
"Bagus. Sekarang kita akan berlatih ke tingkat selanjutnya, kau siap?" kata Master Zhengheng pada Xiaoxiao.
Xiaoxiao berdiri di tengah sebuah array dengan pola sederhana. Tangannya sedang menghapus pola-pola tersebut untuk digantikan dengan pola baru.
Namun sepertinya pikiran Xiaoxiao berada di tempat lain sehingga dia tidak mendengar ucapan Master Zhengheng.
"Xiao'er?" kata Master Zhengheng sambil menyentuh pundak muridnya itu.
Calon murid lebih tepatnya. Sudah dua bulan Master Zhengheng membujuk Xiaoxiao agar mau menjadi muridnya.
Master Zhengheng positif Xiaoxiao mau menjadi muridnya. Namun sepertinya banyak yang dipikirkan gadis itu.
"Ah, Master Zhengheng?" kata Xiaoxiao.
"Kita akan pindah ke tingkat selanjutnya," kata Master Zhengheng.
"Baik, master," kata Xiaoxiao.Xiaoxiao menghela napas panjang, berusaha untuk berkonsentrasi pada penjelasan Master Zhengheng.
Dua hari yang lalu, Master Zhengheng tiba-tiba meminta bantuan untuk melakukan purifikasi pada orang-orang yang baru saja kembali dari lokasi budidaya Siwang Mo-gu.
Master Zhengheng berkata jika energi spiritualnya tidak mencukupi untuk melakukan pembasmian Preta dan melakukan purifikasi sekaligus.
Jika memaksakan diri, Master Zhengheng akan mencelakakan jiwanya. Xiaoxiao yang awalnya ragu akhirnya mau membantu.
Karena sebenarnya Xiaoxiao sendiri merasa bahwa array adalah yang selama ini dia cari. Dan sudah menganggap Master Zhengheng sebagai gurunya.
Hal yang membuat Xiaoxiao ragu adalah ayahnya, Dongshan. Dia tidak ingin meninggalkan ayahnya sendirian di Lembah Ufuk Timur.
Semenjak pertama bertemu dengan Master Zhengheng, Xiaoxiao tahu jika Master Zhengheng bukanlah dari negeri ini.
Firasat Xiaoxiao berkata jika Master Zhengheng berasal dari negeri jauh disana. Dan memang benar, karena Master Zhengheng berasal dari dunia Zhongjian.
Xiaoxiao berniat menanyakan keraguan yang sedang dialaminya ini pada Mu Lian. Tapi ketika Xiaoxiao datang ke rumah Mu Haocun, ternyata Mu Lian sangat sibuk.
Master Zhengheng mengatakan bahwa Mu Lian sedang dalam pelatihan intensif yang Xiaoxiao kaitkan dengan membuat pil.
Seluruh penduduk tahu jika sebenarnya Mu Lian berasal dari negeri jauh disana. Dan bukan cucu Mu Haocun yang sebenarnya.
Namun Xiaoxiao dan penduduk lembah sudah menganggap Mu Lian sebagai bagian dari mereka dan menyayanginya seperti keluarga sendiri.
Mereka tahu jika Mu Lian tidak bisa membuat pil tapi memiliki pengetahuan mendalam mengenai pengobatan herbal.
Obat racikannya sendiri sudah membantu seluruh penduduk lembah disaat yang paling mereka butuhkan.
Hal tersebut membuat Mu Haocun termasuk dirinya sangat waspada dan ingin agar penghianat dalam Embun Pagi segera ditangkap.
Karena orang tersebut dapat membahayakan rahasia Mu Lian. Xiaoxiao menghela napas. Dia malu pada dirinya karena Mu Lian saja saat ini sedang berusaha keras dalam latihannya membuat pil.
Xiaoxiao memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan Master Zhengheng selama beberapa jam terakhir.
