
Mu Lian menyuruh Liuzhi membawa Changyi ke kamar tamu. Mu Lian meminta ijin kepada Chu Minishen untuk meracik obat sedangkan Meimei bersama Chu Minishen membicarakan beberapa hal.
Han Tengfei, ketiga pemuda yang menyelamatkan Mu Lian serta Yi Xue membantu membereskan rumah Mu Haoucun. Anggota Rajawali Agung yang lain pun pergi membantu penduduk lembah.
Mu Lian mengobati kaki Changyi yang terkilir karena didorong olehnya. Keempat sahabatnya itu meminta penjelasan mengapa Mu Lian melakukan tindakan yang gegabah itu.
Selama satu jam Mu Lian menjelaskan serta meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi akhirnya menerima penjelasan Mu Lian dan kembali ke sekte untuk memeriksa kondisi disana.
Mu Lian kembali menemui Meimei dan Chu Minishen yang sedang berbincang. Mu Lian kemudian diajak bergabung untuk membicarakan Master Mu dan Master Yi.
Mu Lian mendengar dari Chu Minishen bahwa Han Tengfei adalah murid Master Yi. Master Yi merupakan salah seorang tetua di sekte Rajawali Agung.
Murid master Yi ada lima orang; Han Tengfei dan dua lainnya merupakan anggota sekte Rajawali Agung, sedangkan pemuda berwajah penjahat yang ikut mengantar Mu Haoucun dan satunya lagi merupakan kultivator independen.
Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya melaporkan kondisi terkini kawasan permukiman dan korban jiwa yang jatuh.
Sebanyak 1000 rumah penduduk mengalami rusak sedang dan 500 diantaranya rusak parah. Tidak ada korban jiwa dari pihak penduduk maupun Rajawali Agung namun banyak sekali yang terluka akibat terlibat dalam pertarungan dan yang berada disekitar pertarungan.
Dampak terbesar paling dirasakan Embun Pagi. Dari empat puluh sembilan anggota (tidak termasuk Mu Haocun) sebanyak dua puluh lima anggota berhasil diculik oleh sekte aliran sesat.
Setelah berdiskusi, Chu Minishen memerintahkan penduduk maupun anggota-anggota sekte yang terluka untuk segera merawat lukanya di klinik Dongshan dan Sekte Embun Pagi.
Penduduk lembah akan dikirim ke klinik Dongshan dan yang bertanggung jawab untuk meracik obat adalah Mu Lian dan Yi Xue karena Dongshan diculik.
Sedangkan anggota-anggota sekte dikirim ke Embun Pagi. Pria paruh baya itu kemudian pergi untuk menyampaikan pesan kepada anggota Embun Pagi yang tersisa agar mau bekerja sama.
Malamnya, penduduk lembah berdatangan ke klinik Dongshan. Mu Lian dan Yi Xue sibuk memeriksa dan merawat luka korban. Barisan panjang mengular sampai keluar gerbang klinik.
Meimei berjaga di depan klinik agar dapat memprioritaskan penduduk yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
Wajah Mu Lian pucat ketika melihat punggung seorang pria yang dibalut kain. Kain tersebut basah dengan cairan merah. Tangan Mu Lian gemetar saat membuka lilitan kain tersebut.
Bau amis menguar di sekitar luka, darah tak hentinya mengalir dari luka yang menganga. Mu Lian cepat-cepat meracik obat *haemostasis dan obat *antiinflamasi.
Setelah itu dia merendam sehelai kain di wadah berisi ekstrak tanaman herbal yang berfungsi seperti *Rivanol. Mu Lian membersihkan luka pria itu menggunakan kain yang telah direndam dan mengoleskan obat racik.
Mu Lian membalut punggung pria itu dengan kain baru. Setelah itu Mu Lian menulis resep untuk menambahkan darah yang hilang.
