Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Apa yang terjadi?


__ADS_3

"Maksudmu?" tanya Mu Lian.


"Bukannya tadi kita sedang membahas ketakutanmu keluar rumah? Ketakutan pada dunia luar yang tidak pasti? Kenapa jadi membicarakan tentang senjata?" kata Meimei.


"Jiejie aku takut pergi ke ibu kota karena tidak tahu bahaya apa yang akan kuhadapi nantinya. Apakah di tengah jalan akan ada anggota sekte aliran sesat lagi? Apakah ada monster? Penculik? Orang-orang seperti itu pasti membawa senjata tajam bukan? Aku bergidik setiap mengingat seseorang yang ditusuk jian," kata Mu Lian.


"Monster? Maksudmu Spirit Beast?" kata Meimei. Mu Lian mengangguk.


"Bagaimana kalau kau mencoba berburu Spirit Beast? Kamu tidak akan takut lagi jka sudah terbiasa menghadapi Spirit Beast," kata Meimei melanjutkan "Anggota sekte aliran sesat sebenarnya tak mudah ditemukan karena mereka bersembunyi dari masyarakat. Untuk penculik, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu dengan adanya jurus Kabut Pagi,"


"Kau benar. Tapi bahaya apa saja sebenarnya yang ada diluar sana?" tanya Mu Lian.


Meimei menajabarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan ditemui Mu Lian dalam perjalanan menuju ibu kota. Beberapa diantaranya dapat ditemukan di dunia modern sedangkan ada hal yang baru baginya.


"Intinya kau harus meningkatkan kemampuanmu untuk bisa melewati segala macam bahaya di masa depan," kata Meimei.


"Tentu saja, aku selalu giat bermeditasi dan berlatih jurus-jurus yang sudah kupelajari," kata Mu Lian.


"Kau sudah ada di jalan yang tepat. Lanjutkan Lian'er," kata Meimei.


Hari itu hati Mu Lian semakin ringan setelah meminta nasihat kepada Meimei. Sebelum tidur Mu Lian menulis buku hariannya. Dia menuliskan kata-kata yang dinasihatkan Meimei.


Kemudian Mu Lian menutup buku harian dengan hati-hati dan naik ke kasur, memejamkan matanya sambil tersenyum.


Keesokan harinya ketika fajar menyingsing, Mu Lian yang hendak turun dari lantai dua, mendengar hiruk pikuk di pekarangan.


Mu Lian segera ke pekarangan dan menemukan Han Tengfei bersama dua orang berjubah hitam mengantarkan Dongshan dan Xiaoxiao. Yi Xue yang sedang menyiapkan sarapan pun ikut memeriksa pekarangan.


"Paman Dongshan! Xiao'er!" seru Mu Lian sambil menghampiri keduanya.


"Lian'er syukurlah kau baik-baik saja!" kata Dongshan sambil memeluk Mu Lian. Mu Lian tertegun. Mu Lian tak menyangka akan dipeluk Dongshan.


"Jiejie," kata Xiaoxiao. Air mata menetes ke pipinya. Mu Lian mengelus kepala Xiaoxiao.


"Kau gadis pemberani Xiao'er. Sudah jangan menangis. Kalian sudah kembali ke klinik Dongshan," kata Mu Lian.


"Paman Dongshan, Xiaoxiao ayo sarapan dulu," kata Yi Xue.


"Sebaiknya kami membersihkan diri dulu," kata Dongshan melanjutkan " Xue'er bisa bantu aku?"


"Baik," kata Yi Xue mengikuti Dongshan. Xiaoxiao naik ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.


"Terimakasih, senior, sudah mengantarkan Paman Dongshan dan Xiaoxiao. Silahkan minum teh dulu," kata Mu Lian.


"Tidak terimakasih, kami pamit dulu. Kau khawatir pada mereka, kan? Jangan pedulikan kami. Besok pun kita masih bisa bertemu," kata Han Tengfei melanjutkan "Lian'er, sepertinya Paman Dongshan terluka,"


"Apa!?" kata Mu Lian terkejut. Han Tengfei bercerita bahwa tulang rusuknya patah tiga dan bahunya terkilir.


Ada memar juga di sekitar wajahnya. Han Tengfei bercerita bahwa ia telah memberikan pil untuk menyembuhkan luka-lukanya. Setelah Han Tengfei bersama dua rekannya pamit, Mu Lian pergi ke kamar Xiaoxiao.


