Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Menantikan anggota baru


__ADS_3

Butuh waktu sangat lama bagi Ling Zizhou mencerna informasi mengenai kedatangan anggota baru di keluarga besar mereka ini.


Selama beberapa hari pun Ling Zizhou menyombongkan diri bahwa dirinya akan memiliki adik.


"Haha, Hahahaha,"


Akhir-akhir ini Ling Zizhou sering tertawa sendiri seperti orang gila. Apalagi setelah mengungkit adik yang masih lama lahirnya itu.


Namun kegembiraan tersebut menular apalagi setelah mengetahui bahwa anak yang Ling Zizhou maksud adalah anak dari Meng Zhi.


Beberapa kelompok yang berasal dari Zhongjian, termasuk Du Luhan tahu betul bahwa sangat sulit bagi makhluk legenda untuk memiliki keturunan.


Sehingga, mereka sama gilanya dengan Ling Zizhou. Sering tertawa, berandai-andai mengenai anak tersebut dan lain sebagainya.


Meng Zhi hanya bisa pasrah melihat orang-orang tersebut. Sebagai ayahnya saja Meng Zhi belum bisa tertawa karena saat ini Meimei masih dalam kondisi yang sangat riskan.


Belum bisa dipastikan calon anaknya akan selamat melalui masa pembuahan namun Meimei sebenarnya sudah bisa dikatakan hamil.


Meng Zhi hanya bisa berdoa dan bergantung kepada Mu Haocun serta Mu Lian karena belum diperbolehkan menemui Meimei.


Janin yang belum stabil dapat meninggal sebelum berkembang jika kontak secara sembarangan dengan ayahnya.


Ini saja Mu Haocun terlambat 'memisahkan' si anak dengan ayahnya. Untungnya sang anak sejauh ini belum mengalami masalah. Tetap saja, Meng Zhi harus bersabar untuk sementara ini jauh dulu dari istri dan anaknya.


Mau tidak mau. Karena semakin besar, janin akan semakin merasakan dampak ketika berbenturan dengan chi ayahnya.


"Tenang saja, aku akan berusaha yang terbaik untuk anak ini," janji Mu Haocun. Mu Lian juga menenangkan Meng Zhi.


Setiap hari Mu Lian menceritakan perkembangan ibu dan anaknya kepada Meng Zhi yang kini tidur di rumah pohon milik Xu bersaudara.


"Tenang saja, Mei jie tidak akan kesepian karena anak-anak selalu menemani di setiap saat," kata Mu Lian.


Meng Zhi yang kini tampangnya seperti anak terlantar hanya bisa mengangguk. Xu Ke menatap Mu Lian dengan tatapan, 'Sebaliknya, yang merasa kesepian adalah senior Meng'.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Masih ada yang sakit dan kakek tidak bisa menangani semuanya sendirian," kata Mu Lian.


"Masih ada yang sakit? Bukannya yang kemaren sakit sudah sembuh?" kata Xu Jing.


"Entahlah. Secara ajaibnya mereka sakitnya gantian. Tapi untungnya begitu, kalau tidak Mei jie bisa sadar dan malah jadi kepikiran," kata Mu Lian.


Meng Zhi menoleh ke arah Mu Lian dengan tatapan khawatir, Mu Lian segera menenangkannya, "Tenang saja, Mei jie tidak menyadarinya dan saat ini sedang rebahan dengan nyaman ditemani anak-anak,"


Seperti yang telah dijelaskan Mu Lian, anak-anak sakit karena bereaksi dengan dosis akselerator dan chi baru yang ditingkatkan oleh Mu Lian di dalam gerobak. Mereka mengalami demam yang sangat tinggi, dan mengalami pembengkakan meridian.


Untungnya penyakit tersebut tidak begitu parah karena mereka dirawat dengan tepat dan Mu Lian juga sangat hati-hati ketika memperkirakan dosis akselerator dan chi yang harus didistribusikan di dalam gerobak.


Setiap 2 minggu sekali ada saja yang sakit. Yang sebelumnya sembuh ada lagi yang sakit begitu seterusnya.


Karena sakitnya bergantian, Meimei yang tidak diberitahu informasi yang bisa membuatnya stres, termasuk sakitnya anak-anak, tidak menyadari ada yang tidak beres pada anak-anak.


Anak-anak begitu tangguh meski usianya masih sangat muda dan tidak mengeluh sehingga tidak pernah ketahuan oleh Meimei. Mereka semua berharap untuk segera bertemu dengan adik baru mereka.

