
"Sebentar lagi kalian akan dihadapkan pada dua jalan. Setelah masa pelatihan kalian selesai, kalian tetap murid-muridku. Tapi kalian ingat? Ketika pertama kali kubawa ke Lembah Ufuk Timur?" kata Mu Haocun.
"Kami ingat, master," kata Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi.
"Bagus. Aku tidak perlu mengingatkan kalian lagi kalau begitu. Nah, sekarang tugas kalian selama dua bulan ini adalah mengingat kembali semua yang kuajarkan. Kemudian pikirkan jalan apa yang akan kalian pilih. Aku harap kalian telah memutuskannya saat kupanggil," kata Mu Haocun.
"Baik, master," kata Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi.
Mu Lian mengamati Mu Haocun dan keempat sahabatnya dari pinggir. Mereka berada di pekarangan Mu Haocun yang kini mulai diselimuti salju.
Pagi-pagi sekali Meng Zhi datang dan memberitahu bahwa bibit-bibit Siwang Mo-gu mulai bermunculan.
Miasma juga sudah sangat pekat dan Meng Zhi perkirakan besok atau lusa Preta mulai bermunculan.
Tanpa basa-basi, Mu Haocun memanggil Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi ke rumahnya.
Mu Lian mengamati Mu Haocun yang sedang menjelaskan mengenai prinsip kerja kuali. Kelas berlangsung hingga menjelang makan siang.
Mu Haocun dengan berat hati menyuruh keempat muridnya segera pulang ke asrama karena sebentar lagi Mu Haocun akan mengadakan rapat mengenai Siwang Mo-gu.
Mu Lian mengantar Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi ke gerbang. Mereka berbincang mengenai dua pemuda yang bernama Shaoting dan Yunhao.
Mu Haocun yang sudah berjalan menyusuri lorong hendak membawa catatan di kamarnya berhenti di depan jendela dan mencuri dengar pembicaraan Mu Lian dengan keempat muridnya.
Baru kali ini Mu Haocun mendengar Mu Lian dan keempat muridnya membicarakan hal lain. Salah satunya merupakan pemuda yang diperhatikan pedagang kaya pula. Hal ini membuat Mu Haocun tertarik untuk mencuri dengar.
"Yah begitulah. Kami sedang berusaha mendekati Shaoting dan Yunhao karena saudara Zhouzhou sepertinya tertarik pada mereka berdua," kata Changyi.
"Benar, tapi kami tidak enak jika tiba-tiba sok kenal dengan mereka jadi kami mendekatinya setahap demi setahap," kata Jiaojiao.
"Ngomong-ngomong, dimana saudara Zhouzhou?" kata Liuzhi sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Ah. Azhou sedang bersama Senior Han dan Master Yi," kata Mu Lian.
"Oh iya, bukankan Senior Han juga murid Master Yi?" kata Liuzhi dengan mata berbinar.
"Benar. Baru kali ini kulihat keduanya dipanggil menghadap Master Yi," kata Mu Lian.
"Mungkin saja mereka sedang di tes," kata Mutong.
Mu Haocun mengetahui dengan pasti alasan kedua pemuda itu dipanggil Master Yi. Kejadiannya adalah pada suatu hari, Ling Zizhou mengatakan bahwa temannya meminta nasihat bagaimana caranya agar menjadi kuat.
Master Yi terkejut mendengar hal itu namun berjanji akan memberinya beberapa trik untuk perlindungan diri yang bisa diberikan pada temannya itu dengan syarat Ling Zizhou lulus tes yang diberikan oleh Master Yi.
Master Yi menggunakan kesempatan ini untuk membuat Ling Zizhou mau melakukan latihan intensif dan di penghujung latihan tersebut Master Yi akan menyuruh Ling Zizhou melawan Han Tengfei.
Sekarang Mu Haocun mengetahui siapa teman yang Ling Zizhou maksud. Ternyata temannya itu tidak lain adalah salah satu muridnya sendiri, Liuzhi.
