
Zhi Yuefeng, Saudara Chao dan dua pendekar bayangan yang lain segera berpencar ke arah yang berbeda.
Mereka bergerak dengan sangat lincah saling menjauhi satu sama lain kemudian dengan arahan Saudara Chao, mereka berlari ke arah pintu.
Satu orang gagal menuju pintu, segera digantikan oleh rekannya, begitu seterusnya. Bahkan Zhi Yuefeng pun melakukan hal yang sama sehingga array pada ruangan itu tidak sadar jika Zhi Yuefeng sudah mengincar titik lemah yang sejak beberapa saat yang lalu tidak sempat dipindahkan.
Zhi Yuefeng sudah selesai menggambar pola intervensi array pada punggungnya sambil berlari menghampiri titik lemah yang sedang hinggap pada cermin tersebut. Yang perlu dilakukannya hanya berada dalam jangkauannya dan terus menyentuhnya.
Membiarkan array pada punggungnya beresonansi dengan titik lemah tersebut baru setelah itu bersamaan dengan menghilangnya pola array pada punggung Zhi Yuefeng, dimulailah proses intervensi array.
Kunci kesuksesan dalam mengintervensi sebuah array adalah seberapa kuat Ahli Array tersebut dan Zhi Yuefeng? Tentu saja dia mampu melakukannya dalam hitungan detik.
Array bergemuruh ketika intervensi berhasil dilakukan. Dengan segera, array dimatikan dan Zhi Yuefeng bisa keluar dari ruangan tersebut.
Setelah keluar dari ruangan, Zhi Yuefeng belum bisa bernapas lega seperti Mu Lian dan yang lain ataupun kelompok penyusup karena mereka masih harus mengejar Mo Fan dan mematikan inti rumah.
Zhi Yuefeng membagi tugas kepada ketiga pendekar bayangannya, satu bertugas melindungi mereka dari segala macam bahaya, tidak perlu melawan balik karena semakin membuang waktu.
Satu orang mengaktifkan array anti deteksi agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh musuh, dan satu orang lagi mengaktifkan array untuk mencari keberadaan Mo Fan.
Sedangkan Zhi Yuefeng sendiri, mengintervensi setiap array yang mereka temui. Kecepatan Zhi Yuefeng mengintervensi array-array tersebut sangat menakutkan.
Dalam waktu lima menit saja dia sudah bisa mengintervensi 4 array sekaligus. Saudara Chao, meskipun sangat ceroboh merupakan pendekar bayangan yang paling bisa diandalkan Zhi Yuefeng baik itu menyusup maupun melacak seseorang.
Saudara Chao terus membimbing Zhi Yuefeng ke arah Mo Fan sambil terus mengamati wajah tuannya itu. Wajah Zhi Yuefeng sedikit pucat setelah memaksakan diri menggunakan energi spiritualnya.
"Tuan muda," kata Saudara Chao membujuk tuannya untuk tidak memaksakan diri. Namun melihat Zhi Yuefeng menyuruhnya berhenti bicara akhirnya Saudara Chao hanya berkata,
"Pria itu tepat di depan kita. Posisinya tetap disitu-situ saja,"
"Terimakasih. Setelah berhasil masuk ruangan, segera rebut inti itu darinya. Aku mengandalkanmu, Saudara Chao, kau tahu bukan?" kata Zhi Yuefeng.
"Baik tuan muda!" jawab Saudara Chao. Jantungnya berdegup kencang karena gugup. Namun Saudara Chao tetap ingin berusaha semaksimal mungkin memenuhi keinginan Zhi Yuefeng.
Tak lama, mereka tiba di lokasi yang ditunjukkan Saudara Chao. Zhi Yuefeng menyuruh semuanya berhenti untuk memeriksa titik lemah array ruangan tersebut.
Sayangnya, Zhi Yuefeng hanya menemukan titik lemah array ruangan yang berada tak jauh dari mereka namun ruangan tersebut tumpang tindih dengan ruangan dimana Mo Fan berada.
Apa boleh buat, Zhi Yuefeng harus menon-aktifkan array ruangan tersebut sebelum akhirnya bisa meringkus Mo Fan.
Array dinon-aktifkan hanya dalam beberapa detik kemudian Zhi Yuefeng memasuki ruangan untuk mencari titik lemah ruangan dimana Mo Fan berada.
