
"Mu-mutiara semesta!" kata Nyonya Di.
"Jenis yang cukup kuat! Ini... benar-benar diluar dugaan," kata Dewan Di.
Dewan Di hanya berniat mengajak pihak Gerobak Ajaib mengikuti Festival Spirit Beast, tak disangka malah menemukan sesuatu yang jarang dilihatnya.
"Hei! Jangan kesana! Nanti menganggu Lian jie!" seru Xiaoleng kepada anak sulung Dewan Di.
Dewan Di dan istrinya menoleh ke arah suara Xiaoleng dan melihat kedua anaknya sedang ditahan oleh beberapa anak lainnya.
"Apa kalian tidak merasakannya? Perasaan luar biasa ini, ha~" kata anak kedua Dewan Di.
"Perasaan apanya? Kami hanya merasakan chi di sekitar sini. Sudah, ayo kita duduk kembali," kata Xiaobao.
Si sulung dan adiknya hendak memprotes namun Dewan Di menyuruh kakak beradik itu mengikuti anak-anak lain untuk duduk kembali.
"Nyaris saja," kata Nyonya Di tersenyum. Dewan Di membalas senyuman istrinya.
Sebenarnya, keduanya pun tak kuat menahan keinginan untuk berada di dekat Mu Lian. Namun untungnya, Dewan Di dan istrinya adalah Dilong yang kompeten.
Mereka mampu menjaga sikap dan tetap sopan dihadapan godaan yang sangat besar seperti yang mereka hadapi saat ini.
Hal tersebut berlaku untuk saat ini saja, karena ternyata, satu jam kemudian, godaan tersebut semakin besar. Bahkan ketiga anaknya sampai diikat agar tidak menghambur ke arah Mu Lian.
"Ukh,"
Dewan Di dan Nyonya Di sampai menggertakkan gigi dan mengepalkan kedua tangan mereka untuk menahan diri.
Saat ini Mu Lian sedang berada di puncak kultivasinya. Chi bergerak seperti tornado dengan Mu Lian di dalam mata tornado tersebut.Dan aura yang dikeluarkannya sebagai Mutiara Semesta sedang banyak-banyaknya.
"Makanan sudah siap!" suara Ling Zizhou mengalihkan perhatian Dewan Di dan istrinya.
"Eh? Yang benar saja..." gumam Dewan Di dan istrinya.
Ling Zizhou dan Meimei mulai membagikan makanan kepada anak-anak. Mereka bersikap sangat normal meski ditengah kegaduhan yang ditimbulkan oleh Mu Lian pada lingkungan di sekitar mereka.
Memang, sebagai manusia, Ling Zizhou, Meimei dan anak-anak yang lain tidak terpengaruh dengan status Mu Lian sebagai Mutiara Semesta. Namun bagaimana dengan keluarga mereka?!
Ketiga anak-anaknya sampai harus diikat agar tidak menimbulkan masalah sedangkan Dewan Di dan istrinya duduk dengan kaku karena menahan diri.
"Apa anda berdua tidak makan?" kata Meimei. Dewan Di dan Nyonya Di menggeleng. Lagipula mereka masih bisa tidak makan 3 hari lagi.
"Baiklah. Silahkan nikmati waktu kalian, oh iya. Tidak usah khawatir dengan anak-anak kalian, mereka sedang disuapi oleh Xiaoleng, Xiaofu dan Xiaoqi," kata Meimei.
Dewan Di dan Nyonya Di menoleh ke area duduk anak-anak, benar saja. Ketiga anaknya sedang disuapi oleh anak laki-laki berusia 12 tahun berperawakan atletis, satu lagi anak laki-laki seusianya dengan temperamen tenang dan anak perempuan dengan sikap keibuan.
Dengan sikapnya yang sama dengan Nyonya Di, si bungsu pun dengan sangat cepat dekat dengan Xiaohua. Dewan Di melihat anak bungsunya berada di pangkuan Xiaohua, sedang makan dengan lahap meski tatapannya tidak pernah lepas dari Mu Lian. Begitu pula dengan kedua kakaknya.
