
"AAAAAAARGGH" Pekikan yang sangat ganjil, tidak menyerupi suara manusia terdengar dari seorang wanita.
Tubuhnya meringkuk membentuk bola, disebelahnya seorang pemuda berusai 25 tahun terduduk lemas dengan mata tak fokus.
Setelah beberapa menit berlalu, keduanya pun pulih namun si wanita merengek minta kembali, "Tidak mau! Aku tidak mau! Orang itu ada disana! Orang dengan energi menjijikkan itu! Cuih!"
Si Wanita meludah kemudian segera berlari keluar pemukiman. Si Pemuda yang lengah hanya membuka mulut karena tak percaya bahwa dirinya ditinggalkan begitu saja.
"Dasar wanita gila!" seru si pemuda itu cepat-cepat menyusul.
"Hei! Kau hutang tiga ratus ribu jarum kepadaku! Si*l kita menyia-nyiakan begitu banyak jarum!" kata si pemuda sambil melakukan gestur menggunakan tangannya, membuat boneka-boneka yang berada tak jauh dari mereka mundur.
"Masa bodoh dengan jarum mu itu! Kau mau kita menuju lubang kuburan kita tanpa menyelesaikan misi?" kata si wanita membela diri.
Si pemuda hanya diam. Mau tidak mau dia harus merelakan boneka-bonekanya yang terlalu jauh darinya. Daripada mereka bertemu denga orang yang mengerahkan energi yang membuat energi abyssal mereka kacau.
Setelah kedua orang mencurigakan tersebut pergi, pergerakan boneka terlihat tidak seagresif sebelumnya. Dan tubuh mereka tidak bertahan lama sebelum akhirnya tidak bisa bertarung lagi.
Tetap saja, kerusakan yang diakibatka oleh prajurit-prajurit boneka itu cukup parah, bahkan ada beberapa orang yang berhasil diculik.
"Kedua orang mencurigakan itu sudah pergi!" kata Mu Lian dengan suara lantang.
Mu Lian, akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk berdiri di tengah medan perang itu. Seakan tahu hatinya mulai tenang, pikirannya berjalan dengan cepat memberi bantuan kepada yang membutuhkan.
Mu Lian menggerakan jarum-jarum tipisnya untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan musuh, memberi tahu informasi penting mengenai kedua orang yang patut mereka waspadai. Untungnya kedua orang tersebut mundur.
Mu Lian mengawasi sisa-sisa perlawanan boneka-boneka yang semakin lama-semakin kehilangan tanda-tanda kehidupan. Dia melayang beberapa meter di atas medan pertempuran begitu juga gerobak ajaib.
Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu mengintip dari balik terpal. Terlihat berbagai emosi dari mata anak-anak itu. Sedih, marah, takut. Namun mereka tetap menyaksikan medan pertempuran tersebut karena Meimei juga sedang bertempur di dalamnya.
__ADS_1
Yang membuat Mu Lian dan yang lain kagum adalah meski kultivasi Meimei turun hingga tingkat pembentukan pondasi, Meimei sanggup bertahan bahkan mengalahkan boneka-boneka yang kultivasinya satu tingkat diatasnya.
Meimei bergerak dengan lincah dan seperti bisa membaca pikiran lawannya. Dia sudah mengantisipasi serangan-serangan selanjutnya membuat lawan tidak berkutik.
Alhasil, Meimei seperti sedang menari dengan posisinya menggantikan posisi laki-laki yang selalu memimpin pasangan dansanya.
Gerakannya indah namun mematikan. Meski begitu tak satu pun cipratan darah mengenai Meimei. Pakaiannya pun masih rapih seperti sebelum bertarung.
Penampilannya yang tetap memukau meski di dalam pertarungan sekalipun membuat semuanya melihat Meimei dalam sudut pandang baru. Dan di masa depan Meimei akan mendapat julukan dewi perang oleh siapa saja yang bertarung bersamanya saat ini.
Sayangnya, skill Meimei tidak didukung oleh kultivasi yang sesuai. Karena kini kultivasinya menurun, Meimei tidak bisa mempertahankan kondisi fisiknya saat bertarung menyebabkannya lebih cepat lelah.
Meimei yang belum bisa mengontrol chi nya juga merasa penggunaan chi nya tidak seefektif dulu sehingga banyak yang terbuang.