Mu Lian membantu Xiaoxiao membersihkan diri sambil berbicara hal-hal ringan untuk mengalihkan perhatian Xiaoxiao dari pengalaman buruknya.


Hingga akhirnya setelah dirinya lebih tenang Xiaoxiao menceritakan bahwa Dongshan disakiti karena tidak memberitahu keberadaan murid-murid Mu Haoucun.


"Paman, Xiaoxiao, mari sarapan dulu. Yi sudah menyiapkan sup herbal dan teh herbal," kata Mu Lian.


"Ayo kita sarapan bersama, rasanya sudah lama kita tidak berkumpul," kata Dongshan.


Mu Lian, Dongshan, Xiaoxiao dan Yi Xue sarapan bersama sambil membicarakan hal-hal ringan seperti tanaman herbal yang sebentar lagi akan sulit dipanen.


Cuaca semakin dingin menandakan semakin dekatnya musim dingin. Mu Lian bertanya bagaimana cuaca pada musim dingin didunia ini. Ternyata hampir sama dengan di dunia modern.


Dongshan memberitahu tanaman apa saja yang akan mudah ditemui pada musim dingin. Mu Lian kemudian mengajak Xiaoxiao dan Yi Xue mengumpulkan tanaman tersebut ketika musim dingin tiba.

__ADS_1


Keceriaan menyelimuti keempat orang yang sedang sarapan itu. Namun Mu Lian menangkap kegelisahan Dongshan yang berusaha ditutupinya. Mu Lian tidak berusaha bertanya apa yang menjadi sumber kegelisahan Dongshan.


Usai sarapan, Xiaoxiao beristirahat di kamar sedangkan Yi Xue menyortir tanaman herbal di gudang. Dongshan mengajak Mu Lian duduk di aula resepsionis.


Mu Lian mengetahui bahwa Dongshan akan memberitahunya tentang kejadian penyerangan lembah oleh aliran sesat sehingga dia membuatkan teh herbal untuk dirinya dan Dongshan. Mereka berbicara sambil minum teh.


"Apa kau baik-baik saja?" kata Dongshan.


"Aku baik-baik saja, paman," kata Mu Lian melanjutkan "Bagaimana bisa paman mengkhawatirkan keadaan orang lain di atas keadaan paman sendiri?"


"Kau bukan orang lain, Lian'er. Aku sudah menganggapmu keponakanku sendiri. Tentu saja aku akan mengkhawatirkan keluargaku," kata Dongshan.


"Padahal aku jarang mengobrol dengan anda. Aku hanya menumpang tidur dan makan. Sepertinya aku sudah banyak merepotkan kalian," kata Mu Lian malu.


Dia dan Dongshan jarang berbicara, ketika bertemu keduanya sekedar bertegur sapa. Kadangkala Mu Haoucun mengajak Dongshan dan Xiaoxiao sarapan bersama, namun Xiaoxiao sering tidak hadir karena sibuk.


"Haha! Kau itu ada-ada saja. Tidak, kami tidak merasa direpotkan kok," kata Dongshan.


Hening sejenak. Keduanya menikmati teh herbal yang masih hangat. Cocok di saat cuaca semakin dingin.


"Ketika aku dibawa dengan paksa oleh kelompok aliran sesat itu aku merasa takut," kata Dongshan.


Mu Lian diam tak mengatakan apa-apa, hanya mendengarkan.


"Mereka menyayangkan Master Mu sedang keluar lembah tapi sangat senang karena tidak harus berhadapan dengan Master Yi. Mereka menginterogasiku mengenai keberadaan murid-murid Master Mu. Menurut mereka jika mereka mendapatkan murid-murid Master Mu, sama saja dengan keberhasilan misi mereka. Tapi aku benar-benar tidak tahu dimana murid-murid Master Mu. Jika aku mengetahuinya pun tidak akan kuberitahu," kata Dongshan tegas.


"Dan paman tidak mengungkit eksistensiku karena aku yang paling dekat dengan murid Master Mu?" tanya Mu Lian.


