
Mu Lian mengamati dua pertarungan yang terjadi di depannya. Mu Lian berdecak kagum dengan trik kotor yang dikeluarkan pria yang menjadi lawan Ling Zizhou. Entah mengapa Mu Lian merasa tidak aman berada di dekat pertarungan mereka.
Ketika Mu Lian menoleh ke arah pertarungan antara Meimei dan pria pendek, Mu Lian melihat Meimei digiring masuk ke dalam hutan. Mu Lian khawatir dengan Meimei sehingga berlari mengejar Meimei dan pria pendek itu.
Mu Lian tahu bahwa Meimei kuat, namun Mu Lian merasa tidak enak hati meninggalkan Meimei dan pria pendek itu sendiri apalagi setelah melihat teman pria pendek itu bertarung dengan trik kotor yang membuat siapapun yang melawannya merasa jengkel.
Mu Lian berlari sekuat tenaga, mendekati suara denting metal beradu. Mu Lian berhenti di balik pohon mengintip Meimei yang sedang memainkan jiannya untuk menyamai serangan pria pendek itu.
Meimei bergerak dengan sangat cepat hingga bayangan dirinya menjadi dua. Dua Meimei tersebut masing-masing mengeluarkan jurus yang sama.
Jurus tersebut membuat jian milik Meimei terlihat meliuk-liuk ketika menyerang pria pendek. Aroma kayu menyelimuti udara disekitar Meimei hingga ke tempat Mu Lian berdiri.
Si pria pendek tak kalah cepatnya dengan Meimei, yang membedakan hanya pada bentuk jurusnya.
Serangan-serangan tersebut berusaha menebas Meimei namun berhasil dihindari sehingga menebas tanah dan pepohonan beberapa ratus meter dibelakang Meimei.
Mu Lian mengamati pertarungan tersebut sambil berusaha merasakan chi disekitarnya. Ketika Mu Lian merasakan ada perubahan chi yang sangat intens di dekatnya Mu Lian segera pergi dari tempatnya bersembunyi.
Mu Lian pindah dari satu pohon ke pohon lain mengikuti kemanapun Meimei pergi sambil mengindari serangan yang datang.
Si pria pendek menyadari keberadaan Mu Lian. Senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Hehe, sepertinya ada tikus di sekitar kita," kata si pria pendek.
"Kurang ajar!" balas Meimei.
Meimei dan si pria pendek saling bertukar jurus mematikan. Dentuman terdengar disepanjang jalur yang dilewati mereka.
Debu dan serpihan tanah beterbangan kemana-mana namun Mu Lian dapat merasakan pergerakan mereka dengan jelas.
Mu Lian merasakan ada yang aneh pada chi si pria pendek itu makanya Mu Lian tidak berani mengalihkan pandangannya semenjak Mu Lian mengikuti Meimei dan si pria pendek ke tempat ini.
Telinga Mu Lian menjadi terbiasa mendengar kekacauan yang terjadi di medan pertarungan sehingga ketika ada dentuman kencang dari belakangnya, seingat Mu Lian dari arah itu adalah gua tempat peristirahatan Mu Lian dan yang lain, arah pandangan Mu Lian tak lepas dari Meimei dan si pria pendek.
Meimei yang terpecah konsentrasinya dengan dentuman tersebut menoleh ke arah Mu Lian. Si pria pendek tersenyum lebar.
Urat nadi berwarna hitam timbul di seluruh wajahnya dan tangannya yang terkepal. Melihat itu Mu Lian merasakan ada yang tidak beres.
"Jiejie, awas!" seru Mu Lian.
Namun terlambat, Meimei berhasil menghindari serangan yang dapat merenggut nyawanya namun belum lepas sepenuhnya dari jangkauan serangan tersebut sehingga Meimei terkena gelombang kejut yang dihasilkan serangan pria pendek tersebut.
Pohon-pohon hancur disetiap jalur yang dilewati Meimei. Tubuhnya mengudara tiga meter di atas tanah. Mu Lian segera berlari ke arah pria pendek itu menghalanginya ketika pria pendek itu hendak mengejar Meimei.
Si pria pendek tersenyum geli melihat seorang gadis yang belum mencapai tingkat pembentukan pondasi berusaha menyerangnya.
Si pria pendek kemudian tidak jadi mengejar Meimei karena ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Mu Lian.
