Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Rumah persembunyian


__ADS_3

"Hmm~hmm~"


"Apa yang sedang Lian jiejie tulis?" kata Xiaobai menyelidiki kertas yang sedang ditulisi oleh Mu Lian.


"Ini? Ini adalah daftar pil serta obat racik, ah, tak lupa juga treatment-treatment yang tamu itu gunakan. Aku menulisnya supaya bisa menghitung berapa biaya yang harus dibayar," kata Mu Lian.


Xiaobai mengangguk. Sepertinya Mu Lian tetap mengutamakan bisnisnya ketimbang yang lain, ehem ketampanan tamu yang baru saja datang itu.


Awalnya Mu Lian tidak henti-hentinya menceritakan kepada Xiaobai betapa sempurnanya tamu yang baru datang itu.


Untungnya, Mu Lian tidak lupa dengan tujuannya saat ini; menjadi orang terkaya di dunia ini. Dari cerita yang didengarnya, bisnis Mu Lian sangat menguntungkan sehingga cita-cita Mu Lian akan sangat mungkin tercapai.


"Hmm? Xiaobai kita mengerti apa yang baru saja kukatakan? Anak pintar!" kata Mu Lian geli melihat sikap Xiaobai yang menyerupai orang dewasa itu. Mu Lian mengamati makhluk mungil yang mulai menunjukkan kecerdasannya itu.


Mengingat Baize adalah makhluk mitos yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, tentu saja perkembangan signifikan yang ditunjukkan Xiaobai adalah perkembangan kognitifnya.


Dengan usianya yang masih hijau itu, Xiaobai sudah mengerti bisnis dan mudah memahami apa yang dijelaskan oleh Mu Lian. Semua pengetahuan yang diberikan kepadanya akan langsung menyerap ke dalam otaknya, seperti spons.


Selain itu, bayi Baize akan mendapatkan warisan berupa pengetahuan serta ingatan-ingatan dari orang tuanya secara setahap demi setahap. Sepertinya Xiaobai sudah mengumpulkan cukup banyak pengetahuan dari warisan ibunya saat ini.


"Selesai!" kata Mu Lian gembira setelah melihat jumlah yang harus ditagihkan.


"Xiaobai, sampai jumpa nanti malam! Aku sudah mengisi ulang mainan rakitmu," kata Mu Lian mengelus kepala Xiaobai kemudian segera keluar dari dunia semu.


Ketika cincin yang dililit akar pohon misterius bersinar terang, dua bocah berusia 12 tahun yang mondar-mandir di pinggir kolam berhenti di tempat dan mengamati cincin tersebut.


Tak lama, tampak sosok Mu Lian yang tembus pandang lama-kelamaan semakin jelas. Rambut serta pakaiannya berkibar seperti tersibak angin.


"Lian jiejie!"


"Xiaohua? Xiaobao? Ada apa?" kata Mu Lian heran. Kakinya sudah sepenuhnya menapak diatas kendali.


"Aduh, pokoknya ceritanya panjang deh! Bikin kami pusing!" kata Xiaobao menggaruk kepalanya dengan keras. Xiaohua menggelengkan kepalanya.


Mu Lian mengoperasikan kendali agar membawanya ke pinggir kolam, setelah Mu Lian mendarat di pinggir kolam dan duduk di sebelah Xiaohua dan Xiaobao, barulah keduanya menceritakan kejadian kemarin malam.


Dari cerita Xiaohua dan Xiaobao, Mu Lian mendengar bahwa tuan muda bersikeras untuk mencari rekan-rekannya.


Memang kemarin pagi pun, waktu itu bagian Mu Lian untuk merawat tuan muda, tuan muda sudah mengutarakan niatnya untuk mencari rekan-rekannya.


Namun Mu Lian tidak berani mengijinkan tuan muda untuk pergi karena Mu Haocun telah berpesan padanya untuk merawat tuan muda sampai kondisinya lebih stabil.


