
"Lian'er, bagun, nak. Sudah kakek bilang, kalau mau tidur, tidurlah di kamar," kata Mu Haocun.
Merasa tubuhnya digoncang dan ada hembusan angin yang sedikit dingin, Mu Lian menggeliat.
"Um,"
Mu Lian membuka matanya dan merasa disorientasi. Sesaat kemudian, Mu Lian sadar bahwa dirinya baru saja selesai membuat pil dan mengantuk, setelah itu, gelap.
"Kakek," sapa Mu Lian sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena tertidur di lantai. Tanaman-tanaman, beberapa botol dan kuali milik Mu Lian terletak begitu saja di lantai sekitanya.
Mu Lian saat itu sedang libur dari tugasnya mengawasi ruang kendali. Saat ini dia sedang berada di kediamannya, tepatnya di salah satu bangunan yang dikelilingi air.
Fungsi bangunan itu sebenarnya digunakan sebagai ruang rekreasi. Namun Mu Lian sering menggunakannya untuk bermeditasi dan membuat pil.
Ruangan itu bermodel lesehan sehingga nyaman digunakan untuk bermeditasi, apalagi pemandangannya yang terasa tenang dan damai.
Hanya saja, Mu Lian selalu ketiduran yang membuat Mu Haocun terus menegurnya karena tidak baik untuk kesehatan Mu Lian.
"Haha, sepertinya cucu kakek sudah sadar. Apa yang baru saja Lian'er buat? Boleh kakek lihat?" kata Mu Haocun menatap ke arah botol-botol porselen yang berceceran.
Mu Lian menyerahkan botol-botol tersebut kepada Mu Haocun untuk diperiksa. Setelah mengamati isinya, Mu Haocun mengangguk puas.
"Lian'er, bagaimana kalau kita belajar membuat pil purifikasi?" ajak Mu Haocun.
Mendengar hal tersebut, Mu Lian mengangguk antusias. Mu Lian merasa bosan akhir-akhir ini karena terus menghabiskan waktunya di dalam rumah.
Alasan mengapa Mu Lian tidak boleh sering-sering keluar adalah banyak pihak yang mulai menunjukkan sikap agresinya pada gerobak ajaib, khususnya Ling Zizhou, sebagai juru bicara gerobak ajaib. Yang wajahnya sering terlihat di sekitar gerobak.
Semua kultivator disini telah mengenal wajah khas milik Ling Zizhou dan tidak akan melupakannya. Hal ini menyebabkan berada di dekat Ling Zizhou akan membahayakan Mu Lian.
Begitu pula jika Mu Lian terlihat keluar masuk gerobak. Oleh sebab itu, petualangan Mu Lian jadi tertahan oleh orang-orang yang sedang mengincar gerobak.
Yang membuat semuanya terkejut adalah, gerobak tidak pernah bisa ditemukan orang-orang tersebut sebab Mu Lian mengaktifkan mode mimikri.
Seluruh gerobak jadi tak kasat mata, tidak bukan begitu, gerobak itu terlihat seperti itu padahal permukaan gerobak hanya menyatu dengan latar belakangnya.
Ketika pemandangan sedang menunjukkan deretan rumah-rumah, permukaan gerobak menampilkan hal yang serupa.
Begitu pula hanya ketika gerobak sedang berjalan. Gerobak terus menampilkan pemandangan yang ada disekelilingnya meski itu saat sedang jalan sehingga sangat sulit untuk menemukan gerobak.
Itulah sebabnya Mu Lian tidak bisa menjelaskannya kepada Meimei dan Meng Zhi dan menyuruh mereka melihat sendiri apa yang terjadi ketika Mu Lian mengaktifkan mode mimikri.
Meimei dan Meng Zhi memang tidak melihat rupa gerobak ketika dalam mode mimikri, namun wajah kebingungan orang-orang yang mengincar gerobak sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mampu menemukan gerobak.
Wajah bodoh mereka sungguh sangat memuaskan untuk diamati sambil minum teh. Satu hal yang harus diperhatikan adalah agar jangan sampai menyemburkan teh pada wajah orang yang duduk di sebelahmu saja.
...
"Mei jiejie, dia merebut laukku!"
"Siapa cepat dia dapat!"
"Anak-anak, makanlah dengan tertib. Jangan saling merebut, semuanya pasti kebagian,"
Pagi itu meja makan di Gedung Utara masih tetap meriah dengan kenakalan anak-anak. Karena sudah terbiasa dengan suasana itu, semuanya tetap makan atau minum teh dengan tenang.
Sesekali, senyuman lolos dari bibir Meng Zhi dan Mu Haocun. Sedangkan Ling Zizhou menggelengkan kepala, pusing melihat kelakuan anak-anak itu.
