Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Kamar yang terkunci


__ADS_3

"Lian'er, bisa ikut kakek sebentar?" bisik Mu Haocun dari balik pintu. Mu Lian menatap ke arah Mu Haocun dengan bingung.


Mu Lian memeriksa enam anak yang sedang tertidur sambil memeluk satu sama lain, sepertinya kebiasaan tersebut muncul setelah mereka dikurung bersama di dalam satu kamar.


Memastikan anak-anak itu tidak terbangun meski pipi mereka disentuh, Mu Lian pun mengikuti Mu Haocun keluar kamar.


Mu Lian menunggu Mu Haocun untuk bicara, namun Mu Haocun terus membawanya berjalan hingga keluar rumah.


"Lian'er, apa kau merasa perasaan ganjil dan tidak nyaman ketika tiba di desa ini?" kata Mu Haocun setelah lama diam.


"Ah, karena kakek membahasnya, aku jadi ingat. Iya benar, selain itu aku merasa ada mata yang terus mengikutiku," kata Mu Lian.


"Lian'er, sepertinya kita harus melakukan purifikasi secara besar-besaran," kata Mu Haocun sambil berhenti untuk memberi banyak sekali kertas mantera berwarna kuning kemudian melanjutkan


"Kita akan mulai melakukannya sekarang. Tapi kakek minta Lian'er menuruti kakek. Kalau kakek bilang jangan mendekat, maka turuti,"


Setelah mendengar pertanyaan Mu Haocun serta perintahnya yang aneh, Mu Lian mengingat bahwa ada lubang dimana jenazah-jenazah penduduk dibuang.


Di dunia ini, orang-orang yang meninggal dengan cara yang mengenaskan akan memiliki energi kematian yang sangat besar hingga energi kematian tersebut dapat menciptakan makhluk bernama Egui.


Mu Lian memikirkan makhluk yang bernama Egui itu sambil terus menerima kertas-kertas mantera dari Mu Haocun.


Kini jumlahnya telah melampaui ratusan lembar. Entah darimana Mu Haocun memiliki kertas mantera sebanyak itu. Apakah kantung dimensional milik Mu Haocun memiliki pabrik kertas mantera?


"Apakah selama ini energi kematian digunakan orang-orang itu sehingga tidak ada manifestasi Egui? Tapi kira-kira untuk apa energi kematian tersebut? Kakek tidak tahu secara pasti," kata Mu Haocun, melanjutkan memimpin melewati barisan pohon serta rumah.


Beberapa rumah yang dilewati Mu Lian adalah salah satu dari beberapa korban jurus Master Yi. Mu Haocun memilih jalan yang masih mulus dengan teliti. Tanpa sengaja masuk ke lubang sedalam dua meter bukanlah pengalaman yang menyenangkan.


Setelah berjalan kira-kira 2 km, Mu Lian melihat Ling Zizhou, Master Yi dan Meng Zhi dari kejauhan. Mereka berdiri di pinggir sebuah lubang dengan diameter lima sampai enam meter.


"Berhenti. Jangan mendekati lubang itu. Kita akan melakukan purifikasi dari sini saja," kata Mu Haocun sambil memberi tanda agar Ling Zizhou, Master Yi dan Meng Zhi menjauh dari lubang.


Mu Lian menatap lubang berada 500 meter di depannya dengan sedih. Penduduk asli Desa Jinan ada di depannya, hanya berjarak 500 meter saja namun mereka sudah dalam keadaan menjadi jenazah.


Mu Lian dapat merasakan energi kematian yang sangat besar, bercampur dengan rasa penyesalan, kesedihan mendalam serta kemarahan?


Disebelahnya, lubang berdiameter 3 meter menarik perhatian Mu Lian karena memiliki energi kematian tak kalah besar. Mu Lian dapat menebak bahwa di lubang inilah jenazah anggota sekte aliran sesat berada.


Ling Zizhou, Master Yi dan Meng Zhi berdiri di dekat Mu Lian dan Mu Haocun. Mereka mengamati proses purifikasi dalam suasana syahdu.


Mu Lian dan Mu Haocun mengerahkan energi spiritual mereka. Beratus-ratus kertas mantera terbang seperti daun diterpa angin.


Tanpa diberitahu Mu Haocun, Mu Lian mengetahui apa yang harus dilakukannya setelah merasakan pergerakan energi spiritual milik Mu Haocun.


Mu Lian membuat kertas-kertas mantera tersebut terbang melayang mengelilingi lubang berdiameter paling besar.


Tulisan-tulisan pada permukaan kertas mantera sebenarnya sudah berubah warna menjadi merah namun karena Mu Lian belum menghendaki pengaktifan, maka kertas mantera pun standby dengan kondisi tersebut.

