
"Ini toh ibu kota Negeri Wei," kata Ling Zizhou setelah lama diam.
"Kau pernah ke Negeri Wei?" kata Mu Lian.
"Pernah tapi master tidak membawaku ke ibu kota," kata Ling Zizhou.
Mu Lian hendak mengatakan sesuatu namun tiba-tiba kain terpal disingkap, Master Yi hendak naik. Di belakangnya, seorang petugas terus berbicara kepada Master Yi dengan ramah,
"Terimakasih telah mengunjungi negeri kami. Sudah anda catat kontak orang yang akan mengurus pendaftaran anda ke Gua Suci? Sekali lagi, semoga kunjungan anda menyenangkan,"
Petugas tersebut terkejut ketika melihat Mu Lian, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi tapi kemudian tersenyum ramah.
Wajah si petugas hampir saja tertampar kain karena Master Yi buru-buru menutup kain setelah melihat si petugas melakukan kontak dengan Mu Lian, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi yang sedang duduk di muka gerobak.
Untungnya, Mu Lian mengatakan bahwa ia ingin melihat keramaian ibu kota, padahal Mu Lian ingin melihat dengan jelas karakteristik unik pada si petugas dan dewan yang sedang berjaga di sekitar.
Kain pun diikat di samping kanan dan kiri gerobak. Membuat si petugas dapat melihat dengan jelas orang-orang yang duduk di muka gerobak.
Mu Lian menatap si petugas dengan mata berbinar. Meski gerobak mulai berjalan menjauhi si petugas, Mu Lian tanpa sadar menolehkan kepalanya ke belakang, padahal tentu saja dia tidak bisa melihat si petugas karena sedang di dalam gerobak.
Melihat tatapan penasaran di Mata Mu Lian, Meimei pun menjelaskan bahwa penduduk pribumi Negeri Wei adalah kambing air.
Ketika bertransformasi menjadi manusia, hidung, telinga, tanduk serta rambut mereka sangat mencolok.
Hidung mereka pesek, telinga menyerupai telinga kambing namun lebih kecil, bahkan saking kecilnya jadi tidak terlihat proporsional. Tanduk mereka berbentuk spiral ke atas. Secara garis besar, mereka menyerupai Markhor.
(sumber: pinterest)
Tatapan Mu Lian tidak pernah lepas dari dewan-dewan yang ditemuinya di sepanjang jalan, membuatnya bangkit dan berdiri di muka gerobak.
Dewan-dewan tersebut sudah jauh di belakang namun Mu Lian tetap saja berusaha mengamati mereka, membuatnya nyaris terjatuh dari gerobak.
"Hati-hati!" kata Master Yi membawa kembali Mu Lian ke bangku. Kemudian menyerahkan gulungan kertas kepadanya.
"Ini surat pengajuan slip yang harus kita berikan kepada seorang broker. Namanya Fei Xua," kata Master Yi. menyerahkan gulungan kertas agar Mu Lian bisa duduk dengan tenang.
Mu Lian membuka gulungan kertas tersebut. Judul 'PENGAJUAN SLIP' terpampang paling jelas diantara tulisan yang ada.
Setelah dengan cepat mengamati kalimat-kalimat yang tertulis pada kertas, kalimat yang menarik perhatian adalah yang berkepentingan: organisasi, jumlah orang yang ikut serta: 6 orang, tambahan: membawa transportasi ajaib.
"Tunjukkan kertas ini, maka slip akan menjadi miliki kita," kata Master Yi.
"Serius?" kata Meng Zhi tak percaya. Master Yi mengangguk.
"Seberapa sulit mendapatkan slip jika tidak memiliki pengajuan ini?" kata Mu Lian penasaran dengan sikap Meng Zhi.
"Sangat sulit karena rival kita adalah sekte-sekte terkenal di negeri ini, organisasi besar kadang sekte besar dari negeri lain pun datang jauh-jauh hanya untuk ke Gua Suci. Oh, kalau yang dibuka Gua Suci yang sangat kuat, biasanya orang dari Dunia Zhongjian pun datang," kata Meng Zhi.
"Aku benar-benar bersyukur kita mengantongi medali emas. Kau tahu, Lian'er? Semua yang pantas untuk bersaing mendapatkan slip akan mengikuti pertandingan untuk mendapatkan pemenang slip tersebut," kata Meimei menggeleng.
Meimei menjelaskan pertandingan memperebutkan slip bisa berubah menjadi brutal jika yang dibuka adalah Gua Suci yang sangat kuat.
"Ketika sudah di dalam gua pun persaingan akan semakin ketat. Tidak jarang nyawa melayang karena pertarungan yang panas itu," kata Meng Zhi. Ling Zizhou menghela napas panjang.
