdengar langsung berbicara ke dalam hati. Mu Lian menyadari bahwa pemuda yang sedang terbaring lemah itu berbicara menggunakan telepati.
"Tuan muda, persiapan sudah selesai. Mari kita mulai purifikasinya. Lian'er, duduk di pojok ruangan dan pulihkan energi spiritualmu secepat yang kau bisa," kata Mu Haocun.
Mu Lian mengangguk kemudian dengan patuh duduk untuk bermeditasi di pojok kamar. Tanpa terganggu lingkungan disekitarnya, memasuki ke ruangan yang dipenuhi gugusan galaksi.
Meng Zhi berdiri di samping Mu Haocun dan menerima mantra yang telah dibuat Mu Lian. Merasakan ukiran yang timbul di permukaan kertas, Meng Zhi mengangguk puas.
"Kau benar, kualitasnya tidak kalah dari kertas mantra yang dibuat Rumah Jiwa-Jiwa yang Hilang," kata Meng Zhi.
Mendengar nama tempat ahli mantra paling terampil berkumpul disebut, pemuda yang sedang mengamati Mu Lian segera menoleh ke arah Meng Zhi.
Matanya tidak bertemu dengan Meng Zhi, melainkan dengan Mu Haocun yang sedang menatapnya penuh curiga.
Meng Zhi dan tuan muda kebingungan. Keduanya saling menatap satu sama lain. Namun tidak menemukan jawabannya. Akhirnya keduanya berkonsentrasi pada tugas masing-masing.
Meng Zhi mempersiapkan kertas mantra dan membuatnya melayang di sekitar tuan muda. Sedangkan tuan muda, mengosongkan pikirannya dan masuk ke dalam mode meditasi.
Proses purifikasi. Ketika Mu Haocun mendapati subtrat abyssal dalam tubuh tuan muda, hanya itu yang dapat dipikirkannya.
Namun mantra yang digunakannya kali ini lebih kuat. Dan Mu Haocun membutuhkan bantuan Mu Lian jika saja tubuhnya...
Selama kurang lebih setengah jam proses purifikasi berlangsung. Dan dalam waktu yang cukup lama itu, kamar menjadi berantakan karena angin misterius yang berputar di sekeliling tuan muda.
Tuan muda terlhat sangat kesakitan namun tetap menjaga posisi meditasi berbaringnya. Tiba-tiba, kertas mantra yang diaktifkan oleh Mu Haocun, yang seharusnya terbakar dan tinggal setengah, mulai kembali seperti keadaan semula.
Darah mengalir dari hidung Mu Haocun. Matanya terbelalak kemudian menatap ke arah Mu Lian yang masih bermeditasi.
Meng Zhi pun menyadari apa yang terjadi pada kertas mantra Mu Haocun dan menatap Mu Haocun dengan khawatir.
Untungnya, Mu Lian segera bangun dan menangkap tatapan Mu Haocun yang penuh desakan. Mu Lian segera menghampiri Mu Haocun.
Setelah berdiri di samping Mu Haocun, Mu Lian mengerahkan energi spiritualnya dan mengambil alih kertas mantra Mu Haocun secara perlahan tapi pasti.
Segera setelah Mu Lian mengambil alih, proses purifikasi berjalan tanpa hambatan, malah prosesnya semakin cepat selesai.
Kerutan di kening tuan muda sedikit rileks, wajahnya menunjukkan bahwa tuan muda tidak kesakitan lagi.
Dan substrat abyssal yang semenjak tadi menunjukkan kegigihannya untuk mempertahankan posisinya di lengan tuan muda menunjukkan batang hidungnya juga.
Cairan berwarna hitam kental keluar dari lengan kiri tuan muda. Cairan itu seperti slime dan menggeliat seperti cacing kepanasan.
__ADS_1
Asap hitam terus menerus keluar darinya, benda itu sedang terbakar. Nampak ukuran benda itu semakin mengecil dan benda itu terlihat semakin kaku. Kehidupan semakin menghilang darinya.
Akhirnya, benda itu menghilang sepenuhnya. Ketenangan kembali. Meng Zhi dan Mu Lian jatuh terduduk.
Keduanya mimisan namun keadaannya lebih baik ketimbang Mu Haocun yang hanya bisa duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur. Matanya terpejam.
