
Sepuluh hari kemudian, tepatnya di kota X.
Pohon-pohon cemara masih terlihat di sekitar perimeter kota tersebut namun hanya di batas luarnya saja. Ada yang dibiarkan tumbuh di dalam kota agar lingkungan terlihat asri. Beberapa semak pakis pun masih dibiarkan tumbuh hanya saja lebih dirapihkan.
Jalanan di Kota X hanya berupa tanah alami seperti yang sering ditemukan di dalam hutan, tidak di paving ataupun di aspal sehingga cuaca sejuk masih terjaga meski kota tersebut di padati penduduk.
Bangunan-bangunan bergaya Hui masih menjadi ciri khas di kota ini. Kecil, besar, rumah pribadi, kios, bangunan organisasi, semuanya masih kental dengan gaya Hui.
Kota X berukuran sedang meski begitu sebagai salah satu kota yang menjadi pusat segala aktifitas termasuk aktifitas yang menyangkut dunia kultivasi, kota tersebut sangat ramai. Hiruk pikuk dapat terdengar dari pagi hingga malam.
Dan karena kota X telah tumbuh sebagai salah satu kota paling sibuk, banyak perusahaan transportasi yang menjual tiket mereka di sebuah tempat yang disebut Terminal.
Seharusnya, kota ini menjadi tujuan selanjutnya Mu Lian dan yang lain agar mereka bisa naik transportasi ajaib ke ibu kota.
Namun nampaknya Mu Lian dan yang lain masih tertahan di desa sebelumnya karena kondisi istri Huang Yiming yang belum stabil. Jadi hanya Xiaoxiao, Master Zhengheng serta anak buahnya lah yang paling pertama tiba di kota ini.
Ketiganya menginap di penginapan yang bernama 'Daun Seledri' untuk menanti kabar dari orang yang dipanggil 'tuan muda' oleh Master Zhengheng.
Ketika Master Zhengheng membicarakan orang tersebut, nada bicara Master Zhengheng penuh hormat dan kekaguman, begitu pula dengan sikap yang ditunjukkan oleh anak buah Master Zhengheng.
Master Zhengheng mengatakan bahwa tuan muda tersebut adalah atasannya, sehingga menjadikan dia adalah atasan Xiaoxiao juga. Jadi Xiaoxiao harus mulai menyiapkan diri untuk melayani tuan muda tersebut ketika nanti bertemu dengannya.
Xiaoxiao, Master Zhengheng serta anak buahnya tiba di kota X tepat hari ini ketika matahari sudah tepat di atas kepala.
Setelah mereka check in dan membersihkan diri, ketiganya pergi ke restoran yang berada di depan penginapan untuk makan siang, sekaligus membuat rencana untuk ke depannya.
Seusai makan, Xiaoxiao berpisah dengan Master Zhengheng di depan pintu restoran karena Master Zhengheng harus ke pos pusat untuk mengambil surat dari tuan muda.
"Master pergi dulu, segera kembali ke kamarmu dan beristirahatlah," kata Master Zhengheng.
"Um. Hati-hati, master," kata Xiaoxiao. Master Zhenheng mengangguk kemudian pergi bersama anak buahnya meninggalkan Xiaoxiao yang masih penasaran dengan jati diri masternya serta sosok tuan muda yang sering dibicarakan itu.
Apalagi Mu Lian sudah sering bertanya kepada Xiaoxiao mengenai hal tersebut. Sayangnya Xiaoxiao belum diberi informasi apapun.
"Permisi nona, kami ingin lewat," kata suara pemuda di belakang Xiaoxiao.
Xiaoxiao yang dari tadi menghalangi pintu masuk pun segera bergeser memberi jalan sambil melihat orang-orang di belakangnya. Si pelayan restoran juga ternyata ada di tengah-tengah orang-orang tersebut.
"Ah, ma-maaf," kata Xiaoxiao gugup kepada tiga orang bertelinga kelinci tersebut.
Dua pemuda dan satu gadis kelinci lebih tepatnya. Tubuh mereka terlihat sama persis dengan manusia namun ekor, telinga serta kumis mereka memiliki karakteristik kelinci. Mereka adalah penduduk pribumi negeri Mao.
"Tidak masalah," kata si pemuda dengan telinga berwarna coklat tersebut.
Setiap individu memiliki warnanya masing-masing. Dan warna asli mereka dapat dilihat dari warna rambut serta telinga mereka.
Ketiga orang tersebut kemudian pergi, Xiaoxiao melihat si pelayan restoran yang dibalas dengan senyuman oleh si pelayan tersebut. Xiaoxiao pun kembali ke penginapan.
Beberapa orang yang berpapasan Xiaoxiao di sepanjang perjalanan menuju kamarnya menyapa Xiaoxiao dengan senyuman ataupun dengan anggukan.
Diantara orang-orang bertelinga kelinci, ada juga manusia. Kedua ras tersebut berbaur dan tidak peduli dengan perbedaan.
Ada juga beberapa orang misterius yang bersikap seakan tidak peduli pada kehidupan di sekelilingnya. Mereka adalah kultivator.