"Huff..."
TRAANG!
Mu Lian dengan sigap menggunakan telekinesis nya untuk menggerakan jarum-jarum kecilnya dan menangkis serangan tersebut.
Matanya terpejam karena dia harus membagi fokusnya kepada dua tugas. Yang pertama mengevakuasi Meimei ke gondola, yyang kedua terus menggunakan telekinesisnya untuk menyerang boneka-boneka yang tersisa.
Tubuh Meimei terangkat oleh gaya tak kasat mata dan melayang mendekati gondola ajaib. Anak-anak yang melihat dari gerobak langsung bersorak.
Untungnya Mu Lian sudah terbiasa bekerja di mana saja, entah itu di tempat yang sunyi atau di tempat yang berisik sekalipun. Fokusnya jadi tidak mudah terpecah.
"Terimakasih," kata Meimei lemah. Mu Lian mengangguk. Kini pikirannya sedang membayangkan gambaran-gambaran paling sadis supaya nantinya telekinesisnya bekerja seperti apa yang Mu Lian inginkan.
Yaitu jarum-jarumnya menyerang bagian-bagian vital dan menumbangkan boneka-boneka itu. Pemandangan tersebut segera terealisasi dan anak-anak yang menonton dengan cepat kehilangan minat untuk lanjut menonton.
__ADS_1
"Emm, kita istirahat saja siapa tahu nanti bantuan kita diperlukan," kata Xiaoleng.
"Ah iya,"
Anak-anak menutup terpal dan tidak pernah muncul kembali. Tak jauh dari gerobak, Mu Lian masih mencari cara menumbangkan boneka-boneka itu.
Dia mulai mual karena piran sadisnya sendiri. Namun boneka-boneka itu sulit ditumbangkan. Akhinya Mu Lian menggunakan beratus-ratus jarum setipis rambut yang masih berkeliaran di dalam tubuh boneka-boneka itu untuk sekalian memeriksa kondisi tubuh boneka tersebut.
Ada satu temuan yang aneh karena ada pembuluh darah baru yang melintasi seluruh tubuh boneka tersebut. Ketika Mu Lian selidiki lebih jauh, jarum-jarumnya menemukan sumber dari mana pembuluh-pembuluh tersebut berasal.
Mu Lian merasakan benda asing yang tertanam di otak boneka-boneka itu. Jarum yang sama yang digunakan dengan dirinya.
Mu Lian curiga metode yang digunakan untuk memasukkan jarum-jarum tersebut juga sama dengan dirinya. Tanpa basa-basi, Mu Lian menghancurkan jarum-jarum itu.
Mu Haocun telah mengajarkannya seluk beluk jarum misterius itu. Alat yang sering digunakan oleh Ahli Alkimia.
Dimana Ahli Alkimia bergelut dengan dunia mikro, dunia yang sangat kecil yang tidak terlihat oleh mata menggunakan jarum-jarum ini.
Semakin kuat Ahli Alkimia, semakin tinggi tingkat profesionalisme Alhli Alkimia, semakin banyak pula jarum yang bisa dioperasikan Ahli Alkimia tersebut.
Mu Lian juga diajarkan bahwa jarum-jarum itu bisa digunakan untuk melawan sesama Ahli Alkimia. Mereka yang sama-sama menggunakan jarum, memanfaatkan resonansi untuk mematahkan jarum lawan.
Yang lemah akan kalah dalam adu mekanik tersebut dan setelah jarumnya patah biasanya akan terluka juga karena jarum yang sudah beresonansi lajunya akan sangat cepat dan sulit dikendalikan.
Dan terbukti, setelah jarum-jarum menang dengan telak dalam resonansi jarum Mu Lian melesat dengan sangat cepat. Mu Lian berdoa agar tidak ada orang yang jadi korban karena dirinya pun agak sulit mengendalikan.
Dengan sedikit pengendaliannya, Mu Lian berhasil mengarahkan jarum-jarum tersebut ke langit. Jarum-jarum itu sangat cepat hingga terlihat seperti cahaya yang menembus dahan-dahan pepohonan.
Mu Lian menghela napas panjang dan mengamati lekat-lekat ke arah langit-langit. Ketika jarum-jarum muncul dan sedang terjun bebas. Mu Lian mengendalikannya lagi dan memasukkannya ke dalam kotak.
__ADS_1