
"Laogong, tetap waspada dan jaga dirimu baik-baik," kata Meimei tersipu.
Ling Zizhou tersedak napasnya sendiri mendengar kemesraan Meng Zhi dan Meimei. Tidak tahan dengan pemandangan di depannya, Ling Zizhou membuang muka.
Di pojok terdalam gua, Mu Lian sedang dalam posisi meditasi. Baru selang sehari Mu Lian sudah tenggelam dalam meditasinya.
Pagi ini, setelah melakukan peregangan bersama dirinya, Mu Lian langsung duduk dan bermeditasi. Ling Zizhou sampai kehabisan kata-kata karena diacuhkan gadis itu.
Ling Zizhou mengingat gadis yang sudah dikenalnya selama hampir tiga bulan itu. Awalnya Ling Zizhou enggan membuka pembicaraan dengan gadis itu sama seperti yang dirasakannya pada orang di sekitar dirinya.
"Zizhou, jangan menunggu Lian'er. Kau tahu sendiri kan kalau sudah bermeditasi, gadis itu tidak akan sadar bahkan ketika kantung dimensionalnya dicuri," kata Meng Zhi.
"Benarkah? Aku penasaran ingin mengambil kantung dimensionalnya," gumam Ling Zizhou.
Meng Zhi yang berdiri di dekat Ling Zizhou sehingga mendengar ucapan Ling Zizhou. Telapak tangannya menepuk belakang kepala Ling Zizhou.
"Kita berangkat!" kata Meng Zhi.
"Aw," rintih Ling Zizhou.
Ling Zizhou mengikuti Meng Zhi ke luar gua. Rencananya mereka akan berpatroli di sekitar perimeter gua untuk mengusir spirit beast yang terlalu dekat dengan gua.
Meng Zhi memimpin menyusuri hutan. Dua puluh menit kemudian mereka menemukan tipe penjebak. Meng Zhi memeriksa tingkat tipe penjebak tersebut, setelah dipastikan tingkat 2, Ling Zizhou maju untuk menangani tipe penjebak tersebut.
Meng Zhi mengaktifkan indra spiritualnya. Indra spiritual Meng Zhi melewati udara sekitar serta pepohonan, seperti radar, Meng Zhi merasakan makhluk apa saja yang ada di sekitar mereka.
Meng Zhi mengawasi Ling Zizhou yang sedang menghindari jebakan-demi jebakan,mendekati sebuah pohon. Ketika Ling Zizhou menumbangkan pohon dan tipe penjebak menampakkan diri dari balik dedaunan, sesosok makhluk masuk dalam jangkauan indra spiritual Meng Zhi.
"Zizhou, ada seekor spirit beast sedang menuju ke sini, aku akan memeriksanya," kata Meng Zhi.
"Tunggu senior," kata Ling Zizhou sambil memenggal kepala tipe penjebak "Kita tidak tahu tipe spirit beast itu jadi sebaiknya kita tetap bersama-sama,"
"Baiklah," kata Meng Zhi. Ling Zizhou memasukan bangkai tipe penjebak ke dalam ke kantung dimensional kemudian berlari menyusul Meng Zhi.
"Hmm dia berlari dengan kecepatan tinggi dan menuju lurus tepat ke arah kita," kata Meng Zhi sambil berhenti berlari. Ling Zizhou berhenti di sebelah Meng Zhi.
Ling Zizhou dan Meng Zhi berdiri menatap arah datangnya spirit beast. Beberapa saat kemudian, Ling Zizhou dapat mendeteksi spirit beast tersebut dengan indra spiritualnya.
"Kita lihat spirit beast tipe apa yang datang kali ini?," kata Meng Zhi.
"Senior, mari kita menentukan lokasi untuk berkumpul kembali. jika spirit beast yang datang kali ini tipe pelacak, siapapun yang di tandai akan pergi ke lokasi tersebut," kata Ling Zizhou.
