
Setelah lama menatap sosok tersebut, akhirnya Mu Lian menyadari bahwa sosok itu adalah ular raksasa berwarna hitam. Matanya sebiru langit dan membuat orang yang melihatnya mematung tak mampu bergerak.
Dan karena air kembali tenang, Mu Lian dapat menangkap sosok yang lebih besar daripada ular itu sedang mengambang, entah di dasar atau di tengah-tengah samudra.
Sosok tersebut menyerupai tempurung berwarna hitam pekat, sebuah kepala terkulai di ujung satunya.
"Tolong kami..."
Mu Lian mendengar rintihannya. Sekilas suaranya terdengar seperti desiran angin. Mu Lian mengamati Mu Haocun menyelam ke dalam air.
Untungnya ular itu mendarat beberapa ratus meter dari jajaran bola merah. Sepertinya ular atau kura-kura itu terluka parah sehingga meminta tolong kepada Mu Lian dan Mu Haocun.
Selang beberapa menit, Mu Lian merasakan kedatangan orang-orang yang tertarik pada keributan di samudra.
Memang suara yang dihasilkan ketika ular itu terjatuh ke dalam air sangat kencang. Belum lagi air memancar dengan ketinggian beberapa meter. Tentu saja orang-orang yang berada di sekitar melihat kejadian tersebut.
"Tidak...jangan...sampai...kami...ketahuan..."
Sudah minta ditolong, banyak maunya lagi! Mu Haocun yang sedang sibuk memeriksa di bawah air bersungut-sungut.
Sedangkan mendengar permintaan si ular, Mu Lian segera mengeluarkan kain berwarna putih dan mengenakannya.
Mu Lian mengeluarkan api pil nya kemudian menyebarkan indera spiritualnya ke sekitar. Indera spiritual milik Mu Lian memeriksa hingga 700 meter di depan, menunjukkan ada beberapa kultivator yang menuju ke tempatnya.
Kultivator-kultivator itu merasakan bahwa seseorang telah berani memeriksa mereka. Kemudian merasakan energi spiritual yang dimiliki para pembuat pil.
"Anda?!" kata seorang pria. Dia adalah kultivator yang pergi tak lama sebelum ular itu jatuh ke samudra dan selamat dari semburan air.
Berdiri diam di pesisir samudra, Mu Lian dengan sengaja mengedarkan indera spiritualnya lagi ke arah kultivator tersebut.
Kultivator itu pun segera menghampiri Mu Lian, dan kerumunan orang mulai berdatangan dari berbagai arah.
Mu Lian tak banyak bicara dan mengambil langkah seribu. Misinya adalah mengalihkan perhatian kultivator-kultivator itu.
Si kultivator yang hampir tiba di dekat Mu Lian, melihat Mu Lian semakin menjauh dengan kecepatan luar biasa.
Orang-orang yang ada di sana pun menggunakan tehnik qinggong untuk mengejar Mu Lian. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Dari kejauhan, nampak sesosok berkain putih berusaha lepas dari kejaran beberapa kultivator di belakangnya.
Mu Lian melewati beberapa belokan, membuat sepasang sejoli yang sedang bergandengan tangan menjadi tumbal dan berlari di tengah pusat perbelanjaan untuk mengecoh orang-orang yang mengejarnya.
Hingga akhirnya Mu Lian tidak kuat dengan cuaca di hari yang semakin terik itu, Mu Lian melakukan tikungan tajam di belakang sebuah rumah yang cukup megah.
Dari sana, Mu Lian berjalan beberapa ratus meter hingga akhirnya merasakan sesuatu yang begitu akrab.
Mu Lian menggapai ke udara kosong yang ternyata disambut oleh sebuah tangan. Mu Lian ditarik oleh tangan tersebut dan merasakan melewati kain halus yang terasa berat.
Sesaat kemudian, Mu Lian mendapati dirinya telah kembali ke muka gerobak. Meimei merapatkan kain terpal yang menutupi muka gerobak.