"Aku tidak mengungkitmu dan Xiaoxiao di depan mereka. Hari itu kalian adalah orang asing bagiku. Aku benar-benar tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian. Tapi ternyata mereka serakah dan ingin membawa seluruh sekte Embun Pagi. Mereka sangat tergesa-gesa sehingga setelah interogasiku tidak membuahkan hasil, aku dan beberapa anggota Embun Pagi yang berhasil ditangkap segera dibawa pergi," kata Dongshan.


"Mereka menghindari sekte Rajawali Agung," kata Mu Lian.


"Iya, untungnya mereka dibutakan oleh keserakahan mereka sendiri. Lian'er, beberapa orang dari kelompok itu menjarah pil-pil dan tanaman berharga Master Mu. Sepanjang perjalanan mereka meminum pil-pil tersebut sambil meningkatkan kultivasi mereka. Ketika kami sedang beristirahat kami dipaksa membuatkan pil dari tanaman berharga Master Mu tapi karena kekurangan bahan kami tidak bisa melakukannya," kata Dongshan.


"Ya mereka mengkonsumsi semua pil yang membantu perkembangan kultivasi. *Pil Purifikasi, Pil Tu Na, Pil Epifani dan Pil Kultivasi," kata Dongshan.


"Pil Epifani? bagaimana dengan pil lain?" tanya Mu Lian.


"Pil yang berhasil kami selamatkan adalah pil yang membantu memulihkan cedera tubuh. Tapi *Pil Zhen dan Pil Jiwa sudah habis mereka mereka minum," kata Dongshan melanjutkan "Kami membawa semua tanaman berharga dan beberapa pil yang tersisa,"


"Apa yang meracuni mereka hingga membutuhkan Pil Zhen? Dan Pil Jiwa?" tanya Mu Lian.


"Sekte aliran sesat mempraktikan metode kultivasi yang berbahaya bagi tubuh sehingga mereka mengalami *deviasi qigong dan teracuni oleh deviasi tersebut," kata Dongshan melanjutkan "Kau lihat darah mereka?"


"Ugh, aku ingat darah hitam mengalir dari luka mereka," kata Mu Lian bergidik.


"Pil-pil yang tersisa sudah dikumpulkan di rumah Master Mu. Master Chu yang mengurusnya," kata Dongshan.


"En," jawab Mu Lian singkat.


"Dari semua kultivator yang ada, merekalah yang paling membutuhkan para pembuat pil, " kata Dongshan.


"Jadi mereka menculik para pembuat pil untuk dipaksa bekerja dengan mereka," gumam Mu Lian.


"Tidak. Selama ini tidak pernah ada kejadian seburuk yang dialami Lembah Ufuk Timur. Aku merasakan akan ada kejadian besar dimasa yang akan datang," kata Dongshan.


"Jiejie Meimei pun berkata demikikian," kata Mu Lian.


Mu Lian berbincang dengan Dongshan hingga menjelang makan siang. Xiaoxiao melewatkan makan siang itu karena tertidur lelap.


Mu Lian membiarkan Xiaoxiao tidur lebih lama. Malamnya, Xiaoxiao bergabung dengan Mu Lian, Dongshan dan Yi Xue makan malam bersama.


Beberapa hari kemudian Mu Lian kembali ke rumah Master Mu dan beraktifitas seperti biasa. Sebagian besar anggota sekte Rajawali Agung dan sekte-sekte kecil yang membantu Lembah Ufuk Timur sudah pulang ke sektenya masing-masing.

__ADS_1


Master Chu, Han Tengfei dan beberapa anggota Rajawali Agung tetap berjaga di lembah. Setelah mengantar anggota-anggota sekte Rajawali Agung pergi, entah mengapa Cu Minishen mengajak Mu Lian, dan memastikan Dongshan dan Xiaoxiao sudah stabil, Mu Lian pergi memeriksa Bibi Wang.


Bibi Wang yang sedang menyapu pekarangan melihat Mu Lian dan segera menariknya ke dalam rumah untuk minum teh. Mu Lian mendengar dari Bibi Wang bahwa Ketiga pemuda yang menyelamatkannya membantu memperbaiki dinding yang dipenuhi lubang.


Mu Lian mengingat ketika seorang pemuda mengeluarkan jurus yang menyerupai laser berwarna biru itu. Untung saja Mu Lian menarik Bibi Wang dan Yi Xue ke lantai dua.


