
Tanpa sadar Mu Lian menghampiri potongan benda yang menyerupai tongkat itu. Dalam ingatannya Mu Lian pernah melihat benda ini di ruang kerja ayahnya di Bumi.
Namun berbeda dengan benda dalam ingatannya, apa yang ada di hadapannya ini Mu Lian yakini adalah bentuk sejati dari benda yang telah menjadi pusaka keluarganya di Bumi.
Potongan tongkat tersebut terlihat berkharisma dan sangat mewah meski seperti dibawah kutukan, terperangkap dalam lapisan batu.
Namun kini, potongan lain tongkat tersebut, yang ada di hadapannya ini memancarkan aura yang luar biasa. Tujuh warna muncul seperti aurora di langit kutub menambah keagungan yang dimilikinya.
Saat Mu Lian meraba tongkat tersebut, Mu Lian semakin yakin bahwa tongkat ini adalah tongkat yang sama dengan tongkat yang ada di ruang kerja ayahnya di Bumi.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat tongkat ini..." kata Mu Lian dengan mata berkaca-kaca.
Mu Haocun yang sejak tadi diam seperti patung akhirnya melebarkan matanya dan menghirup napas sedalam-dalamnya. Dari matanya terpancar bahwa harapannya, keinginan paling dalamnya telah tercapai.
Meski begitu, Mu Haocun tetap diam dan hanya duduk di samping Mu Lian yang sedang bernostalgia dengan tongkat yang kini berada di dalam genggaman tangannya.
Semakin lama Mu Lian merasakan tongkat tersebut, Mu Lian semakin merasakan perasaan familier yang telah dirasakannya selama di dunia ini. Tepatnya seperti yang dirasakannya dari Mu Haocun.
Mu Lian tidak menatap ke arah Mu Haocun namun akhirnya mengerti kenapa Mu Haocun bersikeras mengangkatnya menjadi cucu nya sendiri.
Mu Haocun, dengan sangat cepat menyadari bahwa darahnya mengalir dalam nadi Mu Lian sejak pertama bertemu.
Jadi alasan dibalik tidak pernah terjadi penolakan pada energi spiritual Mu Lian dan Mu Haocun adalah karena keduanya berasal dari akar yang sama, satu keluarga.
Dan meski Mu Lian belum mengetahui bahwa sebenarnya hanya darah keluarga Mu saja yang bisa mempelajari tehnik menggunakan tanah liat untuk mempelajari tehnik manipulasi energi spiritual tingkat tinggi, hanya satu kalimat yang bisa menjelaskan semuanya.
Bahwa semua itu bisa terjadi karena mereka berdua sebenarnya adalah keluarga.
Tidak ada yang mengucapkan kata-kata haru saat bertemu kembali dengan keluarga yang sudah lama tidak ditemui saat itu namun Mu Lian dan Mu Haocun bisa langsung mengobati kerinduan yang ada di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.
Mu Lian tahu bahwa Mu Haocun tidak pandai berkata-kata jadi Mu Lian hanya menggenggam tangan Mu Haocun sebagai bentuk support kepada Mu Haocun. Mu Haocun balas menggenggam tangannya dengan erat.
Mu Haocun, dalam pandangan anak-anak adalah seorang kakek yang ramah dan bisa mengundang tawa kepada mereka. Namun kini kakek ramah itu diam seribu bahasa.
Mu Lian tahu bahwa Mu Haocun pasti memiliki beribu-ribu pertanyaan dalam hatinya. Jadi dengan inisiatif sendiri, Mu Lian mulai bercerita mengenai potongan lain tongkat itu yang disimpan keluarganya di Bumi.
"Ayah bercerita bahwa pusaka keluarga ini tidak diketahui asal-usulnya. Pokoknya, kakek buyut menjelaskan kepada kakek bahwa pusaka ini adalah benda paling berharga bagi keluarga kami, jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.
Ayah pun menyuruh ibu untuk memberi tahu peringatan dari kakek buyut kepada aku dan Gege," kata Mu Lian dengan nada sedih karena hal terakhir yang dilakukannya kepada ayahnya adalah bertengkar dan menyakiti hatinya.
Sosok dingin dan tak mudah digapai pun seperti berdiri di pojok ruangan, membuat Mu Lian menoleh ke arah tersebut, berharap bisa berbaikan dengan sosok tersebut saat itu juga.