"Kemana perginya orang itu?"
"Gila? Kau merasakannya, bukan? Api pil yang sangat kuat!"
"Untuk apa seorang ahli Alkimia nyebur ke samudra? Apa itu latihan paling baru?"
"Orang-orang itu ngotot sekali. Aku nyaris mati dehidrasi karena berlarian ditengah cuaca seperti ini" kata Mu Lian sambil meneguk botol berisi mata air kabut pemberian ibu 3 anak yang ditemuinya pagi itu.
"Lagian, kenapa tiba-tiba mengeluarkan api pil milikmu?" kata Meimei penasaran.
Mu Lian pun menceritakan bahwa ular itu lah yang meminta tolong. Meimei yang hanya bisa mengamati peristiwa melalui Cermin Langit tanpa bisa mendengar jalan ceritanya pun baru mengerti setelah dijelaskan oleh Mu Lian.
"Bagaimana dengan kakek? Aku langsung berlari begitu saja tanpa memeriksa apakah tidak ada yang tinggal untuk memeriksa dasar samudra," kata Mu Lian.
"Tenang saja. Api pil milikmu cukup untuk menarik perhatian mereka sepenuhnya sedangkan Master Mu, pasti punya cara agar tidak ada yang tahu keberadaannya," kata Meimei menenangkan.
Mu Lian dan Meimei tetap berada disana hingga keadaan aman. Mu Lian dan Meimei menunggu hingga matahari terbenam.
Meimei membawa Mu Lian ke pesisir samudra ketika matahari terbenam sepenuhnya. Mu Lian duduk di muka gerobak, mengintip dari celah kain terpal namun tidak da siapa-siapa.
Alat identifikasi berkedip-kedip warna hijau kemudian suara Meimei terdengar dari alat tersebut, "Kau bisa keluar, tidak ada siapa-siapa,"
Pemandangan yang dilihat Meimei lebih luas dan jernih dibandingkan dengan apa yang bisa dilihat Mu Lian dari celah sempit, jadi Mu Lian mempercayai ucapan Meimei dan segera turun dari gerobak.
Seketika itu juga, tubuh Mu Lian muncul dari udara kosong. Mu Lian diam mengamati keadaan disekitar.
Lautan bintang menerangi hamparan samudra yang luas itu. Benda-benda yang menyerupai batu, spirit beast tampak tenang di dasar samudra.
Keheningan dipecahkan oleh suara langkah kaki seseorang. Mu Lian menoleh ke arah langkah kaki tersebut.
__ADS_1
"Kakek!" kata Mu Lian senang dapat melihat sosok asli Mu Haocun yang sudah tak asing itu.
Mu Lian menghampiri Mu Haocun, Meimei mengoperasikan gerobak mengikuti Mu Lian dari belakang.
"Mei'er disini juga?" tanya Mu Haocun.
"Iya, Mei jiejie ada di belakangku. Bagaimana dengan orang yang diselamatkan kakek?" kata Mu Lian sekilas menoleh ke belakangnya.
"Kondisinya sudah stabil, tapi dia membutuhkan penanganan lebih lanjut. Ikut kakek," kata Mu Haocun membimbing Mu Lian menuju sebuah rumah.
Pohon akasia yang cukup besar berdiri tak jauh dari rumah itu. Mu Haocun berjalan tepat ke arah pohon tersebut.
Saat sudah dekat dengan pohon itu, Mu Haocun menjentikkan jarinya kemudian benda berbentuk persegi berukuran mungil melayang ke arahnya. Pada inti benda mungil tersebut terdapat batu berwarna kehijauan.
Mu Haocun mengumpulkan setidaknya sepuluh benda mungil tersebut. Mu Haocun kemudian membungkuk untuk mengambil sesuatu di bawah pohon, benda itu terhalang dengan rumput yang tumbuh hingga nyaris menyentuh lutut Mu Lian.