Mu Lian kemudian bertanya apakah Bibi Wang mengetahui rumah Paman Jin dan Zhou. Mu Lian bertemu dengan Paman Jin ketika dirinya sedang membeli obat ke klinik setelah itu belum mendengar kabarnya lagi.


Sedangkan Zhou belum Mu Lian lihat sama sekali. Bibi Wang kemudian mengantarkan Mu Lian ke rumah Paman Jin dan Zhou. Paman Jin sedang membangun ulang dinding gerbang.


Ketika melihat Mu Lian, Paman Jin mengajak Mu Lian masuk tapi ditolak. Mu Lian hanya menanyakan bagaimana perasaannya saat ini, apakah masih ada yang terasa sakit atau tidak.


Bibi Wang kemudian membawa Mu Lian ke rumah Zhou. Ayahnya yang saat itu sedang memasang pintu kayu menyapa Mu Lian dan Bibi Wang. Mu Lian meminta maaf kepada Ayah Zhou karena sudah membuat anaknya dalam keadaan bahaya.


Namun sepertinya Ayah Zhou malah terlihat bangga karena anaknya membantu orang dalam kesulitan. Ayahnya kemudian memanggil Zhou dan Mu Lian berterimakasih serta menanyakan apakah ada yang terasa sakit.


Zhou hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Mu Lian yang tidak tahan melihat anak selucu Zhou langsung memeluknya.


Mu Lian mengantar Bibi Wang ke rumahnya sebelum akhirnya pulang ke rumah Master Mu. Di sepanjang jalan Mu Lian disapa penduduk yang melihatnya.


Dalam beberapa hari terakhir penduduk lembah menghormati Mu Lian seperti mereka menghormati sekte Embun Pagi. Ketika Mu Lian sibuk menyapa penduduk, bahunya ditepuk dari belakang.


"Lian'er, darimana?" kata Han Tengfei.


"Senior Han. Aku baru dari rumah Bibi Wang," kata Mu Lian. Mu Lian melihat Xiaoxiao sedang berdiri di belakang Han Tengfei.


"Xiao'er? Sedang apa disini?" kata Mu Lian heran.


Terakhir Mu Lian melihat Xiaoxiao yaitu pada hari kepulangan Xiaoxiao dan Dongshan. Setelah itu Xiaoxiao pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam.


"Jiejie," kata Xiaoxiao. Dia tidak membalas pertanyaaan Mu Lian.


"Apa kau masih membutuhkan lilin aromaterapi? Kalau masih aku akan mengontak seseorang untuk pergi membelinya," kata Han Tengfei. Xiaoxiao membelalakkan matanya.


"Ah? Kenapa Jiejie membutuhkan lilin aromaterapi?" tanya Xiaoxiao kepada Han Tengfei. Namun Han Tengfei hanya diam.


Xiaoxiao terlihat kesal dengan respon Han Tengfei kemudian menatap Mu Lian dengan tatapan tajam.


"Aku merasa tidak tenang akhir-akhir ini. Tapi sudah tidak apa-apa," jawab Mu Lian.


"Benarkah? Jangan memaksakan diri," kata Han Tengfei. Xiaoxiao mengatupkan bibirnya rapat-rapat hingga gemetar dan berlari menjauh.


"Loh, Xiao'er!" seru Mu Lian kepada Mu Lian namun Xiaoxiao sudah jauh.


"Apa yang terjadi?" kata Han Tengfei.


.........


Note:


* Pil Purifikasi: menyembuhkan dan membersihkan meridian.


* Pil Tu Na: membantu membersihkan pori2 tubuh untuk ahli Tu Na breathing \= mengeluarkan chi keruh dan menarik chi murni.


* Pil Epifani: membantu seorang kultivator yang sedang buntu menghadapi level kultivasi selanjutnya.


* Pil Kultivasi: memperkuat tubuh.


* Pil Zhen: mendetoks tubuh dari segala macam racun mematikan sekalipun.


* Pil Jiwa: menyembuhkan orang yang mengalami deviasi qigong.


* Deviasi Qigong: Keadaan di mana basis kultivasi menjadi sangat tidak stabil, menyebabkan kerusakan internal pada tubuh dan gejala psikosis. (Orang-orang yang berlatih seni bela diri secara tidak benar, atau yang dengan gegabah menggunakan seni terlarang semuanya berisiko jatuh ke dalam kondisi ini).

__ADS_1


* Psikosis: kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi.


__ADS_2