Mu Haocun tersenyum karena Ling Zizhou akhirnya mau membuka hatinya pada orang disekitarnya.
"Oh. Seperti kita di tes oleh Master Mu?" kata Jiaojiao dengan wajah pucat.
"En. Tes bulanan membuat pil, hah~aku akan merindukan saat-saat dimana kita masih bersama Master Mu," kata Changyi.
"Benar, meskipun terkadang master sangat keras, tapi hal itulah yang akan kurindukan," kata Liuzhi.
Ujung mulut Mu Haocun berkedut. Anak-anak ini, masih ada waktu hingga mereka menghadap dirinya lagi sepertinya Mu Haocun akan memberikan apa yang mereka inginkan.
Mu Haocun tersenyum sambil merencanakan kapan waktu yang tepat untuk menggelar tes yang dinanti-nantikan oleh keempat muridnya tersebut.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah mencoba membuat pil?" kata Mutong.
"Apa kau sudah mendapat kuali untukmu sendiri?" kata Jiaojiao.
Mu Haocun membelalakkan mata. Mengapa dirinya lupa hal sepenting itu? Baiklah, sebelum rapat dimulai, Mu Haocun mengingatkan dirinya agar tidak lupa memberikan Mu Lian sebuah kuali.
Mu Haocun bergegas memasuki kamarnya meninggalkan Mu Lian, Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi yang masih berbincang di depan gerbang.
"B-belum," kata Mu Lian.
"He? Aku pikir kau sudah mendapatkannya," kata Jiaojiao.
"En. Apalagi Lian'er sudah mengikuti kelas kita," kata Liuzhi.
"Bukan kelas biasa, kelas intensif pula," kata Mutong.
"Sudahlah. Sebaiknya kalian pulang karena sebentar lagi akan memasuki waktu makan siang," kata Mu Lian.
Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi tidak mengatakan apa-apa lagi dan berpamitan karena mengetahui akan ada tamu penting yang datang.
Mu Lian menutup gerbang kemudian melintasi pekarangan. Mu Lian tidak melihat sosok Mu Haocun dimanapun jadi dia naik ke lantai dua menuju kamar Mu Haocun.
"Kakek," kata Mu Lian sambil mengetuk pintu.
"Masuklah Lian'er," kata Mu Haocun.
__ADS_1
Mu Lian masuk kemudian menutup pintu di belakangnya. Mu Haocun sedang duduk di depan meja kerjanya dengan wajah berbinar.
"Ada yang membuat kakek senang hari ini?" kata Mu Lian sambil duduk dihadapan Mu Haocun.
"En. Sudah lama kakek ingin memberikan ini padamu, tapi karena akhir-akhir ini sibuk, kakek jadi lupa," kata Mu Haocun sambil meletakkan sebuah kuali indah di depan Mu Lian.
Kuali tersebut memancarkan aura yang tidak biasa, terasa agung dan berkarisma. Ukurannya tidak lebih besar dari gelas mug.
"Ini...indah sekali. Apa ini harta karun?" kata Mu Lian.
"Tidak, kau lah harta karun kakek, haha," kata Mu Haocun. Ujung bibir Mu Lian berkedut, orang tua yang ada di hadapannya ini selalu tidak bisa diajak serius.
"Aku tidak bisa membuat pil, kuali ini tidak akan bermanfaat untukku," kata Mu Lian. Namun matanya tetap menatap kuali itu lekat-lekat.
"Belum bisa. Karena belum pernah mencoba, tapi kakek yakin kau sudah mengerti dasar-dasarnya bukan?" kata Mu Haocun.
"Umm, teori...tentu saja sudah. Tapi kan aku masih di tahap akhir pengkondensasian chi, lagipula aku belum bisa menggunakan mantera api," kata Mu Lian murung.
"Hmm? Mantera api? Tentu saja kau bisa mempelajarinya," kata Mu Haocun.
"Bukankah untuk mempelajari mantera api minimal harus berada di tingkat awal pembangunan pondasi?" kata Mu Lian.
