Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Panik


__ADS_3

"Lian jie yakin?" tanya Xiaoxiao sambil mengerutkan kening, ekspresi wajahnya serius sekali.


"100% yakin" kata Mu Lian mengangguk.


Ling Zizhou: ...


Han Tengfei: ...


Ini sudah ketiga kalinya Mu Lian menyatakan keyakinannya. Kemarin, kali pertama mereka menggunakan racikan barunya, Mu Lian pun berkata demikian.


Sayangnya, meski sudah menghabiskan dua botol, mereka belum menemukan racikan yang tepat.


Mu Lian mengambil sebuah botol dari kantung dimensionalnya, tak menghiraukan tatapan tak berdaya dari Xiaoxiao, Ling Zizhou dan Han Tengfei.


"Baiklah, mari kita coba," kata Xiaoxiao. Hari ini masih ada dua botol yang harus mereka coba.


Entah Mu Lian akan meracik yang baru atau tidak untuk keesokan harinya, tergantung dari hasil hari ini.


"Array siap," kata Xiaoxiao. Mu Lian berjalan ke sebuah lingkaran kecil yang permukaannya terlihat lebih gelap di bandingkan warna lantai di sekitarnya.


Untuk menghindari tercampurnya racikan lima tanaman katalis dengan zat yang terkandung dalam botol, Mu Lian menumpahkan racikan tersebut di atas lantai kayu.


Lantai itu kemudian dibersihkan dan dikeringkan setiap hendak mencoba racikan baru. Ling Zizhou membantu mengeringkan lantai menggunakan mantera api.


Namun karena takut lantai kayu ikut terbakar, lantai kayu dikeringkan secukupnya saja. Menyisakan sedikit kelembaban di permukaannya.


Setelah menuang seluruh isi botol porselen, Mu Lian melempar botol itu ke Ling Zizhou yang berdiri di luar lingkaran.


Mu Lian kemudian menuju ke pusat array untuk memulai pengekstraksian. Xiaoxiao mengaktifkan array.


Proses pengekstraksian pun dimulai. Setelah menggunakannya beberapa kali, kini energi spiritual Mu Lian lebih stabil.


Mu Lian memanipulasi energi spiritualnya untuk membuat api pil dan mengedarkan indera spiritualnya secara bersamaan.


Yang tampak di mata pengamat adalah seorang gadis berdiri di dalam sebuah array dengan kuali yang melayang tepat di atas telapak tangannya. Api indah berwarna lilac melayang di antara kuali dan telapak tangan gadis tersebut.


Padahal yang sebenarnya tidak sesederhana itu. Array yang telah ditambahkan racikan lima tanaman katalis kini bekerja seperti penguat sinyal. Array tersebut menguatkan energi spiritual yang ada dalam diri Mu Lian.


Setelah merasakan energi spiritual miliknya bertambah menjadi dua kali lipat dari yang biasanya, Mu Lian memanipulasi energi spiritual miliknya seperti orang gila.


"Luar biasa! Energi spiritual ini, bahkan lebih kuat dari Master Mu," kata Han Tengfei sambil menahan napas.


"Apa Lian'er akan baik-baik saja?" kata Ling Zizhou sambil menatap cemas.


Karena mau bagaimanapun, yang dilakukan Mu Lian saat ini seperti seorang atlet meminum obat doping.


Namun masalahnya, obat tersebut dapat menyebabkan efek samping yang cukup berbahaya bagi tubuh jika tidak segera ditangani.


Ling Zizhou dan Han Tengfei saling menatap. Mereka tidak berani menganggu peroses pengekstraksian, takut jika akan berubah menjadi masalah yang lebih besar.


Kedua pemuda itu berencana menyampaikan kejadian langka hari ini kepada Mu Haocun. Dimana Mu Haocun sendiri, yang sedang berada di kawasan budidaya Siwang Mogu sudah merasakan fluktuasi energi spiritual milik Mu Lian.


"Hmm. Lian'er," gumam Mu Haocun sambil menatap ke arah penginapan.


"Apa yang terjadi?" kata Master Yi yang bahkan dibuat bicara saking terkejutnya.


"Energi yang luar biasa," kata Meng Zhi. Chu Minishen pun mengangguk menyetujui.


Di penginapan, Mu Lian yang tidak tahu jika energi spiritualnya telah mengejutkan semua orang yang ada di Lembah Ufuk Timur, masih fokus pada kuali yang melayang ringkih di atas telapak tangannya.


