Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Wei Cheng


__ADS_3

Setelah Meimei berhasil berkomunikasi dengan Meng Zhi, perkembangan janin dalam tubuhnya semakin pesat. Kobaran demi kobaran dilalui Meimei dengan tabah.


Tanpa terasa, masa-masa tersebut usai dan Meimei menjalani kehamilan seperti ibu-ibu hamil pada umumnya. Perutnya terlihat semakin membesar namun tubuh Meimei tetap langsing.


Mu Lian dan Mu Haocun pun bisa bernapas lega. Meimei sudah melewati masa kritis dan bisa menjalani masa kehamilan dengan aman.


Anak-anak senang mendapat kabar tersebut dan belajar semakin giat, mereka ingin menjadi kakak yang dapat diandalkan, menjadi kakak yang pintar.


Selain belajar dan berkultivasi, anak-anak mempererat ikatan mereka dengan hewan-hewan yang berhasil dijinakkan Ling Zizhou, Xu Jing dan yang lain.


Selama 4 bulan penuh anak-anak berusaha melakukan pendekatan terhadap hewan-hewan tersebut dan akhirnya membuahkan hasil. Kini mereka sudah dapat bermain dengan hewan-hewan tersebut.


Tentu saja mereka tidak lupa melakukan kewajiban seperti mengurus hewan-hewan tersebut.


Meski hewan-hewan itu secerdas manusia, Mu Lian tetap mengingatkan anak-anak untuk memberi makan (sebenarnya anak-anak hanya menuntun hewan-hewan itu ke taman herbal barat yang ditanami Mu Lian makanan khusus hewan-hewan tersebut).


Namun dengan begitu, anak-anak bisa mempererat ikatan mereka dengan hewan-hewan tersebut.


Beberapa kali Xiaobai juga terlihat berada ditengah anak-anak untuk melihat hewan-hewan terebut.


Meski seringkali Xiaobai sengaja tidak menunjukkan diri di hadapan anak-anak. Kedua belah pihak jadi terlihat hidup di dunia masing-masing.


Dan Mu Lian tidak bisa memaksakan Xiaobai harus ikut membaur dengan keluarganya karena sudah menjadi sifat Baize menjadi makhluk penyendiri.


Namun, akhir-akhir ini Mu Lian tidak melihat Xiaobai diantara anak-anak. Padahal Xiobai sangat antusias ketika hewan-hewan peliharaan sedang turun untuk memakan tanaman herbal di taman herbal barat.


Mu Lian mencari Xiaobai ke tempat yang menjadi tempat favoritnya satu tahun belakangan ini. Ruang kendali di antara akar pohon misterius.


Benar saja, bola bulu berwarna putih berada diantara akar-akaran. Terlihat ganjil dan sangat mencolok.


"Xiaobai," kata Mu Lian.


"Lian jie!" kata Xiaobai segera terbang ke arah Mu Lian. Melihat tidak ada siapapun saat itu, Xiaobai melepaskan penyamarannya dan meregangkan persendiannya.


Mu Lian terkejut mendapati tubuh Xiaobai yang semakin membesar. Sayapnya kini sudah menutupi seluruh punggungnya. Meski masih ada bulu-bulu bayi yang sangat lebat menutupi tubuhnya, Xiaobai semakin terlihat seperti ibunya.


"Tumben sekali tidak ke taman herbal utara. Sedang apa?"


"Selama beberapa hari terakhir ini akhirnya aku mendapat petunjuk mengenai pohon misterius ini!" mata Xiaobai memancarkan kecerdasan yang luar biasa.


"Ceritakan,"


"Setelah mengamati dan merasakan pohon misterius ini...aku ingin bertemu dengan Wei Cheng, boleh?"


"?"


Mu Lian mengira akan langsung mendapat jawaban dari Xiaobai ternyata Xiaobai malah melemparkan permintaan untuk bertemu dengan Wei Cheng.