"Benar. Tapi mantera api yang kumaksud adalah api pil," kata Mu Lian.
Mu Lian membelalakkan mata. Api yang digunakan oleh ahli Alkimia berbeda dengan api biasanya begitu pula yang digunakan ahli metalurgi.
"Aku bisa mempelajarinya?!" kata Mu Lian tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya.
"Tentu saja. Kakek akan mengajarkannya. Lagipula kakek sudah meminta tolong untuk mencari cara paling efektif untuk mengekstrak chi," kata Mu Haocun. Mu Lian mengangguk.
Mengingat Mu Lian harus membantu Mu Haocun, Mu Lian tidak berpikir lebih jauh dan langsung menanyakan kapan dia mulai belajar.
Mu Lian tidak tahu bahwa Mu Lian adalah segelintir orang di dunia ini yang belajar menggunakan api pil pada tahap akhir pengkondensasian chi.
"Mulai malam ini kau akan belajar bagaimana caranya menggunakan api pil," kata Mu Haocun.
"Baik. Tapi apa kita akan sempat melakukan percobaan itu? Aku baru pertama belajar api pil," kata Mu Lian.
"Kau pasti bisa," kata Mu Haocun tersenyum.
"Kakek," kata Mu Lian terharu. Mu Lian selalu bersyukur terhadap Mu Haocun karena meskipun bukan keluarganya namun Mu Haocun selalu menaruh kepercayaan pada Mu Lian.
Sebaliknya, Mu Haocun percaya jika Mu Lian pasti bisa menguasai api pil dalam waktu singkat karena dirinya pun begitu.Mu Haocun larut dalam nostalgianya tanpa mengetahui jika Mu Lian salah paham tentangnya.
"Yi? Ada apa denganmu?" kata Mu Haocun.
"Azhou tumbuh menjadi anak yang baik, ini berkat Lian'er. Terimakasih," kata Master Yi tersenyum pada Mu Lian.
"Eh? Ah, tidak perlu Master Yi," kata Mu Lian bingung.
"Haocun, semuanya sudah berkumpul. Sebaiknya kau juga segera turun," kata Master Yi berusaha menghentikan senyumnya.
"Oh, sudah saatnya. Baiklah mari kita turun. Dan sebaiknya simpan baik-baik kuali itu, Lian'er jangan sampai ada yang melihat," kata Mu Haocun sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mu Lian buru-buru memeluk kuali itu dan berusaha menyembunyikannya. Sudah Mu Lian duga, pasti kuali itu bukan kuali biasa.
Mu Lian menatap Master Yi untuk meminta bantuan padanya namun Master Yi sudah beranjak keluar kamar.
Master Yi bergegas meninggalkan Mu Haocun dan Mu Lian karena tidak mau terlibat urusan kuali tersebut.
Mu Lian menghela napas panjang kemudian menyusul Mu Haocun dan Master Yi setelah meletakkan kuali di kamarnya.
Ketika Mu Lian tiba di aula resepsionis, diskusi tengah berlangsung diantara Mu Haocun, Master Yi, Meng Zhi, Master Zhengheng dan Chu Minishen.
Mu Lian melihat cangkir teh di depan kelima orang yang sedang berdiskusi tersebut. Tidak mau menganggu jalannya diskusi, Mu Lian ke dapur untuk memanaskan air.
Mu Lian kemudian mengisi ulang teh ketika diminta. Selebihnya Mu Lian berdiri sambil menyaksikan jalannya diskusi dari pinggir.
"Itu saja yang ingin kutambahkan dari rencana kita apa ada yang keberatan?" kata Mu Haocun. Hening.
"Karena tidak ada yang keberatan bagaimana kalau kita akhiri sampai disini dan makan siang bersama?" kata Meng Zhi.
"Benar. Tidak ada kesempatan lain selain hari ini dimana kita bisa berkumpul bersama-sama," kata Chu Minishen.
