Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Pohon 1 Abad Spirit Beast


__ADS_3

Setelah menyampaikan informasi mengenai Festival Spirit Beast, Dewan Di dan rekannya pun pulang. Keduanya pulang dengan hati berdebar karena baru saja melihat dengan mata mereka sendiri bahwa Gerobak Ajaib adalah transportasi ajaib yang mendekati harta karun.


Padahal, gerobak ajaib memang harta karun. Bahannya sendiri terbuat dari tubuh Bai Wenlan. Tentu saja fakta tersebut tidak akan pernah diungkapkan oleh Mu Lian, dia akan membawanya sampai mati.


Tiga hari pun berlalu dengan cepat. Tak disangka, Dewan Di membawa seluruh keluarganya. Termasuk anaknya yang paling bungsu, yang masih belum bisa bertransformasi menjadi manusia.


"Kakek, apa tidak apa-apa membawa anak kecil ke Festival Spirit Beast. Memang sih, spirit beast baru akan muncul nanti di akhir pekan, tapi tetap saja kita harus selalu waspada," kata Mu Lian sambil mengamati keluarga Dewan Di yang mendekati gerobak melalui Cermin Langit.


Sesosok pria membawa seorang wanita dan dua anak kecil bersamanya. Wanita itu membawa sesuatu yang ditutupi kain yang sangat indah dalam dekapannya.


"Tidak apa-apa. Malahan bagus untuk perkembangan anak. Di dunia ini, anak-anak harus sering terpapar chi untuk membantu perkembangan mereka," kata Mu Haocun menjelaskan.


Mu Lian hanya mengangguk. Masih banyak yang harus Mu Lian pelajari setelah menjadi penduduk dunia yang baru baginya ini.


Mu Lian kemudian melihat kedalam Cermin Langit lagi. Dewan Di dan keluarganya semakin dekat dengan gerobak sehingga Mu Lian dapat melihat dengan jelas wajah istri dan kedua nak laki-lakinya.


"Wanita itu..." kata Mu Lian ragu.


"Benar, ibu dari 3 anak yang pernah kita temui di pesisir samudera. Haha, tidak disangka bukan?" kata Mu Haocun tertawa. Mu Lian tidak berbicara lebih jauh dan hanya membentuk huruf o dengan mulutnya.


"Bagaimana kalau kau ke Lobby? Biar kakek yang mengoperasikan gerobak," kata Mu haocun.


"Baiklah," kata Mu Lian segera keluar dari ruang kendali. Di luar, Mu Lian bertemu dengan Meng Zhi dan Meimei.


"Lian'er, apa Dewan Di sudah datang?" tanya Meng Zhi. Ketika Dewan Di datang, Meng Zhi sedang mengajak anak-anak yang bersedia mengikuti Festival Spirit Beast.


Dari 20 anak, hanya 10 anak yang bersedia ikut. Kesepuluh anak tersebut memang lebih tua dibandingkan kesepuluh anak sisanya.


Termasuk Xiaobao dan Xiaohua, total ada 6 anak berusia 12 tahun sedangkan 4 yang lain berusia 9 tahun.


"Sudah, mereka langsung dibawa ke Lobby," jawab Mu Lian kemudian berkata kepada XIaobao dan yang lain,


"Apa hanya kalian saja yang ikut? Bagaimana adik-adik kalian?"


"Mereka tidak mau ikut, katanya takut. Mereka merasa lebih aman disini," jawab Xiaojia sambil menggeleng.


Mu Lian mengangguk. Anak-anak yang berusia lebih muda masih tidak nyaman keluar dan bertemu orang-orang. Sekarang memang lebih baik tapi ternyata anak-anak itu membutuhkan lebih banyak waktu untuk sepenuhnya pulih.


Meimei hanya tersenyum sedih, dia dan Meng Zhi tidak memaksa anak-anak tersebut untuk ikut dan membawa anak-anak yang lebih tua bersama mereka. Sementara anak-anak yang lebih muda dijaga oleh Mu Haocun.


"Tidak masalah. Di masa depan, mereka pasti mau keluar. Ayo, kita temui Dewan Di dan keluarganya," kata Mu Lian.


Mu Lian dan yang lain pergi menuju Lobby. Ketika naik lift, Mu Lian harus membagi anak-anak menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok yang berisi 8 atau 7 anak dipimpin oleh Mu Lian, Meimei dan Meng Zhi.


Kelompok Mu Lian yang pertama tiba di Lobby, Dewan Di dan keluarganya sedang minum teh yang diseduhkan oleh tidak tahu siapa.


Sepertinya orang itu langsung meninggalkan Dewan Di dan keluarganya begitu menuangkan teh, membuat keluarga tersebut canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.


