
"Mm. Bisa dibilang begitu," kata Mu Haocun.
"Kalau begitu, pasti ada beberapa bahan yang dapat mengubah efeknya menjadi mengambil chi keruh dan mengeluarkan chi murni," kata Mu Lian.
"Bagus. Untuk mencari tahu tanaman-tanaman herbal apakah itu, mari kita mencarinya di buku kakek," kata Mu Haocun.
"Baiklah," kata Mu Lian.
Mereka bangkit dan ketika sedang melintasi pekarangan, mereka melihat Ling Zizhou terkapar di atas tanah.
Wajahnya penuh dengan tanah, pakaiannya berantakan ke sana sini. Melihat kondisi Ling Zizhou yang memprihatinkan Mu Lian menghampiri Master Yi.
"Master Yi. Maaf bila aku lancang, tapi kumohon agar anda tidak terlalu keras pada Azhou. Azhou sudah menjagaku dan memasak makanan yang enak untukku di sepanjang perjalanan menuju Gunung Kaki Langit," kata Mu Lian melanjutkan
"Kumohon agar semua yang dilakukan Azhou untukku sebagai pertimbangan dan meringankan hukumannya,"
Mu Haocun dan Master Yi terkejut ketika mendengar Mu Lian memanggil LIng Zizhou dengan panggilan 'Azhou'.
"Lian'er," kata Ling Zizhou terharu.
Ling Zizhou benar-benar sudah tidak tahan. Makanannya seperti berada di tenggorokannya. Mudah-mudahan Master Yi mau berhenti setelah dibujuk oleh Mu Lian.
"Hmm? Apa pendengaranku semakin memburuk?" kata Master Yi.
"Ti-tidak, Yi. A-aku juga mendengar Zhouzhou memanggil Lian'er," kata Mu Haocun terbata-bata.
"Ho," kata Master Yi.
"Hei, Zhouzhou! Sejak kapan kalian dekat?" kata Mu Haocun sambil berkacak pinggang di depan Ling Zizhou.
"Master Mu.." kata Ling Zizhou tidak percaya. Apa salahnya? Bukannya semua orang menggunakan panggilan Lian'er untuk Mu Lian?
"Master Yi," kata Mu Lian tidak menghiraukan Mu Haocun dan menunggu jawaban Master Yi.
"Baiklah, Zhouzhou memang sudah bekerja dengan baik untuk menjagamu," kata Master Yi melanjutkan pada Ling Zizhou
"Karena kondisi tubuhmu belum pulih sepenuhnya, kita lanjutkan lain kali,"
"Ckck, saat Yi di tingkat kultivasi yang sama denganmu, dia bisa mengalahkan tiga puluh orang pembentukan inti sendirian," kata Mu Haocun pada Ling Zizhou. Ling Zizhou hanya tersenyum tipis.
Mu Lian membantu Ling Zizhou berdiri kemudian mereka memasuki rumah diikuti Mu Haocun. Master Yi berpamitan untuk pergi berpatroli.
"Azhou apa obat racikmu sudah habis?" kata Mu Lian.
"Iya," kata Ling Zizhou.
"Baiklah, aku akan membuatkannya lagi," kata Mu Lian.
Ling Zizhou masuk ke kamarnya. Setelah melihat pintu ditutup, Mu Lian pergi ke gudang untuk mengambil alat dan bahan untuk meracik.
Ketika memasuki gudang, Mu Haocun sedang berdiri menatap sebuah buku ditangannya. Sampulnya pudar dan terlihat seperti buku biasa.
Mu Lian tidak tahu nilai sebenarnya buku yang terlihat usang itu. Kalau Mu Lian tahu jika buku usang itu sangat berharga dan dicari-cari oleh penduduk dunia ini, mungkin saja pandangan Mu Lian terhadap buku tersebut berbeda.
"Kakek, apa itu buku yang kakek maksud?" kata Mu Lian.
