
Empat orang berdiri di depan sekumpulan Egui yang sedang melayang di atas tumpukan bangkai.
Matahari sudah terbenam dan langit malam tanpa bintang menjadi latar belakang pembasmian yang sebentar lagi akan dimulai.
Keempat orang tersebut; Mu Haocun, Meng Zhi, Master Yi dan Chu Minishen saling berkontak mata dan bergerak sesuai rencana mereka.
Ya. Setelah matahari terbenam mereka akan mulai memanen Siwang Mogu. Namun sebelum itu, mereka akan membasmi Egui agar dapat memanen dengan aman.
Mu Haocun bergeming di tempatnya sedangkan Meng Zhi, Master Yi dan Chu Minishen bergerak ke kanan, kiri dan belakang Mu Haocun.
Ketiganya nampak tidak kesulitan sedikit pun berjalan di atas salju. Seolah tubuh mereka sangat ringan hingga kaki mereka tidak melesak ke dalam salju.
Setelah berada di tempatnya masing-masing, ketiganya siap dengan senjata yang sudah ditulisi aksara perlindungan.
Seekor Egui menyadari sekumpulan manusia tak jauh dari dirinya yang bergerak secara mencurigakan.
Tubuh astralnya bergetar marah menyebabkan kerlap-kerlip kehijauan. Egui tersebut melesat menuju Mu Haocun yang sedang mengaktifkan kertas mantera.
Insting Egui tersebut mengatakan bahwa kertas berwarna kuning yang dipegang oleh manusia di depannya berbahaya.
"Kriee!"
Dengan jeritan nyaring seekor Egui, seluruh Egui di kawasan budidaya Siwang Mogu melesat menuju kelompok Mu Haocun.
Gerakan Egui lebih lincah dan serangannya lebih mematikan ketika malam tiba. Dimana energi kematian berada di tingkat tertinggi.
Master Yi dan Meng Zhi maju menghalau beberapa Egui dengan jian milik mereka. Gerakan mereka tak kalah lincah dari Egui; menahan tebasan, menerjang dan melompat.
Aksara perlindungan bersinar terang di permukaan jian mereka. Ketika mereka menebas Egui, jian milik mereka tampak seperti pedang cahaya yang digunakan oleh tokoh dalam film St*r W*rs.
Bersamaan dengan itu, kertas mantera berhasil diaktifkan oleh Mu Haocun. Tampak beberapa kertas mantera lain digenggam di tangan kirinya.
Beberapa Egui yang terpukul mundur segera pulih dan kembali menyerang Meng Zhi, Mater Yi dan Chu Minishen dengan serangan yang tak kalah mematikan dari sebelumnya.
Mereka merasakan efek mantera sehingga semakin menggebu-gebu menyerang kelompok Mu Haocun.
Meng Zhi dan Master Yi menghalau Egui yang datang dari depan Mu Haocun sedangkan Chu Minishen bertugas menjaga area di samping dan belakang Mu Haocun dengan qiang miliknya yang memiliki jangkauan yang luas.
Meski Chu Minishen tidak termasuk ke dalam daftar sepuluh orang terkuat di dunia ini, Chu Minishen merupakan salah satu pemegang qiang terkuat.Kultivasinya pun sudah berada dalam tingkat pembentukan inti.
Chu Minishen menebas beberapa Egui yang berusaha mencoba menyerang mereka dari belakang.
Gelombang angin yang dihasilkan menderu seperti ombak, merepotkan Egui yang terpukul mundur oleh aksara perlindungan.
Meski serangan yang bersifat fisik tidak akan berpengaruh pada Egui, namun tetap saja tubuh mereka menjadi tidak stabil ketika terkena angin yang sangat kuat.
Apalagi angin tersebut terdapat sedikit kekuatan aksara perlindungan. Seekor Egui yang berhasil menstabikan tubuhnya, kembali menerjang Chu Minishen.
Egui tersebut melihat area depan yang dijaga Meng Zhi dan Master Yi tak dapat ditembus sehingga memilih untuk mencoba keberuntungannya di area yang dijaga oleh Chu Minishen.
Namun malang, qiang Chu Minishen yang memiliki jangkauan luas menebas tanpa ampun. Egui tersebut terpukul mundur.
