
"APA YANG SEORANG MUTIARA SEMESTA LAKUKAN DI TEMPAT INI? APA KAU DICULIK PARA PENDOSA INI? HAN SHI, CEPAT, JEMPUT MUTIARA SEMESTA INI! TUNGGU SEBENTAR, TANGAN KANANKU AKAN MENYELAMATKANMU,"
Suara berkharisma sang pemilik Gua Sejati berhenti bergema tepat saat Meng Zhi dan Ling Zizhou tiba di depan gerobak. Beberapa bagian gerobak ditutupi esensi, seperti keempat rodanya dan sebagian besar badan gerobak.
Pohon misterius masih mencuat keluar dari gerobak namun ukurannya menjadi lebih kecil. Pohon misterius nampak lelah tak bertenaga jika dibandingkan dengan makhluk berlendir yang tampak sangat aktif menempel pada bagian badan gerobak.
Tak jauh dari gerobak, Master Yi dan Meimei berdiri di samping Mu Haocun yang sedang bersimpuh. Mu Lian yang tidak bergerak dan seluruh wajahnya terlihat urat-urat nadi kebiruan berada di dalam dekapan Mu Haocun.
Ketiganya dikelilingi esensi yang dihalau oleh perisai milik Mu Haocun. Perisai tersebut berkilauan sehingga membuat Mu Hacun, Meimei dan Master Yi terlihat seperti terperangkap di dalam kristal.
Air mata membasahi pipi Meimei, membuat wajahnya tampak lebih berkilauan jika dilihat dari luar perisai.
Sedangkan Master Yi, nampak lebih diam dari biasanya. Namun Ling Zizhou sangat mengenal masternya itu.
Jika Master Yi sedang diam, Master Yi sedang tidak baik-baik saja. Kedua tangannya dikepalkan di samping tubuhnya.
Aura asura sedikit merembes kemana-mana, hampir mengenai meiemi dan Mu Haocun jika Ling Zizhou sedikit saja terlambat menenangkannya.
"Ah Cun, apa yang terjadi?" tanya Meng Zhi sambil memeluk Meimei, berusaha menenangkannya. Meng Zhi mengernyit karena sedikit berjauhan dengan Ling Zizhou. Untungnya rasa sakit itu masih bisa ditahannya.
Meng Zhi berusaha menanyakan apa yang terjadi pada Mu Lian namun Mu Haocun terlalu terpukul hingga tidak bisa bicara.
Baik Mu Haocun, Meimei dan Master Yi berada dalam kondisi tidak bisa ditanyai kejadian yang menimpa Mu Lian hingga membuatnya terlihat seperti ini.
Suasana sangat tegang, tidak ada yang kepikiran untuk menjelaskan kejadian sebenarnya karena pikiran orang-orang yang bersama Mu Lian sebelum kejadian tersebut terjadi, sangat kalut.
Beberapa menit kemudian, Master Yi dan meimei pun berhasil ditenangkan. Meimei menceritakan bagaimna pohon misterius tiba-tiba menyusut dan bersamaan dengan menyusutnya pohon, di dalam gerobak menjadi gelap gulita.
Jerit kesakitan Mu Lian sempat terdengat sebelum akhirnya gerobak normal kembali. Ketika mereka hendak memeriksa keadaan Mu Lian, Mu Haocun sudah menghambur keluar ruangan kendali sambil menggendong Mu Lian.
"Aku...aku harus memeriksa anak-anak. Kasihan mereka semua ketakutan, aku belum sempat menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka," kata Meimei memutuskan untuk menyerahkan Mu Lian kepada Meng Zhi dan Mu Haocun.
Meimei kembali ke dalam gerobak dengan lesu. Matanya masih sembab dan diwajahnya masih terpasang kekhawatiran. Namun apa yang bisa Meimei lakukan sekarang adalah menenangkan anak-anak.
Setelah Meimei pergi dari sana, Ling Zizhou menyeret Meng Zhi untuk membangunkan Mu Haocun dari lamunannya.
"Kakek tua! Hei, sadarlah!" kata Ling Zizhou sambil menggoncang Mu Haocun.
"Ah Cun, kau dengar kan orang itu berkata apa? Dia mengira kalau kau diculik jadi kalau kau tidak segera meluruskan kesalahpahaman mereka, Du Luhan Xu bersaudara bahkan kami bisa dalam keadaan bahaya," kata Meng Zhi.
"Apa...ah, maafkan aku. Aku panik dan tidak bisa berpikir lebih jauh. Baiklah, sebaiknya kalian sembunyi dulu.
Dan tolong beritahu tetangga-tetangga kita itu agar tidak mendekati Gerobak Ajaib untuk sementara ini..." kata Mu Haocun dengan lemah.