Menjelang makan siang, Master Zhengheng mengakhiri pelajarannya. Xiaoxiao membereskan peralatan dan bahan-bahan yang tergeletak di sekitarnya.
Penginapan terasa sepi karena hanya ada Xiaoxiao, Master Zhengheng, dan pemilik penginapan.
Meng Zhi, Meimei dan ketiga anak buah Master Zhengheng sedang keluar menjalankan tugasnya masing-masing.
Awalnya Xiaoxiao tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukan Mu Haocun dan Master Zhengheng.
Mereka sampai meminta bantuan Rajawali Agung. Xiaoxiao tidak ada niatan untuk menggali apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka karena pasti itu hal yang sangat rahasia.
Namun beberapa hari yang lalu, Mu Haocun sendirilah yang mengatakan apa yang terjadi ketika Xiaoxiao datang untuk bertemu dengan Mu Lian.
Xiaoxiao kini memiliki lebih banyak waktu luang karena dia berhenti datang ke Embun Pagi. Xiaoxiao sudah membicarakannya dengan Mu Haocun jauh sebelumnya dan Mu Haocun merasa tidak masalah dengan keputusan Xiaoxiao.
Mu Haocun akan membantu mengurus penalti yang akan diterima Xiaoxiao karena melanggar peraturan sekte, meninggalkan sekte di tengah pelatihan.
Hal ini membuat Xiaoxiao merasa tidak enak karena membuat Master Zhengheng menunggu. Master Zhengheng sudah menawarinya untuk menjadi muridnya.
Jika Xiaoxiao setuju, Master Zhengheng akan mengadakan upacara penerimaan murid. Upacara tersebut sebenarnya hanya berupa upacara minum teh.
Xiaoxiao tersadar jika pikirannya kemana-mana lagi. Xiaoxiao menggeleng kemudian bergegas merapikan peralatan yang masih tergeletak.
Setelah pekarangan kembali seperti sedia kala, Master Zhengheng mengajak Xiaoxiao makan siang.
"Sepertinya Xiao'er sudah membuat keputusan?" kata Master Zhengheng.
"Uhuk," Xiaoxiao tersedak pangsit. Xiaoxiao buru-buru meneguk air untuk membantunya menelan pangsit tersebut.
"Ah, maaf jika aku sudah membuatmu khawatir, Master Zhengheng," kata Xiaoxiao.
"Benar Xiao'er, kau sudah membuatku sangat khawatir. Jadi segera selesaikan yang menjadi masalahmu itu agar kita segera melakukan upacara guru dan murid," kata Master Zhengheng.
Xiaoxiao hanya bisa tersenyum pada Master Zhengheng. Sudah dia duga, pasti Master Zhengheng sudah menunggu jawaban darinya.
"Master, aku akan pergi menemui jiejie Lian," kata Xiaoxiao.
"Baiklah, kalau begitu aku akan beristirahat," kata Master Zhengheng. Tubuhnya terasa sangat kaku. Inilah yang dirasakan jika terlalu banyak menggunakan energi spiritual.
__ADS_1
Lelah yang dirasakan bisa berkali-kali lipat lebih lipat daripada ketika terlalu banyak menghabiskan chi.
Seusai makan, Xiaoxiao pamit dan meninggalkan Master Zhengheng untuk beristirahat. Tak lupa Xiaoxiao berpamitan dengan pemilik penginapan yang sedang mengurus tanaman di pekarangan.
...
"Terimakasih makanannya," kata Mu Lian.
"Terimakasih makanannya," kata Han Tengfei.
"Sama-sama...Sudah kubilang kenapa senior malah makan siang disini?" kata Ling Zizhou.
"Master Mu sedang bertugas, tidak ada siapa-siapa disini," kata Han Tengfei.
"Benar, kalau tidak ada kalian mungkin aku akan makan di Bibi Lin," kata Mu Lian.
"Huh, untung saja aku kembali," kata Ling Lizhou.