__ADS_1


Mu Lian menunggu Mu Haocun selesai mengatur kertas-kertas mantera disekeliling lubang berdiameter lebih kecil baru setelah itu mereka mengaktifkan kertas mantera secara bersama-sama.


Mu Lian merasakan dorongan pada kertas-kertas mantera di bawah pengaruh energi spiritualnya namun merasa tidak akan merusak proses purifikasi sehingga Mu Lian tidak melawan dorongan tersebut.


Secara perlahan-lahan, kertas-kertas mantera yang mengelilingi lubang berdiameter besar berpusar layaknya sebuah tornado.


Ternyata, dorongan yang tadi dirasakan Mu Lian adalah sebuah reaksi yang menyerupai gaya tarik dan gaya tolak pada kutub-kutub magnet.


Ketika kertas-kertas mantera mulai terbakar, terbentuklah tornado api yang memenjarakan gumpalan asap hitam yang mulai bermunculan.


Asap-asap hitam itu melambung tinggi, berusaha lolos dar penjara api, namun tornado api itu seperti memiliki kehendak sendiri, ikut melambung tinggi. Tidak membiarkan asap-asap hitam lolos.


Wuush. Wuush. Grooooooo.


Suara mengerikan terdengar akibat api dan asap hitam beradu. Angin kencang pun berhembus karena pertemuan api dan asap hitam tersebut.


Mu Lian dan Mu Haocun menutup kedua mata mereka dan berkonsentrasi penuh mengerahkan energi spiritual mereka. Mu Lian maupun Mu Haocun sedang merasakan perlawanan yang sangat kuat dari energi kematian.


Karena Mu Lian harus tetap mengedarkan energi spiritualnya, tanpa sengaja, rasa sesal, kesedihan mendalam serta amarah mempengaruhi benak Mu Lian.


Perasaan-perasaan yang ditinggalkan almarhum penduduk desa tersebut masih dapat Mu Lian rasakan meski terhalang tornado api.


Mungkin karena itu juga Mu Haocun menyuruh Mu Lian melakukan purifikasi untuk para penduduk desa. Mu Haocun takut jika Mu Lian dapat merasakan kekejaman dari anggota sekte aliran sesat.


Menyesal karena belum membunuh lebih banyak, belum mencicipi gadis-gadis perawan lebih banyak, belum merobek-robek orang lebih banyak, belum mencicipi bola mata manusia lebih banyak, dan lain sebagainya.Keringat bercucuran dari kening Mu Haocun.


Berbeda dengan Mu haocun yang bermandi keringat, mata Mu Lian yang terpejam basah dengan air mata. Namun energi spiritual Mu Lian tidak goyah seperti yang dialami Mu Haocun, melainkan terasa semakin kuat.


Perasaan sedih almarhum penduduk desa memotivasi Mu Lian untuk menjadi kuat agar dapat melindungi orang yang disayanginya.


Seketika itu juga, energi spiritual milik Mu Lian terasa lebih kuat dibandingkan milik Mu Hocun sesaat, pertanda bahwa Mu Lian telah tiba di tingkatan lebih tinggi.


Energi spiritualnya lebih pekat daripada Mu Haocun, karakteristik energi spiritual yang baru saja tiba di tingkatan yang lebih tinggi.


Lompatan energi spiritual Mu Lian secara tiba-tiba tersebut membuat kalung ajaib yang menggantung di lehernya retak di beberapa bagian.


Kraak.


Mu Lian tidak memedulikan kalung yang telah menyembunyikannya dari penduduk pribumi itu dan terus memusatkan perhatiannya pada proses purifikasi.


Kini Mu Lian dan Mu Haocun berada di penghujung proses, mereka memberi dorongan terakhir sebelum akhirnya keadaan menjadi tenang kembali.


Mu Lian merasa vertigo selama beberapa detik, kemudian sesuatu yang hangat serta bau besi mengalir dari salah satu lubang hidungnya.


"Sudah kakek duga akan begini. Sebaiknya kau kembali dulu dan beristirahat. Mungkin purifikasi harus dilakukan selama beberapa kali lagi hingga energi kematian di desa ini tidak terlalu pekat dan bisa dibiarkan menghilang secara alami," kata Mu Haocun.


"Secara alami?" kata Mu Lian terkejut. Mu Lian meringis ketika hidungnya di lap dengan kasar oleng Ling Zizhou menggunakan kain dari lengan pakaiannya.

__ADS_1


"Ya. Tapi tempat ini tidak akan bisa ditinggali selama beberapa saat. Tidak terlalu berbahaya karena tidak ada Egui, tapi tetap saja, emosi-emosi negatif yang ditinggalkan almarhum penduduk mampu mempengaruhi siapa saja yang berhati lemah," kata Meng Zhi.


Ling Zizhou mendengarkan penjelasan Meng Zhi, pikirannya segera berkelana ke suatu tempat yang dikenalnya, tempat dimana dirinya tumbuh.