Mu Lian tidak menyangka tuan muda akan terus merujuk kepada Xiaohua dan Xiaobao ketika dirinya tak ada untuk mengawasi.


"Sekarang tuan muda dimana?" tanya Mu Lian.


"Karena takut dia kabur (apalagi dia belum membayar biaya perawatannya) kami mengantarkannya ke Gedung Pertemuan Utara. Disana sudah ada Mei jiejie dan anak-anak yang lain," kata Xiaohua.


Xiaohua sengaja mengatakan kalimat tertentu dengan berbisik untuk menyembunyikan niat sebenarnya.


"Ah, anak pintar. Kalau begitu, kita ke Gedung Pertemuan Utara saja," kata Mu Lian.


Mu Lian, Xiaohua, dan Xiaobao menuju Gedung Pertemuan Utara. Ketika mereka tiba, suasana sangat sunyi hingga jika Mu Lian tidak merasakan chi di sekelilingnya, Mu Lian kira tidak ada siapapun di gedung itu.


Mu Lian mengamati anak-anak yang duduk menjauhi seorang pemuda. Tatapan anak-anak itu terlihat waspada.


Mu Lian memaklumi jika anak-anak itu merasa tidak nyaman dan waspada kepada orang asing setelah melalui peristiwa mengenaskan di desa mereka.


Untung saja Mu Haocun memberi pakaian ganti berwarna biru langit kepada tuan muda. Kalau tidak, mungkin anak-anak akan panik melihat pemuda berpakaian serba hitam.


"Selamat pagi tuan muda. Bagaimana kabar anda?" kata Mu Lian.


"..."


Tuan muda tidak membalas sapaan Mu Lian. Mu Lian melihat tuan muda tidak membawa kertas dan kuas yang sering digunakannya untuk berkomunikasi.


"Apa tuan muda meninggalkan kertas dan kuas anda di kamar?" kata Mu Lian. Tuan muda mengangguk.


"Aduh, bagaimana kita berkomunikasi? Xiaobao, tolong ambilkan kertas dan kuas tuan muda," kata Mu Lian kepada Xiaobao. Xiaobao mengangguk kemudian kembali ke kamar tuan muda dengan langkah setengah berlari.


"Lian'er? Kau sudah datang? Duduklah, mari kita mulai sarapannya anak-anak," kata Meimei.


"T-t-tunggu, Xiaobao belum kembali," kata Xiaohua akhirnya memberanikan diri bicara.

__ADS_1


"Oh? Biasanya kalian selalu rebutan makanan, mengapa tidak memanfaatkan situasi ini untuk memiliki makanan ini sendirian?" kata Meimei heran. Mu Lian tersenyum geli.


"Aish, jangan begitu, kami selalu mulai bersama-sama dan selesai bersama-sama," kata Xiaohua merasa tidak enak. Matanya terus mencuri pandang ke tuan muda.


Melihat tuan muda yang tidak keberatan, Xiaohua bernapas lega kemudian membantu Mu Lian dan Meimei meletakkan hidangan di atas permukaan air.


Setelah Xiaobao kembali mengambil kertas dan kuas, sarapan pun dimulai. Suasananya sangat mencekam karena anak-anak tak bisa berhenti khawatir dengan keberadaan tuan muda.


Seusai makan, anak-anak kecil di awasi oleh anak-anak yang lebih besar kembali ke kediaman mereka dengan tergesa-gesa.


"Mohon dimaklumi jika anak-anak tak bisa berhenti cemas dengan kehadiran anda, tuan muda," kata Meimei memulai pembicaraan.


Tuan muda menuliskan bahwa dirinya tidak keberatan dan menanyakan bagaimana bisa anak-anak menjadi seperti itu.


Meimei menceritakan apa yang terjadi di Desa Jinan. Bagaimana pun, pembantaian di desa seperti itu adalah sesuatu yang sangat besar dan harus segera diinvestigasi lebih lanjut.