Si pria pendek menghadap Mu Lian, kedua tangannya berada disamping tubuhnya dan wajahnya seperti mengatakan 'kita lihat apa yang bisa kau lakukan'.
Mu Lian yang semenjak tadi mengamati jalannya pertarungan berhasil menganalisis dimana letak kelemahan si pria pendek. Sesuatu yang membuat Mu Lian merasa ada yang tidak beres juga.
Memanfaatkan kesempatan yang diberikan si pria pendek, Mu Lian melancarkan terpaan angin musim penghujannya.
Mu Lian tidak melancarkan bentuk yang terlalu rumit seperti kombonya, hanya terdiri dari tiga gerakan namun diarahkan tepat di dekat lokasi hati si pria pendek berada.
Si pria pendek membelalakkan mata ketika merasakan pukulan Mu Lian mengenai 'inti' miliknya. Dengan suara crat darah memancar menembus punggungnya.
"Kau!" kata si pria pendek dengan artikulasi yang tidak jelas karena mulutnya penuh darah.
"Oh," kata Mu Lian sambil menghindari aura pedang yang dikeluarkan si pria pendek.
Mu Lian merasakan sakit dan panas di lengan kanannya. Mu Lian juga merasakan cairan hangat membuat kain menempel di lengan kanannya.
"Ugh," erang Mu Lian namun tidak berani berhenti untuk melihat lengan kanannya karena jika melihat, pasti dia berhenti berlari dan berguling-guling kesakitan di atas tanah.
"Lian'er!" seru Meimei. Mu Lian bernapas lega mendengar suara Meimei. Sepertinya Meimei kembali ke dalam pertarungan.
Belum sempat merayakan kembalinya Meimei, Mu Lian merasakan nafsu membunuh yang sangat kuat sedang tertuju ke arahnya. Chi di udara sekitar juga mulai bergejolak tak terkendali.
Mu Lian mengambil lima kantung yang tergantung di ikat pinggangnya kemudian mengalirkan chi pada kelima kantung tersebut.
Kabut tebal dengan cepat menyebar ke sepenjuru arah. Mu Lian kemudian segera pergi dari jangkauan si pria pendek.
Merasa jarak antara dirinya dan si pria pendek itu sudah lumayan jauh, Mu Lian merasakan chi milik Meimei dan si pria pendek.
Mu Lian menepuk keningnya. Sekarang bagaimana Meimei akan menyerang si pria pendek itu?
Namun sepertinya Meimei mengetahui pergerakan Mu Lian berkat sesi latihan mereka. Meimei mengetahui bahwa Mu Lian pasti sudah menjauh dari jangkuan si pria pendek.
Mu Lian merasakan Meimei menyerang si pria pendek begitu pula si pria pendek. Mereka saling menyerang setelah mengetahui posisi masing-masing dari arah datangnya serangan.
Mu Lian membelalakkan matanya ketika merasakan Meimei dan si pria pendek sudah memulai pertarungan babak kedua mereka di dalam kabut tebal buatannya ini.
Namun sepertinya luka yang diakibatkan Mu Lian melemahkan si pria pendek sehingga serangannya tidak setajam ketika mereka mulai bertarung.
Meimei merasakan si pria pendek semakin melemah dan terus melancarkan serangan terbaiknya.
Sedangkan si pria pendek mulai bertahan dari serangan Meimei dan melancarkan serangan setengah hatinya. Mu Lian yang mengawasi dari jauh mulai curiga jika si pria pendek berniat kabur.
__ADS_1
Mu Lian menepuk kantung dimensionalnya untuk mengambil kain untuk membalut lengan kanannya. Merasakan cairan hangat berhenti mengalir Mu Lian kemudian beranjak menuju lokasi si pria pendek.
Mu Lian berdiri menghalangi jalan kabur si pria pendek kemudian mulai menyerangnya secara bergiliran dengan Meimei.
Mu Lian memperkirakan dengan sangat hati-hati kapan serangan Meimei tiba di dekat si pria pendek dengan merasakan gejolak chi disekitar.
Dengan bergabungnya Mu Lian, si pria pendek berada diujung kematiannya. Sambil mengumpat ke arah Mu Lian, si pria pendek berusaha menyerang Mu Lian namun Meimei sudah berdiri di dekat pria pendek dan menghalangi si pria pendek.
Mu Lian mundur lumayan jauh untuk memastikan dirinya tidak terkena serangan Meimei. Mu Lian hanya bertindak sebagai penjaga ketika si pria pendek berusaha kabur.