Berlari sendirian di hutan merupakan pilihan paling buruk, sebisa mungkin Ling Zizhou ingin segera berkumpul dengan Meng Zhi jika dirinya terpisah.
"Oh. Aku akan menandaimu dengan spiritualku. Aku mungkin akan sedikit kesulitan mencarimu jika kau berada di luar jangkauan indra spiritualku, jadi sebaiknya kau mencari tempat yang aman untuk bersembunyi," kata Meng Zhi.
Ling Zizhou hendak memberitahu lokasi untuk berkumpul namun Ling Zizhou merasakan tanah di bawah kakinya bergetar. Dentuman sayup-sayup terdengar disertai derak pohon tak jauh dari mereka.
Seekor spirit beast yang seluruh tubuhnya ditumbuhi sesuatu menyerupai karang berlari menuju Ling Zizhou.
Meng Zhi segera menghadang spirit beast itu sedangkan Ling Zizhou berlari sekuat tenaga menjauhi spirit beast itu.
"Ha-, benar-benar. Sepertinya di sekitar gua banyak spirit beast tingkat tiga, untung saja Zizhou yang ditandai," kata Meng Zhi sambil menyerang dan bertahan.
...
Ling Zizhou berlari menggunakan qinggong sambil mengaktifkan indra spiritualnya, memang masih lemah dibandingkan kultivator tingkat pembentukan inti ke atas namun masih dapat digunakan untuk mendeteksi hingga beberapa meter.
Bayangan pohon-pohon berkelebat di kiri dan kanan Ling Zizhou. Rambutnya yang panjang berkibar di belakang. Tiba-tiba indra spiritualnya mendeteksi sebuah makhluk.
Ling Zizhou berlari menghampiri makhluk tersebut, kali ini tidak menggunakan ginggong karena dia harus siap ketika makhluk itu menyerang.
Seekor spirit beast berkaki empat sedang mengendus udara sekitar. Ketika Ling Zizhou berada 20 meter dari makhluk itu, Ling Zizhou melihat si rakus menatap ke arahnya.
Tanpa basa-basi si rakus menerjang Ling Zizhou. Ketika berada dalam jarak yang cukup dekat dengan si rakus, Ling Zizhou melihat duri-duri berbentuk pipih mengilap menonjol di seluruh tubuh si rakus.
Ling Zizhou mengernyit, namun tetap mengeluarkan jian dari sarungnya. Duri-duri yang menyelimuti tubuh si rakus memancarkan kilat-kilat listrik, kemudian menyelimuti seluruh cakarnya yang mengilap.
Ling Zizhou menggunakan qinggong mundur beberapa meter dari si rakus. Ketika cakarnya menghantam tempatnya berdiri kilat menyambar diiringi suara dentum menggelegar.
Jika saja dirinya terlambat mundur nasibnya akan sama dengan tanah yang gosong dan hancur lebur itu. Untungnya gerakan si rakus tidak secepat tipe pelacak jadi Ling Zizhou dapat menghindari serangan maut tersebut.
Meski begitu, keganasan si rakus dan tipe pelacak berada di tingkat yang sama. Mereka sama-sama menyerang secara membabi buta, mengejar kemanapun mangsa pergi.
Serangan demi serangan yang mengandung petir dilancarkan si rakus. Ling Zizhou terus menjaga jarak dan menangkis beberapa petir yang mengenai dirinya dengan ilmu jian nya.
__ADS_1
Ling Zizhou mengambil langkah dengan sangat hati-hati karena tingkat si rakus di hadapannya adalah tingkat 3. Satu tingkat di atas tingkat kultivasi Ling Zizhou.
Dilihat dari segi kuantitas dan kualitas chi yang dimiliki sangat jauh berbeda. Maka dari itu Ling Zizhu menutupi kekurangan tersebut dengan ilmu jian nya yang berada dalam tingkat kesadaran.
Cakar si rakus menghantam jian Ling Zizhou dengan keras. Denting terdengar ketika jian milik Ling Zizhou dan cakar si rakus beradu. Petir mengalir dari cakar si rakus berusaha menyelimuti tubuh Ling Zizhou.
