
"Loh, bukankah kau itu paling benci diajak ke ladang?" kata ayahnya.
"Tidak. Itu hanya omonganku yang tidak dewasa, maaf. Mulai sekarang aku akan mulai membantu ayah di ladang," kata Ling Zizhou. Sang ayah sedikit terkejut namun tetap mengajak Ling Zizhou berangkat ke ladang.
Mungkin karena sudah menghabiskan waktu bersama Ling Zizhou yang mulai bersikap dewasa ini selama satu bulan, ayahnya bahkan sudah tidak terkejut lagi jika tiba-tiba mendengar Ling Zizhou berniat untuk pergi sekolah. Sekolah khusus untuk para pelayan Zhuque.
Ling Zizhou mengikuti ayahnya melewati sabana menuju bukit tak jauh dari rumah mereka. Sabana di desanya menyerupai sabana di negeri Chen, hanya saja rumputnya lebih pendek dan jarang.
Rumput tersebut berbeda spesies dengan rumput yang tumbuh di sabana negeri Chen, warnanya lebih kuning dan kasar. Ada beberapa bulu halus yang menempel di kaki ketika lewat di antara rerumputsn tersebut.
Rumput ini tumbuh di tanah yang menyerupai pasir. Kaki kalian akan sedikit tenggelam ketika memijak tanah berstruktur pasir tersebut.
Tidak ada pohon akasia yang tumbuh disana, hanya ada semak-semak belukar yang merupakan miniatur pohon akasia yang tumbuh di sekitar tempat tinggal Ling Zizhou menuju ladang.
Orang-orang desa menyebutnya semak-semak sabana. Semak-semak tersebut terkadang menghasilkan buah disaat-saat paling kering pada tahun tertentu. Dan tidak berbuah sepanjang tahun dimana udara sedikit lebih basah daripada biasanya.
Ling Zizhou berjalan bersama ayahnya selama dua puluh menit. Tubuhnya yang mungil cepat lelah ketika dibawa berjalan di sepanjang jalan yang lembek itu. Ling Zizhou harus menarik kakinya yang tenggelam kemudian melangkah, begitu seterusnya. Begitu melelahkan!
Angin yang berhembus pun membawa panas dai udara sekitar. Apabila kalian meletakkan telur dimana saja dan mendiamkannya selama beberapa jam, pasti telur itu matang.
Maka dari itulah Ling Zizhou sempat menertawakan Xiaobao yang mengeluh panasnya cuaca di negeri Chen. Negeri Chen tidak ada apa-apanya bagi dirinya yang sudah terbiasa dengan cuaca sepanas kampung halamannya.
Tak lama, Ling Zizhou berpapasan dengan sekelompok paman dan anak-anak seusianya. Rombongan tersebut berjalan tak jauh di depan Ling Zizhou dan ayahnya.
Melihat rekan-rekan kerjanya, Ayah Ling Zizhou mempercepat langkah kakinya kemudian bergabung dengan kelompok tersebut.
"Ah, akhirnya kau datang juga! Baru saja dibicarakan," kata seorang paman bertubuh gempal.
"Selamat pagi," sapa ayahnya.
"Wah, jagoan kita akhirnya mau juga diajak ke ladang haha!" kata seorang lagi. Tubuhnya besar dan auranya sangat mencolok.
Ling Zizhou lupa siapa paman ini namun sepertinya dulu dia sempat kesal dengan paman satu ini. Entah mengapa melihat mukanya saja sudah kesal. Ling Zizhou hanya diam dan mengangguk untuk menyapanya dengan sopan.
"Oh, bukankah jagoan kita ini menjadi sedikit pendiam hari ini?"
"Biarkan dia sendiri. Kau ini ada-ada saja, cepat kalau tidak kita bisa terlambat,"
Ling Zizhou pun mengikuti rombongan menaiki bukit. Dia berjalan bersama anak-anak yang menurut pandangannya masih bocah ingusan. Ada seorang anak yang dengan berani mengajak Ling Zizhou mengobrol namun karena Ling Zizhou tidak menanggapi akhirnya anak tersebut diam.
Semakin mendekati puncak bukit, Ling Zizhou dapat melihat dinding megah yang membatasi dirinya dengan ladang. Beberapa kultivator kuat terlihat berjaga disana. Ada yang berdiri di depan gerbang megah, ada yang terlihat melayang di atas dinding.
