Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Rahasia Xiaoleng


__ADS_3

"Hei Han tua, kau gila ya, sampai membuat Master Hong Bai marah. Yang Mulia sampai menyuruhku mengawasimu!" kata Wei Cheng menghampiri Han Shi tapi kemudian berhenti beberapa meter setelah melihat Han Shi sedang mengetes Mu Lian.


"Jangan berisik..." kata Han Shi sambil terus memejamkan matanya.


"Astaga tuan putri terus melakukan sesuatu yang berbahaya," kata Wei Cheng.


"..."


Han Shi menghiraukan Wei Cheng yang terus saja berbicara tanpa henti hingga akhirnya Wei Cheng bertanya, "Ini sudah 20 menit, apa tuan putri mengalami kesulitan?"


"Tidak. Tuan putri melalui tes kali ini dengan sangat...baik...memang tes nya saja yang semakin sulit..." kata Han Shi.


"Ah, sebentar lagi selesai..." kata Han Shi sambil membuka mata.


Tak lama, gelombang penuh chi meloncat keluar dari tubuh Mu Lian. Gelombang kejutnya sampai membuat ****** beliung kecil di sekitar sana.


Setelah Mu Lian membuka mata, Han Shi pun segera menjawab dengan sedetail mungkin semua pertanyaan dari Mu Lian.


"Tuan putri, kumohon jangan ambil tes untuk beberapa bulan ke depan. Sekedar informasi, tes selanjutnya akan lebih sulit. Jadi kuminta untuk mempertimbangkan matang-matang," kata Han Shi.


"Benar, Master Hong Bai sudah mengancam akan menghukum kami jika terjadi apa-apa padamu," kata Wei Cheng.


"Saya mengerti. Beberapa bulan ke depan ini juga saya akan fokus melatih energi spiritual saya, jadi tenang saja. Oh iya, kumohon jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu," kata Mu Lian tersenyum kecut.


Sejak sebulan yang lalu, Mu Lian mendengar Bei Huaiwei, Han Shi dan Wei Cheng menyebutnya tuan putri. Sebutannya mulai terdengar setelah Mu Lian berhasil menyelesaikan tes pertama.


"Sudah kami bilang bahwa kau pantas dipanggil tuan putri. Lagi pula darahmu itu keturunan bangsawan orisinal," kata Han Shi.


Tetap saja Mu Lian tidak pernah terbiasa mendengar panggilan seperti itu. Yang tidak Mu Lian ketahui adalah Mu Haocun dan keluarganya pun memang menyandang gelar bangsawan tingkat tinggi hingga sebutannya sudah seperti di anggota kerajaan yaitu pangeran dan tuan putri.


Mu Lian hanya tidak tahu saja dan Mu Haocun pun hanya memikirkan penelitian, penelitian dan penelitian.


Tak kalah kutu bukunya juga seperti Mu Lian. Sering membaca buku mengenai tanaman herbal padahal mereka sudah berulang-ulang membacanya.


Mu Lian memikirkan kakek buyutnya itu dan memiliki firasat bahwa ada yang belum diberitahu oleh Mu Haocun.


Namun Mu Lian tidak memikirkan informasi apa yang belum diberitahukan oleh Mu Haocun itu kepada dirinya karena lebih tertarik kepada hewan-hewan eksotik yang akan dipeliharanya di dalam gerobak.


Belum lagi Mu Lian harus terus memantau jumlah akselerator serta chi yang tersebar di dalam gerobak disamping kegiatannya membuat pil dan mengajar.


Saat Mu Lian kembali ke dalam gerobak, anak-anak sudah masuk ke dalam dunia mimpi masing-masing.


Xiaobai yang menunggu Mu Lian disamping Mu Haocun terlihat seperti ayam yang mematuk-matuk beras.


Mu Haocun tampak duduk diantara permukaan Cermin Langit yang sedang menunjukkan pemandangan di sekitar Pohon Persemayaman.


Mungkin karena terpengaruh pemandangan yang ditunjukkan diluar, suasana di ruang kendali menjadi sangat hening seperti tidak ada kehidupan.


Mu Haocun terlihat seperti patung tak dikenal di tempat entah berantah. Kesepian dan tak lekang oleh waktu.


"Kakek," sapa Mu Lian.


"Lian'er bagaimana keadaan diluar?" kata Mu Haocun.


"Semuanya sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Hari ini sepertinya mereka mulai libur eksplorasi jadi semua anggota lengkap..." kata Mu Lian menceritakan kabar terbaru dari luar gerobak.


