Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Kau! Cari masalah ya!


__ADS_3

"Ikan aneh! Ikan aneh muncul! Cepat bawa perangkapnya!" seru Xiaoqiu.


"Hup! Tunggu," kata Xiaohan sambil membawa perangkap yang terbuat dari ilalang.


Setelah keluar dari Gua Kristal, Mu Lian dan yang lain segera menjauhi kelompok-kelompok besar dan memilih wilayah padang rumput terpencil yang jauh dari daerah pegunungan sebagai tempat basis mereka.


Hal tersebut dilakukan karena banyak kelompok besar yang pergi menuju pegunungan begitu mereka keluar dari Gua Kristal.


Padang rumput ini ditumbuhi banyak ilalang dan karena pertama melihatnya, Xiaohan dan Xiaoqiu langsung berlari menerobos daerah tersebut.


Tak disangka, daunnya dapat menyayat lengan dan kaki Xiaohan dan Xiaoqiu. Untuk menyentuh ilalang itu, seseorang harus memanipulasi chi di seluruh tubuhnya.


Tak jauh dari sana, sungai yang cukup besar mengalir ke sejauh mata memandang. Entah kemana sungai itu bermuara namun satu yang pasti, sungai itu adalah sungai yang sama dengan yang mereka lihat di 'Gua Kristal'.


Yang membuat Mu Lian dan yang lain tertarik adalah makhluk-makhluk yang hidup di dalam sungai itu.


Salah satunya Ikan aneh yang dimaksud Xiaoqiu, ikan itu memiliki kepala seperti udang dan tubuh menyerupai belut. Mereka senang berenang melawan arus.


Kepala udangnya begitu transparan sehingga semuanya bisa melihat otak serta tenggorokan ikan aneh tersebut. Tubuhnya yang seperti belut, berwarna keabu-abuan dengan otot yang kekar bisa mengeluarkan percikan listrik.


Meng Zhi berkata bahwa makhluk hidup yang hidup di Gua Suci memiliki manfaat untuk meningkatkan kultivasi seseorang. Jadi semuanya mulai memutar otak untuk mencari bagaimana caranya menangkap ikan tersebut.


Mu Lian pun mengusulkan untuk membuat perangkap ikan dari anyaman ilalang. Dengan adanya Mu Lian, Mu Haocun, Master Yi, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi, anak-anak tak perlu khawatir akan terluka.


Namun Mu Lian dan Mu Haocun tidak bisa membantu anak-anak membuat perangkap karena harus mengukir kertas mantra.


Setelah berdiskusi panjang mengenai fenomena janggal, Gua Suci yang dipaksa dibuka, Mu Haocun mengusulkan untuk membuat persiapan kalau-kalau ada campur tangan sekte aliran sesat dalam fenomena tersebut.


"Fuh, namaku Mu Lian, hobiku mengukir mantra," kata Mu Lian sambil meregangkan tangannya yang pegal.


Bagaimana tidak, hari ini adalah hari ketiga Mu Lian mengukir mantra di kertas berwarna kuning. Mu Lian sudah muak melihatnya.


Kertas-kertas mantra ini adalah 3 bundel terakhir yang dibuat Meng Zhi dan Mu Haocun saat masih di negeri Chen.


Total ada 300 kertas yang harus Mu Lian ukir. Dan kali ini, Mu Haocun mengajarkan mantra-mantra baru kepada Mu Lian.


Mantra-mantra tersebut adalah mantra untuk menyerang elemen abyssal secara efektif. Harus Mu Lian akui, mantra-mantra itu cukup menguras chi miliknya.


Dalam satu hari, Mu Lian hanya dapat mengukir 50 kertas mantra saja. Itu pun sudah termasuk kerja rodi. Kalau tidak terdesak waktu mungkin Mu Lian hanya mengukir 25 kertas saja dalam sehari.


Mu Lian berusaha mengalihkan perhatiannya ke jajaran pegunungan yang mengelilingi padang ilalang dan dirinya.