"Baiklah, sekalian kita mampir ke Pohon Persemayaman, sudah lama tidak bertemu dengan Master Hong Bai!" kata Mu Lian antusias.


Jadwal Mu Lian tidak sepadat 4 bulan belakangan, dan kobaran yang dialami Meimei mulai jarang terjadi.


Mu Lian mendengar 2 bulan lagi, tim eksplorasi akan mulai aktif kembali jadi Mu Lian menggunakan kesempatan ini untuk bertamu ke persemayaman Bei Huaiwei, meski sebenarnya yang ingin dijumpainya itu Master Hong Bai.


Roh naga itu telah menemaninya melewati masa-masa ketika dirinya harus beradaptasi di dalam Gua Sejati yang telah berevolusi. Hal ini membuat dirinya dan Hong Bai menjadi sangat dekat.


Bahkan setelah Hong Bai melepaskan ikatan antara dirinya dengan Mu Lian melalui Gerobak Ajaib, Mu Lian masih bisa merasakan keberadaan Hong Bai dalam dirinya.


"Kita pergi sekarang?" tanya Xiaobai karena Mu Lian segera menggendongnya pergi keluar ruang kendali. Mu Lian mengangguk.

__ADS_1


"Sudah tidak ada jadwal mengajar lagi, anak-anak sedang asik bermain dengan peliharaan-peliharaan mereka,"


Meski dibilang sedang bermain, sebenarnya anak-anak sedang mempererat ikatan mereka dengan hewan-hewan tersebut.


Beberapa hari yang lalu, Xu Ke mengajarkan bahwa seorang kultivator bisa mencari partner dari kalangan hewan buas.


Apabila seseorang memiliki bakat untuk menjinakkan hewan buas atau seseorang tersebut disukai hewan buas tersebut mereka akan memiliki partner yang setia.


Hewan-hewan itu akan menemani mereka dalam kultivasi, dalam pertarungan maupun dalam kehidupan sehari-hari.


Namun jangan samakan dengan pasangan Dao, yang memiliki partner hewan buas memiliki pasangan Dao nya sendiri begitu pula dengan hewan yang menjadi partner, mereka tetap berpasangan jenisnya sendiri.


"Huh, dari 20 anak itu, kira-kira siapa yang akan dipilih ya?" kata Xiaobai penasaran. Karena dari semua yang dekat dengan mereka akan dipilih salah satu yang paling disukai oleh hewan-hewan itu.


"Kita lihat saja nanti," kata Mu Lian. Untuk saat ini, hewan-hewan itu sangat condong ke anak-anak yang lebih muda namun hanya waktu yang bisa menentukan jadi Mu Lian tidak berani mengambil kesimpulan.


Xiaobai memanjat tubuh Mu Lian dan mengambil posisi strategis di atas kepala Mu Lian. Tubuhnya yang semakin besar membuat kepala Mu Lian terlihat sangat berat dengan bola bulu besar di atas kepalanya.


Mu Lian berniat untuk memberitahu bahwa Xiaobai tidak akan bisa duduk di atas kepalanya lagi namun Mu Lian berniat memberitahu Xiaobai pelan-pelan, mungkin di kesempatan selanjutnya.


Melihat anak itu sangat antusias mengeksplorasi kekuatan baru yang tumbuh beberapa bulan belakangan ini.


Meski sudah sangat jarang memakan alat-alat ajaib, perkembangan Xiaobai tetap pesat karena adanya akselerator.


Wawasannya semakin luas, karena warisan ilmu pengetahuan dari ibunya tetap berjalan setiap saat tidak bergantung dengan asupan alat ajaib yang bisa didapatkannya saat ini.


Yang kini sedang Xiaobai eksplor adalah mata bluestone nya yang semakin jernih dan tajam. Xiaobai jadi bisa melihat semua yang ada disekelilingnya.


Ketika Mu Lian meminta kekuatan matanya secara rinci, sayangnya, Xiaobai berkata bahwa hal tersebut sudah masuk ke dalam pengetahuan terlarang yang tidak boleh diketahui selain rasnya, selain Baize.


