Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Ada yang ingin bertemu denganmu


__ADS_3

Bulan menggantung tinggi di atas langit, cahayanya menerangi pekarangan sebuah rumah dan masuk ke sela-sela jendela rumah tersebut. Menyebabkan lorong berpencahayaan remang-remang.


Lorong itu sangat sepi. Semua penghuni rumah sudah tidur di kamar masing-masing. Kecuali di satu kamar dimana beberapa orang sedang berdiskusi.


"Bagaimana kamarnya?" tanya Meng Zhi.


"Ck, tidak jelas. Pintu kamar itu benar-benar tidak bergerak sama sekali meski sudah ku tendang sekalipun," jawab Ling Zizhou kesal.


"Saat aku mengedarkan indera spiritual pun kamar itu tidak dapat ditembus," kata Mu Lian menambahkan.


Mu Lian, Ling Zizhou dan Meng Zhi kemudian menatap Mu Haocun yang sedang duduk diam di pinggir tempat tidur. Master Yi, yang berdiri tak jauh dari sana juga menatap ke arah Mu Haocun.


"Bagaimana? Apa anda dapat menembus kamar itu?" tanya Meimei penasaran.


Meimei berdiri di samping Mu Lian, Ling Zizhou dan Meng Zhi. Mereka berdiri menghadap Mu Haocun. Karena di dalam kamar hanya ada satu tempat tidur, hanya Mu Haocun saja yang duduk sedangkan yang lain berdiskusi sambil berdiri.


Mu Haocun menggeleng.


"Sayangnya tidak, dari awal pun aku tidak pernah bisa merasakan satu titik di rumah ini, yang ternyata adalah kamar yang terkunci itu.


Tapi, sepertinya kamar itu menggunakan array tingkat tinggi. Hmm, benar, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain array ketika melihat karakteristik kamar itu," kata Mu Haocun sambil mengelus dagu.


Keamanan tinggi. Tidak dapat ditembus. Apalagi kalau bukan array? Sekuat-kuatnya pengamanan oleh kertas mantera, masih bisa dibatalkan oleh orang yang memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi daripada yang menggunakan kertas mantera itu sendiri.


Berbeda dengan array. Array menggunakan bahan-bahan dari luar yang dapat mempengaruhi kekuatan array tersebut.


Array tingkat tinggi misalnya, ada yang membutuhkan organ-organ spirit beast, tanaman langka berusia ratusan tahun, mineral yang kaya akan chi murni dan lain sebagainya.


Ditambah dengan polanya yang sangat rumit, membuat sebuah array dapat diumpamakan sebagai bangunan yang memiliki pondasi sangat kuat sehingga mampu bertahan dari gempa serta bencana alam lainnya.


Semua yang ada ada di kamar pun terdiam. Apa boleh buat, mereka bukan Master Zhengheng dan hanya bisa menunggu. Karena pada dasarnya semua yang ada di dunia tidak ada yang abadi, cara kerja array pun demikian.


Meski sebuah array mampu menghadang kultivator tingkat tinggi seperti Mu Haocun, Master Yi dan Meng Zhi, namun array tersebut pada akhirnya bisa dinonaktifkan secara sendirinya.


Hal tersebut disebabkan karena bahan-bahan penyusun array hancur baik itu dimakan waktu atau karena tidak lagi mampu menahan kekuatan array.


Dan Mu Haocun memperkirakan bahwa tak lama lagi array yang melindungi kamar itu berhenti bekerja. Mu Lian hanya bisa menunggu dengan sabar hari dimana terbukanya kamar itu.


Setelah diskusi malam itu, tidak ada lagi yang mengungkit kamar yang terkunci. Semuanya menjalani hari demi hari seperti biasanya.


Ling Zizhou mulai menjalani latihannya kembali dengan Master Yi, namun kali ini Meng Zhi mengikuti kemanapun keduanya berlatih.


Sedangkan Mu Lian, selalu mengajak Mu Haocun dan Meimei beraktivitas bersama anak-anak. Dan di saat luang, Mu Lian berlatih membuat pil. Entah sejak kapan Mu Lian merasa ada yang kurang jika tidak membuat pil.


Aktivitas yang mereka lakukan sebenarnya tidak ada yang spesial. Hanya pekerjaan harian seperti pada umum seperti menyapu, mengepel, mencuci piring-piring kotor, mencuci baju, membereskan kamar dan lain sebagainya.