Berbeda halnya dengan Mu Lian yang duduk dan makan dengan lesu. Dia tidak menyadari sekitarnya dan terus menunduk menatap mangkuknya.
Sudah beberapa hari dirinya belajar membuat pil purifikasi dan mengalami kemajuan. Membuat pil purifikasi mewarnai hari-hari monoton Mu Lian. Setidaknya, ada kegiatan baru sembari menunggu kapan dirinya diperbolehkan keluar oleh Mu Haocun.
Namun sepertinya kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama. Tepat hari ini, bahan untuk membuat pil purifikasi habis dan Mu Lian hanya bisa duduk termenung lagi.
"Lian'er, habiskan makananmu. Setelah itu kakek ajak jalan-jalan untuk melihat titik balik," kata Mu Haocun.
Mu Haocun tidak tega melihat Mu Lian yang lesu begitu. Sudah cukup menunggu dan melihat orang-orang itu, kini mereka harus bergerak.
Lagipula sudah hampir satu bulan mereka berdiam diri seperti seorang petapa di dalam gerobak. Siapa saja pasti sudah merindukan sinar matahari yang asli.
Apalagi, Ling Zizhou mengatakan jika persediaan bahan makanan mereka sudah hampir habis. Mau tidak mau mereka harus keluar mengisi persediaan.
"Benarkah? Titik balik yang itu? Asyik!" kata Mu Lian.
Titik balik, garis yang membatasi dua negeri. Jika seseorang menginjakkan kakinya di sini, orang tersebut akan dipindahkan ke daerah dekat samudra.
__ADS_1
Biasanya digunakan sebagai jalan pintas jika seseorang malas berjalan jauh. Mempermudah seseorang untuk mencapai sisi lain negeri itu.
Sudah lama Mu Lian ingin melihatnya namun tidak sempat saja. Karena Mu Lian ingin menghabiskan waktu untuk melihat-lihat sekitar kota dan kehidupan yang ada didalamnya terlebih dahulu.
Kini Mu Haocun mengungkit titik balik, Mu Lian jadi mengingatnya dan ingin segera melihat titik balik itu.
"Ah Zhi, tolong asuh pemuda ini. Jangan lupa pada tujuan awal kalian untuk mencari tahu siapa dalang yang mengirimi orang-orang itu. Anggap keikutsertaan Ah Zhou sebagai bagian dari latihannya," kata Mu Haocun.
Malam sebelumnya Mu Haocun telah mengatakan akan melacak dalang yang terus mengirimi orang-orang yang berniat jahat kepada mereka.
Sikap mereka sudah sangat kelewat batas dan Mu Haocun ingin menunjukkan bahwa gerobak ajaib bukanlah eksistensi yang bisa diperlakukan seenaknya.
Meng Zhi yang telah mendapat arahan dari Mu Haocun mengangguk dan segera menyeret Ling Zizhou.
Rencananya mereka akan bermalam di penginapan dan memantau pergerakan orang-orang tersebut dari sana.
Dan tugas menjaga gerobak diserahkan kepada Master Yi seutuhnya. Ling Zizhou, Master Yi, dan Meng Zhi keluar melalui Pagoda Utara bersama-sama.
Anak-anak kembali ke kediaman mereka di Sungai Barat Daya, tepatnya di bangunan Dang Gui, sedangkan Mu Lian, Mu Haocun dan Meimei ke ruang kendali.
Saat itu Cermin Langit sedang menunjukkan orang sedang berlalu lalang sedangkan gerobak diparkirkan diantara dua rumah.
"Jalan saja terus ke arah utara," kata Mu Haocun.
"En,"
Gerobak berjalan selama kira-kira 45 menit. Ketika gerobak lewat, beberapa kultivator merasa ada sesuatu yang melewati mereka.
"Hmm? Kau merasakannya?"
"Apa itu tadi?"
Namun sekeras apapun mereka mencari, mereka tidak menemukan gerobak. Gerobak terus menjauh meninggalkan orang-orang yang kebingungan itu.
Hingga akhirnya gerobak tiba di daerah yang jarang bangunan. Hanya pohon-pohon akasia dan hamparan sabana sejauh mata memandang.
Awalnya, Mu Lian tidak menemukan keganjilan di daerah tersebut. Namun semakin dekat, Mu Lian dapat melihat seperti ada tabir yang menyelimuti pemandangan di depannya.
"Sudah dekat, jangan ragu dan terobos tabir itu," kata Mu Haocun mengarahkan.
Mu Lian memacu gerobak hingga menerobos tabir tak kasat mata di depannya. Seketika, pemandangan disekelilingnya menjadi kabur, seperti pemandangan di dalam mobil yang melaju sangat cepat.