Ling Zizhou yang sudah menyelimuti tubuhnya dengan chi masih merasakan sengatan listrik si rakus yang membuat seluruh tubuhnya terasa seperti kesemutan.
Ling Zizhou menggertakan gigi. Kemudian si rakus mengangkat cakar satunya membuat tekanan pada cakar yang sedang di tahan dengan jian milik Ling Zizhou berkurang.
Ling Zizhou menggunakan kesempatan tersebut untuk keluar dari jangkauan cakar-cakar si rakus. Ling Zizhou terus menggunakan qinggong nya untuk menciptakan jarak antara si rakus dengan dirinya.
Kecepatan si rakus bukan masalah, yang menjadi masalah adalah sengatan-sengatan petir di ujung cakar si rakus.
Beberapa menit kemudian, Keringat membanjiri wajah tampan Ling Zizhou yang semakin pucat. Tidak bisa begini, dirinya akan terus berada dalam keadaan terdesak.
Ling Zizhou mengalirkan chi nya ke seluruh tubuhnya, kemudian melancarkan beberapa jurus miliknya, tidak semuanya berhasil melukai si rakus namun memang bukan itu tujuan Ling Zizhou.
Ling Zizhou memanfaatkan kesempatan saat si rakus sibuk dengan jurus miliknya untuk menyiapkan salah satu jurus pamungkas miliknya.
Ling Zizhou mengatur sirkulasi chi dalam tubuhnya sambil mengingat serangan-serangan si rakus.
Cakaran kaki depannya mengandung dua pertiga berat tubuhnya ditambah dorongan dari kaki belakang membuat cakaran terasa sangat berat dan kuat.
Belum lagi petirnya yang mengalir terus menerus. Kombinasi serangan yang sangat kuat dan petir yang membuat tubuh kesemutan.
Ling Zizhou merasakan tangannya mulai gemetar akibat serangan kombinasi tersebut.Ling Zizhou merasa tidak akan mampu menahan satu atau dua cakaran lagi sehingga memutuskan untuk menyerang salah satu kaki belakang si rakus.
Ling Zizhou berpikir bahwa sendi-sendi kaki belakangnya menyerupai anjing. Kaki belakangnya mungkin hanya menopang satu pertiga berat tubuhnya namun sangat kuat.
Ling Zizhou dengan gesit menghindari serangan-serangan kaki depan si rakus dan tiba di salah satu kaki belakangnya.
Ling Zizhou melancarkan serangan, jian miliknya menari-nari dengan sangat cepat sehingga yang terlihat hanya sebuah *pola rumit.
Pola itu kemudian melesat menuju kaki belakang si rakus seperti memiliki kesadaran sendiri. Kaki si rakus terpotong-potong, darah memancar membasahi tanah.
Tidak berhenti sampai situ, pola rumit tersebut terus melesat tanpa pandang bulu. Kaki si rakus yang satu lagi menjadi korban, tanah serta pohon-pohon yang berada dalam jalur pola rumit tersebut juga menjadi korban.
Si rakus meraung putus asa karena kini tubuhnya ditopang menggunakan dua kaki depannya. Si rakus terduduk di atas tanah dengan luka menganga di pangkal pahanya.
Berada dalam posisi tidak bisa menyerang dan kesulitan mempertahankan tubuh besarnya tetap tegak, si rakus semakin mengamuk. Duri-duri yang menonjol di seluruh tubuhnya semakin banyak mengeluarkan kilat listrik.
Ling Zizhou melancarkan jurusnya yang telah memotong kaki belakang si rakus, kini diarahkan ke leher si rakus. Leher bahkan kepala si rakus teriris disertai suara derak. Mungkin dari tengkorak si rakus.
Ling Zizhou memastikan tubuhnya jatuh ke tanah, kilat-kilat listrik di duri-durinya padam baru mengambil inti spirit beast.
Ling Zizhou memegang kristal berbentuk perisma segitiga sama sisi. Didalamnya tampak awan berwarna putih.