Getaran kuali terasa empat kali lebih kuat dari sebelumnya. Ah, Mu Lian sudah merasakan energi spiritual miliknya tinggal setengah lagi. Apalagi setelah menambahkan bahan terakhir. Rasanya energi spiritual miliknya bocor tanpa kendali.


Efek menggunakan energi spiritual yang sangat besar pun mulai membebani tubuh Mu Lian.


Mu Lian mundur beberapa langkah, tumit kanannya nyaris keluar garis akibat menahan tubuhnya yang kehilangan tenaga. Begitu pula Xiaoxiao. Namun wajah gadis itu terlihat sangat pucat.


Ling Zizhou dan Han Tengfei sudah maju beberapa langkah karena panik, namun ingat jika mereka benar-benar tidak boleh menganggu proses yang sedang berjalan kritis itu.


"Xiao'er!" kata Han Tengfei ketika melihat darah menetes dari hidung Xiaoxiao.

__ADS_1


"Jangan!" kata Xiaoxiao berhasil mengucapkan sepatah kata ditengah-tengah perjuangannya menjaga kestabilan array.


Ling Zizhou meletakkan tangannya di pundak Han Tengfei, menahan agar pemuda itu tidak ceroboh.


Ketika Han Tengfei menoleh untuk mengatakan sesuatu, Han Tengfei dapat melihat kecemasan di mata Ling Zizhou jadi akhirnya Han Tengfei kembali diam di tempatnya.


Seluruh ruangan bergetar, meja serta kursi-kursi mengeluarkan bunyi derak dan sepertinya meja serta kursi itu bergeser beberapa senti dari tempatnya semula.


Meski pintu ruangan dibuka, angin berhembus kencang dari arah array bukan dari pintu.


Pakaian, jubah serta rambut Mu Lian, Xiaoxiao, Ling Zizhou dan Han Tengfei berkibar kesana kemari akibat angin kencang.


Ruangan pun terlihat sangat terang akibat cahaya yang dipancarkan dari array. Beberapa menit kemudian, cahaya meredup. Begitu pula api pil milik Mu Lian.


Xiaoxiao sudah jatuh terduduk di lantai ketika semua itu berakhir. Mu Lian yang berdiri di tengah array, sedang berjuang untuk tetap berdiri dan mengambil kertas mantera. Tangan dan kakinya bergetar.


"Xiao'er!" Han Tengfei segera menopang gadis itu.


"Hei! Kau gila ya?! Istirahatlah dulu," kata Ling Zizhou sambil menopang Mu Lian.


"Tidak apa-apa. Setelah menghilangkan asap hitam ini selesai kok," kata Mu Lian lirih.


Ling Zizhou hanya bisa berkompromi dan membantu Mu Lian. Pemuda itu mendudukkan Mu Lian kemudian mengambil alih proses terakhir. Kalau hanya menghilangkan asap hitam dengan kertas mantera, dia juga bisa.


Mu Lian bersandar pada lengan Ling Zizhou sambil melihat asap hitam menghilang. Kemudian Ling Zizhou menyodorkan kuali agar Mu Lian dapat melihat ke dasarnya.


"Xiao'er! Xiao'er, kita berhasil!" kata Mu Lian sambil tertawa terbahak-bahak. Baru sekali ini dalam hidupnya Mu Lian lupa untuk mengontrol dirinya di hadapan orang lain.


Karena keluarganya memiliki nama besar di bisnis pengobatan herbal, otomatis dirinya dan keluarganya menjadi public figure ditengah masyarakat.


Mu Lian sudah terbiasa untuk menjaga sikapnya di hadapan orang lain. Kali ini, tentu saja tidak karena saking gembiranya telah berhasil mengekstrak chi. Lagi pula, Ling Zizhou dan Han Tengfei bukanlah orang asing.


Tidak mendengar jawaban dari Xiaoxiao, Mu Lian menoleh ke arah Xiaoxiao. Ternyata gadis itu tertidur pulas di pangkuan Han Tengfei.


"Tentu saja kalian berhasil, dasar bodoh," kata Ling Zizhou sambil mengusap kepala Mu Lian.


Mu Lian dan Xiaoxiao tidak menyadari itu karena terlampau lelah, bahkan Xiaoxiao kehilangan kesadaran.