"Kembali. Waktunya makan siang," kata Master Yi memotong pikiran Ling Zizhou. Ling Zizhou hanya mengangguk sedangkan Mu Lian memanfaatkan kesempatan itu untuk naik ke punggung Ling Zizhou.


"Lian'er, Ah Zhou, kalian kembali duluan. Masih ada yang harus diselesaikan disini," kata Mu Haocun. Master Yi dan Meng Zhi mengangguk. Cukup mereka bertiga saja mengurus kedua lubang itu.


Mu Lian dan Ling Zizhou harus segera kembali untuk membantu Meimei mengurus anak-anak. Kondisi di sisi Meimei pasti sudah terdesak sekarang mengingat matahari sudah condong beberapa derajat ke arah barat. Waktu makan siang sudah lewat selama dua jam.


Ling Zizhou berjalan dengan cepat melewati pepohonan menggunakan qinggong, namun belum beberapa ratus meter, Meng Zhi berseru,


"Lian'er, Ah Zhou, tolong sempatkan waktu untuk memeriksa kamar utama ya! Berdasarkan info, kerabat Tuan Xiaoman mengurung diri di kamar itu. Tapi hingga saat ini aku belum sempat memeriksa kamar itu!"


Ling Zizhou nyaris jatuh dibuatnya, mengapa info sepenting itu baru dikatakan sekarang? Mu Lian hanya menghela napas sambil menggeleng.


Mu Lian mendesak Ling Zizhou untuk segera kembali ke rumah. Agenda mereka kini bertambah satu, yaitu memeriksa kamar yang terkunci.


Mungkin sebelum memikirkan kamar yang terkunci itu, Mu Lian dan Ling Zizhou harus mencari cara menghadapi anak-anak yang sedang menangis karena tiba-tiba ditinggalkan.


Dan benar saja, ketika tiba di rumah, Mu Lian segera membantu Meimei untung menenangkan anak-anak sedangkan Ling Zizhou memasak dengan secepat kilat agar anak-anak berhenti menangis.


Setelah kenyang, anak-anak itu tidak berani kembali ke kamar masing-masing. Mereka melakukan kegiatan di sekitar pekarangan.


Beberapa anak yang lebih muda menempel pada Mu Lian dan Ling Zizhou yang sedang berjalan menuju kamar utama.


"Lian'er, kalung ajaib itu sudah rusak, kenapa masih dipakai?" kata Ling Zizhou.


Seorang anak perempuan yang berjalan di samping Ling Zizhou, tingginya hanya mencapai lutut Ling Zizhou, menggunakan tangan kanannya yang penuh air liur untuk menggenggam tangan kiri Ling Zizhou.


"Ew," kata Ling Zizhou setelah merasakan air liur menempel pada tangannya. Meski begitu, Ling Zizhou tidak menepis tangan anak perempuan tersebut.


"Oh? Padahal kalung ini hanya retak di beberapa bagian saja," kata Mu Lian sambil meraba retakan-retakan yang ada pada kalung ajaib.


"Kalau retakannya hanya ada di kerangkanya saja sih, masih bisa dipakai. Tapi inti kalung itu juga retak, jadi efektivitas kalung ajaib itu akan terus menurun sebelum akhirnya rusak sama sekali. Mungkin saja sekarang kalung itu sudah menjadi kalung biasa," kata Ling Zizhou.


Mu Lian hanya bisa menghela napas panjang. Untuk mendapatkan kalung ini Mu Lian harus selama beberapa hari atau bahkan bisa dalam waktu satu bulan kalau tidak beruntung.


"Apa boleh buat. Sekarang, siapa yang mau mencoba membuka pintu?" kata Mu Lian. Lagi pula kalung ini tidak perlu Mu Lian gunakan jika sudah kembali ke Bumi.


Masalah yang harus dihadapinya sekarang adalah bagaimana caranya membuka kamar yang terkunci yang ada di depannya ini.


"Aku, aku!" kata seorang anak laki-laki yang selama ini berada di samping Mu Lian.


Beberapa anak mengikuti Mu Lian dan Ling Zizhou dalam perjalanan mereka menuju kamar utama, namun merasa bosan, anak-anak itu pergi ke tempat lain, meninggalkan satu anak perempuan yang sedang memasukkan tangan kirinya ke dalam mulut dan satu anak laki-laki yang terus memeluk lengan kanan Mu Lian.


"Oh? Tapi kamar itu melarang anak kecil masuk, kalau kalian melanggar dan masuk kesana, nanti dimakan monster penjaganya loh," kata Ling Zizhou.

__ADS_1


"Eh?!" kata kedua anak kecil itu bersamaan. Merasa takut, keduanya pun mundur sangat jauh kemudian berdiri diam menunggu Mu Lian dan Ling Zizhou selesai memeriksa kamar.


__ADS_2