Ling Zizhou memasukkan kristal dan bangkai spirit beast tersebut ke dalam kantung dimensional kemudian melanjutkan kabur dari jangkauan tipe pelacak.
...
Dimana ini?
Tubuh Mu Lian melayang di sebuah ruang kosong berwarna biru kegelapan. Sebelumnya, Mu Lian bermeditasi dan mengikuti aliran chi dari udara sekitar masuk ke dalam lautan chi nya.
Mu Lian melihat permukaan biru kegelapan chi miliknya beriak di bawah kakinya sehingga tanpa sadar dia menyelam ke dalam lautan chi nya sendiri.Namun sepertinya Mu Lian terhubung ke ruang lain.
Setelah melihat sekelilingnya dengan cermat, Mu Lian mengingat sesuatu mengenai energi spiritual. Mu Haocun berkata bahwa untuk mengisi ulang energi spiritual, seseorang harus bermeditasi di alam bawah sadarnya.
Apakah ini yang dimaksud lam bawah sadar?
Mu Lian kemudian duduk dalam sikap meditasi. Beberapa saat kemudian Mu Lian merasakan perasaan ringan yang sama layaknya bermeditasi seperti biasa.
Mu Lian membuka matanya. Bingung karena tidak menemukan perbedaan dengan bermeditasi seperti biasanya, hanya berbeda lokasi saja. Yang satu di dunia asli yang satu lagi di ruangan antah berantah.
Mu Lian merasa sedikit kecewa karena dugaannya tidak sesuai dengan kenyataan. Namun selagi Mu Lian di ruang ini, dia melanjutkan meditasinya.
Semakin lama bermeditasi, Mu Lian semakin merasa dirinya sedang terbang tinggi di atas langit. Mu Lian sampai harus memastikan dirinya tidak sedang mabuk.
Oh perasaan ini tidak buruk juga
Beberapa menit kemudian Mu Lian membuka matanya dan melihat Ling Zizhou sedang bermeditasi.
Nampaknya Mu Lian kembali ke dunia nyata dan Ling Zizhou serta Meng Zhi sudah kembali dari patroli.
__ADS_1
"Laogong...dia...,"
Suara Meimei terdengar dari luar gua. Namun Mu Lian tidak fokus mendengar apa yang sedang dibicarakan Meimei dan Meng Zhi karena melihat kondisi Ling Zizhou.
Wajah pemuda itu pucat, keringat membanjiri wajahnya hingga ke kerah pakaiannya. Mu Lian mendekati Ling Zizhou, kemudian memeriksa nadinya tanpa menganggu meditasinya.
Kondisinya tidak buruk namun tidak terlalu baik. Ling Zizhou sangat kelelahan, chi nya terkuras. Mu Lian mengeluarkan beberapa kantung obat herba nya dari kantung dimensional.
"Lian'er," kata Meng Zhi.
"Senior Meng, apa yang terjadi?" kata Mu Lian.
Meng Zhi menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir. Mu Lian mendengarkan dengan perasaan bersalah. Jika bukan karena permintaan egoisnya, mereka sudah kembali ke Lembah Ufuk Timur.
"Kantung apa yang ada di tanganmu?" tanya Meimei.
"Oh. Ini racikan teh yang aku buat bersama kakek untuk membantu melancarkan sirkulasi chi di tubuh seseorang. Dengan begitu mereka bisa lebih cepat memulihkan chi nya," jawab Mu Lian.
"Teh? bukankah efek tersebut hanya dapat ditemukan di dalam pil?!" kata Meimei terkejut.
"Ah itu. Aku pernah mendengar pil itu. Kata kakek aku belum bisa membuat pil tapi mengijinkanku ikut meracik teh dengan khasiat yang sama," kata Mu Lian melanjutkan
"Senior Meng juga harus mencobanya. Senior sudah bekerja keras dalam patroli kali ini. Terimalah teh ini sebagai rasa terimakasihku,"
"En," jawab Meng Zhi.
