
"Kakek?Azhou? Senior Han?" seru Mu Lian sambil mencari ketiga orang itu di kamar, dapur dan aula resepsionis.
Kemarin malam, tanpa sengaja Mu Lian tidur sangat lelap. Setelah berhari-hari bekerja dengan sangat keras, akhirnya tubuh Mu Lian kalah dengan rasa lelah yang luar biasa.
Tanpa Mu Lian sadari, tubuhnya menunjukkan protes. Jika bukan karena sangat lapar, mungkin saja Mu Lian bangun keesokan harinya.
Ketika bangun, Mu Lian merasa jika rumah terasa sangat sepi. Tidak ada suara-suara yang terdengar dari pekarangan.
Mu Lian memeriksa *kamar Mu Haocun, Ling Zizhou dan Master Yi namun tidak ada siapapun. Padahal hari itu Mu Haocun dan Master Yi libur.
Namun Master Yi selalu menemukan kegiatan yang membuatnya sibuk meski dirinya sedang libur dari tugas, seperti melatih kedua muridnya itu.
Setelah memastikan tidak ada siapapun di lantai 2, Mu Lian turun ke pekarangan. Diperiksanya dapur dan aula resepsionis namun tidak ada siapapun.
"Untuk apa aku membuang-buang waktu mencari seluruh rumah? Aku kan bisa menggunakan indera spiritual," gumam Mu Lian sambil menggelengkan kepala.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Mu Lian keluar mencari keempat orang itu. Mu Lian berjalan melintasi pekarangan dengan susah payah.
Setelah menutup gerbang, tiba-tiba Mu Lian ragu. Kemana perginya ketiga orang itu? Ketika Mu Lian masih menimbang kemana dulu harus mencari, suara Ling Zizhou dan Mu Haocun terdengar dari kejauhan.
"Lian'er? Kau sudah bangun?" kata Mu Haocun. Langkahnya sangat cepat hingga tanpa Mu Lian sadari, Mu Haocun sudah berada di depannya.
Mu Lian tersenyum getir melihat Mu Haocun yang tidak terpengaruh oleh tumpukan salju di bawah kakinya.
Mungkin karena selalu melihat sikap santai dan sikap memanjakannya, Mu Lian jadi melupakan fakta bahwa tingkat kultivasi Mu Haocun telah mencapai pembentukan jiwa.
"Kenapa melamun begitu? Kakek tua! apa Lian'er harus diperiksa? Aku tidak mau dia tambah bodoh!" kata Ling Zizhou setelah melihat Mu Lian tidak mengatakan apa-apa.
Ujung mulut Mu Lian berkedut. Apakah pemuda ini mengejeknya? Namun wajahnya terlihat sangat serius, Mu Lian menatap bingung Mu Haocun, meminta penjelasan darinya.
"Untuk apa kedua mata yang menempel di kepalamu? Tidak ada tumpukan salju yang menyelimuti Lian'er, jadi kurasa dia hanya terlalu senang melihat kakeknya," kata Mu Haocun sambil memutar bola matanya.
"Kakek," kata Mu Lian menuntut penjelasan dari Mu Haocun.
Mu Haocun tersenyum geli kemudian mengajak Mu Lian masuk untuk sarapan dulu.
Mu Haocun tahu pasti Mu Lian akan mencari mereka tanpa sarapan terlebih dahulu, jadi Mu Haocun mengajak Ling Zizhou pulang untuk memeriksa Mu Lian.
Masalah di sisi sana, sepertinya tidak terlalu mendesak dan dapat ditangani oleh orang bersangkutan.
Ling Zizhou memanaskan makanan sementara Mu Haocun menjelaskan bahwa dia dan Ling Zizhou pergi ke klinik Dongsang.
Mu Haocun meyakinkan Mu Lian bahwa tidak terjadi masalah besar, barulah Mu Lian bisa sarapan dengan tenang.
Mu Lian melahap congee yang dibuat Ling Zizhou sambil mengamati pemuda yang sedang membersihkan tumpukan salju di pekarangan itu.
Ling Zizhou menyendok salju dengan sekop. Menyisihkan salju-salju tersebut ke pinggir. Setelah salju-salju itu menggunung, Ling Zizhou memanaskannya menggunakan api hingga berubah menjadi uap.
"Apa paman Dongshan membutuhkan bantuan?" kata Mu Lian.