Kerumunan orang tampak memadati wilayah tersebut. Mu Lian melihat bahwa orang-orang itu berjalan melewati gerobak. Sepertinya ada sesuatu di belakang gerobak.
"Sudah?" kata Mu Lian tidak percaya. Perjalanan mereka hanya sekejap saja, jadi Mu Lian tidak percaya bahwa mereka sudah tiba di tujuan.
"Sudah. Mari kita parkirkan di sana," kata Mu Haocun menahan tawa.
"Aku akan mengawasi dari ruang kendali. Semoga perjalanan kalian menyenangkan," kata Meimei.
"Aku pergi sebentar ya, Mei jiejie!" kata Mu Lian segera kembali ke pinggir kolam. Meimei menggantikan Mu Lian berdiri di kendali mengapung.
...
"Di Jiche! Awasi adikmu, malah asik sendiri!" kata seorang wanita berambut pirang sepinggang. Tanduk naganya menambah keeleganan pada wajah wanita itu.
Dalam gendongannya nampak gulungan sisik berwarna kuning kecoklatan. Itu adalah bayi Dilong, tanduknya masih sekecil tunas dan kumisnya setipis helai rambut.
Ketika sedang menegur buah hatinya, tiba-tiba wanita itu merasakan keberadaan dua orang yang muncul begitu saja di sampingnya.
"Astaga!" kata wanita itu terkejut.
"Ah, maaf, kami membuatmu terkejut," kata seorang nenek berwajah baik.
"Tidak apa-apa, justru aku yang minta maaf karena bersikap tidak sopan," kata wanita itu sambil menatap gadis manis di sebelah nenek tersebut.
Wanita itu menduga bahwa tingkat kultivasi nenek dan gadis yang ada disebelahnya itu pasti tinggi karena dirinya baru menyadari ketika keduanya sudah berada di sampingnya.
Namun yang sedikit aneh adalah ekspresi gadis itu. Mengapa wajahnya seperti sedang konstipasi? Tidak, wajahnya penuh dengan dilema.
"Anak-anak anda enerjik sekali," kata sang nenek sambil mengamati dua anak berkejaran di dalam air.
Satu berusia sembilan tahun, satunya lagi masih belum bisa bertransformasi menjadi manusia, jadi diperkirakan usianya dibawah tujuh tahun.
"Ah, kedua anak laki-lakiku itu sangat sulit diatur," kata si wanita mulai curhat.
"Anak seusia itu memang seperti itu. Tapi aku yakin mereka berdua akan tumbuh menjadi kultivator hebat," kata si nenek.
Wanita itu langsung sumringah mendengar anaknya dipuji. Dengan seketika sikap si wanita menjadi lebih bersahabat dan menawarkan si nenek dan si gadis duduk bersama menikmati mata air kabut.
__ADS_1
Nenek dan gadis itu mengikuti si wanita dari belakang. Menggunakan kesempatan ini, si gadis berbisik,
"Kakek, aku tidak tahu apa yang kakek rencanakan," bisik Mu Lian.
"Ehem, Lian'er. Kau ini rindu pada kakekmu, ya, jadi memanggil nenek dengan sebutan kakek," kata Mu Haocun dengan wajah iba.
Mu Lian hanya bisa menghela napas panjang. Selama di lift, tiba-tiba saja Mu Haocun mengeluarkan beberapa barang untuk menyamar menjadi nenek-nenek.
"Apa yang terjadi? Maaf, baru-baru ini ayahku, kakek dari anak-anak ini juga meninggal jadi aku dapat bersimpati dengan gadis ini," kata wanita itu tiba-tiba.
Jantung Mu Lian nyaris copot dibuatnya. Mu Lian lupa bahwa di ibu kota, akan banyak kultivator, jadi dia tidak bisa sembarangan membicarakan sesuatu yang sifatnya rahasia.
Mu Lian langsung berpura-pura sedih sementara Mu Haocun mengarang cerita untuk si wanita. Keduanya jadi tambah akrab hingga si wanita memberi tahu identitasnya.
Ternyata wanita itu berasal dari keluarga Di, salah satu anggota dewan di negeri Chen. Mu Haocun pun memberi identitas palsunya yang baru saja dibuatnya dengan bantuan Dongfang Xing.
Mu Lian dan Mu Haocun berbincang dengan ibu 3 anak itu selama sepuluh menit sebelum akhirnya melanjutkan jalan-jalan mereka di sepanjang pesisir samudra.
Banyak sekali kultivator baik itu tua dan muda, laki-laki dan wanita terlihat bermeditasi di tepi samudra.
Airnya tenang dan tidak ada ombak, jadi orang-orang bisa dengan tenang duduk bersila disana.