"En. Besok atau lusa kita akan semakin sibuk berjaga di lokasi, tidak akan sempat," kata Master Zhengheng.
"Zhouzhou dan Fei'er sebentar lagi datang membawa lauk pauk," kata Master Yi.
Ling Zizhou sang juru masak, tidak sempat memasak hari itu karena dipanggil Master Yi. Jadi menu makan siang hari ini adalah lauk pauk ala Bibi Lin.
Tak lama Ling Zizhou dan Han Tengfei masuk ke pekarangan membawa banyak sekali bungkusan. Mu Lian membantu mereka untuk menyajikannya di meja.
Seusai makan bersama, Master Yi, Meng Zhi, Master Zhengheng dan Chu Minishen melanjutkan patrolinya di lokasi budidaya Siwang Mo-gu.
Mu Lian terkejut melihat Ling Zizhou dipenuhi luka dan memar. Ketika ditanya, Ling Zizhou berkelit dan hanya berjanji suatu saat nanti akan mengalahkan Han Tengfei.
__ADS_1
Mu Lian menatap Han Tengfei dengan curiga namun pemuda itu mengangkat bahu kemudian tidak berkata apa-apa lagi.
Setelah diobati oleh Mu Lian tampaknya Ling Zizhou sangat bersemangat untuk berlatih bersama Han Tengfei, seniornya.
Keduanya berangkat lagi entah kemana meninggalkan Mu Lian dan Mu Haocun berdua di rumah.
Mu Lian memanfaatkan kesempatan ini untuk mengingat kembali pelajaran Mu Haocun mengenai api pil.
Jantung Mu Lian berdebar sangat kencang yang awalnya Mu Lian kira takut akan kegagalannya menguasai api pil namun setelah lama dia sadar bahwa debaran itu menandakan jika dia sangat menantikan pelajaran itu.
Tepat seusai makan malam Mu Haocun mengajak Mu Lian untuk belajar api pil di kamarnya.
Tak lupa Mu Lian membawa kuali yang diberikan Mu Haocun tadi siang.
Mu Haocun memberi arahan kepada Mu Lian selama beberapa menit kemudian dimulailah percobaan pertama Mu Lian menggunakan api pil.
Tidak, bukan api pil melainkan manipulasi energi spiritual. Ternyata Mu Lian harus mempelajari bagaimana memanipulasi energi spiritualnya malam ini. Kualinya, tentu saja disimpan di pojok meja kerja Mu Haocun.
Mu Lian duduk dalam posisi meditasi di depan ruangan gelap. Di depannya terdapat beberapa susunan bintang yang mulai membentuk galaksi.
Mu Lian berusaha membuat susunan bintang tersebut mengalir tepat pada jalurnya masing-masing.
Dapat diumpamakan seperti bulan yang mengorbit di sekeliling Bumi. Mu Lian berkonsentrasi penuh membuat bintang-bintang tersebut mengalir.
Kebanyakan orang di dunia ini kesulitan membayangkan seperti apa sebuah satelit mengorbit sebuah planet.
Sebaliknya, Mu Lian sudah sering menonton video mengenai satelit dan planet tersebut sejak dirinya duduk di bangku sekolah.
Meski begitu susunan bintang-bintang tersebut tetap bergeming dan belum ada tanda-tanda akan bergerak.
Mu Lian merasakan seperti ada beban yang menimpa dadanya. Terasa sangat berat dan sesak.
Mu Haocun berpesan agar tak menghiraukan perasaan tersebut dan terus bermeditasi. Lama-kelamaan perasaan tersebut akan semakin ringan hingga akhirnya menghilang.
Mu Lian percaya mungkin saja setelah perasaan tersebut menghilang dia bisa membuat susunan bintang-bintang tersebut bergerak.
Mu Lian menarik napas dari hidungnya kemudian membuangnya melalui mulut. Terus begitu entah berapa lama.
Yang Mu Lian ingat hanyalah ketika tangan seseorang membelai kepalanya. Mu Lian mengernyit kemudian berusaha membuka mata.