Beberapa saat kemudian terdengar erangan tertahan dan suara benda berat terjatuh ke tanah. Suaranya seperti beberapa buah kelapa yang jatuh ke tanah disaat yang bersamaan. Sekencang itu suaranya.
"Lian'er, kau masih disekitar sini?" kata Meimei.
"Aku disini jiejie. Apa pria itu sudah mati?" kata Mu Lian. Mu Lian hanya mencium bau amis yang sangat menyengat.
"Iya. Sebaiknya kita memeriksa Zizhou," kata Meimei.
Mu Lian berlari menghampiri Meimei, tanpa sengaja menendang sesuatu. Mu Lian tertegun sejenak namun segera menemukan Meimei tanpa masalah dan membawanya keluar dari kabut.
"Lian'er, pelan-pelan saja," kata Meimei takut terbentur pohon.
"Tidak apa-apa jiejie, percayakan saja padaku," kata Mu Lian. Tak lama, Mu Lian membawa Meimei keluar dari kabut dan mendekati badai yang sedang terjadi di sekitar gua.
Meimei mencengkeram tangan Mu Lian untuk menahannya. Sebaliknya Meimei maju untuk memimpin Mu Lian menuju badai tersebut.
"Ya ampun Zhouzhou," kata Meimei sambil berhenti tak jauh dari gua.
Mu Lian menutup mulut dengan kedua tangannya. Di mata badai terlihat Ling Zizhou dengan mata merahnya dan potongan-potongan tubuh yang tergeletak di bawah kakinya.
"Ugh!" Mu Lian memuntahkan apa yang dimakannya tadi pagi.
Meimei merasa kasihan pada Mu Lian namun tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus gadis itu. Meimei berjalan dengan sangat perlahan mendekati Ling Zizhou.
"Tunggu, jiejie, apa yang akan jiejie lakukan?" seru Mu Lian.
"Tetap diam disana! Aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci, tapi sekarang Zhouzhou sedang menghancurkan kultivasinya. Jadi aku harus segera menghentikannya bagaimanapun caranya!" kata Meimei.
"Apa?!" kata Mu Lian. Mu Lian tidak mengerti mengapa Ling Zizhou berusaha menghancurkan kultivasinya sendiri.
Meimei berjalan mendekati Ling Zizhou dengan jian di tangan kanannya. Mu Lian menyadari bahwa Meimei belum sempat merawat lukanya.
Pakaiannya koyak di sekitar perut dengan darah membasahi bagian depan pakaian Meimei. Tangan yang memegang jian sedikit gemetar namun Meimei mencengkeram gagangnya dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Meimei melancarkan beberapa jurus untuk menghancurkan badai. Namun badai itu seperti mengerjap-ngerjap sebentar kemudian semakin kencang.
Mu Lian memegang batang pohon didekatnya berusaha menjaga tubuhnya agar tidak ikut terhempas.
Ketika Ling Zizhou hendak mengejar Meimei, Mu Lian melepas tangannya dari batang pohon kemudian menghampiri Ling Zizhou.
"Zizhou! Hentikan! Kau menyakiti jiejie!"
Ling Zizhou berhenti melangkah, kemudian menoleh ke arah Mu Lian. Matanya merah dan air liur menetes dari mulutnya.
Mu Lian sedih menatap Ling Zizhou dan ingat Ling Zizhou yang selalu memasakkan makanan enak untuknya.
"Azhou! Hentikan! orang-orang jahat itu sudah tiada! Azhou ayo kita pulang!"
Ling Zizhou mengernyit, jian dalam genggamannya jatuh ke atas tanah Melihat ada kemajuan Mu Lian terus maju menghampiri Ling Zizhou.
"Azhou ayo kita pulang! Aku lapar!" seru Mu Lian.
Mu Lian hendak maju lebih jauh lagi namun merasakan angin menjadi sangat kuat dan nyaris menghempas tubuhnya, Mu Lian tidak jadi maju dan meneriakkan kata pamungkasnya.
"Arrggh!" raung Ling Zizhou sambil memegang kepala. Badai disekitarnya mereda dan Ling Zizhou bersimpuh di atas tanah.
Mu Lian memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampiri Ling Zizhou. Sebelum Mu Lian ikut bersimpuh dan membujuk Ling Zizhou, Mu Lian menendang jian milik Ling Zizhou jauh-jauh.