__ADS_1


"Aku harap anak-anak lekas sembuh. Kasihan sekali mereka, bagaimana dengan yang paling bungsu?" kata Meng Zhi.


"Aman. Tenang saja, malahan bungsu-bungsu yang paling pertama sakit. Tapi mereka dengan tangguhnya melalui semua itu dan sehat kembali," kata Mu Lian. Mu Lian segera beranjak dari duduknya dan segera keluar rumah.


Seperti biasanya, Xu Jing menemani Mu Lian hingga ke gerobak. Pemuda itu kini jarang terlihat dengan Ling Zizhou karena Ling Zizhou sedang latihan intensif dengan Master Yi.


"Terimakasih sudah mengantar, aku akan menyampaikan salam darimu," kata Mu Lian segera melewati portal.


"Ya! Sampai ketemu besok!" kata Xu Jing melambaikan tangannya. Ketika Mu Lian menghilang sepenuhnya di balik portal, senyum Xu Jing menghilang dan kini terlihat seperti anak terlantar. Kembali ke rumah pohon dengan langkah gontai.


Setiap hari berlatih, kalau sempat bertemu temannya itu tertawa gembira meski dengan wajahnya yang babak belur.


Kini Xu Jing merasakan kesepian tiada bandingannya apalagi setelah teman yang sering diajaknya bertaruh dalam segala halnya itu meninggalkannya sendiri...


Yah, setidaknya dia masih bisa bertemu dengan Mu Lian setiap hari jadi Xu Jing merasa lebih baik.


...


Waktu berjalan dengan sangat cepat. Apalagi setelah semuanya bisa beradaptasi dengan lingkungan disekitar yang telah berevolusi.


Korban jiwa bisa ditekan seminimal mungkin, tidak sampai nihil karena masih ada saja korban baik itu saat berburu hewan buas maupun tidak sengaja bertemu dengan spirit beast.


Untuk saat ini, tidak ada yang berani menghadapi spirit beast karena belum ada yang bisa menentukan karakteristiknya. Peggolongan spirit beast di dunia luar tidak akan membantu mereka sama sekali.


Sedangkan alasan masih jatuh korban ketika berburu hewan buas adalah karena kini hewan buas memiliki kecerdasan layaknya manusia.


Setelah 3 bulan mengamati gerak-gerik hewan tersebut, semuanya dapat menyimpulkan bahwa hewan tersebut menjadi sangat cerdas.


"Lian'er, aku menemukan satu hewan lucu lagi!" kata Xu Jing bersemangat.


"Benarkah? Yang mana? APa aku pernah menemuinya?" kata Mu Lian. Xu Jing mendekat dan mulai menceritakan hewan tersebut.


"Bentuknya sekecil ini, telinganya..."


Malam itu seperti biasanya, Mu Lian mengunjungi rumah pohon Xu bersaudara sekalian menyampaikan kabar terbaru Meimei dan anaknya kepada Meng Zhi.


Ling Zizhou telah berpesan kepada Xu Jing untuk menjaga Mu Lian ketika dirinya pergi berlatih bersama masternya.


Dari Xu Jing, Mu Lian mendapatkan informasi mengenai hewan-hewan yang akan dipelihara di dalam gerobak.


"..." (Meng Zhi dan Xu Ke)


Tak jauh dari ruang tamu, Meng Zhi dan Xu Ke tampak duduk berhadapan namun tidak ada komunikasi diantara keduanya. Lebih tepatnya Xu Ke menemani Meng Zhi melamun.


Melihat kondisi Meng Zhi yang seperti itu, Mu Lian pun memutuskan untuk menanyakan hewan-hewan tersebut kepada Han Shi.


"Apa kau yang yakin ingin menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan hal seperti itu?' kata Han Shi menyuruh Mu Lian untuk mempertimbangkan baik-baik.


Karena terjerat aturan, kini setiap pertanyaan harus dibayar dengan sebuah tes. Dan setiap kali Mu Lian berhasil melalui sebuh tes, tes tersebut akan semakin meningkat kesulitannya.


Apa boleh buat, ini menyangkut keselamatan semua yang tinggal di dalam gerobak. Mu Lian mengangguk," Ya, aku yakin. Aku siap kapanpun anda mau,"

__ADS_1


OOOOONNNNG


Suara menakutkan bergema dan seperti menyusup ke lubuk hati seseorang yang paling dalam. Han Shi menoleh ke arah pohon besar, dimana daun-daun pohon tersebut 'menatap tajam' ke arah dirinya.