"Kriee"
Dua ekor Egui kembali menjadi asap hitam setelah terpapar mantera pembasmian. Mu Haocun mengaktifkan kertas mantera kedua karena kertas mantera pertama terbakar habis.
Ada selusin Egui yang muncul malam ini, sama banyaknya dengan tadi siang. Namun yang membedakan hanyalah kualitas energi kematiannya yang telah terkontaminasi perasaan-perasaan negatif.
Sehingga untuk membasmi dua Egui dibutuhkan satu lembar kertas mantera. Mu Haocun menyiapkan dua belas lembar kertas mantera hanya untuk malam ini.
Enam lembar merupakan perkiraan digunakannya kertas mantera, sedangkan enam lembar lagi untuk pencegahan terjadinya hal buruk.
"Kriee!"
Dua ekor lagi kembali menjadi asap hitam. Meng Zhi dan Master Yi tampak semakin senggang karena Egui beralih menyerang Chu Minishen.
Melihat sekelompok Egui berusaha menerobos pertahanannya, qiang Chu Minishen bergerak semakin lincah.
Chu Minishen maju beberapa langkah agar dapat dengan leluasa menggunakan tubuhnya sebagai poros dan memutar qiang 360 derajat.
__ADS_1
"Egui-Egui bodoh," kata Meng Zhi sambil menggelengkan kepala kemudian melanjutkan
"Sepertinya kita bisa melihat Master Chu unjuk keahlian qiang miliknya,"
Master Yi hanya menatap ke arah Chu Minishen sambil tetap mengahalau satu dua ekor Egui yang menggunakan kesempatan itu untuk menerobos.
Chu Minishen serasa memiliki panggung pertunjukkan miliknya sendiri. Dia menggerakkan qiang miliknya berputar di sekitar bahunya kemudian dengan akhir gerakan berupa tusukan tajam, seekor Egui terpukul mundur.
Qiang milik Chu Minishen bergetar karena merasakan darah tuannya mulai bergejolak akibat pertarungan tersebut.
Ya. Chu Minishen merupakan ahli senjata tingkat kesadaran. Senjatanya telah ditingkatkan sehingga cukup untuk memiliki kesadaran sendiri.
Qiang milik Chu Minishen beresonansi dengan aksara perlindungan, membuat efektivitasnya berada satu tingkat lebih tinggi.
Chu Minishen melakukan tebasan dan tusukan tanpa henti. Gerakannya mengalir seperti ombak dan menelan Egui kedalamnya.
Egui-Egui tersebut semakin marah karena tak bisa menembus pertahanan Chu Minishen yang hanya seorang diri.
"Kriee!"
Dua ekor Egui kembali menjadi asap hitam. Kini daya tempur mereka tinggal setengah dari yang pertama.
Mereka mengerahkan seluruh sisa kekuatan mereka untuk menyerang Chu Minishen yang pada akhirnya sia-sia.
Dengan terbakar habisnya kertas mantera ketujuh, ada seekor Egui yang sangat kuat sampai harus menghabiskan satu kertas mantera, pembasmian gelombang ke 3 berakhir.
"Sepertinya kita tidak diberi kesempatan unjuk gigi, bukan begitu, Master Yi?" kata Meng Zhi sambil menggelengkan kepala.
"Kerja yang bagus, Master Chu," kata Master Yi tak mengindahkan ucapan Meng Zhi.
"Terimakasih, Master Yi. Anda bisa saja, Master Meng," kata Chu Minishen malu.
"Ah, Egui kali ini cukup luar biasa," kata Mu Haocun sambil meregangkan tubuhnya.
Meng Zhi dan Chu Minishen tertegun. Cukup luar biasa? Jika yang membasmi Egui kali ini bukan Mu Haocun, mungkin saja orang tersebut sudah pingsan setelah berhasil membasmi empat ekor Egui.
"Sebaiknya kita memanen Siwang Mogu agar bisa segera beristirahat," kata Mu Haocun.
Orang tersebut harus menggunakan senjata tajam yang dituliskan aksara perlindungan untuk memanen Siwang Mogu dari tubuh bangkai.
Kemudian menyimpan Siwang Mogu yang sudah dipanen di dalam kain yang sudah disiapkan, yang telah dituliskan aksara perlindungan juga pastinya.