"Ah Cun, segera kabari kami perkembangan Lian'er. Dan jangan lupa misimu saat ini yang harus diutamakan, meluruskan kesalahpahaman," kata Meng Zhi.
"Ya, sekali lagi aku minta maaf. Aku tadi sangat kalut," kata Mu Haocun.
"Kakek tua, kumohon, selamatkan Lian'er!" kata Ling Zizhou.
"Tentu saja bocah tengil, aku kan kakeknya. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadanya," kata Mu Haocun dengan menggebu-gebu.
Ling Zizhou hendak mengatakan sesuatu lagi namun tiba-tiba Meng Zhi membawanya lari dengan kecepatan penuh.
"?"
__ADS_1
Ling Zizhou baru menyadari dua individu sangat kuat mendekati lokasi Mu Haocun setelah diberitahu Meng Zhi.
Keringat dingin membanjiri wajah tampan Meng Zhi, bahkan wajahnya sedikit pucat ketika menoleh ke arah Mu Haocun berada.
"Bahaya sekali...sedikit terlambat saja, kita sudah dibunuh," gumam Meng Zhi.
"Ha? Seberbahaya itukah?" kata Ling Zizhou mengernyit.
"Masih jauh saja nafsu membeunuh mereka terasa sekali," kata Meng Zhi menggeleng.
"Eh, tunggu, kemana master? Apa master sudah pergi darisana?" kata Ling Zizhou dengan wajah pucat.
"Tenang saja, refleksnya sangat cepat. Aku percaya saat ini dia sedang bersama Meimei," kata Meng Zhi.
...
"Huh, tikus-tikus itu lari terbirit-birit," kata seorang pria dengan ekspresi jijik.
"Diam. Lihat mutiara semesta ini, salah satu yang terkuat yang pernah kulihat seumur hidupku," kata rekannya yang lebih tinggi.
"Ck, kita sudah mati, lebih cocok kalau kita ganti menjadi seperti ini 'yang terkuat setelah aku mati' nah, bagaimana?" kata si pria pertama meledek.
Namun rekannya itu tidak menggubris ledekan rekannya karena sangat penasaran kepada Mu Haocun yang kini sudah berada di depan matanya ini.
"Sebutkan namamu," kata pria itu sambil mengamati Mu Haocun dari atas kepala hingga ke Mu Lian yang ada dalam dekapan Mu Haocun.
Mu Haocun mengamati dua pria yang melayang mendekatinya. Yang satu lebih tinggi dan besar dari rekannya dan memiliki wajah yang dingin.
Namun kedua orang itu memiliki wujud yang sama, beberapa bagian tubuh mereka menyerupai pohon. Bahkan kulit mereka yang sangat pucat itu memiliki struktur yang sama seperti batang pohon.
Mereka jadi terlihat albino dengan warna pucat tersebut. Lebih tepatnya pohon albino. Yang seharusnya jari-jari, adalah akar-akar seperti lampu neon.
Kedua mata pria itu bersinar bagaikan bintang-bintang di langit malam. Kedua pria itu seperti berasal dari dunia lain yang sangat jauh levelnya dari Mu Haocun.
Mu Haocun mengamati dua makhluk ajaib yang ada di hadapannya itu dengan takjub. Meski begitu, Mu Haocun tak lupa untuk menjawab pertanyaan dari salah satu makhluk tersebut.
"Namaku Mu Haocun, terimakasih sudah mendengarkan permintaanku yang tidak ada apa-apanya ini di hadapan anda berdua," kata Mu Haocun membungkuk memberi hormat.
"Hei, mutiara semesta! Jadi yang menculikmu itu dua orang tadi ya? Yang langsung lari terbirit-birit ketika merasakan kedatangan kami? Atau orang yang buru-buru menghilang ke dalam benda aneh ini?
Ngomong-ngomong, apa benda ini? Kenapa ada Pohon Persemayaman? Apa Baihu ini kenalanmu?" kata pria satunya lagi memborbardir Mu Haocun dengan banyak pertanyaan.
Pria itu mendekati gerobak dan mengetuk salah satu roda, membuat slime yang sedang hinggap di sana menyingkir.
"Hentikan. Tugas kita hanya membawanya saja ke hadapan Yang Mulia. Terus, kau tidak lihat apa bahwa dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu? Maaf atas kebodohan rekanku ini, cepat apa yang ingin kau katakan?" kata pria yang lebih tinggi dan wajah dingin.
"Aku tidak diculik siapapun. Tiga orang yang anda maksud barusan adalah keluargaku. Mereka harus menolong rekan-rekan kami," kata Mu Haocun dengan hati-hati. Mu Haocun mengamati perubahan ekspresi kedua pria itu.