"Aku mengantuk," kata Mu Lian sambil mendekap lengan Ling Zizhou layaknya guling.


Padahal Mu Lian dan Xiaoxiao belum membereskan ruangan ini. Belum lagi menuliskan secara detail apa yang terjadi pada pengekstraksian hari ini. Oh, mereka juga belum menjelaskan apapun pada Mu Haocun dan Master Zhengheng.


Masih banyak sekali yang harus dilakukan namun semua indera Mu Lian perlahan kehilangan fungsinya kemudian gadis itu jatuh dalam kegelapan.


Orang pertama yang memeriksa Mu Lian dan yang lain adalah Master Zhengheng dan ketiga bawahannya.


Mereka membantu membereskan ruangan sementara Ling Zizhou dan Han Tengfei membawa Mu Lian serta Xiaoxiao untuk beristirahat di kamar.


Pemilik penginapan, Paman Guo hanya berani mengintip untuk memastikan tidak terjadi masalah serius kemudian kembali melakukan kegiatannya lagi.


Kemudian datanglah Meimei yang dengan sangat panik meminta penjelasan dari Ling Zizhou.


Meimei tidak berangkat untuk berpatroli karena masih ada ketiga murid Chu Minishen yang sedang berpatroli. Meimei memilih tinggal di penginapan dan merawat Mu Lian serta Xiaoxiao.


Rombongan Mu Haocun datang setelah matahari terbenam. Setelah mendengar cerita dari Ling Zizhou dan Han Tengfei, Master Yi, Meng Zhi serta Chu Minishen segera kembali ke kawasan budidaya Siwang Mogu.


Mu Haocun meracik obat yang dibutuhkan untuk pemulihan Mu Lian dan Xiaoxiao. Dia menyampaikan hal-hal penting yang perlu diketahui Meimei, Ling Zizhou dan Han Tengfei.


"Saat ini tubuh mereka berdua sangat rapuh dan membutuhkan perawatan dengan sangat teliti. Tapi jangan khawatir, dengan obat yang kuresepkan, mereka bisa kembali sehat," kata Mu Haocun meyakinkan Meimei, Ling Zizhou dan Han Tengfei.


...


[Di sekte, ketika energi spiritual Mu Lian meningkat menjadi dua kali lipat lebih besar]


"Oh, sepertinya Master Mu sedang membuat pil tingkat profesional. Tapi pil apakah yang memerlukan energi spiritual sebesar ini?" gumam tetua bertubuh pendek.


Ketiga tetua Embun Pagi yang sedang mengerjakan kegiatannya itu pun berpikiran yang sama. Sejauh ini, pil epifani lah pil tingkat profesional yang membutuhkan energi spiritual cukup besar. Namun tidak sampai sebesar yang mereka rasakan ini.


Baik itu anggota sekte yang sedang di bangunan sekte maupun di asrama, semuanya merasakan energi spiritual Mu Lian.

__ADS_1


"Wah! Aku beruntung sekali bisa menyaksikan energi spiritual milik Master Mu!"


"Hebat!"


"Ah, nyamannya,"


"Gila!"


Sementara itu, di asrama putri, Jiaojiao dan Mutong dikelilingi gadis-gadis anggota sekte sebaya mereka.


Mereka dilontarkan berbagai pertanyaan, gadis-gadis disekeliling mereka dengan antusiasnya mendengarkan penjelasan dari Jiaojiao dan Mutong.


Hal yang tak jauh berbeda dialami oleh Changyi dan Liuzhi di asrama pria. Namun Shaoting dan Yunhao terseret ke dalam arus massa yang mengelilingi kedua pemuda itu.


Awalnya mereka hendak mengambil langkah seribu ketika melihat beberapa senior mulai berdatangan dan mengerumuni Changyi serta Liuzhi.


Ya. Sebenarnya Shaoting dan Yunhao adalah murid tingkat 6. Kedua pemuda itu berada satu tingkat dibawah senior-senior yang sedang mengerumuni Changyi dan Liuzhi.


Sedangkan, jika dibandingkan dengan Changyi dan Liuzhi, Shaoting dan Yunhao berada dua tingkat dibawah Changyi dan Liuzhi.


Asrama putra terdiri dari 4 bangunan. Keempatnya bergaya Hui dan memiliki pekarangan yang sangat luas.