"En. Kemarilah, Lian'er," kata Mu Haocun. Mu Lian menghampiri.
Mu Haocun menyerahkan buku itu ke Mu Lian kemudian mereka membacanya bersama-sama. Mu Lian sangat gembira ketika melihat isi buku tersebut.
Segala macam informasi mengenai tanaman herbal biasa maupun yang paling langka dapat ditemukan. Mu Lian bertanya mengenai sesuatu yang tidak dia pahami dan Mu Haocun menjelaskannya dengan sabar.
Satu per satu buku yang terlihat usang dikeluarkan oleh Mu Haocun untuk dibaca bersama Mu Lian. Mereka kemudian mendiskusikan tanaman herbal yang menjadi bahan utama pil Tu Na.
Diskusi terhenti ketika Mu Lian mendengar suara pintu diketuk. Ling Zizhou dengan wajah dan pakaiannya yang bersih berdiri di depan pintu.
"Makan malam sudah siap!" kata Ling Zizhou.
"Hmm? Sudah malam?" kata Mu Haocun.
Mu Lian dan Mu Haocun bangkit kemudian meninggalkan buku-buku yang tanpa sadar sudah tergeletak memenuhi lantai dan pergi mengikuti Ling Zizhou untuk makan malam.
Master Yi pulang tepat ketika makanan disajikan di atas meja. Setelah makan, Mu Lian dan Mu Haocun melanjutkan diskusi mereka hingga pagi.
"Aku tidak menyangka salah satu bahan untuk mengekstrak chi adalah embun pagi," kata Mu Lian.
"En. Keberuntungan berpihak pada kita, kalau tidak kita harus ke negeri Hai," kata Mu Haocun.
Musim dingin adalah saat yang tepat untuk bersantai di dalam rumah dan menghabiskan waktu dengan orang yang disayangi.
Udara yang begitu dingin, sulitnya mencari makanan di sepanjang perjalanan adalah hal yang paling membuat orang-orang malas untuk berpergian ketika musim dingin.
"Apa kita benar-benar tidak bisa menaikkan efektifitasnya lagi?" kata Mu Lian.
"Kita bisa mengadakan percobaan untuk meningkatkan efektifitasnya jika bahan-bahan sudah dikumpulkan," kata Mu Haocun.
Mu Haocun menjelaskan bahwa untuk mengekstrak chi dari bibit kehidupan, mereka membutuhkan beberapa bahan tambahan seperti embun pagi dan Siwang Mo-gu.
__ADS_1
Namun jumlah chi yang dapat diekstrak dari bibit kehidupan hanya 65% saja. Mu Lian merasa sayang pada 40% yang terbuang namun Mu Haocun berkata itu sudah yang terbaik yang dapat mereka lakukan.
Kemudian mereka menemukan masalah pada bahan-bahan yang harus dikumpulkan. Tanaman herbal yang digunakan untuk membuat pil Tu Na dan tanaman herbal seperti embun pagi dapat ditemukan di Lembah Ufuk Timur.
Mu Haocun bahkan memiliki persediaan yang melebihi kebutuhan mereka. Yang menjadi masalah adalah Siwang Mo-gu.
*Siwang Mo-gu sendiri sebenarnya adalah jamur tiram. Namun yang membedakannya dengan jamur tiram biasa adalah mereka tumbuh di bangkai makhluk hidup.
Siwang Mo-gu mudah ditemukan pasca perang besar karena banyak mayat tergeletak di mana-mana.
Biasanya pihak yang menang dalam perang akan menggunakan kesempatan tersebut untuk memanen Siwang Mo-gu sebagai salah satu hasil perang mereka.
Dapat dikatakan Siwang Mo-gu merupakan tanaman yang cukup langka karena tumbuhnya harus memenuhi kondisi tertentu. Tepatnya membutuhkan bangkai sebagai mediumnya.
Sama halnya seperti teratai api, embun pagi dan lain sebagainya. Kedua tanaman tersebut tumbuh di lingkungan ekstrim dan sulit untuk dipanen.