"Anak-anak itu...sangat dewasa ya," kata Nyonya Di, memuji Xiaoleng, Xiaofu dan Xiaoqi.
"Tentu saja. Apalagi Xiaoleng, dia sudah jadi kakak bagi anak-anak dibawahnya bahkan bagi anak-anak seusianya.
Baiklah, kalau begitu, aku harus kembali memeriksa masakan lain," kata Meimei kemudian pergi meninggalkan Dewan Di dan Nyonya Di.
"Huff, aku harap, nona itu segera menyelesaikan meditasinya," kata Nyonya Di. Dewan Di mengangguk.
__ADS_1
...
"Huft~"
Mu Lian bernapas lega setelah menyelesaikan meditasinya. Baginya, panen kali ini sangat memuaskan.
Mu Lian merasa seperti telah mendobrak pintu sebanyak 2 kali. Dan setiap berhasil melewati satu pintu, tingkat kultivasinya semakin tinggi. Lautan chi di dalam dantiannya pun semakin luas.
Mu Lian sangat puas melihat dantiannya, mengangguk kemudian membuka matanya agar bisa merayakan keberhasilannya bersama dengan yang lain.
"Selamat, Lian'er. Kau berhasil naik ke puncak penkondensasian chi!" kata Meng Zhi dengan sangat antusias setelah Mu Lian membuka mata.
"Loh, bukankah seharusnya aku berada di tahap awal pembentukan pondasi? Aku naik 2 tingkat loh, Zhi Ge!" kata Mu Lian mengingatkan.
"Memang benar kau naik 2 tingkat. Tapi karena itulah aku sangat senang untukmu, karena berhasil naik ke tingkatan yang orang-orang jarang mendapatkannya!" kata Meng Zhi.Mu Lian tertegun. Jadi dirinya masih berada di tingkat pengkondensasian chi?
"Kenapa melamun?" tanya Meng Zhi bingung.
"Entahlah, aku kira aku berhasil naik ke pembentukan pondasi. Ternyata belum," jawab Mu Lian tersenyum pahit. Meng Zhi pun akhirnya mengerti.
"Kau harus merayakannya, bahkan lebih meriah daripada merayakan keberhasilanmu naik ke tingkat pembentukan pondasi lewat jalur biasa," kata Meng Zhi mulai menjelaskan.
Meng Zhi mengumpamakan jika langsung naik ke tingkat pembentukan pondasi, jalur tersebut dinamakan jalur biasa sedangkan jika seseorang naik terlebih dahulu ke puncak pengkondensasian chi, orang tersebut melalui jalur rahasia yang banyak manfaat.
Dan salah satu manfaat yang sangat dirasakan adalah mendapatkan keberuntungan. Meng Zhi menjelaskan bahwa dirinya dan Meimei pun melalui jalur rahasia ini.
"Benarkah?! Ok, mari kita rayakan!" kata Mu Lian akhirnya setelah lama diam. Mu Lian menerima uluran tangan Meng Zhi kemudian dengan bantuannya, bangkit.
"Hmm? Zhi Ge, rasanya chi di sekitar sini tidak sepekat saat pertama kali kita tiba disini ya. Kau merasakannya juga bukan?" kata Mu Lian.
"Zhi Ge benar. Omong-omong, bagaimana kakek meingkatkan kultivasinya?" kata Mu Lian.
Mu Lian saja harus menunggu hingga berbulan-bulan sampai berani bermeditasi lagi. Itu pun karena ada Pohon 1 Abad, Mu Lian jadi tidak perlu khawatir menghancurkan ekosistem sekitar.
"Aku tidak tahu secara pasti karena klan Mu sangat tertutup mengenai kultivasi mereka. Tapi yang kutahu pasti, dulu Ah Cun sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Memang akhir-akhir ini saja Ah Cun menetap di Lembah Ufuk Timur dan memiliki status sebagai instruktur panggilan di sekte Embun Pagi," kata Meng Zhi.