Setiap bangunan memiliki 10 kamar dan setiap kamarnya diisi oleh satu orang saja. Benar, perlakuan istimewa ini hanya diberikan kepada ahli Alkimia!


Sebaliknya, asrama putri terdiri dari 2 bangunan. Dan seperti asrama putra, setiap bangunan memiliki 10 kamar serta diisi oleh seorang saja setiap kamarnya.


Setiap asrama memiliki aula resepsionis yang diubah menjadi ruang makan sekaligus rekreasi. Istilah kerennya untuk tempat nongkrong. Dengan bangunan yang luas seperti itu tentu saja ruang nongkrongnya pun sangat luas.


Meski begitu, senior-senior yang mengerumuni Changyi dan Liuzhi tidak mampu memenuhi setengah luas ruangan tersebut. Karena angkatan mereka hanya berisi 10 orang saja.


Ditambah keempat murid Mu Haocun, total angkatan mereka hanya terdiri dari 14 orang saja. Dengan demikian, Jiaojiao dan Mutong menjadi dua orang gadis dalam angkatan mereka.


Ketika para senior itu kembali ke asrama dan menatap kedua pemuda itu. Shaoting dan Yunhao hanya bisa berubah menjadi anak yang patuh dan diam di tempat mereka.


"Changyi, apa yang sedang dibuat Master Mu hingga membutuhkan energi spiritual sebesar ini?" tanya seorang senior.


"Aku tidak tahu. Terakhir kali kami ke rumah master, master hanya menanyakan rencana kami kedepannya," jawab Changyi jujur.


"Ayolah jangan menutup-nutupi sesuatu yang besar dari kami," bujuk seorang senior di sebelahnya.


Ditengah-tengah perbincangan Changyi, Liuzhi serta para senior itu, seseorang mengintip dari balik gerbang. Matanya menyapu kerumunan, mencari seorang sosok.


Tatapan tajamnya terpaku pada Changyi dan Liuzhi. Tak lama, orang tersebut berbalik meninggalkan asrama khusus senior sambil melihat ke kiri dan ke kanan, takut ada yang melihat.


Setelah melewati satu bangunan, orang itu masuk ke sebuah bangunan yang tampak sepi. Orang itu berjalan melintasi pekarangan dan menyusuri lorong lantai dua. Tiba-tiba pintu kamar yang baru saja dilewatinya terbuka.


"Uhuk, siapa?" kata seorang pemuda bertubuh kurus. Matanya sayu dan wajahnya pucat. Beberapa kali pemuda itu batuk kemudian menatap orang yang berdiri tak jauh dari pintunya.


"Oh, ternyata kau. Uhuk, bisa minta tolong?" kata pemuda itu lagi kepada orang itu "Tenggorokkanku sakit sekali, tapi aku terlalu lemah untuk membuat obat,"


Tubuh orang itu kemudian rileks setelah mendengar apa yang diucapkan pemuda itu. Setelah menghela napas untuk menenangkan dirinya, orang itu mengubah ekspresi di wajahnya kemudian berbalik,


"Tentu saja. Akan segera kubuatkan. Kau istirahat saja dulu," kata orang itu tersenyum lembut.


"omong-omong-"


"Apa yang sedang kulakukan tidak penting. Lagi pula karena aku kemari, jadi ada yang membantumu bukan?" kata orang itu tersenyum semakin lembut.


Pemuda itu tertegun. Dia sebenarnya hendak bertanya mengapa orang itu itu berkeliaran. Pemuda itu sendiri sudah meminta ijin untuk tidak mengikuti kelas karena sedang sakit.


Mereka berdua, murid tahun pertama, seharusnya sedang belajar. Namun tampaknya orang itu enggan untuk membicarakannya.


Dan entah mengapa, pemuda itu malah bergidik ketika melihat senyuman lembut orang itu. Ada yang janggal dibalik senyuman lembutnya.


Beberapa saat kemudian, pemuda itu tahu alasannya, bahwa senyuman orang itu tidak terlihat di dalam kedua matanya.


Sebaliknya, kedua mata orang itu terlihat dingin tak beremosi, seperti mata boneka. Pemuda itu segera mengucapkan terimakasih kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban dari rekannya itu.


Mengerikan, terlalu mengerikan! Meski orang itu benar-benar membuatkan obat, mana berani dirinya meminum obat tersebut!

__ADS_1


__ADS_2