Mu Lian terus merawat korban tanpa henti meskipun wajahnya pucat dan tangannya gemetar. Setelah merawat beberapa penduduk, Mu Lian pun terlihat lebih tenang meskipun sorot matanya kini terlihat kosong.
Mu Lian dan Yi Xue menerima penduduk yang terluka hingga tengah malam. Keduanya yang terlampau lelah segera jatuh tertidur melewatkan makan malam.
Meimei yang tak bisa banyak membantu pun tidak tega membangunkan mereka dan hanya membereskan klinik agar siap digunakan keesokan harinya.
Keesokan harinya, penduduk yang harus check up berdatangan. Mu Lian dan Yi Xue baru saja selesai sarapan. Mereka masih menggunakan pakaiannya yang kemarin dan segera memeriksa penduduk.
Di tengah kesibukannya Mu Lian menyisihkan watu meracik obat untuk Meng Zhi yang nantinya akan dia titipkan pada Meimei. Meimei yang sedang menertibkan barisan penduduk di depan klinik tiba-tiba melihat Han Tengfei.
"Aku akan memeriksa penanganan penduduk yang terluka," kata Han Tengfei.
"Silahkan," kata Meimei.
Semenjak hari itu Han Tengfei selalu berada di dekat Mu Lian. Mu Lian yang awalnya terkejut melihat Han Tengfei setiap hari datang ke klinik kini sudah terbiasa melihat pemuda itu berdiri di pojok pekarangan.
Hal yang tak Mu Lian duga selanjutnya adalah ternyata dia merasa mual dan tidak berselera makan.
Setelah menghadapi pemandangan berdarah-darah saat merawat penduduk yang terluka Mu Lian merasa kesulitan makan.
__ADS_1
Han Tengfei memberikan lilin aromaterapi kepada Mu Lian yang didapatkannya dari seorang bangsawan. Aroma lilin tersebut mampu meningkatkan mood serta membangkitkan selera makan Mu Lian.
Han Tengfei juga sering mengajaknya jalan pagi serta melakukan aktifitas yang membuat hati Mu Lian senang. Meimei dan Yi Xue pun membuka klinik sedikit lebih siang agar Mu Lian lekas sembuh.
Lima hari kemudian seekor burung rajawali membawa surat yang menunjukkan lokasi sekte aliran sesat itu. Chu Minishen beserta tetua sekte-sekte lain mengadakan rapat.
Posisi anggota sekte aliran sesat yang menculik anggota Embun Pagi berjarak lima hari jalan kaki dari Lembah Ufuk Timur.
Total sekte aliran sesat yang menyerang lembah adalah seratus orang. Korban yang mati ditangan mereka (setelah menghitung jenazah) adalah enam puluh orang termasuk ketua penyerangan kelompok tersebut.
Anggota Rajawali Agung yang dikirim untuk melacak keberadaan empat puluh sisanya beserta anggota Embun Pagi yang diculik berhasil menemukan mereka ketika mereka sedang beristirahat.
Rajawali Agung mengirim tiga puluh anggotanya, Han Tengfei salah satunya, sedangkan total yang dikirimkan sekte-sekte kecil adalah dua puluh orang.
Sehingga, anggota Rajawali Agung yang tersisa di lembah adalah dua puluh orang termasuk Chu Minishen. Sebelum Han Tengfei pergi, Mu Lian membuatnya berjanji untuk membawa pulang Xiaoxiao serta Dongshan.
Setelah kepergian lima puluh anggota sekte dalam misi penyelamatan anggota Embun Pagi yang diculik, kegiatan penduduk lembah pun kembali normal.
Klinik terasa lebih lengang karena penduduk yang datang sekedar check up atau membeli obat racik yang habis. Di waktu luangnya Mu Lian jalan mengelilingi kawasan permukiman.
Jalanan penuh dengan penduduk dan anggota Rajawali Agung bergotong royong memperbaiki rumah-rumah yang rusak. Di sampingnya kerumunan wanita baik itu tua maupun muda menonton sambil bergosip.