Master Zhengheng pernah mengatakan kepadanya bahwa ada banyak kultivator yang bersikap seakan tidak peduli pada kehidupan di sekelilingnya. Semakin tinggi tingkat kultivasi mereka, semakin acuh mereka terhadap kehidupan duniawi.
Namun Xiaoxiao benar-benar tidak mengerti ucapan Master Zhengheng. Karena Meimei dan Meng Zhi tidak seperti ucapan Master Zhengheng.
__ADS_1
Bahkan Mu Haocun dan Master Yi, yang tingkat kultivasinya tidak Xiaoxiao ketahui pun tidak demikian. Master Zhengheng pun tidak demikian.
Xiaoxiao masuk ke dalam kamar, kemudian segera tidur. Ketika bangun, Xiaoxiao melihat hari sudah sore namun jam makan malam masih sekitar tiga jam lagi.
Xiaoxiao pun menunggu waktu makan malam sambil membaca surat-surat dari Han Tengfei.
Terlihat tulisan yang sangat rapih dengan garis-garis tegas milik seorang pemuda di permukaan kertas.
Di penghujung surat selalu ada kalimat penutup; 'Kutunggu surat darimu, Dari Han Tengfei'. Semenjak berpisah dengan Han Tengfei di Lembah Ufuk Timur, Xiaoxiao telah sering bertukar surat dengannya.
Kecuali hari ini, Xiaoxiao lupa menitipkan surat balasan untuk Han Tengfei kepada Master Zhengheng. Akhirnya Xiaoxiao hanya bisa mengingatkan dirinya untuk pergi ke pos pusat besok.
Namun Xiaoxiao harus merubah rencananya untuk mengirimkan surat balasan ke pos pusat karena Master Zhengheng mengatakan bahwa mereka akan berangkat ke negeri Chen keesokan harinya.
Anak buah Master Zhengheng pun telah berhasil membeli tiket perjalanan menuju negeri Chen tadi sore.
Xiaoxiao hanya bisa berkompromi karena termakan bujukan Master Zhengheng bahwa Xiaoxiao bisa mengirimkan suratnya dari negeri Chen.
Keesokan harinya, anak buah Master Zhengheng mengisi ulang perbekalan sedangkan Xiaoxiao dan Master Zhengheng bersiap-siap serta menunggu penginapan.
Anak buah Master Zhengheng hanya memiliki waktu beberapa jam saja untuk mengisi ulang perbekalan sebelum akhirnya membawa Xiaoxiao dan Master Zhengheng ke Terminal.
Master Zhengheng menjelaskan bahwa transportasi yang akan membawa mereka ke negeri Chen tersebut berbentuk kapal yang sangat megah dan beroperasi setiap lima hari sekali. Dan hari ini bertepatan dengan hari beroperasinya kapal tersebut.
Xiaoxiao, Master Zhengheng serta anak buahnya memasuki bangunan yang menyerupai stadion itu. Hanya saja bangunan tersebut dibangun dengan pondasi yang lebih tinggi.
Ketiganya menaiki anak tangga-anak tangga menuju pintu masuk terminal. Sudah banyak sekali orang-orang berlalu lalang di sana.
Manusia, manusia kelinci, tua, muda, sendirian, berkelompok dan lain sebagainya. Meski begitu, suasana di Terminal masih terasa kondusif karena semua orang yang datang ke Terminal tertib mengikuti peraturan.
Bagian dalam stadion terlihat menyerupai stasiun kereta api, terdapat peron-peron sejauh mata memandang.
Kemudian setiap peron diisi oleh beberapa alat transportasi yang terlihat seperti sedang berbaris dengan rapih.
Alat transportasi tersebut memiliki berbagai macam bentuk; palanquin, sekoci, kapal laut, burung dan lain sebagainya.
Alat transportasi berbentuk palanquin dan sekoci merupakan bentuk paling umum di terminal ini dimana kedua transportasi ini digunakan untuk berpergian dengan jarak tempuh yang dekat.
Sisanya, termasuk alat transportasi berbentuk kapal megah yang akan dinaiki Xiaoxiao, digunakan untuk berpergian dengan jarak tempuh yang jauh. Misalnya saja lintas negeri.
Hiruk pikuk mewarnai sepenjuru terminal. Orang-orang yang sudah memiliki tiket menunggu waktu keberangkatannya di peron masing-masing.
Sedangkan, orang-orang yang belum memiliki tiket terlihat mengantri di loket pembelian tiket yang terletak di sisi lain terminal, agak jauh dari peron.
"Master, transportasi kita sudah menunggu di lorong ke 24. Setengah jam lagi mereka akan berangkat," kata anak buah Master Zhengheng.
"Baik, terimakasih. Ayo, Xiao'er. Perjalananmu ke negeri Chen sebentar lagi akan dimulai," kata Master Zhengheng.
Xiaoxiao sangat gugup hingga tidak bisa membalas kata-kata Master Zhengheng. Dengan jantungnya yang berdegup kencang dan perutnya yang sedikit mulas, Xiaoxiao mengikuti Master Zhengheng ke lorong 24.