"Selamat pagi, apakah anda akan mengajak anak anda hari ini?" kata salah seorang penjaga kepada ayah Ling Zizhou.
Tidak ada batas usia untuk bekerja di ladang, karena sudah dipastikan keturunan kerabat Zhuque akan kuat menghadapi Bunga Api 100 Tahun. Namun tetap saja, petugas keamanan meminta konfirmasi terlebih dahulu kepada orang yang bersangkutan.
Setelah menyelesaikan konfirmasi, Ling Zizhou mengikuti ayahnya melewati gerbang. Bunga yang menyerupai Bunga Higanbana terhampar sejauh mata memandang. Saat usianya masih sangat muda, bunga tersebut sangat mirip dengan Bunga Higanbana.
Namun saat usianya mendekati 100 tahun, bunga tersebut akan berubah menjadi putih kemudian memancarkan cahaya seterang lampu pijar. Saking tingginya suhu bunga tersebut, asap sampai mengepul dari seluruh kelopak bunga tersebut.
Bunga itulah yang membuat desanya luluh lantak. Ling Zizhou dulu tidak pernah berkesempatan menyaksikan keindahan bunga ini, namun kesempatan malah datang ketika dirinya terjebak di dalam ilusi.
Waktunya bekerja. Anak-anak dipisahkan dari orang dewasa, mereka diperintahkan untuk mengurus Bunga Api 100 Tahun yang masih muda. Menyirami bunga-bunga dengan esensi api, memangkas kelopak yang menjuntai ke bawah hampir menyentuh tanah dan lain sebagainya.
Ling Zizhou mengamati keadaan di sekitar sambil memangkas kelopak bunga yang ada didepannya. Keringat membasahi seluruh wajah dan pakaiannya.
Kalau Ling Zizhou tidak mengedarkan chi ke seluruh tubuhnya, bisa-bisa Ling Zizhou sudah menjadi steak dengan tingkat kematangan 'well done'.
"Hmm...tak kusangka kau sudah pandai menggunakan chi pada usia 10 tahun, bagus, bagus. Aku yakin kau pasti bisa menjadi kandidat pelayan paling kompeten," kata seorang pengawas yang sedang melewati Ling Zizhou.
Seusai jam kerja, ayah Ling Zizhou pun mendapat kabar dari pengawas tersebut. Ayahnya hanya menanyakan darimana Ling Zizhou belajar dan berpikir bahwa anaknya itu jenius.
Kabar tersebut juga sempat heboh di kalangan rekan kerja Ayah Ling Zizhou, dan bertahan hingga menjelang hari yang Ling Zizhou tunggu-tunggu.
Ling Zizhou telah mengamati orang-orang di ladang selama hampir tiga pekan namun tidak mendapatkan apapun.
Menjelang hari H, Ling Zizhou tidak bisa tidur. Otaknya terus bekerja sepanjang malam memikirkan darimana datangnya orang-orang yang menyerang desanya. Apakah ada penghianat di desanya? Sudah pasti tapi Ling Zizhou tidak tahu siapa orang itu.
Akhirnya Ling Zizhou tidak tidur dan ketahuan oleh ayahnya. Kenapa di hari penting ini Ling Zizhou malah begadang. Awalnya Ling Zizhou disuruh menunggu dirumah namun setelah berhasil dibujuk, Ling Zizhou pun dibawa ke ladang.
"Ingat, kau harus berhati-hati saat memegang wadah Bunga Api 100 Tahun. Aku tahu kau jenius tapi proses panen Bunga Api 100 Tahun membutuhkan ketelitian yang luar biasa.
__ADS_1
Jaga agar napas mu seirama dengan orang yang sedang memanen bunga kemudian edarkan chi mu seirama dengan napasmu," kata Ayahnya.
"Baik, ayah," kata Ling Zizhou.
Ling Zizhou tidak khawatir dengan proses panen bunga. Baginya, semua itu hanya permainan anak-anak.
Meski Ling Zizhou dalam tubuh anak berusia 10 tahun, dia masih mengingat tehnik untuk mengedarkan chi ke seluruh tubuh. Tehnik paling dasar ini dapat digunakannya begitu masuk ke dalam ilusi.
Yang membuatnya terkejut adalah Ling Zizhou kehilangan tingkat kultivasinya serta esensi auranya yang seharusnya melayang di dalam dantiannya. Esensi itu layaknya matahari yang dikelilingi planet-planet.