Kedua anak laki-laki Dewan Di duduk dengan patuh ketika melihat orang tuanya diam. Meski kedua anak laki-lakinya itu dipenuhi energi hingga sering disalah artikan sebagai anak-anak nakal, mereka sebenarnya anak yang sadar akan lingkungan sekitarnya.


Mereka sadar jika lingkungan mereka saat ini membutuhkan mereka untuk patuh dan disiplin, kalau tidak, orang tua mereka yang akan kena batunya.


Ketika Mu Lian menghampiri keluarga yang canggung tersebut, si sulung menyadari kedatangan Mu Lian bersama 7 orang anak yang terlihat 3 tahun lebih tua darinya. Namun yang membuatnya terkejut adalah, wajah Mu Lian yang familier.


"Kau...kakak yang waktu di samudera itu kan!" kata si sulung.


Dewan Di dan istrinya menoleh ke arah Mu Lian. Nyonya Di juga mengenali Mu Lian sehingga wanita itu tersenyum ramah.


"Halo, lama tak jumpa," kata Mu Lian kepada Nyonya Di dan kedua anak laki-lakinya.


"Kakak, kenapa kakak disini?!" kata si anak kedua.


"Oh, aku tidak cerita ya? Aku dan nenekku juga staf di Gerobak Ajaib," kata Mu Lian sambil menutupi kebohongannya dengan tersenyum manis.

__ADS_1


Nyonya Di terkejut, tak disangka gadis seusia Mu Lian (14 tahun) sudah menjadi staf di Gerobak Ajaib.


"Salam, aku Dewan Di. Nona pernah bertemu dengan istriku ya? Terimakasih sudah mau menemani istri dan anak-anakku yang nakal ini," kata Dewan Di tersenyum kepada Mu Lian.


"Salam juga, Dewan Di. Saya M-panggil saja Linlin," kata Mu Lian buru-buru merubah namanya ditengah kalimat.


"Maaf, apa aku boleh bertanya? Apakah anak-anak ini juga staf di Gerobak Ajaib?" kata Dewan Di sambil mengamati Xiaobao, Xiaohua, dan yang lain.


Mu Lian mengangguk kemudian berkata,


"Benar, selain staf yang berisi remaja hingga dewasa, kami juga membina anak-anak usia muda. Tak jarang kami merekrut orang tua yang memiliki pengalaman sangat banyak sebagai penasehat kami," kata Mu Lian menjelaskan.


Baru kali ini Dewan Di mendengar bahwa staf yang direkrut oleh Gerobak Ajaib tidak memiliki batasan usia. Dewan Di mengobrol dengan Mu Lian selama beberapa saat mengenai hal tersebut hingga kelompok Meimei dan Meng Zhi datang.


Kedua anak laki-laki Dewan Di sangat supel sehingga anak-anak Desa Jinan dengan cepat membuka hati mereka kepada keduanya. Mereka pun dengan cepat menjadi akrab.


Tak lama, Lobby terdengar seperti sekolah-sekolah pada umumnya, suara tawa anak-anak memenuhi seluruh ruangan.


Xiaoleng pun yang biasanya bersikap dewasa demi menjaga anak-anak berusia lebih muda darinya, terlihat tertawa lepas dan ikut asik berbincang dengan anak sulung Dewan Di.


Sementara, anak kedua Dewan Di terlihat asik bermain kejar-kejaran bersama anak-anak berusia 9 tahun.


Suasana berisik tersebut membuat anak bungsu Dewan Di yang sedang tertidur pun bangun. Sebelumya, anak bungsu Dewan Di menggulungkan tubuhnya dalam dekapan Nyonya Di yang kemudian di selimuti kain indah.


Kepala naga mungil menyembul dari balik kain indah tersebut. Mengamati lingkungan disekitarnya, tak sengaja matanya bertemu dengan Meimei.


"Anak anda lucu sekali," kata Meimei


"En. Tapi dia masih butuh banyak tidur, jadi kadang aku harus membawanya seperti ini jika harus mengajaknya keluar," kata Nyonya Di.


Begitu Meimei mengobrol dengan Nyonya Di, Meimei merasa klop dan akhirnya terus menemani Nyonya Di. Sementara Meng Zhi menemani Dewan Di mengobrol.


Mendengar ibunya larut dalam topik obrolannya bersama Meimei, si bungsu tidak bisa tidur lagi dan memilih keluar dari dekapan ibunya.


Nyonya Di membiarkan anak bungsunya berkeliaran karena tahu tempat ini aman, begitupula Dewan Di. Keduanya terus mengobrol dengan Meimei dan Meng Zhi.