Mu Lian hanya bisa melihat mata Xiaobai yang warnanya semakin tajam. Ketika ditatap, rasanya persis seperti ketika pertama menatap mata Bai Wenlan yang serba tahu. Mu Lian tidak bisa menyembunyikan satu rahasia pun darinya.


Matanya tidak fokus, seperti menerawang jauh ke suatu tempat. Dan Mu Lian ingat tempat yang sedang dilihatnya itu adalah tempat dimana pedang yang hancur sepenuhnya itu diletakkan. Di jantung jajaran pegunungan barat daya.


...


"..."


Di pohon tak jauh dari Pohon Persemayaman, Xiaobai duduk di dekat Wei Cheng. Keduanya duduk dalam diam semenjak Wei Cheng mengajaknya bicara empat mata ke pohon itu.


Sebenarnya Xiaobai yang mengajak Wei Cheng bicara empat mata saja dengannya namun Wei Cheng mengajaknya bicara jauh dari Pohon Persemayaman. Meninggalkan Mu Lian, Bei Huaiwei, Hong Bai dan Han Shi di aula utama Pohon Persemayaman.


Xiaobai begerak-gerak gelisah, bingung harus mulai dari mana. Xiaobai terus saja menatap ke arah Pohon Persemayaman dimana Mu Lian berada.


Wei Cheng berada di sebelahnya, 'hinggap' di batang pohon. Melebur dengan batang pohon tersebut sehingga tubuhnya terlihat seperti bagian dari pohon.


Matanya terpejam namun mengetahui Xiaobai yang bergerak gelisah. Membuat keningnya mengernyit.


"Huh, sejak kapan Baize yang bijaksana sangat bergantung kepada manusia? Hai bocah, kau harus ingat, meski tuan putri menjadi penjagamu, kau seharusnya bisa mandiri mengingat asal usulmu.


Terutama harus mengambil keputusan sendiri! Apa tuan putri terlalu memanjakanmu? Ck, kukira hari ini adalah hari dimana aku menyaksikan bocah ingusan sepertimu menjadi Baize dewasa!" kata Wei Cheng sambil membuka matanya.


"!"


Xiaobai terkejut karena Wei Cheng tahu jati dirinya. Xiaobai masih dalam penyamarannya yaitu buntalan bulu. Setiap kali menggunakan sayapnya Xiaobai terlihat seperti bola bulu terbang.


"Anda..."


"Ya ampun, belum belajar bicara juga?!" kata Wei Cheng menggeleng.

__ADS_1


"Kau membuat malu kaum Baize!"


"Maaf..." kata Xiaobai dengan rasa bersalah. Xiaobai lupa bahwa dirinya belum bisa bicara. Dia mempertimbangkan lagi keputusannya untuk menemui Wei Cheng saat ini apakah sudah tepat?


"Lupakan, kau sepertinya memang bodoh jadi perkembanganmu lambat. Bahkan tubuhmu tergolong kecil jika dibandingkan anak-anak Baize pada umumnya," kata Wei Cheng melambaikan tangan.


"Anda! Ibuku sudah tidak ada makanya-"


"-Halah alasan! Kenapa kau larut dalam kesedihanmu? Lihat anak-anak itu yang hidup bersamamu di dalam gerobak! Lebih tegar daripada dirimu!


Aku juga yatim piatu tapi tidak bodoh sepertimu! Kau itu terlalu manja! Maaf-maaf ya! Aku bicara jujur supaya kau instrospeksi, aku malu disamakan dengan dirimu yang bodoh itu!" kata Wei Cheng berdecak kesal.


Xiaobai terdiam. Wei Cheng malu disamakan dengan dirinya, itu artinya Wei Cheng adalah Baize juga?


"Aku...aku tahu tentang pohon-pohon yang ada di dalam Gua Sejati! Aku tahu asal-usul mata air di gua ini!Aku-"


"-blah blah blah, percuma saja kalau kau belum bisa bicara! Ck, kalau itu saja aku juga sudah tahu dari pertama menginjakkan kaki di tempat ini!