Tuan muda terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada Meimei dan Meimei menjawab pertanyaan tuan muda dengan sabar.


Selama dua jam penuh tuan muda mendapat informasi mengenai Master Zhengheng, bibit kehidupan, obat racik berbahaya yang dapat mempengaruhi pikiran orang, dan lain sebagainya yang sudah ditemukan Mu Lian dan yang lain.


Sebagian informasi yang didapatkan dari Meimei telah didengarnya dari Master Zhengheng dan rekan-rekannya yang lain, sebagian yang lain baru ia dengar.


Dan dari informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sekte aliran sesat sudah menginfiltrasi dunia bawah cukup dalam hingga dapat berbuat sewenang-wenang di depan hidung para dewan. Satu pertanyaan lagi muncul, apakah sekte aliran sesat sudah berhasil menginfiltrasi dewan?


Melihat sekte aliran sesat bisa berbuat sesuka hatinya di dunia bawah, tuan muda semakin mencemaskan keselamatan rekan-rekannya. Dia pun mengungkit permasalahan mengenai rekan-rekannya.


"Apa anda mengetahui keberadaan rekan-rekan yang anda cari itu?" kata Mu Lian.


Tuan muda menuliskan ada tempat persembunyian mereka di ibu kota. Rencananya tuan muda hendak berangkat kemarin malam namun karena meminum suatu obat misterius, dirinya pun tidur seperti orang mati.


Mu Lian tersenyum dan memuji kecerdasan Xiaohua dan Xiaobao untuk kesekian kalinya. Gerak-gerik Mu Lian tertangkap Meimei.


"Ah, itu, kami melakukannya untuk keselamatan tuan muda juga, kuharap anda bisa memaafkan kelancangan kami," kata Meimei.


"Benar, anda tidak bisa dengan sembarangan menganggap diri anda sudah pulih dan keluar begitu saja.


Anda tidak tahu seberapa besar perjuangan kami untuk memusnahkan zat abyssal yang ada pada lengan anda," kata Mu Lian menggeleng.


Tuan muda diam ketika mendengar perkataan Mu Lian. Benar. Ada orang-orang yang sudah berjuang hingga kondisinya membaik seperti saat ini.


Mu Lian mengamati ekspresi tuan muda yang kompleks, setelah saling bertukar tatap dengan Meimei, Mu Lian pun berkata,


"Begini saja, bagaimana kalau tuan muda menunjukkan lokasi rekan-rekan anda? Untuk informasi, aku adalah sahabat Xiaoxiao, murid dari Master Zhengheng. Jadi keselamatan anda dan rekan-rekan anda sangat penting untukku,"


Tuan muda pun mengangguk kemudian bersedia menunjukkan lokasinya kepada Mu Lian dan Meimei.


Dapat dikatakan bahwa gadis dan wanita yang ada di hadapannya ini adalah orang yang bisa dipercayainya di dunia bawah.


Mengingat kondisinya yang belum seratus persen pulih, tuan muda tidak berani mempertaruhkan nyawa rekan-rekannya.


Tuan muda menuliskan sesuatu di atas kertas, 'Namaku Zhi Yuefeng'. Tulisan itu lebih ditunjukkan kepada Mu Lian karena Meimei sudah mengenal dirinya.


"Ah, salam kenal, Tuan Zhi Yuefeng," kata Mu Lian.


Setelah menghabiskan tehnya, Mu Lian mengajak Zhi Yuefeng ke ruang kendali. Zhi Yuefeng tetap terkagum-kagum melihat pemandangan di dalam gerobak.


Awalnya Zhi Yuefeng tidak percaya dengan apa yang dikatakan Xiaohua dan Xiaobao bahwa dirinya sedang berada di dalam gerobak.


Namun setelah mendengar penjelasan Mu Lian tentang tempat ini, Zhi Yuefeng hanya bisa terkagum-kagum.