Berbeda dengan suasana meriah di Lobby, suasana di muka gerobak hening seperti biasanya. Master Yi dan Ling Zizhou mengamati jalan di depan mereka.


Saat itu gerobak sudah berjalan selama beberapa kilometer. Gerobak dengan cepat menjauhi daerah disekitar rumah lelang dan terus menuju arah timur karena lokasi yang dipilihkan Dewan Di berada dekat perbatasan antara Negeri Mao dan Negeri Chen.


Sangat terpencil dan sangat jauh dari ibu kota. Daerah tersebut pun jarang dikunjungi dari Negeri Mao karena tidak ada jalan yang menghubungkan antara Negeri Mao dan Negeri Chen di daerah sana.


Meski rumah lelang terletak diluar ibu kota, butuh waktu sekitar delapan jam untuk tiba di lokasi yang mereka tuju.


Delapan jam kemudian, gerobak akhirnya tiba di tujuan. Saat itu matahari hampir di atas kepala, tidak ada awan yang menutupi langit, membuat suhu semakin tinggi.


Gerobak berhenti 3 meter dari pohon paling tinggi di daerah itu. Selain sangat tinggi, pohon tersebut memiliki warna kemerahan.


Warna merah itu menyerupai pembuluh darah terkecil manusia, pembuluh kapiler yang terlihat baik itu di batang maupun daun pohon tersebut.


Ling Zizhou dan Master Yi turun dari gerobak, keduanya berpencar untuk memeriksa keadaan sekitar. Setelah memastikan semuanya aman, Ling Zizhou dan Master Yi kembali ke gerobak dimana Mu Lian dan yang lain mulai turun satu demi satu.


Semua yang turun dari gerobak langsung disambut dengan chi yang sangat kental, sangat banyak, melimpah dimana-mana. Bahkan, sesaat, seseorang dapat merasakan dadanya sedikit sesak karena tekanan dari energi kehidupan tersebut.


Namun perasaan itu hilang begitu semuanya terbiasa dengan chi yang melimpah di sekitar daerah itu.


Meng Zhi memastikan Mu Lian dan anak-anak mulai terbiasa sebelum akhirnya menghampiri Ling Zizhou dan Master Yi.


"Bagaimana keadaan sekitar?" tanya Meng Zhi. Dewan Di menatap ke arah Ling Zizhou. Sikapnya sedikit canggung setelah ditinggalkan begitu saja oleh Ling Zizhou di Lobby.


Namun Dewan Di tidak menyangka jika Ling Zizhou menjawab pertanyaan Ling Zizhou secara detail, bahkan beberapa anak tampak dekat dengannya. Anehnya lagi, kedua anak laki-lakinya terlihat nyaman disekitar Ling Zizhou.


Alasan dibaliknya adalah karena anak-anak Desa Jinan menunjukkan kedekatan dengan kedua anak laki-laki Dewan Di, Ling Zizhou menjadi tidak keberatan menjadi pengawas kedua anak tambahan tersebut.

__ADS_1


"Sudah semua ya?" kata Meimei keluar paling akhir bersama dengan Nyonya Di. Kali ini anak bungsunya kembali digendong dan diselimuti dengan kain indah lagi.


"Sudah!" jawab anak-anak bersamaan.


"Baiklah, sekarang kita bagi kalian menjadi beberapa kelompok," kata Meng Zhi mulai memberi instruksi.


Meng Zhi memberi instruksi sesuai dengan apa yang telah didiskusikannya dengan Dewan Di saat di perjalanan menuju ke tempat ini.


Mereka memutuskan untuk membagi anak-anak menjadi 3 kelompok. 1 kelompok berisi 4 orang. Mu Lian dan Ling Zizhou tidak dihitung dengan alasan Mu Lian harus dibiarkan bermeditasi sendirian sedangkan Ling Zizhou memang tidak akan ikut dalam Festival Spirit Beast.


Master Yi menyuruh Meng Zhi menyampaikan pesan bahwa Ling Zizhou tidak akan ikut supaya Dewan Di tidak mengetahui kultivasi Ling Zizhou.


Jarang sekali orang yang menganut aliran asura di dunia bawah. Jika Dewan Di melihat kultivasi Ling Zizhou, identitas Ling Zizhou sebagai aliran asura akan terungkap.


Ling Zizhou yang mendengar dirinya tidak diperbolehkan ikut tidak begitu memikirkannya. Dia hanya membantu Mu Lian, Meimei dan Meng Zhi membimbing anak-anak membentuk kelompok masing-masing.


Dengan bantuan Mu Lian, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi, 3 kelompok itu pun segera terbentuk. Kelompok pertama sudah bersiap-siap di bawah Pohon 1 Abad.