Topik terhangat kali ini tentu saja pemuda-pemuda Rajawali Agung yang dipenuhi jiwa muda dan gagah perkasa.
Kegiatan Mu Lian selama beberapa hari ke depan yaitu mengawali hari dengan sarapan, jalan pagi, meracik obat dan latihan terpaan angin musim penghujan. Menjelang sore hari Mu Lian bermeditasi di depan lilin aroma terapi pemberian Han Tengfei.
"Lian'er! Paman Dongshan dan Xiaoxiao!" seru Yi Xue. Suatu sore Mu Lian sedang bermeditasi di kamar Xiaoxiao hingga suara Yi Xue terdengar dari pekarangan.
Mu Lian menginap di klinik Dongshan semenjak dirinya bertanggung jawab merawat penduduk yang terluka. Mu Lian tidur dikamar Xiaoxiao sedangkan Yi Xue tidur di *kamar Mu Lian yang dulu.
Mu Lian menitipkan rumah Mu Haoucun pada Chu Minishen. Beberapa hari sekali Mu Lian datang untuk bersih-bersih.
Pemuda itu berlari dari pekarangan ke lantai dua. Mu Lian mengajak Yi Xue untuk masuk tapi ditolak.
"Seorang anggota Rajawali Agung mengabari bahwa senior Han berhasil menyelamatkan Paman Dongshan dan Xiaoxiao. Tiga hari lagi mereka kembali ke lembah," kata Yi Xue.
"Syukurlah," kata Mu Lian melanjutkan "Sebaiknya besok kita beres-beres,"
"Tentu. Apa yang harus kita lakukan untuk menyambut Paman Dongshan dan Xiaoxiao?" kata Yi Xue.
"Memasak makanan yang enak tentunya. Mereka sudah lama di luar sana tanpa makanan buatan rumah," kata Mu Lian melanjutkan "Kita siapkan teh herbal juga yang khasiatnya menenangkan,"
"Baiklah. Mari kita makan malam dulu dan istirahat lebih awal. Diskusi kita lanjutkan besok saja," kata Yi Xue.
"En."
Keesokan paginya Mu Lian dan Yi Xue telah sepakat untuk mengumpulkan tanaman herbal di bukit selatan. Tanaman herbal tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan masakan dan teh.
Di tengah perjalanan mereka asik berbincang betapa tak sabarnya untuk bertemu Dongshan dan Xiaoxiao. Klinik terasa kosong melompong tanpa mereka.
"Lian'er, mau kemana?" kata Changyi.
"Changyi?" kata Mu Lian terkejut.
Selama sepuluh hari terakhir pemuda itu tak terlihat batang hidungnya. Liuzhi berkata bahwa Changyi membutuhkan waktu untuk sendirian. Changyi mengunci diri di asrama tanpa bertemu baik itu Liuzhi, Jiaojiao maupun Mutong.
"Ya, maaf sudah membuatmu khawatir," kata Changyi sambil melirik ke arah Yi Xue sejenak kemudian kembali menatap Mu Lian.
__ADS_1
"Tentu saja kami khawatir! Bagaimana kakimu yang terkilir? Jangan terlalu banyak jalan dulu," kata Mu Lian sambil menghela nafas.
"Pulih total, terimakasih Lian'er. Jadi kau mau kemana?" kata Changyi.
"Kami akan ke bukit selatan. Kami akan menyiapkan hidangan serta teh herbal untuk menyambut kepulangan Paman Dongshan dan Xiaoxiao," kata Yi Xue bersemangat.
"Oh," kata Changyi. Tatapannya tetap lurus ke arah Mu Lian.
"Changyi pulanglah, kau harus banyak istirahat. Aku mau menyiapkan teh herbal untuk Paman Dongshan dan Xiao'er," kata Mu Lian membujuk Changyi.
Changyi kemudian berbincang beberapa saat dengan Mu Lian tanpa peduli dengan Yi Xue dan berpamitan dengan wajah murung.