Namun yang Mu Lian kejar hanyalah bayangan ayahnya. Mu Lian menggeleng untuk meredakan penyesalan dalam hatinya kemudian lanjut bercerita,
"Pusaka keluarga yang disimpan di ruang kerja ayah seperti dalam kondisi dikutuk. Tahu tidak, kek, di Bumi ada cerita. Kalau kita menatap mata medusa, medusa itu makhluk mitologi dari Yunani, kita akan dikutuk jadi batu.
__ADS_1
Tubuh kita benar-benar berubah menjadi batu! Jadi, maaf kalau aku tidak menyadari keberadaan kakek waktu kita pertama bertemu.
Benda pusaka itu benar-benar seperti sebongkah batu, aku tidak bisa merasakan apa-apa darinya. Seperti benda mati biasa. Tidak kusangka bentuk aslinya akan seindah ini," kata Mu Lian mengelus tongkat di tangannya.
"Nama tongkat ini adalah Tongkat 7 Warna," kata Mu Haocun.
Mu Lian menunggu lama namun hanya nama pusaka keluarganya saja yang diucapkan Mu Haocun.
Akhirnya Mu Lian melanjutkan cerita tentang keluarganya. Bagaimana kakek buyutnya membangun pondasi untuk pengobatan alternatif di tempat asal Mu Lian, tentang perusahaannya yang sangat besar bahkan bisa mengalahkan obat modern.
Bagaimana formula racikan kakek buyutnya menyelamatkan orang-orang yang bahkan dokter saja sudah menyerah.
Selain pencapaian kakek buyutnya yang membawa keluarga Mu Lian ke tempat yang sangat tinggi, Mu Lian juga menceritakan kehidupan sang kakek buyut serta surat peninggalannya untuk anak dan cucunya.
Di dalam surat tertulis bahwa dia bahagia karena telah diberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya.
Dan mengingatkan kepada semua keturunannya agar meneruskan perjuangannya untuk menggunakan keahlian keluarga mereka untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk terimakasih karena diberi kesempatan kedua.
"Bagus...bagus sekali..." kata Mu Haocun dengan suara bergetar.
Mu Lian terus menatap Tongkat 7 Warna dalam diam. Tidak memberi tahu Mu Haocun tentang catatan kecil yang dituliskan kakek buyutnya dalam surat peninggalan tersebut.
Mungkin karena Mu Lian juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan kakek buyutnya. Kalimat tersebut terus
tergambar dalam benak Mu Lian,
...
"Ah Zhou! Ketemu juga! Ini, resep baru," kata Mu Lian sambil menyerahkan beberapa lembar kertas. Ling Zizhou menyimpan kertas-kertas tersebut dikantong dimensional kemudian melanjutkan menumis sayur mayur.
Karena Meimei absen, dapur Gedung Pertemuan Utara terasa sangat luas. Untungnya pagi itu dapur telah hiruk pikuk dengan aktivitas memasak yang dilakukan oleh Ling Zizhou.
Wangi sedap masakan tercium disana-sini apalagi ketika tutup wok dibuka, air liur Mu Lian sampai menetes.
"Ngomong-ngomong kau itu kemana sih? Pergi lagi dengan Xu bersaudara?" kata Mu Lian dengan nada menggoda.
Selama tiga bulan ini Ling Zizhou semakin dekat dengan Xu bersaudara. Meski Ling Zizhou terus menyangkal, kenyataannya Ling Zizhou terus saja terlihat bersama dengan kakak beradik itu.
Mu Lian sangat senang menggoda Ling Zizhou karena Ling Zizhou sulit sekali jujur terhadap perasaannya sendiri.
"Jujurlah pada perasaanmu, kalau tidak Xu bersaudara sedih dan meninggalkanmu loh! Nanti tidak punya teman lagi loh!" kata Mu Lian tersenyum jail.
"Ey!" Ling Zizhou memutar kedua bola matanya.
"Oh iya, dua bocah tengil itu. Sudah kubawa pulang dini hari tadi. Mereka ada kelas pagi kan?" kata Ling Zizhou mengalihkan pembicaraan. Mu Lian mengangguk.
__ADS_1
"Dua bocah itu tidur seperti orang mati," kata Ling Zizhou mengingat-ingat bagaimana dua bocah itu tidak pernah terbangun saat digendong kembali ke gerobak.