Meng Zhi menjadi pengawas untuk kelompok pertama. Meng Zhi dengan sabar mengingatkan agar anak-anak terus mengontrol chi yang mereka serap dari lingkungan sekitar.


Namanya juka kultivasi. Selain berkultivasi untuk meningkatkan kekuatan, seseorang juga harus mengkultivasikan kedisiplinan serta hatinya.


Hatinya harus dijaga, kultivasi tidak dapat dikerjakan hanya dalam satu hari namun dengan kedisiplinan, kultivasi seseorang mencapai tingkat tertinggi dalam waktu yang lama.


Saran dari Meng Zhi memberi anak-anak ilham dan digunakan pada kesempatan kali ini. Meng Zhi mengangguk puas melihat anak-anak mendengarkan nasihatnya.


Begitu pula dengan kelompok dua yang diawasi oleh Meimei maupun kelompok 3 yang diawasi oleh Ling Zizhou. Kedua anak laki-laki Dewan Di berada di bawah pengawasan Ling Zizhou dan mengejutkannya bermeditasi dengan sangat baik.


Rata-rata, satu kelompok selesai melakukan meditasi dalam waktu setengah jam. Setengah jam pun sebenarnya sudah sangat menguras tenaga anak-anak, namun masih dalam batas aman.


Setelah semua anak-anak selesai bermeditasi, Ling Zizhou dan Meimei segera mengeluarkan alat-alat masak. Mereka akan memasak makan siang bagi yang telah bekerja keras.


Melihat Meimei dan Ling Zizhou, Dewan Di sedikit bingung. Dia menghampiri Meng Zhi kemudian bertanya,


"Maaf, Tuan Zhi? Apa anda tidak tertarik bermeditasi? Bagaimana staf-staf yang lain? Selain anak-anak, bukankah masih ada orang dewasa di Gerobak Ajaib"


Meng Zhi tersenyum canggung. Dia tidak bisa berkata bahwa wanita yang menghadiri pertemuan dengannya adalah nenek yang bertemu dengan istrinya bukan?


Selain mereka (Mu Lian, Mu Haocun, Master Yi, Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi), memangnya siapa lagi staf-staf yang Dewan Di maksud? Belum lagi mereka tidak bisa mengungkapkan jati diri mereka di depan Dewan Di.


Melihat Meng Zhi tetap tidak menjawab, Dewan Di tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengikuti istri dan kedua anaknya menunggu bersama anak-anak tak jauh dari gerobak.


Sebaliknya, Meng Zhi mengikuti Mu Lian menuju Pohon 1 abad. Meng Zhi melihat Mu Lian menyentuh batang pohon tersebut.


"Hmm, aneh sekali," kata Mu Lian terkagum-kagum merasakan struktur yang terasa dari jemarinya.


Batang pohon itu terasa sangat keras dan lembut disaat yang sama. Namun yang membuatnya terkejut adalah chi yang dapat dirasakan secara nyata melalui jemarinya. Karena chi sangat padat hingga akhirnya terasa.


Pohon 1 Abad Spirit Beast tidak diberi nama seperti itu karena spirit beast yang keluar dari pohon tersebut merupakan total dari spirit beast yang keluar selama 1 abad terakhir, melainkan karena chi yang terkandung dalam pohon tersebut merupakan total yang terkandung selama 1 abad.


Karena jumlah chi yang sangat banyak itu lah menimbulkan fenomena dimana satu pohon dapat memunculkan beratus-ratus spirit beast.


"Kau akan menemukan hal-hal yang lebih aneh dari pada pohon ini," kata Meng Zhi tersenyum.


Mu Lian mengangguk kemudian melepas kalung ajaibnya. Mu Lian duduk sambil mendengarkan nasihat yang sama dengan yang Meng Zhi berikan kepada anak-anak.


Setelah memastikan Mu Lian mendengarkan nasihatnya, Meng Zhi membiarkan Mu Lian memulai meditasinya.


Awalnya, ketika Mu Lian belum memulai meditasinya, Dewan Di dan istrinya belum merasakan ada hal yang aneh dari Mu Lian.


Namun lama-lama keduanya merasakan perasaan yang luar biasa. Mu Lian telah melepas kalung ajaibnya, ditambah lagi kini Mu Lian sangat fokus dalam meditasinya, perasaan luar biasa itu semakin kuat.


Karena kepekatannya, Dewan Di dan istrinya dapat melihat pergerakan chi dalam jumlah yang sangat banyak di sekitar Mu Lian. Rambut Mu Lian terlempar kesana kemari karena pergerakan chi tersebut.

__ADS_1


__ADS_2