Ling Zizhou sempat terpuruk selama beberapa hari ketika mendapati hal tersebut. Baginya, tingkat kultivasi itu seperti penyambung hidup dan pelindung dari segala macam bahaya.
"Hei, jangan melamun. Aku akan memulai panennya," kata seorang paman. Dia tidak dipasangkan dengan ayahnya. Hasil pemasangan orang dewasa dengan anak-anak di dapatkan dari pengocokan nomer.
Ling Zizhou mengangguk. dia membuka wadah yang biasanya digunakan untuk terrarium. Satu wadah ini akan menjadi wadah bagi beberapa kelopak bunga.
Paman itu mulai mengerahkan chi ke telapak tangannya. Menurut ayahnya, ada jurus yang dapat melindungi telapak tangan seseorang ketika memanen bunga.
Sayangnya jurus itu sangat rentan dengan gangguan luar sehingga membutuhkan pengendalian yang luar biasa.
Untungnya, yang menjadi partner paman itu adalah Ling Zizhou. Paman itu sampai terheran-heran karena panen kali ini terasa sangat mudah. Bahkan saat ini sudah wadah ketiganya!
Ling Zizhou selesai menemani paman itu memanen lebih cepat daripada yang lain. Menghiraukan tatapan kagum dari si paman dan beberapa pengawas, Ling Zizhou duduk di pinggir untuk mengamati orang-orang yang masih memanen.
Tatapannya seperti elang yang mengincar mangsa, tajam dan tidak melewatkan sedikitpun. Hingga gerak-gerik seorang paman menarik perhatiannya.
Paman itu memanen sambil terus melirik ke segala arah. Tak jauh dari paman itu, ayahnya sedang memanen dengan tekun.
Ling Zizhou mengamati bahwa tidak ada pengawas yang menangkap kejanggalan paman tersebut. Para pengawas terus berpindah tempat, kadang memandu anak-anak yang sedikit kesulitan.
"Apa yang dilakukan idiot itu?" gumam Ling Zizhou berusaha mencari lokasi agar dapat melihat apa yang dilakukan paman tersebut dengan jelas.
Paman itu terlihat perlahan-lahan mundur, mendekati arah ayahnya. Anak yang menjadi partnernya pun mengikuti seperti anak ayam, tidak berani jauh sejengkal pun darinya.
Perasaan Ling Zizhou menjadi tidak enak, dia segera menghampiri paman tersebut namun di tengah jalan, dia berpapasan dengan seorang pengawas.
"Aku sudah selesai bekerja dan hendak menemui-"
"-ah!" jeritan dua orang anak memotong Ling Zizhou.
"Berhenti memanen! Menjauh! Jangan dekati area itu!" kata beberapa orang pengawa.
Ling Zizhou melihat ke arah ayahnya. Dia melihat punggung Ayahnya, dan paman itu. Ayahnya sedang meringkuk kesakitan, begitu pula paman itu.
"Ayah!"
...
"Huhu...suamiku..."
"Ibu, jangan menangis, hiks..."
Ibu Ling Zizhou terus menangis sambil memeluk adiknya. Setelah mendapat kabar dari tetangga, ibunya sempat jatuh pingsan dan baru sadarkan diri 1 jam kemudian.
Ling Zizhou mendengarkan tangisan ibu dan adiknya sambil menatap ke langit malam. Dia tringat dengan ekspresi ayahnya sebelum dibawa pergi pengawas.
Ling Zizhou menolak untuk ikut serta bersama ayahnya dan membuang muka, mungkin itu sebabnya.
"Harusnya aku tidak terlalu keras pada ayah. Harusnya aku bilang saja aku tidak ikut karena mau melindungi ibu dan adik," gumam Ling Zizhou. Apa boleh buat. Dia sudah memilih.
Namun kejadian yang ditunggu-tunggu tidak pernah terjadi. Desanya masih ada, keluarganya tetap hidup.
Keesokan harinya, Ling Zizhou sangat terpukul melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Dia baru menyadari bahwa memang ada kejadian besar di hari panen Bunga Api 100 Tahun.
Di dunia ilusi ini, kejadian tersebut menyangkut ayahnya.Ling Zizhou gagal melindungi keluarganya baik itu di masa lalu maupun di dunia ilusi.
Setiap hari Ling Zizhou menyempatkan diri untuk pergi jauh dari rumah dan melampiaskan amarahnya. Namun tentu saja itu tidak dapat menyelesaikan masalah.