Mu Lian dan Meng Zhi membahas kultivasi sambil berjalan menuju gerobak. Karena di sebelahnya, tampak anak-anak sedang duduk dan berbincang.
Mu Lian mencium wangi-wangi sedap masakan, jadi dia menyimpulkan bahwa beberapa saat yang lalu, anak-anak baru saja makan tanpa dirinya!
Mu Lian dan Meng Zhi menemui Dewan Di dan istrinya terlebih dahulu untuk meminta maaf karena telah lama meninggalkan mereka.
Mu Lian pun baru dari Meng Zhi kalau dirinya telah bermeditasi selama 3 jam. Pantas saja perutnya sudah kelaparan!
Setelah berbasa-basi sebentar dengan pasangan suami istri tersebut, Mu Lian segera kabur tanpa memperdulikan wajah terkejut Dewan Di dan istrinya.
Bagaimana tidak, keduanya baru saja melihat orang yang berhasil mencapai puncak pengkondensasian chi. Yang tidak dijelaskan Meng Zhi kepada Mu lian adalah, setelah seseorang mencapai tingkatan tersebut, dapat dipastikan orang tersebut terus berjalan di jalur rahasia.
Artinya, kemungkinannya mendapat jalur rahasia di setiap tingkat kultivasi semakin besar. Sayangnya, jarang sekali orang yang berkesempatan mendapat jalur rahasia.
Sehingga, orang-orang yang mendapat jalur rahasia, sering dicap jenius oleh para ahli. Dan bakatnya sangat diinginkan oleh semua kalangan.
__ADS_1
Mu Lian tidak menyadari tatapan Dewan Di yang sangat ingin merekrutnya karena sedang melahap semua yang makanan yang diserahkan Ling Zizhou dan Meimei.
Acara hari itu selesai setelah ditutup dengan makan bersama. Dengan begitu, ditutup sudah kesempatan anak-anak usia 5-15 tahun dan anak-anak remaja usia 16-20 tahun melakukan meditasi.
Sebenarnya diberikan waktu 3 hari untuk anak-anak tersebut, namun karena baik itu anak-anak dari pihak Gerobak Ajaib dan kedua anak Dewan Di selesai bermeditasi, semua sepakat untuk menutup kesempatan anak-anak.
Tiga hari kemudian, Mu Lian dan yang lain kembali lagi untuk mengantarkan Dewan Di dan istrinya. Untuk menghindari kecurigaan, Meimei akan mewakili staf berusia di atas 20 tahun.
Yang membuat Dewan Di terkejut adalah, chi yang terkandung dalam Pohon 1 Abad semakin menipis padahal pohon tersebut belum mengeluarkan spirit beast sama sekali!
Penampakan pohon itu pun semakin hari semakin menyerupai pohon normal. Pembuluh-pembuluh kapiler di sekujur batang maupun daun semakin menghilang.
Dewan Di penasaran dengan fenomena ajaib ini dan meminta untuk diantarkan kembali ke Pohon 1 Abad tersebut.
Pada hari H. Dewan Di berdiri di depan pohon akasia biasa. Pohon tersebut persis seperti pohon-pohon yang ada disekitarnya. Tidak terasa chi yang melimpah dari pohon tersebut.
"Astaga, pohon ini benar-benar normal kembali," gumam Nyonya Di. Dewan Di hanya diam. Kejadian ini pun baru dilihat pertama kali dalam hidupnya.
Pada akhirnya Dewan Di hanya duduk bersama Mu Lian dan yang lain menikmati pemandangan sambil minum teh.
Sedangkan, anak-anak bermain dengan gembira di sekitar pohon. Setelah Dewan Di memastikan daerah tersebut aman, pohon kembali menjadi pohon akasia biasa, pohon tersebut berubah menjadi wahana panjat.
Anak bungsu Dewan Di juga mengejar anak-anak yang lebih tua dengan tubuh mungilnya. Setidaknya dia bisa terbang sehingga dapat dilihat dengan jelas.