"Mau istirahat dulu? Sepertinya Xiaoqiu dan Xiaohan sudah mulai menangkap ikan, ayo kita lihat. Sekalian bisa mulai memanggang tangkapan pertama," kata Mu Haocun. Ikan aneh hanya keluar tepat tengah hari, jadi bertepatan dengan makan siang.


Ikan-ikan yang telah dibakar dibagi menjadi dua, satu untuk dimakan disini, satu lagi dibawa ke dalam gerobak untuk anak-anak yang lebih muda yang kini sedang dijaga oleh Meimei. Xiaobao dan Xiaohua mengikuti Meimei karena mendengar ada salah satu anak yang sakit.


Mu Lian mengangguk. Keduanya segera membereskan kertas-kertas yang berceceran dan menghampiri Xiaoqiu, Xiaohan dan Meng Zhi yang sedang asik mengamati perangkap di pinggir sungai.


"Wuih, hari ini kita panen banyak lagi!" kata Xiaoqiu sambil tertawa seperti maniak, Xiaohan juga tertawa tak kalah lantangnya.


"Sebentar aku ambil dulu, Zhi ge, keluarkan wadah untuk menyimpan tangkapan kita!" kata Xiaohan. Saat Xiaohan menginjakkan kaki ke dalam sungai, tiba-tiba ada satu ikan aneh yang muncul entah dari mana.


Ikan itu melewati kaki Xiaohan, membuat Xiaohan tersengat listrik yang mengelilingi tubuh ikan tersebut.


"Xiaohan!" seru Xiaoqiu dan Meng Zhi bersamaan. Keduanya panik saat melihat Xiaohan yang mulai kejang-kejang.

__ADS_1


Meng Zhi menyalurkan chi ke seluruh tubuhnya kemudian menarik Xiaohan ke darat. Ketika Meng Zhi menidurkan Xiaohan di tanah, Xiaohan masih menggelepar-gelepar seperti ikan yang terdampar di daratan.


Beberapa saat kemudian Xiaohan terdiam. Mu Lian dan Mu Haocun sudah bergabung dengan Meng Zhi dan Xiaoqiu yang sedang berjongkok di samping Xiaohan yang tak sadarkan diri.


Mu Haocun mengeluarkan sebuah botol porselen dan mendekatkan botol tersebut ke lubang hidung Xiaohan. Kedua kelopak mata Xiaohan terlihat mulai bergerak.


Tidak perlu waktu lama hingga Xiaohan membuka matanya dan melihat orang-orang yang sedang mengelilinginya.


"Pfft, HAHAHAHA!"


Xiaohan yang bertatapan dengan Xiaoqiu tidak bisa menahan tawa dan akhirnya tertawa terjungkal-jungkal bersama Xiaoqiu.


"..." (Mu Lian dan Meng Zhi)


"Nyalakan apinya Ah Zhi, ayo kita panggang ikan-ikan yang ada di perangkap itu," kata Mu Haocun berjalan menghampiri perangkap yang tergeletak tak jauh dari pinggir sungai.


Perangkap itu adalah perangkap yang terus dipegang Xiaohan meski dalam keadaan tersetrum sebelum akhirnya jatuh ketika Xiaohan diseret oleh Meng Zhi.


Xiaohan dan Xiaoqiu masih saja tertawa ketika Mu Haocun selesai membersihkan ikan dan Meng Zhi melumuri ikan dengan bumbu yang diracik oleh Ling Zizhou.


"Mereka kenapa sih?" kata Ling Zizhou yang baru saja datang bersama Master Yi, Xiaoleng dan Xiaojia.


"Biasa," kata Meng Zhi sambil menghela napas panjang.


Ling Zizhou, Xiaoleng dan Xiaojia mengikuti Master Yi memeriksa keadaan sekitar sambil mencari kayu bakar. Tidak sampai ke jajaran pegunungan terdekat, hanya beberapa kilometer dari padang saja.