Hanya butuh sekejap saja untuk dapat menemukan titik lemah tersebut dan beberapa detik lebih cepat untuk mengintervensi array dari luar.
Salah seorang pendekar bayangan menghancurkan dinding cermin berkeping-keping, memberi jalan untuk Saudara Chao.
Memanfaatkan momentum yang telah dibuat oleh rekannya tersebut, Saudara Chao mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengeluarkan jurus andalannya.
Tujuan utamanya adalah pria yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Memang Saudara Chao belum bisa menentukan dimana inti rumah, namun ketika Mo Fan menoleh ke arah dirinya dan Zhi Yuefeng, Saudara Chao dapat melihat inti rumah dalam genggaman pria itu.
Saudara Chao menandai inti rumah tersebut agar dapat mengaktifkan jurusnya, dengan jurusnya, Saudara Chao tiba disamping Mo Fan beberapa detik kemudian dan berhasil merebut inti rumah.
Butuh beberapa detik bagi Mo Fan untuk menyadari bahwa benda yang dijaga seperti nyawanya sendiri itu telah direbut darinya.
"AKHH! TIDAK! KEMBALIKAN! KEMBALIKAN PADAKU!" tiba-tiba saja Mo Fan berteriak histeris.
Saudara Chao mengernyit ketika gendang telinganya diserang suara nyaring Mo Fan hingga tidak menyadari adanya perubahan dari inti rumah.
Seluruh ruangan bergemuruh, dinding cermin terlihat bergerak lagi. Setelah menyadari apa yang terjadi, Saudara Chao berseru,
"Tuan muda!"
"Saudara Chao!" seru dua pendekar bayangan. Mereka menatap Saudara Chao dengan khawatir ketika dinding-dinding cermin sekali, memisahkan mereka.
Namun kali ini, Saudara Chao dipisahkan dengan rekan-rekannya, meninggalkannya berduaan dengan Mo Fan.
"Berhenti! Jangan bergerak! Kami akan menyusulmu, pertahankan inti rumah dari Mo Fan sebisa mungkin," kata Zhi Yuefeng.
Saudara Chao hanya diam mengamati dinding-dinding cermin hingga dinding-dinding tersebut berhenti bergerak.
Mo Fan, memanfaatkan kelengahan yang ditunjukkan oleh Saudara Chao, menghampirinya dengan diam-diam dengan maksud merebut kembali inti rumah dari tangannya.
Untungnya, Saudara Chao segera menyadari perubahan pada udara disekelilingnya dan berhasil menghindari terjangan Mo Fan.
"AKH! Sial! Kembalikan kepadaku!" seru Mo Fan sambil terus mengejar Saudara Chao.
Namun Mo Fan tidak berdaya seperti seorang bayi di hadapan Saudara Chao yang seorang pendekar bayangan andalan Zhi Yuefeng.
Mo Fan akhirnya menyadari perbedaan yang sangat jauh tersebut kemudian mengubah pendekatannya terhadap Saudara Chao.
__ADS_1
"Hanya aku yang dapat menon-aktifkan inti rumah, jadi kembalikan padaku, ya? Anda mau menonaktifkannya, bukan?" kata Mo Fan membujuk Saudara Chao dengan suara halusnya.
"Oh ya? Aduh, Ketua Mo. Apa anda ingat, bahwa anda pernah menolakku?" kata Saudara Chao tersenyum sinis. Dia masih mengingat kejadian ketika lengannya nyaris buntung.
"Aku juga mencoba membujuk anda tapi anda mencampakkanku begitu saja dan nyaris membuat lenganku buntung," kata Saudara Chao.
"Maaf, waktu itu aku tidak tahu niat anda sebenarnya. Aku takut anda memiliki niat tersembunyi, lebih baik berhati-hati, bukan?" kata Mo Fan.
"Ah, tentu saja. Aku sangat setuju dengan anda," kata Saudara Chao, Mo Fan mengangguk puas namun Saudara Chao melanjutkan,
"Jadi aku juga harus berhati-hati kepada anda bukan? Siapa yang tahu, apa niat tersembunyi anda,"
"..."
Wajah Mo Fan merah padam. Gerakannya semakin bertubi-tubi menerjang Saudara Chao. Namun tentu saja tidak ada satu pun yang berhasil.