"Tidak. Sampai saat ini belum, tapi mungkin kalau makin banyak yang datang, akan sedikit merepotkan," kata Mu Haocun.
Mu Lian hanya mengangguk. Pantas saja tadi pagi Xiaoxiao tidak datang. Mu Lian bangun sangat siang dan mencari tahu apa gadis itu menunggunya atau tidak.
Mu Haocun mengatakan bahwa sejak pagi, Xiaoxiao tidak datang. Meski Han Tengfei sudah datang pun gadis itu tidak datang juga.
Awalnya Ling Zizhou dan Han Tengfei tidak akan mencari tahu alasan dibalik keabsenan Xiaoxiao hari ini, namun Mu Haocun mengajak kedua pemuda itu mencari Xiaoxiao.
Alasannya adalah jika Xiaoxiao berhalangan hadir, pasti ada sesuatu yang mendesak. Mau kondisinya mengancam atau tidak mengancam nyawa, Mu Haocun selalu mendatangi klinik untuk melihat kondisi.
Benar saja, ketika dicari di klinik, Xiaoxiao terlihat sangat sibuk membantu ayahnya. Yang membuat Mu Lian terkejut adalah Han Tengfei meninggalkan diri di klinik ketika Mu Haocun dan Ling Zizhou hendak pulang memeriksa Mu Lian.
Mu Lian merasa rencananya selama ini untuk mendekatkan mereka berdua tidak sia-sia. Namun tetap saja Mu Lian penasaran dengan 'penyakit' yang diderita penduduk kali ini.
"Ayo kakek! Aku ingin membantu Paman Dongshan juga!" kata Mu Lian sambil beranjak menuju gerbang.
Mu Lian tidak bisa membuat Mu Haocun membeberkan lebih jauh lagi mengenai 'penyakit' tersebut.
__ADS_1
Menurut Mu Haocun, penyakit tersebut sebenarnya bukan penyakit, melainkan salah satu fenomena yang biasa terjadi ketika musim dingin.
Melihat Mu Lian melewati gerbang, Ling Zizhou melemparkan sekop yang ada di tangannya kemudian segera mengikutinya.
Di depan klinik, Mu Lian melihat antrian panjang yang mayoritas pria dewasa. *Kepala dan pundak mereka diselimuti salju hingga dapat menggambarkan manusia salju dengan sangat akurat!
"Ptok ptok ptok!"
"Rawr rawr!"
"Pak kepala, kenapa anda merebut minumanku!"
Mulut Mu Lian terbuka melihat pemandangan didepannya. Pak kepala sedang berdebat dengan wakilnya, beberapa paman berbicara dengan bahasa ayam atau kucing?
Mu Lian menoleh ke arah Mu Haocun yang berdiri disampingnya. Tanpa bisa berkata-kata, mulut Mu Lian seperti mulut ikan, membuka dan menutup.
"Pfft, HAHAHA!" Ling Zizhou tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan Mu Lian, namun menertawakan paman-paman didepannya.
"Azhou?! Sudah kubilang jangan kembali! Kau tidak membantu, hanya bisa tertawa!" seru Meimei sambil menghampiri Ling Zizhou dengan jian di tangan kanannya.
"Jiejie?" kata Mu Lian terkejut.
"Oh. Lian'er! Aku rindu sekali padamu! Bagaimana kabarmu?" kata Meimei sambil memperingati Ling Zizhou supaya diam dengan matanya kemudian menyarungkan kembali jian miliknya ke dalam sarung.
Mu Lian melepas rindu dengan Meimei selama hampir sepuluh menit. Keduanya jadi jarang bertemu semenjak pulang dari Gunung Kaki Langit.
Meski Mu Lian belum puas melepas rindu, Mu Lian tetap menanyakan apa yang sebenarnya dialami paman-paman itu.
Meimei menatap Mu Haocun, ketika Mu Haocun menatap Meimei dengan tatapan 'kuserahkan padamu'. Meimei menjelaskan apa yang terjadi.
Paman-paman itu mengalami degradasi. Seseorang yang lalai membersihkan salju yang jatuh di kepala serta sekitar bahunya akan mengalami sedikit kemunduran pada kerja otaknya.
Gejala awal yang dirasakan adalah seperti ketika kita minum air es dengan sangat cepat hingga kita merasakan otak kita seperti membeku.