"Ha? Orang-orang lemah ini rekan-rekanmu?! Ckck, menurutku mereka tidak pantas berteman denganmu! Mana bisa mereka melindungimu dari bahaya!
Keluargamu lumayanlah, meski harus dilatih lagi supaya lebih kuat. Tapi kau yakin berteman dengan orang-orang ini?"
"Wei Cheng! DIAM! Ehem, apakah yang kau katakan itu benar? Tuan menyuruh kami bertindak jika kau berada dalam bahaya.
__ADS_1
Satu kata darimu dan kami bisa membunuh semua orang yang ada di sini dengan satu jentikan jari," kata pria tinggi.
"Tidak! Semua yang kukatakan benar adanya! Jangan sentuh mereka kumohon! Cucu ku sangat suka dengan mereka," kata Mu Haocun.
"Baiklah. Kau bisa memanggilku Han Shi. Kami berdua hanyalah kaki tangan Yang Mulia, jadi berikan hormatmu kepada beliau.
Apa ini cucu mu? Apa dia seorang mutiara semesta juga, sama sepertimu? kata Han Shi. Han Shi mendekati Mu haocun untuk melihat Mu Lian dengan lebih jelas lagi.
"Iya. Dia juga sama sepertiku," kata Mu Haocun dengan tatapan sayang yang ditujukan kepada Mu Lian.
"Hei, aku merasakan aura yang sama yang kurasakan dari gadis itu pada gerobak ini. Apa gadis itu terikat dengan benda ini?" kata Wei Cheng.
"Benar. Secara singkat, cucu ku terikat dengan benda itu. Apa kita bisa pergi sekarang? Aku khawatir dengan cucu ku?" kata Mu Haocun menatap Han Shi dan Wei Cheng dengan tatapan memohon.
"Ck,"
Wei Cheng membuat gestur tangan yang sangat rumit sambil berkomat-kamit. Tak lama, udara kosong tak jauh dari Mu Haocun seperti disobek oleh gaya tak kasat mata.
Dari sobekan tersebut, sebuah portal terbuka. Mu Haocun tidak bisa melihat apa yang ada dibalik portal tersebut karena portal bersinar menyilaukan mata.
Han Shi menyuruh Mu Haocun mengikutinya sedangkan Wei Cheng membawa Gerobak Ajaib menggunakan telekinesis.
Apa yang menarik perhatian Mu haocun ketika pertama kali keluar ke sisi lain portal adalah pohon berwarna putih yang sangat indah.
Pohon tersebut sangat besar meski dilihat dari kejauhan. Han Shi, dengan mengejutkannya, menjelaskan pohon tersebut kepada Mu Haocun seperti seorang tour guide.
Sangat kontras dengan wajah dinginnya, Han Shi menjelaskan dengan sangat detail kepada Mu Haocun.
Han Shi juga menjelaskan mengapa mereka hanya bisa menggunakan portal di luarjangkauan pohon tersebut, karena pohon tersebut merupakan peremayaman naga celestial, partner tuan mereka.
Awalnya MuHaocun tidak melihat kejanggalan aneh pada pohon tersebut, namun semakin dekat dengan pohon, Mu haocun dapat melihat naga yang sangat besar dan indah melayang di batang pohon putih tersebut.
Naga itu terlihat seperti terjebak di dalam batang pohon dan tidak bisa keluar. Tubuhnya sangat transparan bahkan Mu Haocun dapat melihat menembus ke belakangnya.
"Oh iya, jangan takut ketika nanti Hong Bai menatapmu, kau tahu, setelah terjebak disini bersama kami, Hong Bai menumbuhkan banyak mata di..."
Sebelum Han Shi selesai menjelaskan, Mu Haocun meraskan ratusan pasang mata menatap dirinya. Mu Haocun bertatapan dengan ratusan pasang mata itu.
Mata reptil yang membuat bulu kuduk siapa saja yang melihatnya berdiri menatap Mu haocun lekat-lekat.
"!"
Setelah berhasil menahan kengerian ditatap ratusan pasang mata, Mu haocun memasuki lubang pada batang pohon putih itu yang membawanya ke ruangan yang terlihat megah.
Ruangan tersebut terlihat sangat megah bukan karena perabotan-perabotan mahal melainkan suasana sakral yang dipancarkan dari sepenjuru ruangan tersebut.
(sumber: pinterest)
Seorang pria dengan rambut putih panjangnya berada ditengah-tengah pilar putih yang tumbuh menerobos ke luar ruangan itu.
Tubuhnya sangat trasnparan namun sangat indah dan melayang-layang di udara, seperti ubur-ubur yang melayang di tengah lautan gelap.
"SELAMAT DATANG DI PERSEMAYAMANKU, WAHAI MUTIARA SEMESTA,"
__ADS_1