"Kita kembali dulu, baru kakek jelaskan siapa orang ini," kata Mu Haocun.
Mu Lian mengangguk kemudian menggapai-gapai ke udara kosong di belakangnya. Merasa sudah menyentuh sisi gerobak, Mu Lian meraba kain terpal dan membukakannya untuk membiarkan Mu Haocun membawa masuk pemuda yang sedang di gendongnya.
Rambut pemuda itu panjang hingga nyaris menyentuh rumput. Wajahnya sempurna, tak ada satu cela pun yang terlihat.
Meski pucat, pemuda itu tetap kelihatan tampan. Dan matanya yang biru-, Mu Lian terkejut ketika bertemu tatap dengan pemuda itu.
Ada senyuman pada mata pemuda itu meski bibirnya yang pucat tak bisa mengekspresikan senyuman itu.
"Lian'er?" kata Mu Haocun menyadarkan Mu Lian. Mu Haocun meminta tolong Mu Lian untuk mengangkat bangku yang menghalangi jalan.
Setelah terangkat dan melihat Mu Haocun sedang berdiri di depan alat identifikasi, Mu Lian merapatkan kembali kain terpal yang menutupi muka gerobak.
Mu Lian segera menyusul Mu Haocun dengan jantung sedikit berdebar setelah tertangkap basah mencuri pandang ke arah pemuda itu, oleh orangnya sendiri!
...
Pada saat yang sama ketika Mu Lian dan Mu Haocun berjalan di pesisir samudra, Ling Zizhou dan Meng Zhi sedang minum teh di sebuah restoran.
Keduanya bersantai sambil berbincang mengenai cuaca hari itu. Ling Zizhou dapat merasakan beberapa pasang mata menatap dirinya.
Ling Zizhou tidak biasa ditatap oleh banyak orang seperti ini, lelahnya menjadi orang terkenal. Namun demi kelancaran misi ini, Ling Zizhou berpura-pura tidak menyadarinya.
"Apa kau sudah menentukan tempat untuk kita berjualan?" kata Meng Zhi mulai menebar umpan.
Semua orang yang ada di restoran setidaknya telah membeli pil melalui Gerobak Ajaib satu kali. Meng Zhi sengaja memilih restoran yang sering dikunjungi kultivator.
Dan satu buan yang lalu, ketika Gerobak Ajaib membuka bisnisnya untuk pertama kali,
Mereka mengenali Ling Zizhou dan memperhatikan pembicaraaanya dengan Meng Zhi. Dari pembicaraan tersebut, mereka mengetahui bahwa sedang dilakukan perawatan menyeluruh pada gerobak.
Namun, Gerobak Ajaib yang baru saja membuka bisnis satu bulan belakangan tidak mungkin berhenti berjualan dan kehilangan pelanggan, jadi Ling Zizhou rencananya akan melakukan transaksi di sebuah penginapan.
Yang membuat orang-orang penasaran adalah Meng Zhi. Sosok pria tampan yang dingin dan terlihat sulit didekati.
Jati diri Meng Zhi masih belum diketahui karena orang-orang yang pernah membeli pil di Gerobak Ajaib tidak pernah bertemu dengan Meng Zhi.
Namun, jika Meng Zhi yang terlihat sulit didekati itu berbincang dengan santai sengan Ling Zizhou, berarti keduanya dekat dan memiliki hubungan.
Semua orang terus memperhatikan sembari menikmati hidangan masing-masing. Kalimat terakhir sengaja Ling Zizhou katakan dengan lantang untuk memastikan semua yang ada disana mendengar.
"Aku sudah memutuskan untuk menginap selama beberapa malam di penginapan yang ada di sebelah retoran!" kata Ling Zizhou menutup perbincangan.
Meng Zhi nyaris tersedak tehnya. Semua yang ada disini memiliki tingkat kultivasi yang cukup tinggi, tak perlu menggunakan suara selantang itu.