Tak lama, Zhi Yuefeng dan dua pendekar bayangannya tiba dan Mo Fan masih saja berusaha menerjang Saudara Chao.
Mo Fan terlihat semakin khawatir dan hanya memikirkan bagaimana caranya merebut kembali inti rumah ingga tidak sadar dengan kehadiran Zhi Yuefeng dan dua pendekar bayangannya.
Lelah dengan kegagalannya menangkap Saudara Chao, Mo Fan memijak-mijak lantai seperti anak kecil yang tidak diberikan apa yang ia mau oleh ibunya.
"KALIAN TIDAK MENGERTI! AKU TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU LAGI-"
Tiba-tiba tubuh Mo Fan mengembang seperti ikan kembung, kedua mata Mo Fan terbelalak. Kejadian itu begitu cepat hingga pemandangan terakhir yang Zhi Yuefeng lihat sebelum tubuh Mo Fan meledak adalah kedua matanya yang penuh rasa takut.
DUARR
Crsssh. Hujan darah dan organ dalam di sepenjuru ruangan. Untung salah seorang pendekar bayangan yang bertugas mengaktifkan array perlindungan masih tetap mengaktifkan array tersebut, jadi mereka tidak terkena hujan tersebut.
"..."
"I-ini...aku tidak tahu akan seperti ini jadinya..." kata Saudara Chao tidak melanjutkan ucapannya.
"Lihat! Inti rumah bersinar!" kata salah seorang pendekar bayangan.
Benar saja, Zhi Yuefeng dan Saudara Chao melihat inti rumah bersinar kemudian diikuti gemuruh dari rumah lelang, menandakan array-array berhasil dinon-aktifkan.
"Jadi, Mo Fan dan inti rumah saling berhubungan. Inti rumah hanya dapat dinon-aktifkan oleh Mo Fan. Tapi kalau inti ini jauh dari jangkauan Mo Fan sebentar saja, inti rumah akan dinon-aktifkan? Aneh sekali," kata Saudara Chao.
"Tidak bukan begitu, sepertinya ada kutukan yang mengatur bahwa jika Mo Fan kehilangan inti rumah, Mo Fan akan mati. Setelah Mo Fan mati, tentu saja inti rumah secara otomatis dinon-aktifkan.
Aturan bahwa hanya Mo Fan yang dapat menon-aktifkan inti rumah tidak pernah berubah," kata Zhi Yuefeng kepada ketiga pendekar bayangannya.
"Sekarang bagaimana, tuan muda? Apa kita susul Saudara Bei?" tanya salah seorang pendekar bayangan.
"Hmm, sebaiknya kita kembali ke ruangan penjamuan terlebih dahulu. Kita susun ulang rencana sambil memikirkan resiko-resikonya," kata Zhi Yuefeng.
Mereka tidak memiliki salinan peta yang digambar Mu Haocun jadi tentu saja Zhi Yuefeng harus memikirkan rencana lain. Untuk sementara ini, Zhi Yuefeng berpikir lebih baik menunggu daripada tergesa-gesa mengambil keputusan.
...
"Ah Zhou? Ah Zhou!"
Meng Zhi mengguncang tubuh pemuda yang ada di hadapannya. Wajahnya pucat sekali dan detak jantungnya terasa sangat lemah, membuat suhu tubuhnya menjadi lebih rendah.
Ketika sedang menyelesaikan perannya dalam ilusi, tiba-tiba saja Meng Zhi terlempar dan sadar-sadar sudah kembali di ruangan ini. Meng Zhi merasa aneh karena mendengar suara-suara berisik.
Seperti dua benda saling bergesekan dan suara sesuatu yang bergemeletuk. Selain itu, seluruh ruangan jadi terlihat lebih gelap. Tunggu, Meng Zhi menangkap sesuatu yang sangat banyak bergerak.
Saudara Bei dan rekannya berdiri tak jauh dari Meng Zhi dan Ling Zizhou, sedangkan Jun Mo, masih duduk dan termenung. Belum pulih sepenuhnya.
Selain itu, Meng Zhi melihat garis-garis dari pola array dengan mereka sebagai pusatnya. Meng Zhi menyadari bahwa Dua pendekar bayangan itu tidak mau membocorkan jati diri mereka sebagai klan Xuanwu kepada Jun Mo, orang asing.