Pasien pada gejala awal ini mulai kebingungan, terasa seperti otaknya lumpuh dan tidak bisa berpikir apa-apa.
Kemudian gejala selanjutnya adalah otak memutar terus-menerus satu kejadian yang membuat pasien emosional.
Gejala selanjutnya adalah kehilangan identitas diri. Contohnya saja paman yang bicara dengan bahasa ayam itu, atau yang bicara dengan entah bahasa anjing atau kucing?
Dan yang terakhir ketika terlambat ditangani, akan terjadi kerusakan permanen pada otak. Otak sang pasien berubah menjadi orang keterbelakangan mental setelah mengalami 'degradasi' yang cukup besar.
Sepanjang penjelasan, wajah Mu Lian semakin menunjukkan raut ketakutan. Dan Ling Zizhou yang berada disebelahnya, tidak membantu sama sekali.
Pemuda itu terus tertawa hingga tubuhnya hampir jatuh ke belakang.
Mu Lian mengernyit melihat Ling Zizhou, kemudian menatap paman-paman yang sedang berdiri di antrian. Takut paman-paman itu tersinggung karena pemuda itu menertawakan mereka.
"Lihat wajahnya! Haha! Tenang saja, Lian'er, mereka sudah tidak sadar pada keadaan disekeliling mereka," kata Ling Zizhou sambil menahan tawa. Meimei mendesis, jengkel melihat pemuda itu.
"Apa mereka baik-baik saja?" kata Mu Lian.
"Hoho, tentu saja mereka baik-baik saja. Bagi penduduk yang sudah biasa dengan fenomena ini, mereka menganggapnya seperti terkena flu biasa," kata Mu Haocun melanjutkan
"Tidak ada kematian yang terjadi akibat degradasi. Paling-paling orang bodoh yang lalai menjaga tubuhnya sendiri itu hanya akan tambah bodoh,"
"Master, jangan menakuti Lian'er," kata Meimei sambil tersenyum tak berdaya.
"Aku setuju denganmu kakek tua! Sudah tahu kalau salju-salju itu dapat menyebabkan degradasi, tapi mereka tetap saja tak peduli.
Bukankah itu artinya mereka bodoh? Sampai terkena degradasi, pfft," kata Ling Zizhou.
Pundaknya berguncang karena menahan tawa.
Mu Lian menatap sekumpulan paman itu dengan tatapan yang kompleks.
Mengingat sesuatu, Mu Lian bertanya, apakah paman-paman itu diantar ke klinik oleh kerabatnya. Kalau iya kemana mereka, kenapa langsung dicampakkan begitu saja di depan klinik?
__ADS_1
Mendengar hal ini, Meimei tidak bisa menahan emosinya hingga nyaris tertawa bersama Ling Zizhou. Sedangkan Mu Haocun hanya batuk.
Ling Zizhou menceritakan bahwa wajah para pengantar paman-paman itu sangat lucu. Setelah memastikan paman-paman itu aman di depan klinik, pengantar-pengantar tersebut langsung mengambil langkah seribu.
Ayah? Lupakan. Paman? Lupakan. Kakak? Lupakan. Siapa suruh mereka ceroboh hingga membuat
dirinya sendiri seperti itu.
...
"Hei Shaoting, kau yakin disini tempatnya?" kata seorang pemuda dengan mata sayu. Lingkaran hitam dibawah matanya sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu.
"Yunhao! Kalau kau tidak percaya, kenapa mengikutiku?!" kata Shaoting sambil menggertakkan gigi. Shaoting memiliki aura pelajar yang sangat kuat, matanya menunjukkan binar tak biasa. Matanya seolah mengetahui segalanya.
Sekilas, kedua pemuda itu tampak dekat satu sama lain karena posisi mereka, namun kedua pemuda itu sebenarnya baru mengenal satu sama lain beberapa minggu yang lalu.
Shaoting, si kutu buku penyendiri, tiba-tiba didekati oleh keempat murid Mu Haocun. Ayah angkatnya, si pedagang kaya sempat mengatakan untuk 'berteman' dengan keempat murid Mu Haocun.
Karena Shaoting merasa bersyukur kepada ayah angkatnya itu, Shaoting tentu saja mengikuti perkataan ayahnya.