"Hoh, sepertinya energi spiritualmu meningkat lagi?" kata Meng Zhi memuji kemajuan Mu Lian.
"Benar, entah sejak kapan. Energi spiritual Zhi gege pun tak kalah hebat," balas Mu Lian.
Mu Lian dan Meng Zhi beristirahat selama beberapa saat sebelum akhirnya di bawa oleh Meimei untuk beristirahat di kamar kosong.
Tak lupa Meimei menyeduhkan teh sebelum mengantar Mu Lian dan Meng Zhi ke kamar masing-masing.
Meimei melihat keadaan tuan muda yang semakin membaik. Wajahnya tak pucat ketika pertama datang, dan akhirnya tuan muda dapat tertidur dengan lelap.
Begitu juga dengan Mu Haocun, ketika Meimei menyentuh pundaknya, Mu Haocun sudah tak sadarkan diri. Akhirnya Meimei meninggalkan Mu Haocun bersama dengan tuan muda.
Di saat Mu Lian, Mu Haocun dan Meng Zhi beristirahat, Ling Zizhou dan Master Yi sedang asik bermain petak umpet di Lereng Kaca.
"Keterlaluan! Ketua Jun terlalu memanjakan mereka!"
"Sudah berapa kerugian yang dialami Lereng Kaca!"
"Kalau sampai kita harus mengeluarkan uang dari dompet sendiri, aku akan nekat membunuh kedua orang itu!"
Ling Zizhou mendengar suara-suara di balik pintu. Meski orang-orang tersebut membicarakan dirinya dan Master Yi, Ling Zizhou tak peduli dan terus mengeksplor ruangan yang sedang disinggahinya.
Ling Zizhou menemukan pintu di balik pintu, terkadang pintu itu membawa ke jalan yang baru. Kadang-kadang membawanya ke jalan buntu atau ruangan penyimpanan aneh.
Ruangan itu berisi banyak rongsokan. Rongsokan-rongsokan tersebut saking rusaknya hingga tidak dapat dikenali.
"Mencurigakan," kata sebuah suara di sebelah Ling Zizhou.
"%#&$&^&*," Ling Zizhou menjauh beberapa meter dari orang tersebut yang ternyata adalah Master Yi.
"Ck, bocah ini tetap saja menarik," gumam Master Yi.
"Ya? Bagaimana, master?" kata Ling Zizhou menghampiri gurunya.
"Kita ke gedung lain," kata Master Yi memimpin Ling Zizhou entah kemana.
Kemanapun mereka pergi, hanya ada lantai gua dan dinding cermin. Beberapa staf Lereng Kaca terlihat beberapa kali berpapasan dengan mereka.
Namun Ling Zizhou dan Master Yi terlalu lincah untuk ditangkap. Keduanya akhirnya tiba di daerah dengan penjagaan yang sangat ketat.
Ling Zizhou menghitung berapa kali dirinya dan Master Yi menaiki tangga batu, sedalam itu lah dirinya berada di bawah tanah.
"Dalam sekali, dan penjagaan disini sangat ketat, master?" kata Ling Zizhou mengamati Master Yi mengernyit.
"Kebencian yang sangat pekat, dicampur zat yang menjijikkan, aku tak suka. Ayo kita kembali," kata Master Yi menarik Ling Zizhou untuk segera pergi dari sana.
"Apakah itu artinya tempat ini yang akan menjadi perhatian utama kita?" kata Ling Zizhou. Melihat Master Yi tidak menyanggah ucapannya, menandakan bahwa ucapannya benar.
Untuk sementara ini mereka mundur. Mereka akan kembali membawa radar paling canggih yang ada di dunia ini, Mu Haocun! Itu yang di dengar dari Master Yi.
Ling Zizhou tidak tahu sehebat apa Mu Haocun dalam menemukan sesuatu, jadi tentu saja Ling Zizhou tak sabar untuk menyaksikannya.
"Hah, apa yang terjadi pada dunia bawah," kata Master Yi sambil melihat ke belakang untuk yang terakhir kalinya.
"Apakah itu sangat berbahaya?" kata Ling Zizhou.
__ADS_1
"Itu sangat menjijikkan," kata Master Yi.