Setelah merasakan suasana di pesisir samudra selama beberapa menit, ternyata Mu Lian menemukan bahwa chi di samudra sangat pekat.
Tak jarang juga orang tua membawa anak-anak yang belum bisa bertransformasi ke sini untuk berlatih. Bertransformasi membutuhkan chi yang cukup banyak.
Semakin siang, pesisir samudra semakin sepi. Orang-orang yang yang masih bermeditasi disana bisa dihitung dengan jari.
Mu Haocun pun berjalan dengan lambat untuk menikmati pemandangan dan sengaja membawa Mu Lian ke tempat yang sebelumnya digunakan oleh seorang kultivator.
Mu Lian merasakan air hangat menyentuh hingga lututnya. Instingnya menyuruh dirinya agar menyerap chi yang terkandung di dalam air tersebut namun Mu Lian menahan diri.
Mu Lian mengalihkan perhatiannya jauh ke depan sana. Air jernih memantulkan cahaya matahari. Saking jernihnya Mu Lian dapat melihat dasar samudra yang dipenuhi batu-batuan besar.
Batu-batu tersebut menyerupai batu-batu yang ada di sungai. Dengan karakteristiknya yang menyerupai sungai, Mu Lian merasakan kekontrasan antara nama dengan wujud asli samudra.
Beberapa ratus kilo meter dari tempatnya berdiri, Mu Lian melihat jajaran bola mengkilap seukuran bola tenis dan berwarna merah mengapung, membatasi samudra menjadi dua bagian.
"Kotak itu merupakan batas aman dari daerah berbahaya setelah daerah yang aman untuk dikunjungi. Daerah diluar batas merupakan daerah spirit beast," kata Mu Haocun menangkap tatapan Mu Lian ke bola tersebut.
"Spirit beast?" kata Mu Lian dengan tatapan penuh tanya.
"Lian'er lihat benda yang menyerupai batu yang ada di dasar itu? Itu sebenarnya spirit beast dalam keadaan semi-trans mereka. Mereka menunjukkan agresi dan terlihat hidup ketika ada makhluk hidup yang memasuki daerah mereka.
Mereka dipercaya merupakan spirit beast paling tua yang pernah ada di dunia. Terlihat tidak berbahaya ketika mereka diam saja namun ketika dalam mode menyerang, sangat berbahaya," kata Mu Haocun.
"Masuk ke dalam jenis apakah mereka?" kata Mu Lian.
"Si rakus, penjebak, dan pelacak," kata Mu Haocun dengan ekspresi syahdu.
Spirit beast di dasar samudra merupakan gabungan dari tiga jenis spirit beast. Satu jenis saja sudah repot menghadapinya apalagi ini gabungan dari ketiganya.
Mu Lian dan Mu Haocun diam menatap samudra selama beberapa menit hingga akhirnya menyadari keanehan.
Ada perubahan pada langit, chi bergejolak, ruang seakan disobek secara paksa. Mu Lian juga dapat merasakan sensasi disorientasi ketika menatap lubang yang lama kelamaan makin besar di langit tersebut.
Beberapa saat kemudian sosok besar jatuh bebas menuju samudra. Ketika tubuhnya menghantam permukaan air di bawahnya, air dalam jumlah sangat banyak tumpah ruah kemana-mana.
Tepat sebelum kejadian langit tersobek, kultivator terakhir pergi dari pesisir samudra sehingga selamat dari cipratan air.
"..." (Mu Lian dan Mu Haocun)
Tubuh Mu Lian dan Mu Haocun basah kuyup. Mu Haocun menyemburkan air dari mulutnya kemudian berkata,
"Gawat, apa orang yang terjatuh itu masuk ke habitat spirit beast?"
"Orang? Benda sebesar itu kakek bilang orang?" kata Mu Lian tak mengerti. Sosok itu terjatuh dengan sangat cepat sehingga mata Mu Lian tak mampu menangkap sosok aslinya.
Mu Haocun menggunakan tehnik qinggong kemudian mendekati benda itu seraya berkata, "Diam disitu, kakek akan segera kembali,"
Mu Haocun memperkirakan lokasi jatuh benda tersebut kemudian segera menghampirinya. Sebelum Mu Haocun tiba, Sesosok kepala menyembul ke permukaan, membuat air tumpah tepat ke tubuh Mu Haocun.
"..." (Mu Lian dan Mu Haocun)
Mu Haocun terdiam karena mempertimbangkan apakah akan menyelamatkan sosok yang telah mencipratinya dengan air tidak hanya sekali melainkan dua kali, sedangkan Mu Lian terdiam karena melihat sosok yang menyerupai monster mitos di Bumi, Loch Ness.
(Monster Loch Ness)
__ADS_1