Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Perjalanan yang sangat menyenangkan


__ADS_3

"Cek, cek, 1, 2... kakek, apakah suaraku terdengar? Mei jie, suaraku terdengar?" kata Mu Lian kepada alat pengidentifikasi yang merangkap sebagai alat komunikasi dengan ruang kendali.


Mu Lian sedang mencoba panggilan grup, yaitu kepada grup yang ada di ruang kendali dan yang ada di muka gerobak karena selama ini mereka hanya menggunakan panggilan biasa saja.


"Terdengar!" kata Mu Haocun tidak sadar meninggikan suaranya karena saking antusiasnya.


"K-kami dengar! Akh! Master Mu, kami disini berdesakan, jadi tolong hati-hati mengendarai gerobaknya!" kata Meimei. Suaranya tercekat dan beberapa suara terdengar mengaduh di belakangnya.


"Oh, maaf. Aku terlalu bersemangat menggunakan tehnik apa itu, yang Lian'er ajarkan? Rasanya seru sekali!" kata Mu Haocun terkekeh.


"Kau enak di ruang kendali, kakek tua! Kami disini ada bersembilan!" suara Ling Zizhou terdengar menggelegar. Mu Haocun hanya tertawa dan meminta maaf, terutama kepada Zhi Yuefeng.


Hari ini, Mu Lian dan yang lain membawa kelompok Zhi Yuefeng ke rumah lelang. Mu Haocun berkata bahwa kunjungan kali ini bersifat resmi, jadi ketika tiba di rumah lelang, penyamaran akan disingkap agar Gerobak Ajaib terlihat.


Hal tersebut dilakukan karena Mu Haocun hendak menyusupkan Zhi Yuefeng dan lima pendekar bayangannya ke dalam rumah lelang.


Zhi Yuefeng menggantikan Mu Lian, berperan sebagai ketua Gerobak Ajaib. Dan lima pendekar bayangannya berperan sebagai bodyguard.


Tentu saja Ling Zizhou dan Meng Zhi, dua orang yang telah 'mengobservasi' rumah lelang selama satu pekan lebih itu, juga ikut serta dalam kunjungan formal kali ini.


Mu Haocun meminjamkan kain putih miliknya yang mampu menyembunyikan identitas seseorang. Tidak akan ada yang curiga terhadap Zhi Yuefeng. Lagipula, keberadaan Mu Lian sebagai salah satu pilar Gerobak Ajaib belum diketahui siapapun.


"Bagaimana kalau segini? Dengan kecepatan ini, kita akan sampai di rumah lelang dua puluh menit lagi," kata Mu Haocun.


"Oke!" kata Mu Lian. Sedangkan grup yang ada di muka gerobak tidak menjawab.


Mu Lian dan Mu Haocun tidak tahu bahwa disana sudah berubah menjadi arena sikut menyikut dan kebutralan lain sebgainya.


Siapa pelakunya? Tentu saja si tukang marah, Ling Zizhou dan si over-protektif, Meng Zhi yang melindungi Meimei dari kemungkinan bersentuhan dengan pria lain.


Karena seperti yang Ling Zizhou bilang, total ada 9 orang yang berada di muka gerobak. Gerobak Ajaib sebenarnya tergolong ke dalam transportasi ajaib berukuran sedang karena memiliki tinggi kurang lebih 5 meter, itu kalau dihitung dengan tinggi rodanya.


Jadi ruang pos penjagaan memiliki ketinggian satu pria dewasa (2 meter) dan roda memiliki diameter 3 meter.


Meski tinggi, luas ruang pos penjagaan hanya seluas satu ukuran mobil (sedang) saja. Jadilah Ling Zizhou, Meimei, dan Meng Zhi harus berdesakan dengan kelompok Zhi Yuefeng.


Meimei harus berdiri karena setiap beberapa menit sekali harus berkomunikasi dengan Mu Lian dan Mu Haocun.


Melihat Meimei berdiri, tentu saja Ling Zizhou dan Meng Zhi berdiri. Menyisakan tempat duduk untuk kelompok Zhi Yuefeng.


Namun karena tempat duduk hanya dapat diduduki oleh empat orang saja, dua orang dari kelompok Zhi Yuefeng harus berdiri, bersisian dengan Ling Zizhou dan Meng Zhi.


Ling Zizhou berdiri di depan pintu menuju Lobby sedangkan Meng Zhi, berdiri melindungi Meimei yang berdiri di depan alat pengidentifikasi.


Posisi Meng Zhi terlihat sedang meng-kabedon Meimei, melindunginya dari orang yang berdiri di sebelah kanannya dan orang yang duduk di depannya.


Meng Zhi tidak masalah dengan Ling Zizhou yang terus-terusan membentur bagian sisi kiri tubuhnya. Namun Meng Zhi tidak kenal ampun dengan dua orang tersebut.


Meng Zhi menyikut pendekar bayangan di sebelah kanannya ketika tubuhnya sudah sangat dekat dengan Meimei dan dirinya.


Kemudian orang dibelakangnya, tepatnya Saudara Chao, terjengkang ke belakang sehingga tubuhnya menyender ke bokong Meng Zhi.


Tanpa basa-basi, Meng Zhi mendorong Saudara Chao dengan keras (dengan bokongnya) hingga pemuda menyedihkan itu nyaris jatuh tersungkur.


Wanita yang disukainya ternyata sudah ada yang punya dan pria yang memilikinya, kini terus-terusan mendorongnya dengan bokongnya itu. Sudah jatuh tertimpa tangga! Saudara Chao hanya bisa berdoa di dalam hati agar mereka cepat sampai di tujuan.


