
"Oh," kata Mu Haocun dan Master Yi bersamaan. Tangan mereka berhenti di udara.
Mereka hendak mengambil teko teh untuk mengisi ulang cangkir mereka yang sudah kosong. Namun teko teh tersebut pecah berkeping-keping, cairan teh tumpah merembes ke dalam meja.
Sontak perasaan keduanya menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka yang tidak dapat diabaikan.
Setelah lama saling menatap dengan posisi tersebut keduanya bangkit dari tempat duduk masing-masing.
"Aku mendapat laporan dari Han Tengfei bahwa ada pergerakan mencurigakan dari sekte aliran sesat," kata Master Yi tiba-tiba mengungkit sekte aliran sesat.
"Apa seharusnya kita membatalkan perjalanan Lian'er dan Zhouzhou ke Gunung Kaki Langit?" kata Mu Haocun.
"Aku rasa mereka memang membutuhkan perjalanan ini untuk mengembangkan kultivasi mereka. Lagipula ada Zhizhi dan Meimei yang menjaga mereka," kata Master Yi setelah lama diam.
"Kau tidak terdengar meyakinkan," kata Mu Haocun menggoda sahabatnya.
"Kau terlihat seperti akan menyusul Lian'er kapanpun juga," balas Master Yi.
"Hmm sebaiknya aku pergi menemui Lian'er," kata Mu Haocun seperti menyetujui ucapan Master Yi.
"Apa kau bercanda? Orang-orang sekte aliran sesat sedang berkeliaran dimana-mana dan kau akan pergi ke Gunung Kaki Langit seperti sedang mengunjungi pekarangan rumahmu sendiri?" kata Master Yi sambil mencengkeram lengan Mu Haocun.
Mu Haocun sudah maju beberapa langkah berniat pergi ke Gunung Kaki Langit. Dan langkahnya terhenti ketika lengannya dicengkeram oleh Master Yi. Raut Mu Haocun menjadi buruk.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Kau pasti merasakannya juga bukan, Yi?" kata Mu Haocun mengungkit perasaan tidak enaknya pada Master Yi.
"Mereka baik-baik saja, Zhizhi sudah berada di pembentukan jiwa. Musuh yang seimbang dengannya hanya dapat ditemukan di dunia tengah," kata Master Yi sambil menghela napas.
...
Meng Zhi memimpin spirit beast menuju lokasi yang jauh dari gua. Tubuhnya terlihat seperti melayang sejauh tiga meter di atas tanah.
Meski begitu Meng Zhi tidak terbang sepenuhnya, qinggong miliknya hanya sedikit lebih kuat karena kultivasinya telah mencapai pembentukan jiwa.
Hanya kultvator-kultivator yang telah mencapai keabadian lah yang dapat terbang, yaitu di atas meraga sukma atau dua tingkat di tingkat kultivasi Meng Zhi saat ini.
Sesekali Meng Zhi menoleh ke arah spirit beast yang sedang mengejarnya. Tubuhnya dipenuhi duri-duri pipih dan memiliki empat kaki. Seharusnya dapat dipastikan seratus persen bahwa spirit beast itu adalah si rakus.
Yang membuat Meng Zhi heran adalah tingginya mencapai tiga meter dan memiliki karakteristik seperti tipe penjebak, adanya memar di seluruh tubuhnya.
Ketika Meng Zhi merasa bahwa dirinya cukup jauh dari lokasi gua berada, Meng Zhi mencoba menyerang spirit beast dari kejauhan.
Meng Zhi melakukan gestur tangan, tiba-tiba jian miliknya keluar dari sarung tanpa disentuh oleh Meng Zhi.Jian itu kemudian melesat ke arah spirit beast.
Serangan Meng Zhi menyerupai telekinesis namun Meng Zhi tidak bisa terlalu jauh dari jangkauan targetnya sehingga Meng Zhi melayang tepat di atas spirit beast.
Spirit beast itu sepertinya mewarisi sifat si rakus yang tidak peduli dengan serangan lawan dan terus berusaha menyerang Meng Zhi dengan cakarnya.
Spirit beast itu melesat menuju Meng Zhi bagaikan roket karena kaki belakangnya menendang tanah dibawahnya sekuat tenaga. Tercipta kawah sedalam satu meter dan berdiameter lima puluh meter.
Meng Zhi menghindari cakaran dipenuhi petir dari spirit beast itu. Meng Zhi kemudian bergerak mengelilingi spirit beast itu karena merasakan tubuhnya mulai turun ke tanah.