Meimei membantu Mu Lian menyiapkan teh herba racikannya kemudian Ling Zizhou yang selesai bermeditasi bergabung minum teh.
"Eh? Ini kan?" kata Ling Zizhou.
"Minumlah, Lian'er memberikannya sebagai balas jasa kita berpatroli," kata Meng Zhi. Ling Zizhou diam dan melanjutkan minum teh.
"Zizhou, sini ku isi lagi cangkirmu," kata Mu Lian. Ling Zizhou menurut.
Memang rasanya mirip teh herba untuk menghilangkan kelelahan, namun Ling Zizhou merasakan chi nya semakin cepat pulih.
Mu Lian terus mengisi cangkir Ling Zizhou, sesekali mengisi cangkir milik Meng Zhi dan Meimei sementara dirinya tidak minum.
Mu Lian menatap Mu Lian sambil menggelengkan kepala. Awalnya Ling Zizhou menganggap Mu Lian suka ikut campur urusan orang.
Pertama kali Mu Lian mulai mencampuri urusannya adalah ketika dia dihukum Master Yi tidak boleh keluar dari kamarnya.
Saat itu entah kenapa masternya menginap di rumah Mu Haocun. Dia harus bekerja keras membeli bahan-bahan makanan serta memasak untuk enam orang sekaligus.
Dia hanya ingin berlatih dan bertambah kuat sehingga diam-diam kabur ke hutan dekat Lembah Ufuk Timur untuk mencari spirit beast.
Memang sulit menemukan spirit beast di hutan tersebut namun LIng Zizhou menemukan ketenangan untuk berlatih ilmu jian miliknya.
Ketenangan tersebut berakhir ketika dua orang dari negeri Si memaksa untuk merekrut dirinya. Kejadian itu membuat dirinya mendendam kepada orang-orang negeri Si karena merekalah dirinya dihukum.
Kemudian di malam pertama hukumannya, Mu Lian mengantar makan malam untuk dirinya. Keesokan paginya Mu Lian mengantar sarapan, begitu seterusnya dengan tambahan obat racik yang berfungsi untuk luka-luka nya.
Semakin Ling Zizhou mengenal Mu Lian, semakin dirinya mengingat seseorang yang sudah lama dia pendam di lubuk hatinya yang paling dalam bersama kejadian pahit di masa lalu.
Melihat Mu Lian yang tidak menjauh setelah mendengar kata-kata dan sikapnya yang kasar membuat Ling Zizhou melihat bayangan adik perempuannya di dalam Mu Lian.
Tidak hanya itu, Ling Zizhou menyadari bahwa dia tidak keberatan berada di sekitar Mu Haocun, Meng Zhi serta Meimei. Pintu hatinya yang dulu tertutup, tanpa Ling Zizhou sadari sudah terbuka untuk orang-orang tersebut.
Ling Zizhou mengingat orang pertama yang mengajarinya untuk membuka hatinya pada orang lain, yaitu Master Yi.
Setelah bertemu dengan masternya, kehidupan Ling Zizhou berubah. Ling Zizhou merasakan perubahan tersebut tidaklah buruk.
Setelah merasa perutnya penuh karena meminum teh yang dituangkan terus menerus oleh Mu Lian, Ling Zizhou sampai curiga bila gadis itu sengaja membuat perutnya kembung, Ling Zizhou memutuskan untuk kembali bermeditasi.
Mu Lian melihat Ling Zizhou bermeditasi dan tidak ingin menganggunya, jadi dia membantu Meimei menyiapkan makan siang.
Ketika daging sudah matang dan sedang dibagi untuk empat orang, Mu Lian merasakan udara di sekitar berubah. Mu Lian menatap ke arah Ling Zizhou dengan tatapan tidak percaya
.........
Note:
* Laopo: istri
* Laogong: suami
__ADS_1
* Pola rumit yang dihasilkan jian Ling Zizhou seperti ini (dapat dari dream catcher 😂)