Sepulangnya dari bukit selatan, Mu Lian dan Yi Xue meletakkan tanaman herbal di gudang dan meracik teh herbal. Mu Lian teringat ketika pertama dia terlempar ke dunia ini.
Dua bulan pertama dihabiskan Mu Lian di klinik Dongshan. Mu Lian mendengarkan suara di sekelilingnya. Tidak ada seorang pun di klinik. Tidak ada suara Paman Dongshan yang sedang menghaluskan tanaman herbal.
Yi Xue menyadari Mu Lian sedang melamun. Tangan Mu Lian berhenti menumbuk tanaman herbal yang setengah halus di lumpang.
"Tenang saja, mereka pasti kembali," kata Yi Xue. Mu Lian mengangguk.
Setelah menyiapkan bahan hidangan serta teh herbal, Mu Lian meyempatkan diri untuk memeriksa keadaan Meng Zhi. Mu Lian tak sempat menjenguk Meng Zhi sama sekali karena selalu tertidur pulas setelah merawat penduduk.
Ketika Mu Lian memasuki kamar, wangi pekat tanaman herbal tercium dari seluruh ruangan. Meng Zhi terbaring di tempat tidur, matanya terpejam. Tak ada gerak gerik lain pada tubuhnya selain dadanya yang mengembang dan mengempis.
Mu Lian berbincang dengan Meimei dan menemaninya makan siang. Setidaknya hal itu yang bisa Mu Lian lakukan untuk menghibur Meimei.
Sesekali Mu Lian berdiskusi mengenai kultivasi dan jurus kabut pagi. Kemudian setelah ragu sejenak akhirnya Mu Lian meminta nasihat.
"Jiejie, semenjak kejadian itu aku jadi ragu untuk pergi ke ibu kota. Aku takut ketika keluar rumah, banyak hal yang tidak pasti diluar sana," kata Mu Lian.
"Lian'er. Kau ini, kenapa tidak menceritakan padaku lebih cepat?" kata Meimei.
"Awalnya aku menyangkal rasa takut itu. Tapi baru aku sadari kalau ketakutan itu lebih buruk dari yang ku duga. Untunglah Senior Han membantuku meringankannya," kata Mu Lian.
"Han Tengfei? Anak baik," gumam Meimei kemudian melanjutkan "Lian'er dengarkan aku. Aku tahu kau baru melihat kejamnya dunia kultivasi, tapi memang beginilah keadaannya. Untuk rasa takutmu itu aku rasa sebaiknya kamu hadapi sedikit demi sedikit. Jika kau melarikan diri, ketakutan itu akan lebih besar dari yang kau rasakan sekarang,"
"Benarkah?" kata Mu Lian.
"Iya benar. Sedangkan bila kau terbiasa menghadapinya maka ketakutan itu akan menjadi kekuatanmu," kata Meimei.
Meimei mengusap kepala Mu Lian. Di mata Meimei Mu Lian terlihat seperti anak berusia 10 tahun. Mu Lian baru belajar cara berkultivasi dan ketakutan setelah melihat pertarungan yang berdarah-darah.
Namun Meimei tidak bisa memaksa Mu Lian berubah 180 derajat dari dirinya yang sekarang ini. Besi saja bisa patah jika dipaksa berubah bentuk.
"Bagaimana aku bisa terbiasa? Ku pikir sepertinya aku tidak akan mampu memegang senjata. En, melihat senjata tajam saja aku bergidik," kata Mu Lian.
"Tunggu. Kita sedang membicarakan hal yang sama kan?" kata Meimei bingung.
.........
Note:
* Kamar ketika Mu Lan masih dirawat
* Haemostasis: mekanisme untuk menghentikan darah
* Antiinflamasi: mengurangi peradangan, sehingga meredakan nyeri dan menurunkan demam
__ADS_1
* Rivanol: membersihkan luka, kompres luka yang membengkak, menghambat perkembangan dan pertumbuhan kuman,