Tulisan tersebut berwarna merah bukan berasal dari darah, melainkan berasal dari air perasan tanaman herbal yang daunnya berwarna merah.
Tanaman tersebut termasuk ke dalam tanaman ajaib yang khasiatnya sangat kuat sama seperti teratai api dan lainnya yang sama ke dalam kelompok tersebut.
Sepuluh menit kemudian, semua Siwang Mogu yang bisa dipanen telah dipanen. Mu Haocun, Meng Zhi, Master Yi dan Cu Minishen bersiap untuk pulang.
Setelah beristirahat beberapa jam, mereka harus kembali pada tengah malam untuk membasmi gelombang ke 4 barulah selesai pembasmian yang dilakukan kelompok Mu Haocun hari itu.
...
[Di rumah Mu Haocun]
"Aiyaa, kenapa pil ini warnanya masih sekeruh yang sebelumnya? Aku sudah melatih tehnikku, apa mungkin hal ini disebabkan karena tingkat kultivasiku?" gumam Mu Lian sambil mengelus dagunya.
Sepanjang hari itu Mu Lian melatih tehnik membuat pilnya, menghasilkan hingga delapan belas butir pil dengan warna hijau keruh.
Jika memang benar dugaannya, Mu Lian tidak bisa meningkatkan kualitas pil karena tingkat kultivasinya, dia tidak berani mencoba lebih jauh karena di lembah ini Mu Lian sudah tidak bisa berkultivasi lagi.
Semua kultivasinya selama dua bulan ini adalah untuk berlatih memanipulasi energi spiritualnya dan membuat api pil.
Mu Lian tidak berani mengusik chi di Lembah Ufuk Timur lagi. Mengakibatkan tingkat kultivasi Mu Lian masih sama seperti dua bulan yang lalu, pengkondensasian chi tahap akhir.
Dan Mu Lian tidak memusingkan hal tersebut, baginya tingkat kultivasinya sekarang cukup untuk memfasilitasi dirinya dalam perjalanan menuju ibu kota.
"Lian'er, Master Mu sudah datang. Ayo kita makan malam," kata Ling Zizhou.
"Duluan saja, aku-aku harus melakukan sesuatu," kata Mu Lian enggan. Ling Zizhou menatap Mu Lian dan dibalas dengan senyuman canggung.
__ADS_1
"Hmm, Baiklah. Jangan lama-lama. Nanti makananmu dingin," kata Ling Zizhou.
Mu Lian buru-buru membereskan pil dan peralatannya kemudian kembali ke kamar. Setelah meletakkan pil dan kualinya, Mu Lian menuju lemari untuk membawa pakaian dalam bersih.Mu Lian melihat ****** ***** tersebut. Di bagian dalamnya terdapat bantalan dari kulit kelinci.
"Ugh, masa-masa datang bulan di dunia ini sangat merepotkan. Apalagi ketika musim dingin," keluh Mu Lian.
Ketika Mu Lian pertama datang ke dunia ini, dia mengalami kultur shock perihal tidak adanya pembalut wanita.
Pembalut dikenal sebagai penadah darah di dunia ini. Mu Lian disuguhkan beberapa jenis penadah darah waktu itu.
Yang pertama adalah penadah darah yang terbuat dari rerumputan dengan bantalan lumut, yang kedua adalah yang terbuat dari bubur kayu halus dari pepohonan.
Mu Lian tertegun melihat 'penadah darah' tersebut dan kebingungan hendak memilih yang mana karena Mu Lian tidak pernah memakai yang seperti itu.
Mu Lian juga berpikir apakah penadah darah dari kedua bahan tersebut higienis atau tidak. Memikirkannya saja membuat otaknya overload.
Akhirnya Mu Lian memilih penadah darah yang terbuat dari kulit hewan yang lucu itu. Mu Lian merasa beralah namun dia tidak bisa apa-apa.
Lagipula permukaan bantalan penadah darah itu begitu lembut dan nyaman, mengingatkannya pada pembalut di Bumi.
Mengingat Mu Haocun dan yang lain menunggunya, Mu Lian segera menyeka tubuh bagian bawahnya kemudian mengganti penadah darahnya.
Setelah memastikan rok nya terikat dengan kuat, Mu Lian turun ke pekarangan. Tampaknya Mu Haocun, Ling Zizhou, Master Yi dan Han Tengfei sudah duduk ditempatnya masing-masing dan sedang meminum teh.