Jika tidak ada perang, Siwang Mo-gu sebenarnya dapat dibubidayakan sendiri. Namun dengan sengaja menumpuk bangkai makhluk hidup dalam jangka waktu yang cukup lama memiliki resiko tersendiri.
Resiko tersebut adalah munculnya *Egui atau yang disebut dengan hantu lapar. Memusnahkan Egui membutuhkan energi spiritual yang cukup tinggi.
Sehingga tidak sembarang orang dapat membudidayakan Siwang Mo-gu. Orang tersebut harus memiliki energi spiritual yang cukup tinggi untuk dapat melakukan pengusiran Egui.
Ahli Alkimia adaah salah satu dari yang yang bisa membudidayakan Siwang Mo-gu, karena seorang ahli Alkimia memiliki energi spiritual yang cukup tinggi.
Mendengar hal tersebut Mu Lian menoleh ke arah Mu Haocun. Karena Mu Haocun sendiri adalah ahli Alkimia tersohor di dunia ini, tentu saja energi spiritualnya sangat tinggi, bukan?
Mengetahui apa yang Mu Lian pikirkan tentang dirinya, Mu Haocun menegakkan punggung. Kemudian tertawa dengan bangga sambil mengelus dagu.
Mu Haocun merasa senang karena secara tidak langsung dipuji oleh Mu Lian. Mu Haocun kemudian menjelaskan rencana untuk membudidayakan Siwang Mo-gu.
"Apa Siwang Mo-gu tidak masalah dengan cuaca dingin?" kata Mu Lian. Musim dingin akan tiba dan temperatur di udara sekitar akan semakin turun.
"Tidak masalah. Karena Siwang Mo-gu tidak seperti tanaman biasa yang bergantung pada chi, dan nutrisi dari air serta tanah," kata Mu Haocun melanjutkan
"Siwang Mo-gu mendapatkan nutrisinya dari bangkai makhluk hidup serta akumulasi energi kematian,"
"Ugh, tanaman yang mengerikan sekali," kata Mu Lian.
"Tenang saja, Lian'er. Kakek akan mengusir para Egui sebelum mereka bisa menyentuhmu," kata Mu Haocun.
Mu Haocun akan meminta kelompok Master Zhengheng untuk segera mengumpulkan bangkai makhluk hidup.
Karena jumlah yang dibutuhkan sangat banyak, sepertinya mereka harus meminta bantuan pada beberapa anggota Rajawali Agung.
Mendengar nama Rajawali Agung disebut, Mu Lian mengusulkan untuk meminta Master Yi menulis surat kepada Master Chen mengenai hal tersebut.
Kalau saja tidak mendesak, Mu Haocun akan menghadang siapa saja yang mengalihkan perhatian cucunya dari dirinya!
Ketika Mu Haocun larut dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah Mu Lian. Mu Haocun menatap Mu Lian yang tersenyum malu.
"Sepertinya aku lapar, kakek," kata Mu Lian.
"Oh? Kemana Zhouzhou, biasanya pemuda itu sangat cerewet kalau kita terlambat makan," kata Mu Haocun.
Mu Lian dan Mu Haocun menoleh ke arah pintu untuk mencari sosok Ling Zizhou. Mereka menemukan sosok pemuda itu, namun dalam keadaan duduk dan kepalanya tertunduk.
Punggungnya menghadap mereka, napasnya panjang dan teratur. Jian mengintip dari balik bahu kanannya.
Mu Lian dan Mu Haocun menghampiri Ling Zizhou. ternyata pemuda itu tertidur pulas sambil mendekap jian miliknya.
"Sejak kapan Azhou tidur disini?" kata Mu Lian.
"Kakek tidak tahu. Kakek terlalu fokus dengan masalah bibit kehidupan," kata Mu Haocun.