Maka dari itu keduanya menggunakan tehnik konvensional yang sering digunakan Ahli Array manusia, menggambar pola di permukaan tanah menggunakan kapur khusus.
Array perlindungan? Perlindungan dari apa? Setelah diamati lebih teliti, Meng Zhi dapat melihat koloni serangga yang jumlahnya mencapai ratusan.
Serangga-serangga itu seperti lipan dengan ukuran sebesar lengan orang dewasa. Mereka merangkak pada permukaan perisai tak kasat mata hingga menutupi seluruh permukaan perisai.
Melihat keadaan cukup genting, Meng Zhi pun segera menghampiri Ling Zizhou yang belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Saudara Bei.
Wajahnya terlihat tenang meski baru keluar dari ilusi. Rekannya pun demikian. Keduanya langsung sadarkan diri begitu keluar dari ilusi dan melihat posisi cermin-cermin berubah lagi disertai dengan suara gemuruh.
Melihat koloni lipan mulai bermunculan, Saudara Bei dan rekannya pun melindungi Meng Zhi dan Ling Zizhou. Untungnya, Meng Zhi segera sadar dan mulai membangunkan Ling Zizhou.
"Bocah ini mengalami gejala pasca ilusi, maaf jadi merepotkan anda, dia benar-benar baru mengalami ilusi seperti ini," kata Meng Zhi. Saudara Bei. mengangguk menandakan bahwa dirinya tidak merasa keberatan.
__ADS_1
"Huf~, tidak apa-apa tuan Zhi. Lihat saja aku, baru bisa bicara sekarang," kata Jun Mo dengan suara letih.
"Istirahatlah selagi saya membangunkan adik saya," kata Meng Zhi. Jun Mo mengangguk.
Meng Zhi terus memanggil-manggil Ling Zizhou sambil mengguncang tubuhnya. Asalkan ilusi sudah hancur, masa kritis sudah terlewati dan membangunkan Ling Zizhou tidak akan membahayakan nyawanya, malah akan mempercepat Ling Zizhou melewati pasca ilusi.
"Ukh...Zhi-Zhi Ge?" kata Ling Zizhou akhirnya sadar juga. Matanya berusaha fokus kepada sosok yang ada dihadapannya itu.
"Iya, ini aku," kata Meng Zhi menenangkan.
"Zhi Ge!"
"Ah Zhou," balas Meng Zhi. Meski Meng Zhi mengetahui dirinya terjebak ilusi, tetap saja waktu berlangsung sangat lama tanpa kehadiran Ling Zizhou, Mu Lian dan yang lain.
Bagaimana hidupnya di dalam ilusi? Mata Meng Zhi berkilat sedih, sejujurnya, dia benar-benar lega setelah melihat serta merasakan Ling Zizhou yang berada tepat di hadapannya ini.
"Zhi Ge!"
"..."
Ling Zizhou dan Meng Zhi saling memanggil satu sama lain selama beberapa saat. Membuat kedua pendekar bayangan merasa canggung. Sebaliknya, Jun Mo merasa terharu melihat reuni kaka-beradik itu.
"Ahem! Sepertinya array memang diubah dari si pengendalinya, jadi kita semua kembali dengan selamat," kata Saudara Bei.
"Benar. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Ketua Mo hingga mengubah array secara tiba-tiba seperti ini. Kita harus tetap waspada karena tidak tahu kapan array akan berubah," kata Jun Mo.
Ling Zizhou, Meng Zhi dan Jun Mo pun berdiri untuk bersiap-siap.
"Aduh," kata Ling Zizhou setelah berdiri dan merasakan tubuhnya sangat kaku. Dia pun segera melemaskan sendi-sendinya menggunakan beberapa gerakan yang telah diajari Mu Lian.
Meng Zhi mengikuti semua gerakan yang dilakukan Ling Zizhou, sebentar lagi mereka akan kembali ke dalam pertarungan jadi Meng Zhi butuh beradaptasi bergerak dengan tubuhnya kembali. Otot-otot pada tubuhnya terasa kaku semua.
"..." (Jun Mo, Saudara Bei dan rekannya)
"Siap?" kata Meng Zhi. Semuanya mengangguk.