"Kakek, Master Yi, selamat datang. Kenapa kalian belum mulai makan?" kata Mu Lian.
"Oh, Lian'er. Kemarilah, cuaca sudah sangat dingin. Sebaiknya kita segera memakan hidangannya, untung saja Master Yi menggunakan mantera untuk menjaga makanan tetap hangat," kata Mu Haocun.
"Maaf membuat kalian menunggu," kata Mu Lian malu. Dia tidak mengatakan alasannya namun semua yang ada disini tahu jika Mu Lian mengurusi masalah datang bulan.
Beberapa hari sebelumnya Mu Lian telah membeli dalaman dengan bantalan dari kulit kelinci. Makanya Mu Haocun pun sejak beberapa hari yang lalu meminta agar Mu Lian tidak terlalu memaksakan diri.
Mu Lian duduk disamping Mu Haocun kemudian mereka makan dengan khidmat. Seusai makan, Mu Haocun pamit kembali ke kamarnya untuk mengurusi sesuatu sedangkan Master Yi pergi entah kemana.
Ling Zizhou ke dapur untuk mencuci piring diikuti Han Tengfei. Sepertinya ikatan diantara kedua pemuda itu semakin erat.
Mu Lian bersyukur karena akhir-akhir ini Han Tengfei jadi lebih sering menempel pada Ling Zizhou jadi dia bisa dengan leluasa mengembangkan kemampuan membuat pilnya.
Mu Lian kembali ke kamar kemudian duduk untuk menulis buku hariannya. Semenjak dia belajar memanipulasi energi spiritual, buku hariannya berubah menjadi jurnal pembelajarannya.
Bagaimana progress hari ini, apa saja kelemahan yang harus diperhatikannya, langkah selanjutnya yang akan dipelajari dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini pun Mu Lian banyak melakukan riset dari berbagai buku yang dapat ditemukan di kamar Mu Haocun tentang bagaimana menaikan efektivitas dalam pengekstraksian chi.
Namun sepertinya Mu Lian tidak akan menemukan suatu hipotesis jika dirinya belum benar-benar melakukan pengekstrasian chi.
Masih banyak yang harus dipikirkannya namun sebelum itu, Mu Lian bangun dari kursinya kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ah, setelah bekerja memang paling enak tidur-tiduran," gumam Mu Lian sambil memejamkan mata.
Namun baru saja sepuluh menit memejamkan mata, Mu Lian mendengar ketukan pelan. Mu Lian bangun dan menghampiri pintu.
"Kakek?" kata Mu Lian.
"Apa kau sedang istirahat?" kata Mu Haocun.
"Tidak, masuklah," kata Mu Lian berbohong.
Bagaimana bisa dia menolak Mu Haocun jika Mu Haocun sendiri yang baru saja pulang dari kawasan budidaya belum beristirahat sama sekali?
"Baiklah, tidak akan lama. Kakek hanya akan memberikan poin-poin penting dalam penelitian pengekstrasian chi," kata Mu Haocun sambil masuk ke dalam kamar kemudian duduk di kursi.
Mu Haocun meletakkan sebuah bungkusan, alat seperti pinset juga beberapa lembar kertas. Mu Lian menutup pintu kamar kemudian berdiri di depan meja, melihat barang-barang yang diletakkan di atasnya dengan penasaran.
"Oh. Tolong jelaskan agar aku tidak melakukan kesalahan," kata Mu Lian.
"Ini tata cara melakukan penelitian. Di lembar satunya adalah bahan-bahan yang diperlukan, minta bantuan saja pada Zhouzhou atau pemuda Han untuk membantumu mengumpulkan bahan-bahan tersebut," kata Mu Haocun sambil menyerahkan setumpuk kertas kepada Mu Lian.
Mu Lian membaca sekilas tulisan-tulisan yang ada di atas kertas tersebut. Mulut Mu Lian terbuka melihat langkah-langkah yang dituliskan, bukan karena sangat sulit, Mu Lian sudah terbiasa dengan langkah yang sangat banyak dalam meracik obat herbal.
__ADS_1
Satu kata yang dapat menggambarkan situasi yang akan dihadapi Mu Lian nanti, yaitu berbahaya. Cukup berbahaya baginya.