Kau terlalu dibutakan dengan mental korbanmu! Merasa paling sengsara di dunia! Bah! Di dunia yang keras ini orang meninggal setiap jamnya!


Anak yatim piatu tidak hanya dirimu saja! Banyak diluar sana yang yatim piatu juga! Bah, jangan jauh-jauh deh! Anak-anak yang tinggal di gerobak juga yatim piatu bukan?" potong Wei Cheng sambil pura-pura menutup telinganya.


Xiaobai membuka dan menutup mulutnya tanpa tahu harus berkata apa. Sadar-sadar air mata Xiaobai sudah mengalir deras membasahi bulu-bulunya.


"Hik...HUAAAAA" Xiaobai terbang ke arah Pohon Persemayaman sambil menangis.


"Ck, bocah cengeng yang lucu!" kata Wei Cheng tersenyum geli.


"Hah! Aku kira kau mau apa membawa anak itu pergi dari Pohon Persemayaman. Ternyata hanya untuk menjahilinya. Apa perlu sekeras itu kepadanya?" kata Han Shi muncul entah darimana.


Menurut Han Shi, Xiaobai adalah anak Baize yang paling cerdas yang pernah ditemuinya. Memang tubuhnya yang paling kecil diantara anak-anak seusianya namun kekuatannya lebih besar daripada anak-anak seusianya.


Xiaobai memang kalah jika dibandingkan dengan Wei Cheng, Baize gila seperti anjing rabies namun wawasannya melebihi Baize pada umumnya.


Kelemahannya ya itu, Wei Cheng sampai harus kehilangan gelar bijaksananya setelah disamakan dengan anjing rabies. Selain itu Wei Cheng sangat eksentrik hingga berbeda dari Baize pada umumnya.


"Ck, jangan salahkan aku! Aku sudah lama tidak melihat kaumku, apalagi anak kecil, generasi penerusku!


Sekeras itu? Bah! Aku hanya ingin dia jadi anak yang kuat!" kata Wei Cheng mengangkat kedua tangan akarnya.


"Tapi dia sampai menangis...apa aku terlalu keras padanya?" kata Wei Cheng mengusap dagunya.


"Bilang saja kau takut dimarahi Yang Mulia. Melihat anak itu lari ke arah Pohon Persemayaman dia pasti mengadu ke tuan putri. Terakhir kulihat tuan putri masih bersama Yang Mulia," kata Han Shi.


"HAISSH," Wei Cheng mencabut dirinya sendiri dari pohon dan bergegas kabur dari sana. Han Shi mengikutinya.


"Sepertinya anak itu menyadarinya...dan dia ingin menanyakannya kepadamu tapi kau malah memotong pembicaraannya dan mengalihkannya," kata Han Shi.


"Ck, nanti saja! Aku belum puas menjahilinya!" kata Wei Cheng antusias.


"..." (Han Shi)


Memiliki kesamaan dengan Wei Cheng, baik dalam hal bakat maupun statusnya yang yatim piatu, membuat Xiaobai menarik perhatian Wei Cheng.


Han Shi sudah mengetahui maksud dibalik Wei Cheng yang sering nongkrong di pohon misterius. Tidak lain adalah memantau Xiaobai dan kegiatan di dalam gerobak.


Sudah lama Wei Cheng mengincar Xiaobai. Namun seperti yang sering dikeluhkan Wei Cheng kepada dirinya, Xiaobai sangat lambat.


Sekarang, Xiaobai sudah mulai bergerak, tinggal masalah waktu hingga akhirnya Xiaobai resmi berada dibawah naungan Wei Cheng.

__ADS_1


Hanya saja Han Shi khawatir dengan kegilaan Wei Cheng. Han Shi khawatir selain kekuatan dan wawasan, kegilaan Wei Cheng menurun juga kepada Xiaobai.


__ADS_2