"Ini adalah ruang kendali. Silahkan duduk di sini sementara aku mengendalikan gerobak dari sana," kata Mu Lian.


Zhi Yuefeng duduk di tempat yang telah ditunjukkan sedangkan Mu Lian segera menaiki kendali dan menuju bawah pohon misterius.


Tatapannya tak pernah lepas dari pohon dan kristal misterius itu. Meski energi spiritualnya belum dapat digunakan, Zhi Yuefeng dapat merasakan aura tak biasa dari dua benda misterius itu.


Ketika Mu Lian berada tepat di bawah dua benda tersebut, kristal memancarkan cahaya kebiruan. Seluruh permukaan cermin langit pun sedikit bersinar dan menampakkan dengan jelas pemandangan di luar gerobak.


Zhi Yuefeng baru menyadari keistimewaan cermin langit. Pemuda itu pun terus memandangi pemandangan yang berganti-ganti pada permukaan Cermin Langit.


"Ini namanya Cermin Langit. Dia berfungsi menunjukkan pemandangan dari luar gerobak. Tuan muda bisa mulai menunjukkan jalan padaku," kata Mu Lian kepada Zhi Yuefeng yang masih fokus memandangi Cermin Langit.


Dengan media tulis, Zhi Yuefeng menuntun Mu Lian ke rumah besar di daerah jarang penduduk. Zhi Yuefeng terkejut ketika mendapati rumah besar itu porak poranda.

__ADS_1


Gerbang depannya hancur, dinding pembatas pekarangan dan jalanan utama hancur, sebagian rumah besar itupun terlihat seperti kue yang digigit sebagian.


"Mei jiejie, apa yang terjadi? Apa Mei jiejie bisa menanyakannya pada orang sekitar apa yang terjadi pada rumah ini?" kata Mu Lian berkomunikasi dengan Meimei.


Master Yi tidak menceritakan rumor pertengkaran diantara dua klan yang beredar jadi Mu Lian dan yang lain (selain Ling Zizhou dan Meng Zhi) tidak tahu tentang hal tersebut.


"Baik, aku pergi sebentar," kata Meimei. Suaranya bergema di seluruh penjuru ruang kendali.


Zhi Yuefeng penasaran bagaimana cara keduanya berkomunikasi namun lidahnya kelu karena melihat kondisi tempat persembunyiannya sudah luluh lantak.


Beberapa menit kemudian Meimei menceritakan rumor yang beredar mengenai rumah besar itu. Mu Lian mengamati Zhi Yuefeng yang larut dalam pikirannya, menunggu arahan selanjutnya.


Kalau Zhi Yuefeng terlihat panik dan hendak mencari rekan-rekannya sendirian, Mu Lian akan turun tangan untuk menahannya.


Untungnya Zhi Yuefeng tetap bertindak dengan kepala dingin. Zhi Yuefeng menyuruh Mu Lian untuk mengelilingi daerah itu sekali lagi untuk mencari petunjuk.


Mu Lian mengelilingi daerah itu beberapa kali, menambah jangkauan perjalanan mereka hingga radius beberapa kilometer, namun tetap tidak membuahkan hasil.


Mereka istirahat makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan pencarian mereka. Tepat ketika sore hari, ada beberapa orang mencurigakan yang terlihat berlalu lalang di sekitar rumah itu.


Saat itulah Zhi Yuefeng yakin bahwa orang yang menyerang tempat persembunyian, masih kembali untuk berpatroli disana, berjaga-jaga siapa tahu ada rekannya yang kembali ke rumah itu.


Meski Zhi Yuefeng yakin bahwa rekan-rekannya sangat teliti dan tidak akan meninggalkan barang penting di rumah itu, Zhi Yuefeng tetap meminta Mu Lian untuk tetap berada di dekat rumah itu.


Mu Lian yang merasa masalah ini akan semakin panjang kedepannya, memutuskan untuk memberi tahu Xiaobai bahwa mungkin bocah mungil itu harus tidur sendiri malam itu.