Terkadang, anak yang lebih tua tak sengaja menabrak anak yang lebih kecil karena memang tidak kelihatan.
"Dewan Di, spirit beast yang dikeluarkan Pohon 1 Abad itu dalam wujud apa sih? Bisa anda jelaskan?" tanya Mu Lian penasaran.
Suara tawa anak-anak meredam suara Mu Lian. Untungnya tingkat kultivasi Dewan Di cukup tinggi sehingga sekecil apapun, suara Mu Lian pasti terdengar olehnya.
"Semua Spirit Beast yang keluar dari pohon berbentuk serangga. Ukuran mereka kira-kira seperti orang dewasa. Apa nona mau melihatnya? Kalau lokasi Pohon 1 Abad yang cukup dekat dari sini sih mungkin 40 km ke arah selatan," jawab Dewan Di.
"Serangga?! Oh, tidak jadi. Haha, aku hanya bertanya saja," kata Mu Lian menggelengkan kepala.
Meimei juga kelihatannya tidak mau kalau disuruh pergi kesana jadi semuanya pun memutuskan untuk tinggal di lokasi yang sekarang sampai Festival Spirit Beast selesai.
Pagi mereka berangkat dan sorenya, kembali ke ibu kota. Begitulah jadwal Mu Lian dan yang lain beberapa hari ke depan.
Meski begitu, Mu Lian tak lupa dengan misi yang diberikan oleh Bai Wenlan; mencari Gua Suci. Mu Lian harus mencari harta berharga untuk Xiaobai. Lebih sakti hartanya lebih baik. Perkembangan Xiaobai jadi lebih cepat.
Maka dari itu, Mu Lian meminta bantuan Dewan Di mencarikan info mengenai Gua Suci. Tak lupa meminta paspor agar Gerobak Ajaib dapat menggunakan Bola Dunia.
Karena, transportasi hanya bisa melewati dua jalur. Yang pertama jalur udara, yaitu melewati barisan pegunungan contohnya pegunungan yang memisahkan Negeri Mao dengan Negeri Chen.
Dan yang kedua adalah menggunakan Bola Dunia. Transportasi Ajaib tidak bisa sama sekali melewati Samudera. Setiap orang atau setiap transportasi ajaib yang berusaha melewati daerah Spirit Beast Orisinal, tidak pernah selamat.
Beberapa hari kemudian, Dewan Di membawa kabar bahwa ada 1 Gua Suci yang sebentar lagi dibuka di Negeri Wei. Saat itu Dewan Di tidak ditemani oleh keluarganya, melainkan 2 orang dewan yang wajahnya asing.
Yang menjengkelkannya, salah seorang dewan tersebut langsung memotong ucapan Dewan Di dengan wajah tak sabar,
"Kami mewakili Dewan Negeri Chen memberi hormat kepada Gerobak Ajaib. Mohon maaf sebelumnya, kami terlambat memberi hormat karena ada satu anggota kami yang menyembunyikan keberadaan kalian dari kami,"
"Tidak perlu. Justru kamilah yang meminta agar keberadaan kami dirahasiakan, tolong jangan menyalahkan Dewan Di.
Malahan, selama beberapa terakhir ini, kami merasa puas dengan pelayanan yang diberikannya. Kami bisa menikmati Festival Spirit Beast dengan nyaman di sini," kata Meng Zhi tersenyum, membuat 2 dewan tersebut terdiam.
__ADS_1
Usut punya usut, Dewan mengundang Gerobak Ajaib ke Gedung Dewan. Semua dewan ingin sekali bertemu dengan organisasi kecil yang sempat menggemparkan Negeri Chen beberapa saat yang lalu.
Karena tidak mau membuat masalah, apalagi pada akhirnya Mu Lian dan yang lain membutuhkan bantuan dewan untuk mengijinkan mereka menggunakan Bola Dunia, akhirnya mereka mengikuti Dewan Di dan 2 dewan tersebut.