Seusai makan siang, semuanya kembali ke gerobak kecuali Master Yi dan Meng Zhi. Karena tidak membawa Xiaoleng dan Xiaojia, kini keduanya berencana mengawasi kelompok-kelompok besar yang tersebar di beberapa lokasi di jajaran pegunungan.


"Hari ini mau mengawasi kelompok mana?" tanya Mu Haocun.


Sementara Mu Lian dan Mu Haocun menyiapkan kertas mantra, Master Yi dan Meng Zhi terus memantau kelompok-kelompok tersebut.


Hari-hari dilalui Mu Lian dengan diawali mengukir kertas mantra dan diakhiri dengan menemani Xiaobai pada malam harinya.


Empat hari kemudian, kertas mantra selesai diukir. Perjalanan mencari harta karun pun dimulai. Master Yi telah memahami seluk beluk Gua Suci selama 7 hari terakhir ini jadi Mu Lian dan yang lain tidak perlu khawatir berhadapan langsung dengan sebuah kelompok.


Master Yi memilihkan jalan yang membawa Mu Lian dan yang lain ke pegunungan barat. Satu minggu pertama memang wilayah inilah yang paling banyak pecah pertarungan. Namun, setelah lewat satu minggu, daerah itu kosong melompong.


"Astaga, lihat hutan ini, hancur lebur," kata Mu Lian.


Pohon tercabut hingga akar-akarnya, tergeletak dimana-mana. Tanah berhamburan mengotori jalanan. Tanah dibasahi yang Mu Lian yakini darah karena bau darah sangat menyengat di sana.


Ada juga pohon yang patah karena terbentur sesuatu. Wilayah yang sedang dilewati Mu Lian saat itu menjadi gersang karena pohon-pohon yang hancur.


"Gua Suci seharusnya bisa memulihkan diri. Mungkin karena pertarungan yang terjadi di sini benar-benar dahsyat, pemulihan jadi lambat," kata Master Yi menjelaskan kemudian bangkit dari duduknya.


"Ah Cun, belok ke jalan setapak di depan sana," kata Master Yi melalui alat komunikasi. Ternyata jalan setapak itu membawa gerobak ke daerah terbuka yang banyak tanaman herbalnya.


Terlihat jejak orang-orang berlalu lalang disana. Banyak juga yang memanen tanaman herbal disana. Ketika Mu Lian tiba, tanam-tanaman itu masih kecil-kecil.


Master Yi menduga bahwa tanaman-tanaman herbal baru tumbuh hari ini di bawah pengaruh pemulihan diri Gua Suci.


Mu Lian dan yang lain menunggu selama 3 hari hingga semua tanaman herbal dewasa dan siap dipanen.


"Ayo kita kembali ke jalan yang tadi dan naik terus hingga puncak," kata Master Yi melalui alat komunikasi. Perjalanan menuju puncak menghabiskan waktu selama 3 jam.

__ADS_1


Kesempatan tersebut digunakan Mu Lian untuk bermeditasi. Alhasil, berdasarkan keterangan Master Yi, Mu Lian hanya setengah langkah lagi menuju tahap awal pembentukan pondasi.


Setibanya di puncak, Mu Lian tidak melihat siapa-siapa. Hanya ada tanah gersang disana. Mu Lian dan yang lain pun melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Semakin ke bawah, daerah semakin dipenuhi batu-batu besar. Udara juga semakin kering.


Perubahan 180 derajat itu mengejutkan Mu Lian, Xiabao, Xiaohua, Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu namun tidak bagi Mu Haocun, Master Yi, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi. Karena mereka pernah melihat lingkungan yang lebih ekstrim daripada ini.


Anehnya, Mu Lian merasa chi lebih pekat dari pada wilayah subur pegunungan ini. Chi di dalam Gua Suci sebenarnya terbilang sangat pekat namun di daerah bebatuan nan gersang ini, chi berkali-kali lipat lebih pekat.