Melihat keempat murid Mu Haocun yang ingin dekat dengannya, Shaoting pun menerima dengan tangan terbuka.
Dan jika Shaoting boleh jujur, Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi asik diajak mengobrol. Pemuda-pemudi itu menyenangkan, supel juga cerdas. Pantas menjadi murid-murid Mu Haocun!
Tanpa Shaoting sadari, Shaoting masuk ke dalam lingkaran pertemanan Mu Lian. Kemudian Shaoting menangkap dengan matanya jika keempat teman barunya ini gelisah akan sesuatu.
Ketika Shaoting bertanya apa yang membuat mereka gelisah, ternyata keempat teman barunya itu sedang membatu investigasi penghianat di dalam Sekte Embun Pagi.
Shaoting pun menawarkan bantuan. Melalui ayah angkatnya, Shaoting mendapat beberapa petunjuk penting. Petunjuk-petunjuk tersebut tanpa sengaja membuat Shaoting berkenalan dengan Yunhao.
Shaoting kemudian mengenalkan Yunhao kepada Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi. Shaoting dan Yunhao menjelaskan petunjuk-petunjuk penting yang telah mereka temukan.
Melihat performa kedua pemuda itu, Changyi, Jiaojiao, Mutong dan Liuzhi terkejut. Mereka memuji kedua pemuda itu, berkata akan memberitahu Mu Haocun dan yang lain mengenai temuan Shaoting dan Yunhao.
Selama beberapa hari, Shaoting dan Yunhao merasa diri mereka bermimpi. Mereka tak menyangka, mereka berkontribusi besar hingga dipuji oleh keempat murid Mu Haocun.
Keesokan harinya pun Shaoting dan Yunhao menemui Mu Haocun. Ada dua orang dengan aura yang sangat agung di belakang Mu Haocun.
Satu orang terlihat seusia Mu Haocun, dengan wajah damai dan mata tenang, namun udara disekitarnya terasa menyesakkan.
Satu lagi terlihat lebih muda, wajahnya sangat tampan dengan aura dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Mereka sampai tidak berani bernapas. Dan bicara jika ditanya saja. Setelah sesi 'interogasi' yang terasa seperti bertahun-tahun itu selesai, Shaoting dan Yunhao diberi instruksi untuk membantu pria bernama Meng Zhi menangkap penghianat Embun Pagi.
Mereka diberikan alat ajaib untuk menyembunyikan keberadaan mereka, alat ajaib kedap suara serta alat yang memberi tahu dimana lokasi mereka kepada Meng Zhi.
Instruksi mereka yang sangat jelas mengatakan bahwa mereka harus siap di 'TKP' sebelum seorang tersangka pun datang.
Dan kini, Shaoting serta Yunhao sudah siaga ditempat. Berusaha mencari tanda-tanda datangnya orang tersebut.
Swush! Tiba-tiba ada hembusan angin kencang. Shaoting dan Yunhao sangat terkejut. Jantung mereka serasa loncat hingga nyaris ke tenggorokkan.
Memang kultivator tingkat tinggi! Shaoting dan Yunhao seperti berada di ruang gelap. Tidak tahu dimana keberadaan orang tersebut hingga orang tersebut sudah sangat dekat dengan mereka.
Swush! Hembusan angin kedua menyadarkan mereka, di depan, tak jauh dari pohon mereka bersembunyi, dua pria berdiri saling berhadapan.
"Master Xi," kata pria berpakaian hitam sambil menyeringai dengan sangat menyeramkan. Suaranya mendesis hingga membuat bulu kuduk Shaoting dan Yunhao berdiri.
Selain suara pria berpakaian hitam, yang membuat bulu kuduk Shaoting dan Yunhao berdiri adalah kemunculan Master Xi.
Master Xi, yang dalam ingatan mereka penuh wibawa, menunjukkan raut wajah kejam dan seringai yang tak kalah mengerikannya dengan pria berpakaian hitam.
.........
Note:
*Benar dugaan kalian semua! Yang tinggal di rumah Mu Haocun adalah Mu Haocun, Mu Lian, Ling Zizhou, dan Master Yi. Karena entah mengapa Mu Haocun tidak merasa aman jika Han Tengfei tidur di rumahnya. (Han Tengfei: Astaga...apa salahku)
__ADS_1
*Untuk memudahkan imajinasi kalian, mari kita sambut, snowman kita yang lucu!