"Apa rencana kalian setelah ini? Apakah kalian akan latihan lagi?" kata Mu Lian.
"Tidak mau!" kata Ling Zizhou sambil membawa piring-piring ke dapur.
"Eh? Kenapa dengan Azhou?" kata Mu Lian bingung.
"Hmm, dia mengalami sedikit kesulitan," kata Han Tengfei.
"Kesulitan?" kata Mu Lian hendak menanyakan lebih jauh namun suara ketukan di gerbang menghentikannya.
Mu Lian menghampiri gerbang untuk menerima tamu yang tiba-tiba datang ini. Namun sepertinya tamu ini orang yang dikenal Mu Lian karena tak lama pintu gerbang terbuka.
Tangan seorang gadis muncul dari balik pintu. Mu Lian berhenti ditempatnya ketika melihat wajah Xiaoxiao.
"Jiejie, sudah makan?" kata Xiaoxiao.
"Oh, Xiao'er aku baru saja makan. Sini masuk," kata Mu Lian.
"Anu, aku ingin mengatakan sesuatu. Aapa jiejie sibuk?" kata Xiaoxiao sambil menutup pintu dibelakangnya.
Mu Lian heran melihat Xiaoxiao tidak seperti biasanya, yang akan langsung melihat Han Tengfei pertama kali tiba disana kemudian menjadi salah tingkah.
"Ada apa?" kata Mu Lian.
Xiaoxiao hendak mengatakan sesuatu namun akhirnya menangkap sosok Han Tengfei yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
"Itu, sebaiknya kita bicarakan sambil jalan," kata Xiaoxiao dengan wajah memerah.
Mu Lian menarik tangan Xiaoxiao ke arah gerbang. Melihat kedua gadis itu hendak keluar, Han Tengfei bangkit dan berniat mengikuti mereka.
"Senior Han, aku akan kencan berdua saja dengan Xiaoxiao. Tolong temani Azhou dan jaga rumah," kata Mu Lian.
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Bagaimana kalau Azhou datang tapi tidak ada siapa-siapa disini? Kami hanya pergi sebentar," potong Mu Lian kemudian meninggalkan Han Tengfei tanpa menunggu jawaban darinya.
Mu Lian menggandeng tangan Xiaoxiao dan berjalan menyusuri deretan rumah. Mereka jalan dengan langkah pelan sambil menikmati kaki mereka tenggelam ke dalam tumpukan salju.
Melihat salju-salju putih itu mengingatkan Mu Lian pada marshmellow. Mu Lian menoleh ke arah Xiaoxiao. Takut jika dirinya lapar lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia makan siang.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" kata Mu Lian. Asap putih mengepul dari mulut Mu Lian.
"Aku...aku jatuh cinta pada array," kata Xiaoxiao.
Mu Lian tersedak udara dingin yang sedang dihirupnya. Seingat Mu Lian Xiaoxiao jatuh cinta pada Han Tengfei, apakah Han Tengfei dikalahkan oleh array?
"Maksudmu, kau merasa bahwa jalanmu disitu kan?" kata Mu Lian.
"En. Aku tidak pernah merasa sebebas ini dalam hidupku. Mengeksplor array, menyusun kembali, mengaktifkannya.." kata Xiaoxiao masih terus menceritakan apa yang ada dalam hatinya.Mu Lian mendengarkan semua yang yang diucapkan Xiaoxiao sambil sesekali mengamatinya.
Wajah gadis itu berbinar, sorot matanya memancarkan kebahagian serta semangat menggebu yang dulu tidak pernah Mu Lian lihat ketika pertama betemu.
Meski begitu, Mu Lian dapat menangkap kegelisahan dalam kata-kata Xiaoxiao. Setelah memastikan apa yang menjadi penyebabnya, Mu Lian menggenggam tangan Xiaoxiao.
Secara otomatis Xiaoxiao berhenti dan berdiri menghadap Mu Lian. Ketika mata Mu Lian bertemu dengan Xiaoxiao Mu Lian tersenyum.