Beberapa menit kemudian, keduanya memasuki penginapan disebelah restoran dan meminta kamar untuk keperluan bisnis.
Biasanya kamar untuk keperluan bisnis memiliki ruangan yang sangat luas dan ada satu ruangan khusus yang berfungsi untuk menerima tamu.
Kamar tersebut digunakan petinggi suatu sekte atau bahkan dewan untuk melakukan pertemuan tertutup. Tidak untuk membicarakan hal yang sifatnya sangat rahasia karena dijamin pasti akan bocor jika membicarakan hal tersebut di tempat ini.
Biasanya kamar ini digunakan untuk mempererat hubungan kedua belah pihak. Pihak penginapan menyediakan pemesanan makanan, camilan atau minuman yang diantarkan ke kamar tersebut.
Intinya, Meng Zhi merekomendasikan tempat yang tepat kepada Ling Zizhou. Petugas resepsionis yang telah mendapat permintaan kamar bisnis, segera menyelesaikan administrasi dan mengantarkan keduanya ke kamar.
Setelah menunjukkan kamar yang katanya, paling luas di penginapan itu, si petugas resepsionis pamit undur diri dan meninggalkan kamar.
"Ckck, dasar orang-orang gila! Mereka itu doyan atau bagaimana sih? Perasaan baru beberapa hari yang lalu kita menjual pil terakhir Lian'er!" kata Ling Zizhou ke arah luar jendela.
Ling Zizhou melihat orang-orang berdatangan dari arah restoran dan sedang berlomba-lomba memasuki penginapan.
__ADS_1
"Pil tidak akan selalu diperlukan dan semua orang tidak akan pernah merasa puas jika hanya memiliki beberapa botol saja dala penyimpanan mereka," kata Meng Zhi sembari membereskan meja yang sudah rapi dan meluruskan bangku yang sudah lurus.
Ruangan tempat meja dan bangku tersebut hanya dibatasi oleh sekat yang terbuat dari balok-balok kayu. Terdapat celah diantaranya sehingga Ling Zizhou dapat melihat ruangan dibalik sekat.
"Zhi gege ngapain sih?" kata Ling Zizhou tak sabar. Ruangan serapi itu terus saja dirapikannya.
"Hanya memastikan semuanya tetap pada posisinya," kata Meng Zhi. Ling Zizhou memutar kedua bola matanya.
"Permisi, ada yang ingin menemui anda tapi orang tersebut belum memiliki janji dengan anda," kata suara seorang pemuda sambil mengetuk pintu kamar dengan sopan.
Meng Zhi yang paling dekat dengan pintu, segera membuka pintu dan menyuruh pemuda itu untuk mengijinkan orang-orang yang hendak menemui mereka langsung menuju kamar, tak perlu ada janji bertemu.
Sesaat kemudian, seorang pria paruh baya memasuki kamar. Dan dimulailah kesibukan Ling Zizhou dan Meng Zhi hari itu.
Kabar mengenai Ling Zizhou menyebar dengan sangat cepat dan tidak butuh waktu yang lama, semua kultivator di daerah itu segera berdatangan memenuhi penginapan.
Sang pemilik penginapan dengan wajah sombong, memantau barisan orang-orang yang mengular hingga ke depan penginapan rivalnya, yang hanya berbeda lima bangunan saja dari penginapan.
Orang-orang dari rumah kaca pun mendengar kabar tersebut dan segera berbaris di depan penginapan. Matahari semakin tinggi pun barisan yang ada di depan penginapan malah semakin panjang.
Beberapa dewan yang sedang beristirahat tampak berdiri diantara orang-orang yang sedang mengantri.
Hingga tiba-tiba tampak semburan air misterius dari kejauhan terlihat melalui jendela kamar, saat itu Meng Zhi sedang berdiri mengamati orang-orang yang sedang mengantri dan menangkap kejadian semburan misterius itu.