Namun dalam kegiatan tersebut, anak-anak selalu dilibatkan. Mu Lian mengatakan bahwa aktivitas ini berfungsi sebagai rehabilitasi agar anak-anak mampu menjalani kehidupan mereka pasca ditinggalkan oleh keluarga mereka.


Dan cara tersebut terbukti ampuh. Kini anak-anak terlihat lebih riang dan mampu beradaptasi dengan kehidupan mereka saat ini. Mereka juga sudah semakin mandiri dan tidak sering menangis lagi.


Setelah menghabiskan waktu bersama selama dua minggu, Mu Lian dapat melihat kelebihan yang dimiliki pada masing-masing anak.


Ada yang memiliki kemampuan motorik yang sangat bagus, ada yang melihat segala sesuatu secara detail, ada yang selalu menggunakan logika di segala kesempatan, ada yang selalu mengingatkan sesuatu yang dilihatnya dengan hal lain dan lain sebagainya.


Masih banyak hal-hal yang belum Mu Lian ketahui dalam diri anak-anak tersebut. Namun sebelum bisa mengeksplor lebih dalam, kamar yang terkunci akhirnya terbuka juga.


Kamar tersebut terbuka pada suatu malam, ketika semuanya sedang beristirahat di kamar masing-masing.


Benar. Pintu kamar itu terbuka sendiri seperti ada suatu gaya tak kasatmata yang membuat pintu tersebut terbuka.


Bukan hanya itu, setelah berhasil membuka pintu, gaya tersebut seperti memanggil-manggil seseorang yang berada disekitarnya.


Mu Lian yang sedang bermimpi, merasakan panggilan tersebut. Ketika Mu Lian sedang asik bermain di padang rumput indah dipenuhi bunga, Mu Lian merasa ada sesuatu yang menarik dirinya dari mimpi.


Mu Lian pun membuka matanya dan segera bangun dari tempat tidur. Meimei terheran-heran dengan gerakan Mu Lian yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Lian'er?" kata Meimei.


Namun Mu Lian tidak bisa mendengar Meimei, Mu Lian keluar tanpa melihat ke arah Meimei atau mengatakan apapun padanya.


Dalam penglihatan Mu Lian, Dirinya sedang berdiri di tengah rawa-rawa. Pohon-pohon bakau dengan tinggi lebih dari 50 m tumbuh sangat padat di sekitar Mu Lian. *Akar-akar menyembul dari permukaan air membuat rawa-rawa semakin terasa sesak.


Mu Lian merasa sangat penasaran. Seingatnya, dia sudah bangun dari mimpi namun setelah membuka mata, Mu Lian mendapati dirinya tengah berdiri di rawa-rawa.


Kakinya terendam air hingga nyaris menyentuh lutut namun anehnya, Mu Lian tidak merasa kesulitan berjalan di antara rawa-rawa karena sebenarnya di dunia nyata Mu Lian berjalan di sepanjang lorong bukan di rawa-rawa.


Mu Lian tidak dapat membedakan rawa-rawa dengan dunia nyata karena perasaan tanah lumpur serta air di kakinya terasa begitu nyata.


Mu Lian merasakan gaya tak kasatmata menarik dirinya sehingga Mu Lian pun terus berjalan tanpa berhenti.


"Lian'er!" kata Meimei panik. Meimei tak sengaja melihat mata Mu Lian seperti dibawah pengaruh hipnotis. Matanya mati dan tidak bercahaya seperti mata boneka.


Meimei berusaha mengejar Mu Lian namun ketika melewati pintu, Meimei merasakan gaya yang sangat kuat dan melihat lorong seperti hidup. Lorong tersebut jadi kian memanjang.


Meimei masih dapat Mu Lian namun kini Mu Lian berada sangat jauh hingga membentuk garis. Meimei akhirnya menyadari kalau lorong telah memanjang dengan sendirinya, mencegah siapa saja yang berusaha mendekati Mu Lian.


Meimei berdiri diam menganalisis situasi. Tak lama Meimei mendengar suara yang sangat dikenalnya. Meimei melihat ke arah suara itu, Meng Zhi.


Meng Zhi dan Ling Zizhou terlihat begitu jauh dan baru beberapa menit kemudian tiba di depan Meimei.