"Lian jie, aku bosan disini terus. Kapan aku bisa keluar lagi?" kata Xiaobai.


Xiaobai mengelus-ngeluskan kepalanya kemudian rebahan dan menunjukkan perut gembulnya. Sayapnya tergeletak begitu saja di atas paha Mu Lian.


"Kau ini juga baru sembuh beberapa hari yang lalu kan? Mungkin harus melihat kondisimu dulu selama dua minggu ke depan," kata Mu Lian.


"Bukan hanya aku saja loh yang bosan dan ingin keluar...hmm...bagaimana ekspresi bocah-bocah itu jika mendengar kabar ini," kata Xiaobai.


Mu Lian tahu pasti. Setiap pai saat kelas berlangsung, wajah anak-anak terlihat lesu. Mereka memaksa untuk mengikuti kelas karena setidaknya mereka memiliki kegiatan.


"Aku sebenarnya tidak tega memberitahukan ini kepada mereka, tapi lebih baik diberitahu daripada mereka tidak tahu secara pasti kapan kurungan ini berlangsung," kata Mu Lian.

__ADS_1


"Kenapa Xiaobai? Protes lagi?" kata Mu Haocun melihat posisi protes Xiaobai yang ditunjukkan dengan posisi rebahan menunjukkan perutnya itu.


"Iya. Sabar ya Xiaobai...ah, kakek aku sudah mendapat list hewan-hewan yang akan dipelihara. Tadi Ah Jing membantuku membuat list ini," kata Mu Lian.


Mu Lian mendiskusikan hewan-hewan yang karakteristiknya lebih tenang, cerdas hingga mengerti apa yang diucapkan manusia dan memiliki empati yang tinggi.


Dan setelah dibantu menentukan hewan-hewan tersebut, Mu Haocun membersihkan tenggorokannya kemudian berkata, "Sejak kapan kau menjadi sangat dengan dengan pemuda bernama JIng ini, tunggu, kau sudah memanggilnya dengan namanya?"


"Memangnya aku harus memanggilnya dengan panggilan apa? ah Zhou dan yang lain juga memanggilnya begitu," jawab Mu Lian enteng.


Mu Haocun menatap mata sebening kristal yang juga balas menatapnya. Mata tersebut sangat tenang, tidak terpengaruh bahkan dengan obrolan seperti ini. Melihat reaksi Mu Lian yang biasa saja, Mu Haocun mengalihkan topik.


Karena Meng Zhi, Ling Zizhou dan Master Yi harus menjauh dari gerobak dulu, pelajaran anak-anak jadi sedikit kacau.


Xu bersaudara ditunjuk menjadi guru pengganti semenjak ketiga guru asli tidak bisa mengajar. Apalagi sekarang Meimei yang tidak boleh bangun dari kasur.


Koki pengganti Meimei dan Ling Zizhou, secara mengejutkannya, adalah Du Luhan. Jadilah ketiga orang tersebut akhir-akhir ini memang sering terlihat berlalu lalang di dalam gerobak.


Tiap seminggu sekali, Mu Haocun menuliskan materi-materi yang harus diajarkan oleh guru masing-masing mata pelajaran. Setidaknya untuk saat ini.


Yang pertama karena adanya guru pengganti dan yang kedua adalah untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar.


Untuk saat ini anak-anak tidak bisa berlama-lama belajar karena kondisi tubuh mereka yang belum fit, belum stabil dari usaha untuk beradaptasi.


Jadi Mu Haocun merancang kegiatan belajar mengajar yang meski tidak memakan waktu terlalu lama, inti dari pelajaran masih bisa disampaikan secara efektif.


Mu Lian mengeluarkan beberapa lembar kertas dan mulai menulis saran kegiatan belajar mengajar dari Mu Haocun tersebut.


Besok, pagi sekali, Mu Lian akan menyerahkan ke guru-guru bersangkutan untuk digunakan minggu depannya.


Kebetulan minggu ini masih tersisa 3 hari lagi, dan masih menggunakan rancangan yang dibuat minggu lalu.


"Selamat malam kakek," kata Mu Lian pamit tidur.


Mu Lian membawa serta Xiaobai yang kini sudah tertidur lelap dalam pangkuannya.


"Selamat pagi Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng, Xiaojia," kata Mu Lian sambil memeriksa keempat anak tersebut satu persatu.


Keempatnya membalas dan mulai menjelaskan apa yang saat ini mereka rasakan. Mu Lian merasakan kuli keempat anak tersebut masih panas dan mata mereka belum terlalu fokus.