Mu Lian hanya menggeleng sambil tersenyum. Supaya tidak ketinggalan kelas pagi, Ling Zizhou selalu menggendong Xiaohan dan Xiaoqiu yang tertidur pulas kembali ke gerobak.
"Hmm? Lian'er, apa kau begadang? Kantong matamu itu loh," kata Ling Zizhou.
"Tidak apa-apa. Aku dan kakek sedang meneliti racikan baru!" kata Mu Lian berbohong. Karena sebenarnya kemarin malam Mu Lian begadang untuk menceritakan keadaan keluarganya di Bumi kepada Mu Haocun.
"Oh,"
"Zhou ge, sudah selesai? Ada yang bisa kami bawa?" kata Xiohua. Xiaojia menyapa Mu Lian dan Ling Zizhou kemudian membawa masakan yang sudah jadi.
Tak lama, Ling Zizhou selesai memasak semua hidangan dan sarapan pun dimulai. Xiaohan dan Xiaoqiu, terlihat masih setengah tertidur sehingga lauk mereka banyak yang dimakan Xiaobao. Xiaohua pun tidak mau ketinggalan untuk memanfaatkan kelemahan Xiaohan dan Xiaoqiu.
Ling Zizhou menyadari bahwa Mu Haocun terlihat lebih gembira dari biasanya. Meski matanya sedikit bengkak dan kantung matanya cukup besar, Mu Haocun terlihat sangat bahagia.
"Kakek tua, kau ini kenapa sih? Bikin merinding saja!" kata Ling Zizhou bergidik.
"Aku? Tidak kenapa-kenapa. Aku merasa hari ini cuacanya sangat cerah saja," kata Mu Haocun. Padahal sebenarnya yang tidak lagi mendung adalah hatinya sendiri bukan cuaca di luar.
Saking gembiranya, Mu Haocun sampai menambah durasi pelajaran hari itu. Membuat Xiaohan dan Xiaoqiu menangis di pojokan.
Apalagi pelajaran sejarah dunia dan pengetahuan umum yang menuntun anak-anak membaca buku dengan lantang.
Pada akhir pelajaran, Xiaohan dan Xiaoqiu terkapar tak berdaya selama setengah jam sebelum akhirnya bisa mengikuti latihan selanjutnya.
Karena dua instruktur utama mereka absen, Ling Zizhou dan Master Yi lah yang membimbing anak-anak.
Dan ketika latihan lapangan selesai, Xiaohan dan Xiaoqiu seperti hidup kembali. Keduanya sangat berisik dan terus menempel kepada Ling Zizhou hingga keluar gerobak.
"Ingat, jangan merepotkan Senior Du. Jangan nakal dan dengarkan omongan Senior Du," kata Mu Lian mengingatkan Xiaohan dan Xiaoqiu.
"Baik Lian jie!" kata Xiaohan dan Xiaoqiu langsung berlari menjauhi gerobak.
"Bocah-bocah tengil itu! Ngomong-ngomong kau mau kemana? Mencari resep lagi? Tumben satu arah denganku," kata Ling Zizhou.
"Aku hari ini akan mengikutimu. Sudah lama Xiaobai memintaku untuk melakukan eksplorasi," kata Mu Lian.
"EH?! Aduh, si botak itu sebentar lagi muncul. Lebih baik kau menunggu Zhi ge dan Mei jie saja bagaimana?" kata Ling Zizhou.
"Si botak? Siapa? Kau ini bagaimana sih?! Zhi ge dan Mei jie itu sedang diluar jangkauan. Sudah daripada menunggu yang tidak pasti, aku ikut denganmu saja," kata Mu Lian.
Ling Zizhou tertegun. Dia lupa kalau pasangan Dao sedang asik dengan dunia mereka sendiri pasti mereka akan lupa waktu.
Ling Zizhou pun buru-buru mengalihkan pembicaraan. Menjelaskan si botak yang dia maksud adalah Xu Jing.
__ADS_1
Xu Jing kalah taruhan, jadi harus mau dipanggil dengan sebutan si botak oleh Ling Zizhou. Ketika Ling Zizhou asik membicarakan Xu Jing, tiba-tiba saja orang dalam pembicaraan muncul dan bergabung dalam pembicaraan tersebut.