Ternyata Ling Zizhou pernah berkesempatan memasuki Gua Suci meski itu berskala kecil, tetap saja Ling Zizhou menggambarkan betapa berbahayanya berburu harta maupun sumber daya di dalam Gua Suci.
"Lian'er, kau harus berhati-hati pada orang yang munafik. Di depan saja baik kepada kita, tapi dibelakang mereka selalu mencari kesempatan untuk menusuk kita! Cuih, b*jing*n!" kata Ling Zizhou berpura-pura meludahi orang dalam bayangannya.
Tentu saja ia tidak berani meludah di dalam gerobak, bisa-bisa dia disuruh jalan kaki! Mu Lian hanya mengamati Ling Zizhou yang terus mencaci orang-orang yang dulu berhasil membuatnya dendam.
Kemudian beralih ke pemandangan yang menarik perhatiannya. Ibu kota Negeri Wei sedikit unik karena gedung dewannya tidak dipisahkan dengan dinding-dinding raksasa.
Ibukota sepenuhnya hanya dihuni oleh dewan sehingga bangunan-bangunan yang berdiri disini adalah Gedung Dewan.
Gerobak berjalan selama hampir tiga puluh menit sebelum akhirnya Meimei berdiri dan menunjukkan sesuatu kepada Mu Lian dengan sangat antusias,
"Ah, ini dia! Lian'er, yang ingin kutunjukkan kepadamu adalah terowongan bawah air ini!Terowongan tersebut terbuat dari pasir yang memadat kemudian mengeras,"
__ADS_1
(Hanya ilustrasi. Silahkan disesuaikan dengan deskripsi cerita. Sumber: Pinterest)
"Wah! Apa terowongan itu benar-benar kuat?" kata Mu Lian.
"Tentu saja. Terowongan itu terbentuk secara alami dan sudah terbentuk sejak beberapa ribu tahun yang lalu," kata Meng Zhi.
Beberapa rombongan yang datang bersamaan dengan Mu Lian nampak berbondong-bondong menuju terowongan tersebut. Di sekitar pintu masuk terowongan pun ada antrian yang cukup panjang.
Untungnya, Mu Lian dan yang lain tidak menunggu terlalu lama sebelum giliran mereka tiba. Gerobak diperbolehkan lewat.
Karena ukuran terowongan tersebut tidak terlalu besar, gerobak harus berjalan di belakang sebuah rombongan. Begitu pula dengan yang sebelumnya maupun yang dibelakang gerobak.
"Sayang sekali terowongan ini terbuat dari pasir, kalau terbuat dari kaca, kita bisa mengamati kehidupan di bawah air," kata Mu Lian.
"Kaca? Maksudmu cermin? Sampai saat ini belum ada yang memikirkan membuat terowongan dari kaca," kata Meng Zhi menggeleng.
"Benar, yang melindungi ibukota saja termasuk alat ajaib. Alat tersebut membentuk perisai transparan, sehingga kita bisa melihat kehidupan bawah air. Tapi yah, biaya pembuatan alat ajaib tersebut selangit," kata Meimei.
Tiga puluh menit kemudian, gerobak keluar dari terowongan.
"Selamat datang di negeri Wei. Dimana negeri ini terkenal dengan kota-kota bawah tanahnya," kata Meimei.
"Wah, master, sudah lama sekali kita tidak singgah disini!" kata Ling Zizhou bersemangat.
"Tunggu, kenapa semuanya tinggal dibawah tanah? Apakah di atas sana ada predator mengerikan?" kata Mu Lian. Jika manusia menghindari suatu tempat, pasti ada predator alami.
"Haha, maksudmu spirit beast? Spirit beast saja tidak ada yang hidup di atas tanah. Semuanya hidup dibawah tanah karena hujan asam," kata Meng Zhi menjelaskan.
Hujan asam tersebut dapat menghancurkan bahkan besi paling keras sekalipun. Makanya, di atas sana, hanya ada gurun pasir dan laguna. Laguna yang terbentuk setelah hujan asam tersebut dipurifikasi secara alami oleh pasir putih.
Ajaibnya, bawah tanah dari gurun pasir putih tersebut membentuk stalaktit dan stalagmit yang saling bertemu, menciptakan tiang penyangga besar.
(Sumber: Pinterest)
Penduduk Wei pun menggunakan batu-batu penyangga tersebut sebagai rumah-rumah, toko-toko serta bangunan lainnya.
"Kau pasti berpikir suasana di negeri ini sangat muram bukan? Karena tidak ada sinar matahari maupun tumbuhan?