Keempatnya masih dibawah pengaruh demam, terkadang kesadaran mereka menghilang detik berikutnya timbul lagi ke permukaan.


Untungnya, keempat anak itu masih bisa menjawab pertanyaan Mu Lian dan mengatakan apa yang mereka rasakan.


Hal tersebut merupakan salah satu bukti kemajuan mereka dari kondisi sebelumnya. Xiaobai, yang telah mengalami sakit juga berempati kepada anak-anak sehingga saat ini dia menghibur anak-anak dengan duduk di kepala keempat anak itu.


Ketika Mu Lian sedang memeriksa Xiaobao, Xiaobai duduk diatas kepala Xiaobao, begitu seterusnya hingga yang terakhir diperiksa, Xiaohua.


"Lian jie, Xiaoqi dan Xiaofu sudah dipindahkan supaya dekat dengan kami, tapi kenapa keadaan mereka belum membaik?" kata Xiaohua melirik dengan gugup ke arah Xiaoqi dan Xiaofu yang masih terbaring tak bergerak tak jauh dari mereka.


Xiaoqi dan Xiaofu, semenjak jatuh sakit untuk yang pertama kalinya tidak pernah bangun dan terus berada dalam keadaan koma.


Sebaliknya, yang lain melewati siklus sakit-sembuh-sakit-sembuh begitu seterusnya selama rentang beberapa bulan ini.


Namun setidaknya mereka masih bisa makan sepuasnya untuk mengisi ulang tenaga mereka yang habis setelah demam beberapa hari.


Hal yang tidak bisa dilakukan Xiaoqi dan Xiaofu. Mu Haocun mengatakan bahwa jika tidak segera bangun dalam satu bulan ini, kondisi kedua anak tersebut merosot hingga titik terendah dan tidak bisa diselamatkan lagi.


Awalnya Mu Lian mengira Xiaoqi dan Xiaofu harus dipisahkan di ruang tersendiri dan dirawat secara intensif namun tidak demikian.


Tidak ada perubahan apa-apa bahkan cenderung menurun. Hingga anak-anak yang lain sering menjenguk dan mengajak ngobrol Xiaoqi dan Xiaofu.


Akhirnya, Mu Lian memindahkan Xiaoqi dan Xiaofu untuk dirawat bersama anak-anak yang lain.


Ada sedikit perubahan namun karena terus berada dalam keadaan koma, keduanya bisa kehilangan nyawa.


Mu Lian menatap jarum-jarum tipis yang disusun sedemikian rupa, merupakan penopang hidup kedua anak itu.

__ADS_1


Helaian tipis serat tanaman khusus yang mampu digunakan sebagai pengganti selang infus tersambung pada jarum-jarum tersebut.


Dari baliknya terlihat cairan berwarna hijau terang mengalir tanpa henti masuk ke dalam tubuh Xiaoqi dan Xiaofu.


Karena Mu Haocun mempertimbangkan bahwa jarum-jarum milik Mu Lian dibutuhkan untuk keadaan darurat, Mu Haocun meminjamkan jarum-jarum miliknya kepada Mu Lian.


Dan yang menyambungkan jarum-jarum tipis itu dengan serat-serat khusus tersebut dilakukan semuanya oleh Mu Lian karena Mu Haocun mengaku bahwa jika dia yang melakukannya cederanya akan terasa sakit lagi.


Mu Lian menatap jarum-jarum milik Mu Haocun kemudian berkata, "Aku dan kakek masih terus berusaha mencari jalan keluar.


Dan maaf kalau aku terlambat memberitahukan ini kepada kalian...Xiaoqi dan Xiaofu berada dalam keadaan kritis jadi...aku berharap kalian siap menghadapi yang terburuk,"


Semuanya terdiam. Mu Lian pun begitu. Belajar dari pengalamannya, Mu Lian bukan Tuhan dan tidak akan bisa menyelamatkan semuanya.


Kondisi Xiaoqi dan Xiaofu saat ini seperti sudah kehilangan harapan karena Mu Lian belum menemukan apa penyebab kondisi tersebut.


"Aku tahu ini berat buat kalian, awalnya aku juga tidak akan memberitahukan ini kepada kalian. Tapi hey, keluarga tidak pernah menyembunyikan rahasia diantara mereka bukan?" kata Mu Lian mengusap kepala Xiaohua karena saat itu air mata mengalir deras di wajah anak itu.


Xiaobai juga turun ke pangkuan Xiaohua dan memeluk anak itu. Xiaohua meremas bola bulu berwarna putih yang terasa sangat lembut itu ditangannya.