...


Pada malam hari, dimana semua orang kembali dan fokus pada kegiatannya di rumah masing-masing, sesosok berpakaian serba hitam melintas di bawah cahaya permadani bintang.


Meski cahaya disekitar seharusnya mampu membocorkan keberadaannya, anehnya, sosok tersebut melintas tanpa ketahuan diantara pejalan kaki yang hendak pulang ke rumah masing-masing.


Sosok itu dikelilingi selapis kabut, membuatnya tampak buram dan sulit dikenali dari kejauhan. Bayangannya meloncat diantara atap-atap rumah yang berdekatan dan terus berlari tanpa henti menuju daerah jarang penduduk.


[Gara-gara kau, semuanya jadi berantakan! Saudara Gu harus menghadapi mereka sendirian, demi apa? Demi kita! B*jing*an! S*mp*ah tidak berguna!]


[Kau meninggalkan stempel pendekar bayangan?! Bagus! Sepertinya kau sudah tidak mau hidup lagi! Ini kesalahan terbesar yang pernah kau buat! Kau membocorkan identitas kita kepada musuh!]


[Mati saja kau!]


[S*mp*h tidak berguna!]


Tak terasa waktu berlalu dan pemuda itu tiba tak jauh dari rumah besar yang kini telah porak poranda.


Pemuda itu teralihkan pikirannya dan tak sengaja terpeleset kerikil ketika dirinya mendarat di atas tanah.


Jurusnya yang dapat membaur pada lingkungan sekitar, hancur begitu pemuda itu jatuh terduduk. Sosoknya pun terlihat jelas, pakaian compang-camping, darah kering di bagian tangan dan kakinya.


Wajahnya penuh luka sabetan dan tanpa penutup, menunjukkan wajah mudanya yang babak belur. Letih dan ketakutan terpancar dari matanya.


"Gawat..." kata pemuda itu. Dia mengamati sekelilingnya yang tiba-tiba saja semakin terasa mencekam. Perasaan tertekan ini, ada yang menargetkannya.


Benar saja, beberapa orang yang menunggu dalam bayang-bayang bangunan dan pohon akasia, muncul dan menerkam pemuda itu.


Senjata tajam dengan cahaya hitam kemerahan dan sedikit cairan menjijikkan di seluruh permukaan senjata tersebut terhunus menuju leher pemuda itu.


Ketika ajal sudah ada di depan matanya, pemuda itu merasakan waktu berjalan sangat lambat dan dia melihat senjata-senjata mematikan itu mengincar lehernya dalam gerakan lambat.


"Maaf, maafkan aku yang tidak berguna ini...tuan muda," kata pemuda itu memejamkan matanya.


Tubuhnya lemas dan tak bisa bergerak. Seluruh chi yang tersisa dalam dantiannya telah ia gunakan pada jurus yang selama ini ia bangga-banggakan. Setelah dirinya mengaktifkan jurus tersebut, tidak ada yang dapat mengetahui keberadaannya.


Namun apa artinya jurus kebanggaannya itu saat ini, ajal sebentar lagi menjemput dan dia tidak bisa mendengar pujian tuan muda lagi.


Trang!


Mata pemuda itu terbelalak ketika mendengar suara metal beradu. Ada seseorang didepannya yang sedang bertarung dengan lima orang yang hendak membunuhnya.


"Cih, dasar j*l*ng," kata salah satu orang.


"Hmph. Seperti biasa, kalian menggunakan zat menjijikkan itu. Aku muak melihatnya, jadi aku akan menghabisi kalian!" kata seorang wanita.


Suaranya sangat jelas dan indah sama seperti rupanya namun tidak dengan serangan-serangan mematikan yang dilancarkan wanita itu.

__ADS_1


"Apa aku sudah mati?" kata pemuda itu tercengang. Pemuda itu berpikir bahwa dirinya sedang dijemput oleh bidadari.


__ADS_2