"Kami mengikuti Master Yi dan Master Mu, sepertinya ke kamar yang terkunci itu. Tapi kami ketinggalan, lorong ini sepertinya berfungsi untuk menyeleksi orang-orang yang boleh mendekati kamar itu" kata Meng Zhi mengernyitkan dahi.


Keringat membanjiri kening Meng Zhi dan Ling Zizhou. Bukan karena lelah, situasi yang tidak dapat diprediksi seperti ini membuat keduanya berkeringat karena gugup.


"Eh? Lian'er!" kata Ling Zizhou setelah menyadari sosok yang sudah jauh di depannya.


"Tunggu, kita pergi bersama-sama!" kata Meimei.


Sebaiknya mereka bersama-sama untuk meminimalisasi kemungkinan terburuk. Jika bersama-sama mereka dapat menjaga satu sama lain.


"Benar, sebaiknya kita pergi bersama," kata Meng Zhi sambil mencengkeram kerah Ling Zizhou agar tidak pergi mendahului mereka.


Entah berapa lama mereka berlari, namun sosok Mu Lian sudah tak terlihat lagi. Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi terus berlari tanpa berhenti. Kini suasana di sekitar mereka semakin mencekam.


"Hmm? Bukankah itu Master Yi?" kata Meimei. Bersamaan dengan kata-kata yang selesai Meimei ucapkan, Master Yi menoleh ke arah mereka.


Master Yi pun berlari menghampiri Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi dengan kecepatan melebihi ketika mereka berusaha menghampiri Master Yi.


Ternyata, jika mereka berlari ke depan, gaya tak kasatmata itu membuat lorong terasa semakin memanjang, mencegah mereka sampai di tujuan sedangkan jika berari menjauhi kamar, gaya tak kasatmata itu tidak akan repot-repot menyusahkan mereka.


"Aku kehilangan Ah Cun dan Lian'er," kata Master Yi muram.


Ekspresi diwajahnya gelap sekali menunjukkan bahwa Master Yi sangat marah kepada dirinya sendiri. Kedua tangan Master Yi terlihat mengepal di samping tubuhnya.


Master Yi sedang berlari mengikuti Mu Haocun menuju kamar utama. Berbeda dengan Mu Lian, Mu Haocun masih berkomunikasi dengan Master Yi.


Master Yi pun akhirnya tahu kalau dari sisi Mu Haocun, rawa-rawa terhampar sejauh mata memandang.


Mu Haocun terus memberi informasi pemandangan yang sedang dilihatnya sambil terus berlari menuju kamar utama. Namun sepertinya gaya tak kasatmata hanya mengijinkan Mu Haocun mendekati kamar utama.


Jarak antara Master Yi dan Mu Haocun semakin besar hingga akhirnya Mu Haocun menyuruh Master Yi untuk menunggunya.


Master Yi tidak berniat menunggu Mu Haocun di lorong. Dia hanya beristirahat sebentar untuk melanjutkan mengejar Mu Haocun sebelum tiba-tiba Mu Lian melewati dirinya.


Master Yi terus memanggil Mu Lian namun seperti yang dialami Meimei. Master Yi diabaikan begitu saja oleh Mu Lian.


...


Mu Lian tiba di hadapan seseorang yang duduk di bawah sebuah pohon dengan mata terpejam. Ekspresi kesedihan tergambar jelas di wajahnya.


Orang tersebut sangat diam, bahkan terlihat tidak bernapas. Mu Lian merasa ada yang janggal dan berusaha menyentuh orang tersebut.

__ADS_1


Namun tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyilaukan kedua matanya dan gaya tak kasatmata itu menarik tubuh Mu Lian dengan sangat keras hingga Mu Lin merasa tubuhnya tersedot ke dalam vacum cleaner.


Beberapa saat kemudian, Mu Lian membuka matanya. Mu Lian tidak melihat perubahan pemandangan di depannya, hanya saja kini Mu Lian tidak melihat orang tersebut dimanapun.


Mu Lian mengamati sekelilingnya.


Pemandangannya masih sama seperti sebelumnya, yaitu rawa-rawa. Namun Mu Lian dapat merasakan sesuatu yang berbeda.


Perasaan tersebut sangat kuat ketika Mu Lian melihat ke arah akar-akar yang saling tumpang tindih hingga membentuk sebuah tebing.