Meng Zhi menggunakan tehnik qinggong dan telekinesisnya secara bersamaan, berusaha melukai spirit beast. Serangan Meng Zhi tidak ada yang berhasil melukai spirit beast itu, malah semakin membuatnya marah.
"Huh, benar-benar. Kulitnya tebal sekali," kata Meng Zhi.
Spirit beast itu melakukan cakaran kombo, membuat Meng Zhi terkejut. Namun karena gerakan Meng Zhi lebih cepat daripada spirit beast itu, Meng Zhi dengan mudah menghindarinya.
Petir berwarna ungu menyambar di jalur cakaran spirit beast. Ada beberapa cabang yang menyambar lebih jauh dari pada petir utamanya. Meng Zhi melihat petir abnormal itu dengan waspada dan berusaha untuk tidak mengenainya.
Meng Zhi melakukan gestur tangan sehingga jian miliknya bersinar terang. Dengan energi spirtualnya Meng Zhi mengendalikan jian membuat beberapa set gerakan.
Jurus ini menghabiskan banyak chi dan energi spiritual Meng Zhi. Belum lagi dia harus menggunakan qinggong secara terus menerus untuk membuat jarak.
Spirit beast itu meraung marah karena dari sekian banyak gerakan, ada beberapa yang berhasil melukai bagian pinggul, pangkal paha, dan punggung spirit beast.
Namun semangat Meng Zhi jatuh ketika melihat regenerasi spirit beast yang sangat cepat. Di tubuh spirit beast itu hanya ada jejak darah sedangkan luka di tubuhnya telah sepenuhnya sembuh.
Meng Zhi menghindari beberapa cabang petir yang berusaha mengenai tubuhnya. Meng Zhi melancarkan beberapa jurus yang dapat digunakan bersamaan dengan telekinesisnya, namun hasilnya nihil.
Merasakan energi spiritualnya menipis Meng Zhi mengembalikan jian ke sarungnya kemudian berlari menjauh dari spirit beast untuk memikirkan strategi sambil memakan beberapa pil untuk mengembalikan chi nya yang hilang.
Keunggulan Meng Zhi hanya ada pada kecepatan saja. Dia tidak bisa mengulur waktu lebih lama karena pil untuk mengembalikan chi yang hilang terbatas.
Belum lagi spirit beast memiliki regenerasi yang sangat cepat dan kuat. Lukanya sembuh seperti sedia kala.
Meng Zhi hanya punya dua pilihan; menyerang spirit beast secara terus menerus untuk melihat sejauh mana kemampuan regenerasinya.
Namun Meng Zhi tidak berani bertaruh apakah dirinya akan lebih dulu kehabisan chi. Pilihan lainnya, Meng Zhi tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Meng Zhi melancarkan serangan lagi menggunakan telekinesisnya. Energi spiritual Meng Zhi kian menipis namun Meng Zhi tidak berani mengirit energi spiritual. Keselamatannya lebih penting.
Lagipula sebelum pergi, Mu Haocun memberikannya pil untuk mengembalikan energi spiritual.
__ADS_1
Pil yang sangat langka karena proses pembuatannya sangat sulit. Hanya tingkat profesional yang mampu membuat pil tersebut.
Melihat tubuh spirit beast itu bergetar karena dalam proses beregenerasi, Meng Zhi menepuk kantung dimensionalnya.
Meng Zhi mengeluarkan sebutir pil kemudian dengan telekinesisnya, Meng Zhi membawa pil tersebut ke dalam mulutnya.
Seketika itu juga Meng Zhi merasakan energi spiritualnya meningkat. Spirit beast itu meraung marah ketika melihat Meng Zhi dipenuhi aura sekuat saat ketika pertama bertemu.
Mungkin spirit beast itu berpikir bahwa Meng Zhi memiliki kekuatan beregenerasi yang sama hebat dengan dirinya.
Spirit beast itu melesat dengan cakarnya yang siap menerkam kemudian dimulailah babak kedua pertarungan antara Meng Zhi dengan spirit beast itu.
Sebuah jian melesat dengan gesit di sekitar spirit beast memberikan ilusi bahwa jian yang menyerang spirit beast tersebut ada seribu.
Dentuman-dentuman kencang terdengar sejauh beberapa kilometer belum lagi dampak serangan yang dilancarkan Meng Zhi dan spirit beast. Pohon-pohon dan tanah di sekitar mereka hancur.