"Azhou, kembali padaku. Azhou kau dengar aku?" kata Mu Lian sambil mengusap punggung Ling Zizhou. Nada Mu Lian seperti seorang ibu yang membujuk anaknya yang sedang merajuk.
"Azhou, ayolah kau membuatku lapar setengah mati," kata Mu Lian. Tubuh Ling Zizhou gemetar hebat kemudian napasnya yang pendek-pendek kembali normal.
"Kenapa..." kata Ling Zizhou parau.
"Kenapa?" kata Mu Lian.
"Kenapa kau tidak menghabiskan makanan yang kusiapkan untukmu!" seru Ling Zizhou sambil mengguncang tubuh Mu Lian dengan keras.
Mu Lian melihat dalam pandangannya yang berguncang bahwa mata Ling Zizhou kembali normal. Wajahnya pun kembali tampan.
"Aduh! leherku!" seru Mu Lian berusaha menghentikan Ling Zizhou sebelum kepalanya benar-benar terpisah dari tubuhnya. Lagipula guncangan itu membuat luka di lengan kanannya semakin sakit.
"Kau terluka? Lehermu kenapa?" tanya Ling Zizhou.
"..." (Mu Lian)
"Zhouzhou! syukurlah!" kata Meimei sambil menghambur memeluk Mu Lian dan Ling Zizhou.
"Oh," kata Mu Lian dan Ling Zizhou bersamaan. Mereka merasakan tubuh mereka seperti diremukkan dari dalam.
__ADS_1
"Aduh," kata Meimei. Sepertinya Meimei juga baru sadar lukanya semakin terbuka setelah memeluk Mu Lian dan Ling Zizhou dengan sangat kencang.
"Senior! kau terluka!" seru Ling Zizhou.
"Tenangkan dirimu Zhouzhou, kau baru saja kembali normal. Kultivasimu belum stabil jadi usahakan untuk menjaga emosimu," tegur Meimei.
"Baik, Senior," kata Ling Zizhou. Kepalanya tertunduk seperti anjing yang sedang dimarahi majikannya.
"Sebaiknya kita bereskan semua kekacauan disini dan segera ke tempat peristirahatan untuk memulihkan diri. Hatiku sakit sekali melihat kalian berdua terluka," kata Mu Lian dengan mata berkaca-kaca.
"Gadis bodoh! Kau sendiri terluka!" seru Ling Zizhou ketika melihat lengan kanan Mu Lian.
"Oh," kata Mu Lian. Dia lupa kalau lengan kanannya terluka. Seketika tubuh Mu Lian kehilangan kekuatannya dan rubuh ke depan. Ling Zizhou dan Meimei menahan tubuh Mu Lian.
...
"Jadi itu yang terjadi?" kata Meng Zhi. Aura disekitar Meng Zhi menjadi sangat menyeramkan. Matanya menatap tajam ke arah Ling Zizhou.
Karena Meimei terlibat dalam pertarungan, hanya sebagian informasi yang dapat diceritakan Meimei sehingga Mu Lian ikut menceritakan kejadian tadi siang dalam sudut pandangnya.
Mu Lian dan Meimei bergantian menceritakan kejadian tadi siang dalam sudut pandang masing-masing dan Meng Zhi menanggapinya seperti sekarang ini, dia jengkel karena Ling Zizhou ceroboh dalam menangani kultivasinya.
"Benar, Senior. Maafkan aku karena telah kehilangan kendali," kata Ling Zizhou dengan sangat menyesal. Kepalanya tertunduk.
"HAH! Kalau kau pikir jadinya akan seperti apa, kenapa kau lakukan!" seru Meng Zhi.
Meng Zhi pun menceramahi Ling Zizhou selama hampir dua jam. Meimei mengajak Mu Lian untuk menyiapkan makan malam dan membiarkan Ling Zizhou mendapatkan 'waktu berkualitas' dengan Meng Zhi.
Ketika Ling Zizhou selesai diceramahi, semuanya duduk bersama untuk makan malam. Meng Zhi dan Meimei makan untuk mempercepat pemulihan mereka.
Dua hari kemudian Mu Lian dan yang lain menuruni gunung. Ling Zizhou, Meimei dan Meng Zhi sudah pulih sepenuhnya karena dibantu dengan minum pil.
Berbeda halnya dengan Mu Lian yang belum bisa meminum pil. Meimei membantu Mu Lian untuk mengoleskan obat racik di lengan kanannya sehingga dalam dua hari ini akhirnya lukanya membaik meski belum sembuh sepenuhnya.