"Baiklah aku akan membeli lauk ke Bibi Lin. Biarkan Azhou tidur lebih lama," kata Mu Lian.
"En," kata Mu Haocun.
...
"Azhou, kau tidak apa-apa?" kata Mu Lian.
Setelah makan siang, Mu Haocun memeriksa keadaan Ling Zizhou. Wajah Ling Zihzou terlihat pucat dan kurang tidur.
"En," kata Ling Zizhou. Mu Lian membelalakkan mata.
Pemuda itu tidak seperti masternya yang tidak banyak bicara, jadi Mu Lian semakin yakin jika Ling Zizhou tidak baik-baik saja.
"Kakek, apa yang terjadi?" kata Mu Lian. Mu Haocun membuka mata kemudian menatap Mu Lian.
"Zhouzhou hanya sedang dalam pemulihan. Memamg gejalanya saja yang mirip denga deviasi qigong," kata Mu Haocun.
"Dan gejala itu?" kata Mu Lian.
"Mimpi akan kenangan buruk," kata Mu Haocun.
Mu Lian jadi teringat ketika dirinya terkontaminasi bibit kehidupan. Mu Lian membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun Ling Zizhou lebih cepat.
__ADS_1
"Bukankah Master Zhengheng berkata akan menemuimu, kakek tua?" kata Ling Zizhou.
Mu Lian menepuk keningnya. Tadi malam saja mereka sampai tidak tidur karena asik mendiskusikan bibit kehidupan dan Siwang Mo-gu.
Mu Lian menatap Mu Haocun dengan cemas. Apakah Master Zhengheng tadi pagi berkunjung ke rumah? Apakah sekarang sudah terlambat untuk menemui Master Zhengheng?
Sebaliknya, Mu Haocun terlihat tenang. Mu Haocun bangkit dan menuju dapur untuk menyiapkan teh herbal.
"Lian'er tidak membantu kakek?" kata Ling Zizhou merasa Mu Lian menatap dirinya.
"En," kata Mu Lian. Karena Ling Zizhou enggan bercerita tentang mimpinya, Mu Lian hanya bisa bangkit dari tempat duduknya.
Namun suara ketukan menghentikan langkah Mu Lian. Mu Lian berjalan ke arah suara ketukan tersebut, ke arah gerbang.
"Lian'er. Apa kami tidak mengganggu? Apa kalian sudah selesai makan siang?" kata Meimei.
"Kami sudah selesai makan siang, masuklah, jiejie," kata Mu Lian.
"Kami mengantar Master Zhengheng untuk menemui Master Mu hari ini, sesuai janji," kata Meng Zhi dari balik punggung Meimei.
Terlihat Master Zhengheng, saudara Che dan saudara Su berdiri tak jauh di belakang Meng Zhi. Karena mereka tinggi, Mu Lian betemu tatap dengan mereka.
"Selamat siang, nona Mu, maaf menganggu," kata Master Zhengheng sambil tersenyum.
"Selamat siang, Master Zhengheng, saudara Che, saudara Su. Silahkan masuk, kebetulan kakek sedang menyiapkan teh herbal," kata Mu Lian membalas senyuman dan memberikan jalan kepada mereka.
Mu Lian memimpin Meimei, Meng Zhi dan kelompok Master Zhengheng menuju aula resepsionis. Dimana biasanya mereka makan.
Ketika Mu Lian tiba di meja kayu panjang, Ling Zizhou sudah tidak ada di tempat duduknya. Mu Lian menghela napas kemudian mempersilahkan Meng Zhi dan kelompok Master Zhengheng untuk duduk.
Mu Lian dan Meimei menuju dapur untuk membantu Mu Haocun menyiapkan teh, namun sepertinya tidak perlu karena Ling Zizhou terlihat berjalan keluar dapur membawa nampan berisi teko dan beberapa cangkir kosong.
"Oh, Meimei! Kalian datang untuk mengantar Master Zhengheng?" kata Mu Haocun yang baru saja keluar dapur.