Tenang saja, kau dapat menemukannya di daerah tertentu. Katakan pada Master Mu untuk singgah di tempat-tempat tersebut kalau sejalan dengan tujuan kita,"
Meng Zhi berdiri kemudian menyampaikan pesan Meimei kepada Mu Haocun melalui alat komunikasi.
"Ah Zhou, bagaimana persediaan bahan makanan kita?" kata Meng Zhi.
"Tidak terlalu banyak. Aku tidak sempat berbelanja sering-sering karena kejadian rumah lelang," kata Ling Zizhou.
"Baiklah, kita pergi berbelanja dulu di toko terdekat. Setelah itu pergi ke mata air," suara Mu Haocun terdengar melalui alat komunikasi. Terdengar suara Xiaohan dan Xiaoqiu yang sedang bertengkar.
Sepertinya anak-anak ikut melihat pemandangan luar melalui Cermin Langit. Semenjak mengikuti Festival Spirit Beast, anak-anak berusia 12 tahun dan 9 tahun mulai sering terlihat menghabiskan waktu mereka di ruang kendali.
"Xiaohan, Xiaoqiu! Kalian ini terus saja bertengkar. Xiaoleng, jaga mereka berdua agar tidak menganggu Master Mu!" kata Meimei berseru sambil tetap duduk di bangkunya.
Mendengar suara Meimei, dalam sekejap suara pertengkaran pun berhenti. Selain sering dianggap sebagai sosok ibu, Meimei juga ditakuti karena sikap tegasnya.
Xiaohan dan Xiaogiu adalah anak berusia 9 tahun. Mereka memang sering bertengkar. Untungnya masih dalam batas wajar. Saat ini pun, Mu Haocun tetap bisa mengoperasikan gerobak seperti biasanya.
Gerobak menuruni anak-anak tangga kemudian berjalan di jalan yang lebih lebar dan melewati barisan demi barisan batu penyangga raksasa yang menjulang tinggi.
Tampak sinar-sinar terang dari jendela-jendela yang terbuka. Dan bayangan orang-orang yang hilir mudik.
Mu Lian mengamati benda-benda bulat yang menjadi sumber cahaya utama kota ini. Tanpa sengaja, salah satu bola cahaya itu berputar dan dua mata bertemu tatap dengan Mu Lian.
"!"
"Haha! Lihat mukamu! Kaget ya? Itu serangga. Semua bola-bola bercahaya ini serangga yang hidup di bawah tanah juga," kata Ling Zizhou memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Ling Zizhou menjelaskan bahwa serangga itu sangat jinak dan tidak pernah menyerang siapapun.
Hidup mereka hanya makan, tidur dan bersinar.
__ADS_1
Jika waktunya mereka mati, ukuran mereka akan semakin menyusut dan cahaya mereka semakin meredup.
Mu Lian mendengarkan penjelasan Ling Zizhou sambil mengamati jembatan batu yang sedang mereka lewati.
Tak lama, gerobak melewati batu penyangga dengan banyak sekali banner. Ada yang bertuliskan restoran, ada yang bertuliskan toko serba ada.
Gerobak berhenti di batu penyangga dengan banner bertuliskan 'Pasar Segar'. Mu Lian mengikuti Ling Zizhou dan Meimei turun dari gerobak dan masuk ke tempat tersebut.
Ketiganya harus menaiki tangga spiral untuk tiba di pasar. Dari bangunan hingga perabot di dalamnya terbuat dari batuan, membuat Mu Lian merasa berada di zaman purba.
Namun uniknya, komoditas yang dijual beraneka ragam. Mulai dari sayur berwarna-warni, ikan yang menyerupai ikan sapu-sapu yang bentuknya jelek sekali.
Meimei menjelaskan semakin jelek, ikan tersebut semakin terasa enak. Ada juga umbi-umbian dengan bentuk yang aneh-aneh. Semakin aneh semakin jarang dan harganya semakin mahal.
Apakah rasanya semakin enak? Tentu saja tidak, namun manfaat yang dikandungnya semakin besar. Namun kali ini Meimei tidak mengambil umbi-umbian karena akan membeli biji-bijian berwarna merah.
Bentuknya seperti beras merah dan memang digunakan sebagai nasi di dunia ini. Meimei membeli banyak sekali.
Sementara Meimei mengurus beras dan sayur, Ling Zizhou mencari ikan paling jelek, maksudnya, ikan paling bagus untuk dibeli.