Setelah Mu Lian berhasil menenangkan Xiaohua, Mu Lian menyuruh Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng dan Xiaojia untuk beristirahat.


Namun ketika baru sampai pintu, Xiaoleng bangkit dari tempat tidurnya dan menyusul Mu Lian. Gerakan tiba-tibanya itu membuat Xiaoleng oelng dan nyaris terjatuh. Untung Mu Lian segera menangkapnya.


"Ada apa? Kenapa kau bangun? Ayo kembali," kata Mu Lian.


"Tidak. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Lian jie," kata Xiaoleng.


Melihat tatapan Xiaoleng dan sinyal yang diberikan dari Xiaojia, Mu Lian tidak bisa menolak dan membawa Xiaoleng ke kamar sebelah.


Xiaoleng dibaringkan di kasur yang bersih tanpa debu namun tidak pernah dihuni oleh siapapun itu. Karena keajaiban dari gerobaklah kamar-kamar di semua rumah di dalam gerobak tidak pernah kotor dan berdebu.


"Ada apa? Kau mau cerita apa?" kata Mu Lian.


"Sebenarnya..." kata Xiaoleng bercerita dengan terbata-bata.


Cerita dimulai ketika sekte aliran sesat menyerang Desa Jinan. Anak-anak ditangkap dan disekap dalam satu kamar yang sama.


Kehidupan mereka tidak pernah lepas dari bentakan dan siksaan orang-orang sekte aliran sesat. Kalau orang-orang itu marah kepada anak-anak, anak-anak tidak diberi makan selama beberapa hari.


Dan dua orang yang melindungi mereka dan bersuara paling keras diantara mereka adalah Xiaoqi dan Xiaofu.


Keduanya hanya lebih tua beberapa bulan saja dari Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng dan Xiaojia namun merasa bertanggung jawab untuk melindungi semuanya.


Kedua orang tua Xiaoqi dan Xiaofu juga merupakan kepala desa serta wakil kepala desa yang memiliki kultivasi cukup tinggi untuk melawan sekte aliran sesat. Sayang mereka kalah jumlah.


Xiaoqi dan Xiaofu dididik untuk menjadi anak pemberani dan membela yang lemah. Sehingga keduanya rela jadi pelampias kemarahan orang-orang yang menyekap mereka.


Hingga suatu hari, Xiaoqi dan Xiaofu sering diseret keluar dan baru dikembalikan setelah seharian penuh.


Keduanya terlihat sangat lelah dan lemas meski tidak terlihat luka-luka dari tubuh mereka, Xiaoleng curiga bahwa luka-luka mereka telah disembuhkan.


Mulai dari hari itu Xiaoqi dan Xiaofu jadi lebih pendiam. Bahkan ada saat dimana keduanya terlihat sangat ketakutan dan mudah terkejut ketika didekati. Selama beberapa saat keduanya meminta untuk tidak didekati secara tiba-tiba.


Meski demikian, keduanya tetap tabah dan ketika berhadapan dengan orang-orang sekte aliran sesat yang semena-mena, keduanya tetap mempertahankan sikap agresif mereka.


"Suatu waktu aku pernah bertanya kepada Xiaofu kenapa mereka berani memprovokasi orang-orang itu, Xiaofu menjawab semuanya dilakukan agar kemarahan hanya dilampiaskan kepada mereka saja. Cukup mereka saja yang merasakannya," kata Xiaoleng terisak.


Xiaoleng berkata mulai dari hari itu, keduanya terlihat menyimpan rahasia besar yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Beban tersebut mereka bawa hingga saat ini ketika keduanya berubah menjadi sangat pendiam.


Xiaoleng menceritakan hal ini karena takut ada sangkut pautnya dengan kondisi mereka yang terus berada dalam keadaan koma.


"Terimakasih sudah mau menceritakan ini kepadaku," kata Mu Lian mengelus kepala Xiaoleng.


"I-iya, Lian jie juga bi-bilang kan, kalau ke-keluarga tidak me-menyembunyikan rahasia dari keluarga mereka sendiri?" kata Xiaoleng masih terisak. Mu Lian mengangguk. Cerita ini...Mu Lian sampai tidak bisa berkata-kata.


Mu Lian segera mengembalikan Xiaoleng, merawatnya karena tiba-tiba demamnya naik lagi kemudian segera kembali ke Mu Haocun untuk menceritakan penemuannya.

__ADS_1


"Astaga..." kata Mu Haocun memijat keningnya.


__ADS_2