"Lian'er. Bagaimana perasaanmu?" kata Mu Haocun.
"Kakek?" kata Mu Lian bingung. Mu Lian berusaha bangkit namun ditahan oleh Mu Haocun.
"Jangan bangun dulu. Istirahatlah lebih lama lagi. Ini, minum dulu," kata Mu Haocun sambil membantu Mu Lian minum.
"Terimakasih. Apa yang terjadi?" kata Mu Lian.
"Kau kelelahan dan pingsan. Tidak apa-apa, reaksi tubuhmu ini wajar mengingat baru pertama kali mencoba memanipulasi energi spiritualmu," kata Mu Haocun.
Mu Lian mengangguk. Perasaan tidak nyaman karena tertimpa beban yang sangat berat merupakan hal baru bagi Mu Lian.
Tidak seperti ketika berusaha mengalirkan chi, perasaan seperti sedang menyentuh air, memanipulasi energi spiritual rasanya seperti seluruh tubuh Mu Lian dirantai hingga tidak bisa bergerak.
Mu Lian hendak menanyakan sesuatu namun merasakan matanya sangat berat lama-lama Mu Lian tertidur lagi.
Mu Haocun tersenyum. Sepertinya malam ini dia akan tidur di kursi sambil mengawasi kondisi Mu Lian.
Selama beberapa hari kedepan Mu Lian berlatih memanipulasi energi spiritualnya. Mu Lian merasakan perbedaan signifikan pada usahanya, yang awalnya tubuhnya terasa tertimpa beban berton-ton hingga beban tersebut terasa ringan setahap demi setahap.
Mu Haocun terlihat semakin sibuk karena Preta sudah mulai bermunculan. Mu Lian mengatakan bahwa dia bisa berlatih sendiri namun Mu Haocun bersikeras menemani Mu Lian.
Mu Haocun mengatakan bahwa seminggu pertama Mu Lian harus dibimbing agar tidak ada kecelakaan.
Andai saja Mu Lian tahu jika memanipulasi energi spiritual memiliki resiko yang sangat tinggi pasti Mu Lian tidak mau melakukannya.
Namun karena Mu Haocun tidak pernah mengungkit hal tersebut dan percaya jika Mu Lian dapat melakukannya jadi Mu Lian tidak pernah tahu mengenai resiko tersebut.
Mu Haocun tetap menemani dan mengawasi ketika Mu Lian berlatih memanipulasi energi spiritual meski wajahnya terlihat sangat lelah.
Mu Haocun telah menghabiskan lebih dari setengah energi spiritualnya hari itu. Dan lusa dia harus membasmi Preta menggantikan Master Zhengheng yang sedang beristirahat.
Hanya memiliki dua orang untuk bergantian membasmi Preta terasa sangat sulit. Bukan tidak mungkin, hanya saja beban kerjanya terasa lebih berat.
Mu Haocun menghela napas panjang. Dia mengalihkan perhatiannya pada Mu Lian yang sedang duduk dalam posisi meditasi.
Mu Haocun mengangguk puas dan menaruh harapan lebih pada Mu Lian. Mu Haocun tidak sabar melihat gadis itu untuk pertama kalinya membuat pil.
Selain itu, Mu Haocun juga tidak sabar melihat warna apakah api pil milik Mu Lian. Apakah api pil milik Mu Lian akan sama dengan miliknya?
Mu Haocun tersadar ketika tubuh Mu Lian condong kedepan. Mu Haocun segera menangkap Mu Lian kemudian meletakkannya di tempat tidur.
Mu Lian kehilangan kesadarannya. Namun Mu Lian kehilangan kesadarannya setelah tiga jam memanipulasi energi spiritual miliknya.
Kemajuan yang pesat. Mu Haocun mengangguk lagi. Kemungkinan dalam beberapa hari kedepan Mu Lian tidak akan kehilangan kesadaran lagi ketika berlatih memanipulasi energi spiritual.
__ADS_1