Meng Zhi mengendalikan jian miliknya untuk menumbangkan spirit beast. Sebaliknya spirit beast yang percaya diri dengan kekuatan regenerasinya terus menyerang Meng Zhi tanpa berpikir untuk menghindari jian milik Meng Zhi.
Setiap detik Meng Zhi merasakan chi dan energi spiritualnya terkuras. Namun Meng Zhi belum dapat memastikan kapan kemampuan regenerasi spirit beast itu berkurang.
Meng Zhi mengalami dilema, dia hanya memiliki beberapa pil untuk mengembalikan chi yang hilang. Sedangkan bertarung jarak dekat hanya akan memperbesar resiko dirinya terkena petir milik spirit beast itu.
Merasa pilihan yang ada sama-sama dapat merugikannya, Meng Zhi mencoba bertarung jarak dekat.
Dengan bertarung jarak dekat, pilihan jurus yang dapat digunakan lebih banyak daripada ketika bertarung menggunakan telekinesis.
Gerakan Meng Zhi menjadi lebih terukur dan tepat sasaran. Luka yang dialami spirit beast itu pun lebih parah dan mengancam nyawa.
Meski lukanya pulih kembali dengan cepat, kecepatan Meng Zhi untuk membuat luka baru pada tubuh spirit beast mengalahkan regenerasinya.
Ditengah deritanya, spirit beast itu meraung pilu. Seiringan dengan raungannya spirit beast mengeluarkan petir dari cakar dan juga di seluruh tubuhnya.
Berbeda dengan gerakan spirit beast yang lebih lambat, petir spirit beast mampu merambat diudara sekitar dalam sekejap mata saja. Petirnya sedikit lebih cepat daripada Meng Zhi.
Cabang-cabang berwarna ungu menari-nari di udara sekitar spirit beast itu, dengan ganas melahap benda disekitar mereka termasuk Meng Zhi yang terlambat menghindar.
Petir menyambar tubuh Meng Zhi. Membuat matanya menjadi putih dan tubuhnya berhenti bergerak.
Meng Zhi merasakan dampak petir spirit beast itu sangat dahsyat, seperti mengguncang hingga ke inti dirinya, hingga ke jiwanya.
Cakaran spirit beast mengenai tubuh Meng Zhi yang diam tak bergerak di depannya. Meng Zhi terhempas sejauh beberapa ratus meter menghancurkan pohon-pohon yang berada di jalurnya.
Luka gores terlihat melintang secara diagonal dari bahu kanan ke pinggul kirinya. Pakaian Meng Zhi koyak dan dibanjiri warna merah. Meng Zhi terlihat tak bernyawa dan tubuhnya seperti orang-orangan sawah.
...
Kejadian ini bermula ketika petir berhasil menyambar Meng Zhi. Petir itu masuk ke dalam tubuh Meng Zhi berusaha menghancurkan jiwanya.
Di bagian dalam diri Meng Zhi, miniatur Meng Zhi yang sedang duduk bersila merasakan ada benda asing dengan nafsu membunuh yang menerobos masuk.
Makhluk mini itu kemudian beranjak menuju benda asing itu yang merupakan petir sipirit beast. Ketika berhasil mengejar petir tersebut terjadilah pertarungan antara miniatur Meng Zhi dengan petir tersebut.
Meng Zhi melancarkan jurusnya, mirip seperti di dunia nyata, dan terus menyerang tanpa henti. Petir tersebut menangkis serangan Meng Zhi kemudian berubah bentuk menyerupai spirit beast.
Seperti memiliki kesadaran sendiri, petir berbentuk spirit beast itu berusaha menyerang Meng Zhi mini yang berusaha menghalanginya untuk menghancurkan jiwa Meng Zhi.
Di dunia yang gelap dan luas itu hanya ada Meng Zhi mini dan petir spirit beast yang bertarung mati-matian hingga menciptakan ilusi turbulensi di udara sekitar.
Beberapa serangan kemudian, petir itu mulai terdesak hingga akhirnya petir tersebut kalah dan terusir dari alam bawah sadar Meng Zhi.
...
Tubuh Meng Zhi tergeletak di atas tanah. Darah mengalir dari lukanya kemudian merembes ke tanah.
Suasana disekeliling Meng Zhi sangat hening setelah tubuh Meng Zhi berhenti terhempas dan jatuh ke atas tanah.
Angin semilir mengibaskan helai-helai rambut Meng Zhi yang menempel diwajahnya. Mata Meng Zhi putih dan tidak terlihat kehidupan didalamnya. Mulutnya terbuka dengan napas yang sulit terdeteksi.
Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh dentuman kencang dari arah datangnya Meng Zhi. Melihat Meng Zhi tergeletak tak bergerak di atas tanah membuat air liur makhluk itu menetes dan semakin memacu keempat kakinya ke arah Meng Zhi.
Ketika makhluk itu hanya terpisah beberapa langkah dari Meng Zhi, mulutnya dibuka lebar-lebar, siap memangsa Meng Zhi yang tak sadarkan diri.
Namun makhluk itu berhenti ketika kilatan cahaya memancar dari tubuh Meng Zhi. Mulutnya terbuka beberapa mili dari tubuh Meng Zhi.
Mata makhluk itu kemudian memutih dan kondisinya persis seperti Meng Zhi yang tergeletak di atas tanah.
Beberapa detik kemudian tubuhnya gemetar hebat dan dalam beberapa kejap mata saja mulai goyah, hendak menimpa tubuh Meng Zhi yang berada di bawahnya.
Dengan suara gedebum makhluk itu tumbang, membuat debu di sekitar tanah berterbangan. Ketika debu hilang, tubuh Meng Zhi yang seharusnya tertimpa makhluk itu tidak ditemukan dimanapun.
...
Setelah pertarungan antara Meng Zhi dan spirit beast campuran yang mengguncang hutan, suasana menjadi damai kembali. Tidak ada suara apapun keuali sudara desir dedaunan diterpa angin.
__ADS_1
Beberapa ratus meter dari bangkai spirit beast, Seorang pria duduk bersila di bawah sebuah pohon rindang. Pakaiannya koyak di bagian depan dan disimbahi darah yang belum sepenuhnya kering.
Meski begitu, tubuhnya tetap tegap namun dapat dilihat bahwa pria itu menopang punggungnya dengan bersandar di batang pohon tersebut.
Setelah pertarungan melelahkan menggunakan miniatur dirinya, yang dapat ditemukan pada semua kultivator di tingkat pembentukan jiwa, Meng Zhi tersadar di saat yang tepat sebelum dirinya tertimpa spirit beast dan rata dengan tanah.
Meng Zhi menyeret tubuhnya ke pohon ini kemudian meminum beberapa pil terakhir untuk memulihkan chinya dan meminum beberapa pil kehidupan dan pil internal untuk menyembuhkan luka luar dan luka dalamnya.
Meng Zhi kemudian bermeditasi untuk memulihkan tubuhnya. Ketika matahari tebenam sepenuhnya barulah Meng Zhi membuka mata.
Meng Zhi menghela napas panjang kemudian menggeliat dan meniru gerakan peregangan yang menurutnya aneh. Namun sebuah kebiasaan sepertinya dapat menular seperti kebiasaan Mu Lian melakukan peregangan.
"Huft, petir yang mampu menyerang jiwa? pantas saja ada lingkaran menyerupai memar di seluruh tubuhnya. Ternyata petir miliknya memiliki karakteristik tipe penjebak tingkat 3," gumam Meng Zhi sambil mengelus dagu.
Meng Zhi kemudian ingat bahwa ada tiga kultivator yang datang bersama spirit beast campuran ini.
Meski Meimei dan Ling Zizhou cukup kuat melawan mereka, namun Meng Zhi tetap mengkhawatirkan Meimei dan Mu Lian.
Meng Zhi menggunakan qinggong untuk melintasi hutan menuju ke Mu Lian dan yang lain berada. Meng Zhi memperkirakan bahwa seharusnya pertarungan mereka sudah berakhir beberapa jam yang lalu.
Beberapa saat kemudian Meng Zhi tiba di dekat gua. Meng Zhi melihat bagian depan gua yang hancur kemudian beralih ke jejak pertarungan antara Ling Zizhou dan pria yang dipenuhi luka.
Meng Zhi memicingkan mata, menyadari kejanggalan dari jejak pertarungan Ling Zizhou dan pria dipenuhi luka.
Meng Zhi menendang keras tanah di bawah kakinya, tubuhnya terlontar tiga meter dari atas tanah kemudian dengan menggunakan qinggong, Meng Zhi terlihat terbang melintasi gua menuju arah hutan yang diduga sebagai jalur perjalanan Mu Lian dan yang lain.
Meng Zhi melewati satu tempat peristirahatan sebelum akhirnya melihat tanda-tanda dari Meimei. Meng Zhi mendarat kemudian berjalan menuju arah yang ditunjukan Meimei melalui tanda.
"Laogong!" seru Meimei menghambur kedalam pelukan Meng Zhi.