"Ah Zhou, aku keluar sebentar," kata Meng Zhi segera loncat keluar melalui jendela.
"EH? Zhi gege, bagaimana denganku?" kata Ling Zizhou bangkit dari kursi dan mengejar Meng Zhi, hanya mendapati punggung Meng Zhi yang segera menghilang dari pandangan. Ling Zizhou tidak mau ditinggal sendirian mengurusi orang-orang ini!
"Ada apa?" tanya pria yang sedang duduk di depan Ling Zizhou.
"Ada ingus dihidungmu!" kata Ling Zizhou kesal.
...
"Kau melihatnya? Air dari samudra ya?"
"Apa itu yang jatuh?"
"Benda itu besar sekali, tapi aku tidak melihatnya dengan jelas,"
Meng Zhi melewati orang-orang yang sedang membicarakan peristiwa semburan air. Sepertinya semua orang melihatnya.
Disepanjang jalan tidak ada yang tidak membicarakan peristiwa tersebut. Meng Zhi merasa tidak enak, entah mengapa teringat dengan duo pencari masalah.
Siapa lagi kalau bukan Mu Lian dan Mu Haocun. Sebenarnya bukan mereka yang mencari masalah, melainkan masalahlah yang selalu datang mencari mereka.
Meng Zhi berjalan mendekati daerah yang dekat dengan pesisir samudra dan benar saja, beberapa kultivator sedang berlari menuju pesisir samudra.
"Aku dengar ada yang dengan berani memeriksa tingkat kultivasi orang-orang sekitar,"
"Katanya ada yang merasakan api pil ya,?"
Meng Zhi pun semakin yakin bahwa yang orang-orang bicarakan adalah Mu Lian dan Mu Haocun.
Meng Zhi berjalan tanpa tau arah sambil memikirkan alasan apa yang harus dibuat untuk menutupi Mu Lian dan Mu Haocun.
Meng Zhi pun memutuskan untuk menyebarkan kabar bahwa ahli Alkimia 'Gerobak Ajaib' sedang melakukan promosi agar menarik pembeli.
Meng Zhi berkata bahwa mereka tidak akan menemukan si ahli Alkimia tersebut jika tidak datang ke penginapan tertentu, dimana kamar X dibuka untuk melayani orang yang hendak membeli pil.
Kabar tersebut pun menyebar dengan cepat karena banyak saksi mata yang mendengar ucapan Meng Zhi dan melihat bukti berupa beberapa botol pil yang Meng Zhi bawa sebagai sample.
Hal inilah yang membuat orang-orang yang mengejar Mu Lian segera menyerah ketika tidak juga menemukan Mu Lian dan pergi ke penginapan untuk menemui Ling Zizhou dan Meng Zhi
"Apa semua sudah beres?" bisik Ling Zizhou yang baru saja mendengar kabar mengenai Mu Lian dan Mu Haocun.
Meng Zhi menceritakan kejadian siang itu melalui telepati agar orang-orang yang duduk di ruang tamu tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Sudah," kata Meng Zhi. Keduanya sedang berdiri di depan jendela. Matahari sudah terbenam dan sabana ketika malam terlihat damai jika tidak ada orang yang mengantri di depan penginapan.
Ling Zizhou dan Meng Zhi menatap ke arah samudra. Ah, kenapa masalah datang ketika Ling Zizhou dan Meng Zhi sedang tidak ada didekat mereka? Membuat khawatir saja!
"Maaf, apakah ada masalah?" kata suara seorang pria dari ruang tamu. Pada bagian dada Hanfu pria itu, tepatnya disebelah kanan, ada gambar persegi enam yang terbagi enam sama rata.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan dari Lereng Kaca, salah satu rumah lelang terbesar di ibu kota negeri Chen.
__ADS_1
Ling Zizhou dan Meng Zhi memikirkan hal yang sama ketika melihat pria itu. Ya, dia lah masalahnya, Lereng Kacalah, masalahnya.