Meimei mengatakan agar Mu Lian tidak banyak menggunakan lengan kanannya, takut lukanya terbuka kembali.
Selain itu, semenjak dua hari yang lalu, Mu Lian merasakan sikap Ling Zizhou semakin mirip dengan Mu Haocun yang terus menempel padanya.
Selain menempel padanya, Ling Zizhou juga terus mengkhawatirkan Mu Lian bahkan dalam hal terkecilpun.
Mu Lian merasa senang dan tak berdaya di saat yang bersamaan. Kini dia memiliki empat orang yang peduli pada dirinya.
Empat orang tersebut yaitu Mu Haocun, Meimei, Ling Zizhou dan Meng Zhi. Namun kebiasaan buruk mereka yaitu khawatir secara berlebihan membuat Mu Lian merasa tak berdaya.
"Senior, menurutku Lian'er butuh istirahat. Kita sudah berjalan beberapa kilometer hari ini. Aku takut lukanya terbuka lagi," kata Ling Zizhou dengan nada serius.
"Kau benar, kalau lukanya terbuka lagi, Lian'er akan kehilangan banyak darah," jawab Meng Zhi menyetujui Ling Zizhou.
"Mari kita memasak makanan untuk menambah darah," kata Meimei.
"..." (Mu Lian)
Kalau begini terus Mu Lian merasa mereka tidak akan sempat pulang ke Lembah Ufuk Timur. Dengan kecepatan selambat ini, mereka harus menunggu hingga musim dingin selesai.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh. Jika kita sering beristirahat aku takut musim dingin akan datang dan kita harus tidur di hutan ini pada musim dingin," kata Mu Lian berusaha memberikan argumen.
"Benar juga. Kita sudah membuang banyak waktu dan musim dingin semakin dekat," kata Meng Zhi. Meimei dan Ling Zizhou mengangguk.
Akhirnya kelompok Mu Lian melanjutkan perjalanan menuruni gunung dengan syarat Mu Lian harus memberitahu jika Mu Lian tidak kuat berjalan lagi.
Matahari tepat di atas kepala namun Mu Lian mendesak agar mereka beristirahat di tempat peristirahatan selanjutnya.
Meng Zhi dan Meimei menyetujui permintaan Mu Lian setelah Mu Lian meminta untuk melanjutkan perjalanan tersebut dengan digendong di punggung Ling Zizhou.
"Berhenti," kata Meng Zhi.
Dalam perjalanan menuruni gunung, kelompok Mu Lian beberapa kali bertemu dengan tipe penjebak dan si rakus tingkat 3 yang ditangani tanpa masalah oleh Meng Zhi dan Meimei.
Namun sepertinya kali ini sikap Meng Zhi lebih waspada. Begitu pula Meimei dan Ling Zizhou. Meng Zhi menatap ke arah Meimei untuk memberi sinyal.
"Zhouzhou, tunggu disini dan lindungi Lian'er. Aku dan Meimei akan memeriksa keadaan di depan," kata Meng Zhi. Semenjak dua hari yang lalu Meng Zhi ikut memanggil Ling Zizhou dengan panggilan Zhouzhou.
"Kalian berhati-hatilah, kami pergi dulu," kata Meimei.
"En. Berhati-hatilah, jiejie, Senior," kata Mu Lian. Ling Zizhou hanya mengangguk.
Meng Zhi dan Meimei berlari menuju suara pertarungan di depan mereka. Dua raungan spirit beast terdengar memecah kedamaian hutan.
Ketika tiba, seorang pria mati matian menjauh dari seekor spirit beast yang mengejar dirinya sambil menghindari jebakan-jebakan disekitar kakinya.
Pria itu terlihat sangat lelah dan terluka cukup parah. Pakaiannya koyak dimana-mana dengan darah kering dan darah segar bersatu padu.
Terlihat gumpalan hitam di lengan kirinya. Dan gumpalan tersebut berdenyut setiap spirit beast yang sedang mengejar dirinya terlalu dekat dengannya.
Melihat benda di lengan kiri pria itu, Meng Zhi dan Meimei dapat menyimpulkan spirit beast yang sedang mengejar pria itu; tipe pelacak.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki pria itu melesak ke dalam tanah, pria itu terkejut karena gagal mendeteksi jebakan tersebut.
"Awas!" seru Meimei dan Meng Zhi bersamaan.
__ADS_1