Beberapa hari kemudian, ayahnya pulang. Kini Ling Zizhou harus hidup dengan konsekuensi setelah menganggap dunia ilusi ini akan sama dengan masa lalunya.
Hubungan ayah dan anak tersebut meregang. Ayahnya terlihat sangat malu ketika di depan Ling Zizhou. Kepercayaan dirinya sebagai seorang laki-laki dan seorang ayah telah hancur.
__ADS_1
"Ayah! aku benar-benar tidak marah kepada ayah! Aku melakukan hal itu kemarin karena khawatir dengan ibu dan Zu'er!
Kalau aku juga ikut pergi siapa yang akan menjaga mereka? Maaf kalau aku tidak menemani ayah di saat-saat paling sulit," kata Ling Zizhou akhirnya tidak tahan dengan sikap ayahnya itu.
Ayahnya hanya tersenyum, tidak mengatakan apapun. Ling Zizhou menggaruk kepalanya dengan keras.
"Tapi...mengapa semua kesalahan dilimpahkan kepadamu, sayang? Apa karena..." kata ibu Ling Zizhou tidak meneruskan ucapannya.
Ayah Ling Zizhou termasuk ke dalam anggota elit pembudidaya Bunga Api 100 Tahun. Performanya yang sangat luar biasa telah membuatnya menduduki posisi pertama selama beberapa tahun.
Dan paman yang bersama dengan ayahnya adalah rival yang gagal merebut posisi tersebut dari ayahnya. Padahal, paman tersebut merupakan keponakan dari Zhuque yang memiliki jabatan cukup tinggi di sistem pemerintahan di sana.
Ling Zizhou mencium adanya teori konspirasi, apalagi ditemukan beberapa kelopak bunga menghilang secara misterius. Kelopak-kelopak bunga yang menghilang adalah kelopak-kelopak bunga yang ayahnya dan paman itu panen.
Namun anehnya, setelah melalui proses hukum yang berlaku, diputuskanlah bahwa ayah Ling Zizhou bersalah karena kelalaian. Dia juga dituduh tidak dapat melindungi rekan kerjanya.
Semua berita yang didengar Ling Zizhou begitu tidak masuk akal dan terasa berat sebelah. Yang menyedihkan lagi, ayahnya mengalami cedera cukup parah hingga diperkirakan tidak dapat memanen bunga secara maksimal.
Kondisi keluarga Ling Zizhou pun semakin memburuk. Memang, keluarga mereka masih bisa bertahan selama beberapa bulan ke depan karena Ling Zizhou yang kini menjadi tulang punggung keluarga, sering membantu di ladang.
Namun pemasukan asisten junior, begitu sebutan bagi anak-anak seusia Ling Zizhou yang sedang magang di ladang, tidak sebanding dengan anggota elit seperti ayahnya. Ayahnya pun harus terus meminum obat racik agar gejala yang merusak tubuhnya tidak kambuh lagi.
Obat tersebut harus diminum seumur hidup, dengan catatan ayahnya sudah tidak boleh menggunakan chi secara berlebihan. Kini chi dalam dantiannya hanya digunakan untuk dapat bertahan hidup di dunia ini.
Dua tahun berlalu begitu saja. Ling Zizhou sangat sibuk menjadi tulang punggung hingga lupa dengan tujuan awalnya. Namun pada suatu hari yang cerah, di awal tahun baru, Ling Zizhou mengingat sebuah sosok.
"Master!" seru Ling Zizhou. Anak-anak di sekelilingnya menatap aneh dirinya. Saat itu adalah jam istirahat. Semua orang berhenti bekerja dan duduk untuk mendinginkan tubuh.
Ling Zizhou menghiraukan orang-orang yang sedang menatap aneh kemudian pergi mencari pengawas. Dia meminta ijin untuk tidak masuk kerja karena hendak pergi keluar kota.
Karena performa Ling Zizhou sangat bagus dan dia adalah kandidat anggota elit selanjutnya, si pengawas tidak bertanya lebih jauh. Si pengawas hanya mengingatkannya agar tidak lupa diri dan terus bekerja keras kalau mau masuk anggota elit.
Ling Zizhou mengangguk. Dia segera memikirkan cara bagaimana membujuk kedua orang tuanya agar mengijinkannya keluar kota. Malam itu pun Ling Zizhou menyampaikan niatnya keluar kota pada waktu yang telah ditentukannya.