Lorong yang dituju Xiaoxiao terletak sangat jauh dari pintu masuk Terminal. Membuat kegugupan yang dirasakan Xiaoxiao semakin menjadi.
Xiaoxiao pun mencoba memerhatikan lingkungan disekitarnya yang semakin lama semakin jarang orang.
"Kenapa di lorong ini semakin sepi, master?" tanya Xiaoxiao penasaran.
"Karena lorong-lorong di atas lorong ke 15 adalah keberangkatan menuju tempat-tempat yang jauh. Tidak semua orang berpergian ke tempat jauh pada hari-hari biasa seperti ini," jawab Master Zhengheng.
__ADS_1
Xiaoxiao pun baru mengerti mengapa anak buah Master Zhengheng bisa dengan mudah mendapatkan tiket keberangkatan menuju negeri Chen meski belinya mendadak.
Xiaoxiao mengangguk. Dia kemudian mengamati alat transportasi di lorong-lorong ini dengan bentuknya yang megah. Xiaoxiao sampai harus mendongak untuk melihat bagian tertinggi dari alat transportasi tersebut.
"Master, apakah ada maksud mengapa alat transportasi yang membawa kita ke tempat yang jauh dibangun sedemikian besarnya?" kata Xiaoxiao.
"Ah, itu. Tidak perlu khawatir. Mereka dibangun menjadi sangat besar sebagai jaminan keamanan saja kok," kata Master Zhengheng tersenyum.
"Maksud master?" kata Xiaoxiao semakin bingung. Namun Master Zhengheng tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya memimpin Xiaoxiao menuju kapal megah di depan mereka.
Xiaoxiao melihat papan bertuliskan Lorong 24 dan melihat ada lima orang yang sedang mengantri di dekat tangga kayu yang disiapkan untuk membantu penumpang naik ke kapal.
Tak lama, kelompok beranggotakan lima orang tersebut diijinkan menaiki kapal oleh petugas yang memeriksa tiket mereka.
Sekarang giliran Xiaoxiao, anak buah Master Zhengheng maju untuk mengurus regristrasi Xiaoxiao, Master Zhengheng sekaligus miliknya.
Beberapa menit kemudian, Xiaoxiao mengikuti Master Zhengheng serta anak buahnya menaiki kapal.
...
"Xiao'er, bagaimana? Sudah baikan?" kata Master Zhengheng sambil memberikan air minum kepada Xiaoxiao.
Xiaoxiao menerimanya kemudian menenggak air tersebut. Semua gerakan dilakukan Xiaoxiao secara perlahan-lahan. Xiaoxiao masih merasa mabuk setelah menumpangi kapal ajaib selama lima hari. Jadi perut Xiaoxiao mudah merasa mual jika bergerak dengan tiba-tiba.
"Sudah, master. Terimakasih. Bagaimana dengan tuan muda? Aku minta maaf karena tidak bisa ikut hadir dalam pertemuan hari ini," kata Xiaoxiao dengan nada khawatir.
Xiaoxiao takut bahwa dengan ketidakhadirannya pada pertemuan tersebut membuat Master Zhengheng terlihat buruk di hadapan tuan muda.
Ketika tiba di negeri Chen, Xiaoxiao benar-benar tidak bisa berdiri tegak saking mabuknya sehingga Master Zhengheng menghadap tuan muda tanpa membawa serta Xiaoxiao.
Dalam pertemuan tersebut, Master Zhengheng menjelaskan bahwa dirinya telah mengangkat seorang murid.
Master Zhengheng juga menjelaskan bahwa Xiaoxiao baru pertama berpergian, apalagi dengan kapal ajaib, jadi Xiaoxiao mengalami mabuk kendaraan.
"Tenang saja. Tuan muda mengerti dan menitipkan salam agar Xiao'er lekas sembuh," kata Master Zhengheng.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," kata Xiaoxiao lega.
"Xiao'er fokus saja pada pemulihanmu. Tiga hari lagi master akan membawamu ke hadapan tuan muda. Master juga akan mengenalkanmu kepada seluruh orang-orang klan Xuanwu," kata Master Zhengheng.
Mendengar kata *Xuanwu dari mulut Master Zhengheng, Xiaoxiao menarik napas dalam. Ternyata masternya berasal dari Dunia Zhongjian!
"Master..."kata Xiaoxiao namun tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ada kesan horor yang dipancarkan mata Xiaoxiao. Jati diri Master Zhengheng terlalu besar bagi Xiaoxiao yang berasal dari dunia bawah ini.
"Haha, maaf, master merahasiakannya darimu. Master hanya ingin terlihat misterius saja," kata Master Zhengheng berusaha mencairkan suasana.
Mu Haocun, Master Yi, Meng Zhi, dan Meimei sudah mengetahui jati diri Master Zhengheng. Hanya Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou saja yang belum mengetahui jati diri Master Zhengheng.
Karena Mu Haocun tidak mau repot-repot menjelaskan jati diri Master Zhengheng kepada Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou, kesempatan ini digunakan Master Zhengheng untuk terlihat lebih misterius di mata anak-anak remaja itu.
.........
Note:
* Xuanwu (Black Tortoise/Turtle-Snake)
__ADS_1