"Xiao'er, mengapa kau ragu untuk menekuni array sepenuh hati? Langsung tanyakan saja pada paman Dongshan, pasti paman dengan senang hati membiarkanmu belajar array dengan Master Zhengheng," kata Mu Lian.
"Tapi..."
"Kau tidak tega meninggalkan paman Dongshan? Menurutku ada Yi Xue yang akan menemani paman. Dan sepertinya Mutong juga akan memilih tinggal di Lembah Ufuk Timur. Bagaimana kalau sekalian saja kita tawarkan kerja sama dengannya?" kata Mu Lian.
"Mutong? Benarkah? Tapi..."
"Bagaimana kalau kita ke paman Dongshan? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," kata Mu Lian.
"Hmm, baiklah," kata Xiaoxiao.
"Xiao'er, kau tahu? Sejak bertemu denganmu aku sudah menyukaimu. Gadis baik, pekerja keras, penyayang," kata Mu Lian melanjutkan
__ADS_1
"Senyumanmu membantuku melewati hari-hari berat ketika aku merindukan keluargaku. Aku pikir aku ingin senyumanmu tidak pernah hilang. Tapi sepertinya kau pun manusia, punya masalah. Maksudku, senyummu sangat indah, seperti peri,"
Mu Lian tersenyum canggung sedangkan Xiaoxiao terlihat sangat terkejut mendengar pernyataan Mu Lian.
"Jadi saat kau sedih karena...karena Alkimia, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membantumu, meski aku harus menunggu lebih lama untuk pulang ke keluargaku," kata Mu Lian melanjutkan sambil tersenyum menggoda
"Lalu Master Zhengheng datang dan aku melihat senyum indah itu lagi. Aku yakin jika kau menggunakan senyummu itu pasti tak akan lama hingga Senior Han jatuh cinta padamu,"
Wajah Xiaoxiao merah padam. Tangan yang digenggam Mu Lian berusaha dilepaskan namun Mu Lian tidak membiarkan Xiaoxiao melepas genggamannya.
"Baiklah, lebih baik kita menemui paman Dongshan sebelum matahari mulai terbenam," kata Mu Lian.
Mereka harus segera menyelesaikan semua urusan secepatnya, pada musim seperti ini siang berakhir lebih cepat dari biasanya.
Mu Lian dan Xiaoxiao menambah kecepatan mereka. Berjalan di tumpukan salju sangat melelahkan namun hal tersebut tidak menghalangi mereka.
Beberapa saat kemudian gerbang klinik terlihat dan seseorang membuka pintu. Yi Xue terkejut melihat Mu Lian dan Xiaoxiao.
"Lian'er? Xiaoxiao?" kata Yi Xue.
"Lama tak jumpa," kata Mu Lian.
"En. Bagaimana kabarmu?" kata Yi Xue. Mu Lian memberi tanda pada Xiaoxiao untuk segera mencari Dongshan sedangkan dia akan berbincang dengan Yi Xue.
Xiaoxiao mengangguk dan menanyakan dimana ayahnya pada Yi Xue. Setelah memastikan dimana Dongshan, Xiaoxiao masuk ke dalam klinik.
"Lian'er ayo masuk, aku akan membuatkan teh untukmu," kata Yi Xue sambil memberi jalan kepada Mu Lian.
"Terimakasih. Aku sudah hampir membeku hanya karena perjalanan ke klinik," kata Mu Lian sambil masuk ke pekarangan.
Mu Lian menyisir pekarangan namun sepertinya Xiaoxiao dan Dongshan di lantai dua. Mu Lian mengikuti Yi Xue ke dapur sambil berbincang, sudah lama dia tidak bertemu dengan pemuda itu yang dianggap sebagai teman pertamanya di dunia ini.
...
"Ayah," kata Xiaoxiao sambil mengetuk pintu.