"Master Hong Bai. Tuan putri yang memintaku untuk mengetes, tolong jangan marah," kata Han Shi sambil mengangkat kedua tangannya.


Hening.


"HUft, aku selamat. Beliau sangat menyukaimu sampai Tuan saja jadi dihiraukan," kata Han Shi menggeleng.


Mu Lian hanya diam dan menunggu aba-aba mulai dari Han Shi. Ketika jemari-jemari berbentuk akarnya diarahkan kepada Mu Lian dan Han Shi meminta untuk menyambungkan dirinya dengan akar-akar tersebut, dimulailah tes itu.


Mu Lian menggunakan manipulasi energi spiritual tingkat tinggi untuk menyentuh serta menyambungkan dirinya dengan akar-akar tersebut.


Cara tersebut terbukti sangat ampuh untuk melatih manipulasi energi spiritual tingkat lanjutnya.


Makanya Mu Lian tidak keberatan dengan tes yang diberikan oleh Han Shi. Mu Lian juga mendengar dari Mu Haocun bahwa cara ini sangat bermanfaat dalam latihan manipulasi energi spiritualnya. 3 kali lipat lebih efektif malah.


Seperti biasa, setelah berhasil menyambungkan dirinya dengan akar-akar itu, kesadaran Mu Lian langsung dibawa ke sebuah padang rumput yang terhampar sejauh mata memandang.


Dari kejauhan, tampak tidak ada batas antara langit biru dengan rumput-rumput setinggi pinggang Mu Lian yang berwarna kebiruan juga.


Di 2 daerah yang tidak diketahui batasnya ini selalu ada teka-teki yang harus dipecahkan Mu Lian jika ingin keluar dari sana.


Kadang Mu Lian ditunjukkan ingatan seseorang dan harus menjelaskan dengan benar kesalahan apa yang membuat kejadian buruk menimpa dirinya.


Pada kesempatan lain Mu Lian ditunjukan hewan-hewan, tumbuhan-tumbuhan dan ditanya apakah ada sesuatu yang salah dengan mereka? Kira-kira apa penyebabnya?


Meski terdengar mudah, butuh konsentrasi penuh dan manipulasi energi spiritual yang sangat baik agar dapat mengatur durasi berada di padang rumput ini dengan baik.


Jika energi spiritual banyak yang dibuang-buang dengan percuma dan menyebabkan Mu Lian terlempar keluar tanpa sempat menjawab pertanyaan, jiwa Mu Lian akan hancur.


JIka terlalu lama berada di padang rumput ini juga membuat jiwanya seperti pecandu narkoba. Bisa-bisa kehilangan akal sehat.


Terdengar mengerikan memang, namun Mu Lian merasakan manfaatnya pada latihan manipulasi energi spiritual sehingga berani mengambil resiko.


Bahkan Mu Lian selalu mengingatkan dirinya untuk menyempatkan diri melakukan tes penuh adrenalin ini.


Mu Lian menunggu teka-teki sambil mengingatkan dirinya untuk mengambil tes setelah lulus ujian praktik yang akan diberikan oleh Mu Haocun 6 bulan lagi.


Seseorang tidak boleh serakah hingga melakukan sesuatu dengan ceroboh, tetap harus direncanakan matang-matang.


Tak lama, Mu Lian melihat sebuah jantung seukuran semangka. Jantung tersebut dihubungkan dengan jantung-jantung yang lebih kecil menggunakan sesuatu yang nyaris tak terlihat namun ketika diselidiki lebih jauh ternyata warnanya mengikuti lingkungan sekitar.


Jantung seukuran semangka itu memiliki aura yang sangat bertolak belakang dengan jantung-jantung lainnya.


Aura jantung tersebut sangat brutal dan kacau sedangkan yang lainnya sangat tenang dan alami, mengalir seperti sungai.


Meski begitu, mereka bisa hidup berdampingan tanpa merugikan salah satu pihak. Bahkan Mu Lian melihat jantung seukuran semangka itu berdetak sangat cepat, bereaksi ketika ada satu jantung yang berhenti berdetak.


Mu Lian mengamati jantung-jantung itu dalam diam. Sepertinya dia familier dengan pemandangan yang ada di depannya itu.

__ADS_1


__ADS_2