Hiruk pikuk pasar membuat Mu Lian menoleh kesana kemari, tidak mau ketinggalan apapun yang terjadi saat itu. Saat Ling Zizhou bergabung kembali dengan Mu Lian dan Meimei, Ling Zizhou berkata,
"Mei jie, sudah selesai belanja berasnya? Aku akan naik ke atas dan mencari daging,"
"Baiklah. Kami kembali duluan ya," kata Meimei segera menarik Mu Lian untuk kembali ke gerobak.
"Loh, kenapa kita tidak ikut saja?" kata Mu Lian heran.
"Kau tidak akan mau makan kalau ikut bersama Ah Zhou!" kata Meimei tersenyum geli. Karena daging yang tersedia di Negeri Wei berasal dari serangga, Meimei tidak berani memberi tahu Mu Lian hal tersebut.
Jika ingin memakan daging yang benar-benar daging, mereka harus berburu sendiri dan lokasi berburu tersebut sangat jauh dari sini.
Mu Lian mengikuti firasatnya yang menyuruhnya untuk menuruti Meimei. Sepuluh menit kemudian, Ling Zizhou kembali dan mereka meneruskan perjalanan. Kali ini gerobak berjalan menjauhi daerah pemukiman.
Mu Haocun memarkir gerobak di tepi jalan dekat tiang penyangga yang tinggi menjulang. Mereka beristirahat makan siang selama 2 jam sambil mendiskusikan mata air mana yang akan mereka kunjungi.
"Aku ingin melihat mata air itu!" kata Xiaohan dan Xiaoqiu bersamaan. Meski tidak mengutarakannya, Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng, dan Xiaojia pun menatap Mu Lian dan yang lain dengan penuh harap.
Mu Lian mengamati Xiaoqi dan Xiaofu, 2 anak yang berusia 12 tahun juga. Keduanya tetap tenang dan menaruh perhatiannya kepada anak-anak yang lebih muda.
Dua anak berusia 9 tahun pun terlihat tidak begitu antusias kepada mata air yang menjadi topik utama pembicaraan saat itu.
Mu Lian tidak memaksa anak-anak tersebut untuk ikut, membiarkan mereka memilih sesuai keinginan mereka.
Akhirnya, yang akan ikut melihat-llihat mata air hanya 6 anak saja. 4 anak berusia 12 tahun yaitu Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng dan Xiaojia. 2 anak berusia 9 tahun yaitu Xiaohan dan Xiaoqiu.
Xiaobao dan Xiaohua mengikuti Mu Lian dan Ling Zizhou duduk dengan Master Yi di muka gerobak sedangkan Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu mengikuti Meimei dan Meng Zhi ke belakang gerobak.
Mereka berkendara selama 5 jam untuk sampai di mata air. Suasana di muka gerobak sangat sunyi karena semuanya menghabiskan waktu dengan tidur.
Berbeda halnya dengan semua yang ada di belakang gerobak. Baru berjalan beberapa menit, Xiaohan dan Xiaoqiu sudah bertengkar.
Belum lagi Xiaoqiu tak sengaja menendang kaki Xiaojia, membuat pertengkaran semakin panas. Keduanya sampai kejar-kejaran.
Xiaojia sering ikut latihan dengan Meimei dan Meng Zhi, begitu pula dengan Xiaoqiu. Mereka mempraktikan apa yang telah mereka pelajari selama ini dalam kejar-kejaran membuat Xiaoleng dan Xiaohan pun tak mau ketinggalan, ikut bermain kejar-kejaran.
Untungnya tidak ada botol-botol porselen yang dipajang pada rak-rak. Meimei dan Meng Zhi hanya bisa diam menatap anak-anak berlari mengitari keduanya.
Ketika akhirnya mereka tiba di tujuan. Semuanya turun satu persatu dari gerobak, karena jalan di depan menyempit sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Mu Haocun membawa gerobak ke tempat aman dan menunggu Mu Lian dan yang lain kembali.
Meng Zhi memimpin jalan diikuti dengan anak-anak, Mu Lian dan Meimei serta Ling Zizhou berjaga di belakang rombongan.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan kondisi jalan menanjak. Yang membuatnya sedikit sulit adalah banyaknya bebatuan yang kadang membuat seseorang tergelincir.
Bagi Mu Lian, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi, medan seperti itu bukan masalah. Namun anak-anak baru mulai berkultivasi dan mereka belum memperdalam tehnik qinggong.
"Hati-hati. Bagus, pelan-pelan saja jalannya. Sebentar lagi kita sampai. Ah, itu dia mulut gua nya sudah terlihat," kata Meng Zhi.
Anak-anak bernapas lega setelah melewati mulut gua yang dimaksud namun segera menarik napas dalam karena melihat pemandangan di depan mereka.
"!"
__ADS_1