Xiaoxiao berdiri di pintu masuk sebuah kamar. Kamar itu penuh dengan tanaman herbal dan lumpang dan alu.
Dongshan yang sedang serius memilah tanaman herbal mendongak ke arah Xiaoxiao. Xiaoxiao menghampiri ayahnya kemudian duduk di hadapannya.
"Kau sudah makan?" kata Dongshan.
"Sudah, ayah?" kata Xiaoxiao.
"Sudah. Bagaimana kabar Master Zhengheng?" kata Dongshan.
Dongshan mengetahui jika anak gadisnya sedang belajar array dibawah bimbingan Master Zhengheng.
Waktu itu Mu Haocun sedang memeriksa apakah ada kendala pengiriman obat-obatan ke daerah dampak bencana angin tornado.
Kemudian Mu Haocun mengatakan jika ada tamunya, seorang grandmaster array yang tertarik dengan bakat Xiaoxiao.
Sejak saat itu Dongshan mengetahui anak gadisnya pasti sudah berubah haluan ke array. Dongshan melihat wajah anak gadisnya yang berbinar setiap akan berangkat untuk belajar array.
"Master sedang beristirahat. Semakin hari master semakin sibuk," kata Xiaoxiao.
"Oh. Kau harus terus berada disisi Master Zhengheng, Xiao'er," kata Dongshan.
"Tentu," kata Xiaoxiao.
"Kemarilah, ayah ingin melihat wajah anak gadis ayah yang cantik," kata Dongshan.
Dongshan dapat menangkap kegelisahan dalam diri Xiaoxiao jadi dia berusaha mencairkan suasana agar Xiaoxiao dapat mengutarakan kegelisahannya.
Xiaoxiao mendekati Dongshan, ketika kepalanya diusap oleh Dongshan mata Xiaoxiao basah. Xiaoxiao akhirnya menceritakan semua yang ada dalam hatinya.
"Aku tidak apa-apa, Xiaoxiao. Ada Yi Xue dan tetangga-tetangga disini yang akan menemaniku," kata Dongshan.
"Tapi, Master Zhengheng sepertinya berasal dari negeri jauh disana dan jika aku menjadi muridnya, aku benar-benar akan pergi jauh," kata Xiaoxiao.
"Xiao'er, sejak kau belajar array aku tahu pasti kau akan pergi jauh. Aku sudah menerima kenyataannya," kata Dongshan melanjutkan
"Aku lebih memilih dirimu yang sekarang dibandingkan dirimu beberapa bulan yang lalu. Tenggelam dalam kecemburuan, padahal aku tahu kau sangat menyukai Lian'er. Aku khawatir jika kau melakukan sesuatu yang akan merusak dirimu sendiri.
Untungnya takdir masih baik padamu. Master Zhengheng datang, dan kau pun sekarang menemukan tempatmu,"
Xiaoxiao hampir tersedak napasnya sendiri. Xiaoxiao sangat malu setiap masalah 'itu' diungkit. Masalah 'itu' menjadi kejadian memalukan baginya, dan sebisa mungkin Xiaoxiao tidak mau mengungkitnya lagi.
Selain itu Xiaoxiao merasa tidak enak pada ayahnya karena sudah membuatnya khawatir. Xiaoxiao menggenggam tangan Dongshan.
"Maaf ayah, sudah membuatmu khawatir," kata Xiaoxiao.
"Tidak apa-apa. Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang karena kau sudah menemukan tempatmu, jangan ragu, Xiao'er," kata Dongshan sambil tersenyum.
"En," kata Xiaoxiao. Setelah berbicara dengan ayahnya, hatinya semakin mantap untuk maju. Tidak ada lagi keraguan atau apapun di dalam hatinya.
"Aku hanya mengingatkanmu, bahwa dimanapun kau berada kau tetap anakku. Meski kau jauh, hati kita akan selalu menyatu," kata Dongshan.
__ADS_1