"Bekas-bekas pertarungan berlanjut sampai sini!" kata Mu Lian menghirup napas dalam.


Batu-batu besar dan kokoh itu bisa pecah berkeping-keping. Ada jejak benda terseret juga pada permukaan tanah kering itu.


"Setelah mendapatkan harta karun, orang tesebut harus bisa mempertahankan harta karun itu sampai keluar dari Gua Suci atau bahkan sampai kembali dengan selamat ke rumah atau sekte mereka," jelas Ling Zizhou.


Meski tidak ada yang berani membunuh secara langsung, orang-orang yang kehilangan nyawa setelah berpartisipasi dalam perburuan harta karun di Gua Suci sering cacat karena kehilangan salah satu anggota tubuh mereka.


Yang paling parah adalah orang-orang yang mengalami deviasi qinggong atau yang dantiannya rusak.


Orang-orang tersebut sama saja sudah mati karena tidak ada yang bisa bertahan di dunia ini tanpa kehadiran dantian. Saat sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba Mu Lian merasakan ada yang menabrak gerobak.


Tidak ada yang merasakan goncangan akibat tumbukan dengan sesuatu yang menabrak gerobak kecuali Mu Lian yang terhubung langsung dengan gerobak dan Mu Haocun yang melihat dengan jelas sesuatu yang menabrak mereka melalui Cermin Langit.


...


Seorang pemuda dengan temperamen tenang terlihat berlari melintasi bebatuan. Meski wajahnya terlihat tenang, matanya tidak mampu menyembunyikan perang batin yang sedang dialaminya. Begitu pula dengan larinya yang terlihat sembrono.


Semua batu yang menghalanginya ditabrak begitu saja, menyebabkan batu-batu sebesar rumah itu hancur berkeping-keping.


Pemuda itu tanpa sadar berlari menaiki gunung dan tidak melihat gerobak yang kian lama kian mendekatinya.


BRUAK!


Pemuda itu terpental, tubuhnya terlempar hingga beberapa meter ke belakang. Pemuda itu tersadar ketika dirinya sudah terbaring di tanah dan menatap langit.


"A-apa itu..." gumam pemuda itu kemudian bangkit untuk melihat apa yang baru saja ditabraknya. Kenapa benda itu sangat kuat hingga dirinya terpental.


Pemuda itu menatap gerobak dengan mulut terbuka, tidak percaya bahwa benda itulah yang membuatnya terpental.


"Hais, kau! Cari masalah ya!" kata seorang pemuda yang menyingkap terpal dan menuruni gerobak.


Pemuda itu merinding ketika bertemu tatap dengan seorang kakek, meski sekilas namun pemuda itu dapat merasakan bahwa si kakek memiliki aura yang mengerikan.


Belum sempat menemukan jati diri kakek tersebut, pandangan pemuda itu beralih kepada seorang pria yang datang dari belakang gerobak. Auranya sangat dingin dan mengintimidasi.


"Siapa anda?" kata pemuda itu penasaran.


"Ha? Siapa kami? Anda siapa?!" kata Ling Zizhou dengan posisi siap menyerang.


Melihat sikap agresif Ling Zizhou, pemuda itu tersadar bahwa dirinya masih berada di dalam Gua Suci.


Baru saja kelompoknya lepas dari pertarungan mati-matian untuk memperebutkan harta karun, mengapa dirinya bisa lupa begitu saja?


Keringat dingin mengucur dari dahinya dan membasahi pakaiannya. Karena emosional, pemuda itu tidak fokus dan berada dalam keadaan genting seperti ini. Bagaimana kalau dirinya diserang dua orang di depannya ini?


Pemuda itu tidak bisa merasakan tingkat kultivasi pria yang berada di sebelah pemuda dengan tampang penjahat itu. Itu berarti, pria tersebut memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi darinya.

__ADS_1


Pemuda itu terus memutar otak untuk mencari cara kabur namun tiba-tiba terdengar suara seorang gadis,


__ADS_2