"Apa kau gila! Usiamu baru 12! Kau bilang kau mau pergi sendiri?! Meski kini kau menjadi tulang punggung keluarga tapi aku masih berhak melarangmu!" kata Ayahnya dengan suara lantang. Kini Ling Zizhou mengetahui dari mana suara lantangnya diturunkan.
"Kumohon dengan sangat ayah! Perjalanan ini sangat penting bagiku. Kalau ayah khawatir, ayah boleh kok ikut denganku, aku awalnya tidak mau membawa ayah takut kondisi ayah semakin memburuk," kata Ling Zizhou.
Setelah mendengar bujukan Ling Zizhou, akhirnya ayahnya pun mengijinkan. Ibunya baru mengijinkan Ling Zizhou pergi beberapa hari kemudian setelah melihat Ling Zizhou melamun terus. Sang ibu merasa raga anaknya memang berada disini namun hatinya entah dimana.
Hari keberangkatan Ling Zizhou pun tiba. Tetangga-tetangga heran melihat sepasang ayah dan anak ini bersiap-siap untuk pergi keluar kota. Ling Zizhou menghiraukan mereka karena saat ini yang lebih penting, Ling Zizhou hendak menemui masternya.
Ling Zizhou berangkat lebih awal pada pertengahan tahun itu agar mereka tidak perlu terburu-buru hingga membuat kondisi ayahnya semakin memburuk.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 bulan itu pun akhirnya usai juga. Wajah ayahnya sedikit pucat namun tubuhnya sehat walafiat. Mungkin karena sedikit mabuk kendaraan saja.
"Kenapa kita ada di rumah yatim piatu?" kata ayahnya heran.
"Aku sedang menunggu seseorang," kata Ling Zizhou sambil memasuki bangunan yang sama persis dalam ingatannya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" kata seorang wanita.
"Mei Jie..." kata Ling Zizhou. Wanita itu adalah salah satu pengurus panti asuhan yang memiliki nama yang sama dengan Meimei. Hati Ling Zizhou sakit, dia rindu dengan keluarganya yang satu lagi. Sudah 2 tahun Ling Zizhou tidak bertemu dengan mereka.
"Anak muda, kenapa kau tahu namaku?" kata wanita itu terkejut.
"Maaf anda mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Aku ingin bertemu dengan Bu Kepala Panti, apa beliau ada?" kata Ling Zizhou. Wanita itu kemudian membawa Ling Zizhou dan ayahnya ke kantor Kepala panti asuhan.
Salah satu wajah yang sudah lama tidak ia jumpai. Bu kepala panti asuhan adalah wanita yang lembut namun dapat diandalkan. Semuanya terpancar dari matanya yang kadang menyorotkan kelembutan dan kadang terlihat 'hidup', penuh dengan kemauan.
Ling Zizhou menyampaikan niatnya untuk menginap di panti asuhan selama beberapa hari. Tak lupa Ling Zizhou menyerahkan sebagian pendapatannya untuk membantu kesejahteraan panti asuhan.
Siang itu Ling Zizhou membeli bahan-bahan makanan untuk beberapa pekan ke depan. Untuk mengisi perut 20 orang anak dan 10 pengurus panti Ling Zizhou memperkirakan bahan-bahan makanan ini hanya cukup untuk mungkin 3 pekan ke depan.
Meski begitu, Bu kepala panti sangat senang dengan kebaikan serta ketulusan Ling Zizhou sehingga menyiapkan kamar terbaik untuk ditinggali Ling Zizhou dan ayahnya.
Kalau Ling Zizhou tidak bersikeras menolak tawaran Bu kepala panti, mungkin saja Ling Zizhou diberikan kamar terpisah dari ayahnya.
Beberapa hari kemudian, Ling Zizhou terlihat mondar-mandir di depan pintu masuk panti. Kecemasan menghiasi wajahnya.
"Kemana master? Seharusnya master sudah datang sejak kemarin malam," gumam Ling Zizhou. Perasaannya tidak enak.
Apakah kenyataan akan berbeda seperti apa yang menimpa pada desanya? Tidak, tidak boleh! Kalau begitu Ling Zizhou tidak akan bisa bertemu dengan Mu Lian, Mu Haocun, Meimei dan Meng Zhi. Kunci pertemuan Ling Zizhou dengan Mu Lian dan yang lain adalah Master Yi!
__ADS_1