Perisai tak kasat mata dinon-aktifkan dan hujan lipan pun terjadi. Sesuatu yang seharusnya membuat siapa saja bergidik, namun tidak bagi Ling Zizhou dan Meng Zhi.
Malahan, wajah keduanya seperti terlihat hidup kembali, dibandingkan beberapa saat yang lalu, ketika mereka barus saja keluar dari ilusi. Ling Zizhou dan Meng Zhi terlihat seperti telah kehilangan 10 tahun usia mereka.
"Hahaha! Serangga-serangga menjijikkan! Sini kalian!" seru Ling Zizhou dengan penuh semangat. Energi ledaknya begitu kuat hingga pedang miliknya mulai terlihat membara.
"Hati-hati Ah Zhou, sepertinya lipan-lipan ini memiliki racun," kata Meng Zhi.
"Tidak masalah!" kata Ling Zizhou dengan nada riang. Daripada berhadapan dengan ilusi lagi? Lebih baik menebas koloni lipan!
"CRAK, CRAK, CRAK,"
Suara capit di sekitar mulut lipan terus berbunyi, salah satu lipan berhasil berada sangat dekat dengan Ling Zizhou namun dimutilasi secara brutal oleh pedang-pedang yang berterbangan.
Meng Zhi mempiloti hingga seratus pedang dan menjangkau area serangan yang lebih luas daripada area serangan Ling Zizhou dan Jun Mo karena harus melindungi Saudara Bei dan rekannya juga.
Meng Zhi berdiri tegak sambil meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang, sikap istirahat yang terlihat nyaman. Kontras dengan Ling Zizhou yang harus berpindah-pindah dengan sangat cepat.
Ling Zizhou terlihat seperti sedang berteleportasi namun Meng Zhi selalu mengejeknya seperti kutu dan mendorongnya untuk berlatih lebih keras lagi agar mencapai ke tingkatan Master Yi.
Ling Zizhou selalu kesal melihat Meng Zhi yang dapat bertarung dengan gaya itu. Menjengkelkan, sungguh sangat menjengkelkan!
"Oraaa!" Ling Zizhou semakin bersemangat seperti orang yang baru saja disuntik insulin, atau seperti anak kecil yang terlalu banyak makan coklat.
Ling Zizhou, Meng Zhi dan Jun Mo berperan aktif dalam menangani lipan-lipan itu sehingga memudahkan Saudara Bei dan rekannya mencari titik lemah array.
"Kami menemukannya, kami akan memulai intervensinya," kata Saudara Bei. Ling Zizhou, Meng Zhi dan Jun Mo mengikuti kemanapun kedua pendekar bayangan itu tuju.
Namun tiba-tiba saja, seluruh ruangan bergemuruh. Bahkan getaran terasa hingga ke tanah dan akhirnya berhenti beberapa saat kemudian.
"Arraynya telah dinon-aktifkan!" seru Saudara Bei.
"Keluar! Kita menuju pintu keluar!" kata Meng Zhi. Semuanya segera berlari menuju pintu keluar ruangan.
Lipan-lipan juga sudah tidak berdatangan lagi karena setelah mengalahkan beberapa ekor, Ling Zizhou dan Meng Zhi tidak melihat lipan-lipan baru lagi.
Mereka segera berlari menuju lokasi seperti dalam peta tanpa memperdulikan lipan-lipan yang mengejar di belakang.
Mereka tidak tahu kapan array-array di dalam rumah lelang ini akan aktif kembali, jadi sebisa mungkin sebelum saat itu tiba, setidaknya mereka tiba lebih dulu di lokasi yang mereka tuju.
Saat sedang menaiki tangga, tiba-tiba Jun Mo berhenti karena melihat sosok berlumuran darah. Rambut pria itu acak-acakan. Pakaiannya pun sudah sobek di sana-sini.
"Saudara Heng!" seru Saudara Bei dan rekannya menghampiri pria yang masih saja bergeming meski sudah dipanggil.
__ADS_1
Ling Zizhou mengernyit karena hidungnya sensitif dengan bau-bau negatif. Ling Zizhou menarik ujung pakaian Meng Zhi untuk memberi tahu hal tersebut namun siapa saja yang melihat pasti lama-lama sadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan Saudara Heng.
"Saudara Bei, tunggu!" kata Meng Zhi.