"Laopo, kau baik-baik saja?" kata Meng Zhi berusaha melepaskan pelukan untuk memeriksa keadaan Meimei.
"Kau jahat! kau membuatku khawatir! 2 kali!" kata Meimei sambil meninju pelan dada Meng Zhi.
Meimei mengungkit kejadian saat Meng Zhi diserang di Gunung Keramat ketika dirinya telah menerima ujian surgawi dan dalam keadaan lemah.
"Maafkan aku," kata Meng Zhi.
"Ya ampun! lihat pakaianmu! Apa kau terluka?" kata Meimei panik ketika sadar pakaian Meng Zhi koyak dan penuh darah kering.
"Aku tidak apa-apa. Laopo, lihat aku, aku tidak apa-apa," kata Meng Zhi.
Namun Meimei terlihat sangat kalut dan tidak mendengarkan ucapan Meng Zhi. Hati Meng Zhi sangat sesak melihat kekasih hatinya itu dipenuhi air mata dan berusaha memeriksa luka-lukanya.
Tidak kuat melihat Meimei sedih, Meng Zhi menahan kepala Meimei kemudian menutup mulutnya ketika wanita itu hendak protes ketika Meng Zhi menghalangi dirinya.
Meimei membelalakkan mata karena Meng Zhi menutup mulutnya dengan menyentuhkan bibirnya. Hati Meimei luluh setiap kekasihnya menyentuh tubuhnya sehingga Meimei hanya pasrah menerima ciuman dari Meng Zhi.
Merasakan Meimei rileks, Meng Zhi merubah ciuman untuk menutup mulut itu menjadi ciuman dalam hingga melelehkan inti diri Meimei.
Meimei yang lemas melingkarkan kedua tangannya disekeliling Meng Zhi untuk menopang tubuhnya. Kemudian Meimei dan Meng Zhi menikmati saat-saat kebersamaan mereka, saat-saat dimana tubuhnya menyatu dengan tubuh Meng Zhi.
Beberapa saat kemudian mereka merasakan perasaan khawatir pada satu sama lain menghilang dan mereka melepaskan diri.
"Kau yakin baik-baik saja? Biarkan Mu Lian memeriksamu," kata Meimei sebelum Meng Zhi sempat menjawab.
"Baiklah," kata Meng Zhi, dia tidak bisa berkata apa-apa jika Meimei sudah memutuskan sesuatu. Mungkin karena hal itu juga Meng Zhi mencintai Meimei.
"Aku tadi melewati gua, aku khawatir pada Lian'er saat melihat bagian depan gua yang hancur," kata Meng Zhi melanjutkan
"Tapi tadi kau menyuruhku untuk meminta Lian'er memeriksa kondisi tubuhku, itu artinya dia baik-baik saja, kan?"
"Lian'er baik-baik saja. Lebih baik kau membersihkan diri kemudian mengganti pakaianmu. Setelah Lian'er memeriksa kondisimu, aku akan menceritakan semuanya padamu," kata Meimei tersenyum.
Meimei dan Meng Zhi berjalan menuju gua sambil bergandengan tangan.
"Oh dan mungkin kau akan kaget melihat sikap Azhou, tapi mohon dimaklumi. Sepertinya pemuda itu terpukul dengan kejadian tadi siang," kata Meimei sebelum memasuki gua.
Mendengar ucapan Meimei, Meng Zhi berhenti berjalan hingga gandengannya lepas. Matanya menatap curiga.
"Tidak apa-apa. Ayo, masuklah," bujuk Meimei.
Meng Zhi menelengkan kepalanya, penasaran dengan ucapan Meimei, namun dia tetap memasuki gua.
"Senior Meng!" kata Mu Lian terkesiap. Tubuhnya setengah berdiri membuat kepala Ling Zizhou yang berada dipangkuannya tergelincir dan jatuh ke tanah.
"Aduh, apa kau memperlakukan pasien seperti ini? kau jahat sekali, Lian'er!" seru Ling Zizhou sambil berguling ditanah.
"Ah, maaf kepalamu jadi terbentur," kata Mu Lian.
Mendengar Ling Zizhou memanggil Mu Lian dengan panggilan Lian'er membuat Meng Zhi semakin penasaran dan mendesak Meimei menceritakan semuanya saat itu juga.
Meimei menceritakan kejadian tadi siang ketika Mu Lian memeriksa kondisi Meng Zhi. Ling Zizhou mendengarkan dari pinggir dengan raut wajah aneh.
__ADS_1