Batang pohon raksasa yang puncaknya tersembunyi di balik awan tumbuh di atas pulau tersebut atau mungkin saja akar-akar yang tumpang tindih itu milik pohon raksasa. Mu Lian tidak melihat pulau misterius itu sebelumnya.


Tak lama, Mu Lian tiba di dasar akar pohon raksasa dan mulai memanjat. Akar-akar pohon raksasa itu Mu Lian gunakan sebagai pijakan.


Awalnya Mu Lian kesulitan untuk memanjat karena akar-akar yang dipijaknya terasa sedikit licin namun ketika Mu Lian semakin jauh di atas, akar-akar tersebut terasa kering sehingga memudahkan Mu Lian untuk memanjat.


"Hmm?" Mu Lian melihat sekelebat bayangan putih yang dicelah-celah akar tersebut. Mu Lian bergidik.


Mu Lian memanjat begitu saja tanpa mempertimbangkan keberadaan makhluk yang menghuni pula misterius ini.


Kini Mu Lian dihadapkan makhluk misterius yang ada diantara akar-akar yang sedang dijadikannya sebagai pegangan.


Mu Lian tidak berani bergerak sedikitpun, takut memberitahukan keberadaannya pada makhluk mungil itu. Tunggu. Mu Lian mengamati ukuran makhluk di depannya.


Kepala makhluk itu menyembul diantara celah akar karena posisi makhluk mungil itu sedikit lebih tinggi di atas kepala Mu Lian sehingga makhluk itu seperti memandang rendah Mu Lian.


Mata berwarna blue stone menatap langsung ke dalam mata Mu Lian. Makhluk itu diselimuti bulu berwarna putih salju, ada sayap mungil yang menyembul di balik punggungnya.


Hening. Tiba-tiba makhluk itu menjerit.


"Rwaar!"


"Eh? Tunggu!" kata Mu Lian mengejar makhluk mungil yang memanjat dengan sangat lincah.


Meski begitu, Mu Lian tetap mengutamakan keselamatan sehingga Mu Lian memanjat dengan sangat hati-hati.


Ketika tiba di puncak, Mu Lian menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, membersihkan sedikit debu dan pasir yang menempel.


Makhluk mungil itu ternyata sudah berlari sangat jauh di depan, mendekati pohon raksasa. Ada sebuah lubang di batang pohon raksasa tersebut.


Mu Lian menggunakan tehnik qinggong, melewati akar-akar besar yang mencuat dimana-mana. Beberapa saat kemudian, Mu Lian menatap lubang yang sangat besar di depannya sebelum akhirnya masuk ke dalam lubang.


Mu Lian tak menyangka akan ada sedikit pencahayaan di dalam lubang. Sumber pencahayaan dalam lubang tersebut adalah batu-batu melayang yang mengelilingi daerah bukaan di tengah pohon.


Ternyata pohon raksasa itu dijadikan rumah oleh sesosok makhluk yang sedang 'duduk; di tengah daerah bukaan. Di depannya ada sesosok kakek yang Mu Lian kenal, Mu Haocun.


Namun Mu Lian terlalu terpana melihat makhluk di hadapannya sehingga melupakan keberadaan Mu Haocun. Apalagi ketika Mu Lian melihat tanduk melengkung indah milik makhluk tersebut.


Makhluk mungil yang berusaha lari darinya sudah memanjat ke atas makhluk itu. Si mungil duduk di antara sayap makhluk itu. Meski sayap itu sedang dilipat, Mu Lian tahu pasti, bahwa sayap itu sangat indah.


"Lian'er," kata Mu Haocun.


Mu Lian merasakan tatapan dari makhluk itu. Matanya menyerupai makhluk mungil, berwarna blue stone.


"Kakek..." kata Mu Lian, tidak mampu meneruskan ucapannya.


"Kemarilah, ada yang ingin bertemu denganmu," kata Mu Haocun.


.........


Note:


* denah rumah (kurang lebih seperti ini) dan ya, anak-anak dikurung di gudang penyimpanan. Gudang penyimpanan diubah menjadi kamar dadakan, semua barang-barang tidak berguna dibuang. Jadi anak-anak hanya tidur beralaskan kain tipis saja. Sekali lagi, abaikan tulisan jelek author 😂


__ADS_1


* pohon bakau dengan akar lutut



__ADS_2