"Benar Master Mu. Mereka sudah menunggu anda di meja," kata Meimei.
Mu Lian, Mu Haocun, Ling Zizhou dan Meimei pun kembali ke meja dan duduk di tempat masing-masing.
Tepatnya Mu Haocun dan Meimei yang duduk di tempat masing-masing. Karena hanya ada enam kursi kayu, Mu Lian dan Ling Zizhou harus berdiri.
Melihat Mu Lian dan Ling Zizhou tidak mendapat tempat duduk, saudara Che dan saudara Su memberikan tempat duduk mereka.
Pembicaraan pun dimulai dengan Master Zhengheng duduk diantara Mu Lian dan Ling Zizhou.
Mu Haocun menjelaskan rencananya dengan Mu Lian untuk mengekstrak chi dari bibit kehidupan. Seluruh detail rencana mereka dijelaskan oleh Mu Haocun tanpa tertinggal satu detail pun.
Wajah Master Zhengheng terlihat semakin berbinar mendengar hal tersebut. Sepanjang penjelasan, kepalanya sering terlihat mengangguk dengan antusias.
"Begitulah, Master Zhengheng. Kami akan merepotkan anda untuk mengumpulkan bangkai. Aku akan meminta Yi untuk menggerakkan beberapa anggota Rajawali Agung," kata Mu Haocun.
"Tidak perlu! Master Mu, kami sudah sangat merepotkan anda untuk mencari solusi dari bibit kehidupan, jadi biarkan pihak kami yang menangani bangkai tersebut," kata Master Zhengheng.
"Kami membutuhkannya dalam jumlah yang sangat banyak, apa anda sanggup?" kata Mu Haocun.
"Master, anggota kita tersebar di beberapa negeri, jadi tidak mungkin bisa mengumpulkannya dalam waktu dekat," kata saudara Su.
"Hmm benar juga. Baiklah, maaf kami harus merepotkan anda lagi, Master Mu," kata Master Zhengheng tersenyum pahit.
"Tidak masalah," kata Master Mu.
Pembicaraan kemudian berlanjut hingga menjelang matahari terbenam. Ketika Master Yi datang, Mu Haocun mengajak kelompok Master Zhengheng makan malam.
Meimei membantu Ling Zizhou memasak sedangkan Mu Lian ditemani saudara Che dan saudara Su meminjam beberpa kursi tambahan ke tetangga.
Setelah makan malam, pembicaraan berlanjut hingga larut malam. Master Yi sudah menulis surat kepada Han Tengfei dan berjanji jika bangkai yang dibutuhkan akan datang dalam beberapa hari.
Keesokan harinya Mu Lian bangun ketika matahari tepat di atas kepala. Tubuhnya seperti membalas dendam karena kemarin malam Mu Lian tidak tidur sama sekali.
Mu Lian bangkit dan berganti pakaian kemudian segara turun. Ling Zizhou terlihat sedang berdiri menatap langit di tengah pekarangan.
"Azhou," kata Mu Lian ambil menghampiri Ling Zizhou.
.........
Note:
* Siwang Mo-gu atau Death Mushroom, terinspirasi dari jamur tiram. Medianya adalah bangkai makhluk hidup. Jadi mereka mendapatkan nutrisinya dari energi kematian.
(jamur tiram)
*Egui atau sering disebut Preta atau Hungry Ghost. Terinspirasi dari Hungry Ghost itu sendiri hanya saja author membuatnya menjadi makhluk astral yang mengincar jiwa manusia. Tubuhnya tembus pandang. Pengusiran yang dijelaskan oleh Mu Haocun mirip dengan yang dilakukan pendeta yaitu exorcism. Hanya saja pengusiran dilakukan menggunakan energi spiritual. Prinsipnya sama seperti yang dilakukan Meng Zhi mini terhadap petir ilusi milik spirit beast campuran (chapter 25)
(Preta)
__ADS_1