Sedangkan Ling Zizhou, terus menerus menyikut pendekar bayangan yang ada di sisi kanan tubuhnya.


Matanya menatap tajam pendekar bayangan yang sedang duduk di depannya, mengancam akan menusuk dengan tatapan tajamnya kalau orang itu gagal menjaga keseimbangan tubuhnya.


Dan sebenarnya Ling Zizhou merasa waspada dengan kehadiran pintu yang ada di belakangnya, kalau ada yang salah bisa-bisa dia langsung jatuh menggelinding di sepanjang tangga menuju Lobby.


Untungnya pintu menuju Lobby terkunci apabila tidak ada orang yang teridentifikasi oleh alat pengidentifikasi.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, gerobak akhirnya tiba di daerah yang diyakini merupakan bagian dari rumah lelang.


"Benar. Seingatku, kami sering masuk dari sini," kata Meng Zhi berkomunikasi dengan Mu Haocun.


"Baiklah, aku akan mengungkapkan keberadaan kita sekarang juga," kata Mu Haocun menon-aktifkan program mimikri. Sosok gerobak pun muncul begitu saja dari udara kosong.


Meng Zhi menyuruh Mu Haocun untuk membawa gerobak berjalan beberapa meter lagi ke depan. Karena gerobak tertangkap oleh mata, pihak rumah lelang yang sedang mengawasi tak jauh dari sana melihat gerobak dan segera memberitahu kejadian tersebut kepada Jun Mo.


Keributan terjadi di ruang khusus staf apalagi di ruang kerja ketua. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang? Siapa yang berhasil menemukan dengan tepat lokasi Lereng Kaca?


Pintu masuk yang orang asing itu pilih adalah pintu masuk untuk undangan terhormat. Pelanggan setia mereka biasanya datang dari pintu lain.


Ketika gerobak berhenti kemudian Meng Zhi serta Ling Zizhou turun dari gerobak, barulah pihak Lereng Kaca menyadari bahwa gerobak itu adalah Gerobak Ajaib.


Jun Mo dan pihak Lereng Kaca baru mendengar informasi mengenai Gerobak Ajaib tanpa pernah mengunjungi Gerobak Ajaib itu sendiri.


Ketika Jun Mo menyuruh anak buahnya memberikan undangan, Gerobak Ajaib sedang diperbaiki sehingga Jun Mo belum pernah melihat Gerobak Ajaib dengan matanya sendiri.


Beberapa staf memberitahu kedatangan dua 'pembawa masalah' yang sudah menghantui mereka akhir-akhir ini kepada Jun Mo.


Jun Mo tidak mengatakan apa-apa ketika bawahannya menyebut Ling Zizhou dan Meng Zhi sebagai pembawa masalah. Pria itu hanya keluar dan berjalan sangat cepat agar dapat menyambut Ling Zizhou dan Meng Zhi.


"Selamat datang, Tuan Zhi sekalian!" kata Jun Mo hangat.


"Selamat pagi, oh sudah masuk siang, ya? Maaf karena kunjungan mendadak ini. Setelah gerobak selesai diperbaiki, ketua kami sangat ingin bertemu dengan anda.


Apalagi setelah mendengar keramahan anda yang sudah mau menerima kami di Lereng Kaca selama satu pekan lebih ini," kata Meng Zhi tersenyum.


Hening. Jun Mo terlambat menangkap perkataan Meng Zhi sehingga pembicaraan terputus. Jun Mo terlihat seperti hilang arah.


"Maaf? Ketua? Siapa?"


"Tentu saja ketua kami, Gerobak Ajaib. Memangnya anda mau bertemu dengan diri anda sendiri?!" kata Ling Zizhou memutar bola matanya.


"Ahem, sepertinya kami jadi merepotkan anda ya, ketua Jun," kata Meng Zhi dengan tatapan bersalah.


"Tidak, tentu saja tidak! Omong-omong, dimana ketua Gerobak Ajaib?" kata Jun Mo dengan mata berbinar.


"Sebentar," kata Meng Zhi. Ling Zizhou mengikutinya berjalan kembali ke gerobak dan menyingkap kain yang menutupi muka gerobak.


Lima orang turun satu persatu sebelum akhirnya membantu sosok yang ditutupi kain putih untuk turun.


Jun Mo terpukau menatap sosok tersebut. Tinggi semampai dengan aura yang sangat kuat. Pembawaannya sangat anggun.


"Selamat datang, Ketua Gerobak Ajaib," kata Jun Mo. Sosok berkain putih mengangguk.


"Ketua kami jarang bicara, mohon dimaklumi," kata Meng Zhi. Jun Mo tidak keberatan, malah dia lebih penasaran dengan lima bodyguard yang mengelilingi Ketua Gerobak Ajaib. Semuanya mengeluarkan aura yang tak biasa.


"Silahkan masuk. aku akan menghidangkan santapan eksotis yang tidak pernah anda bayangkan!" kata Jun Mo bersemangat.


.........


"Ini adalah beberapa barang yang akan kami serahkan penjualannya kepada Lereng Kaca," kata Meng Zhi sambil menyodorkan lusinan botol porselen ke depan Jun Mo.


Piring-piring baru saja dibereskan oleh staf Lereng Kaca dan teh diseduhkan ke dalam cangkir. Ling Zizhou, Meng Zhi dan kelompok Zhi Yuefeng merasa sangat bugar karena santapan eksotis terbuat dari bahan-bahan yang mampu meningkatkan kultivasi orang yang menyantapnya.


Kalau saja pihak Lereng Kaca mengetahui tujuan dari kunjungan Ling Zizhou, Meng Zhi dan kelompok Zhi Yuefeng, pasti mereka tidak akan menyajikan santapan tersebut.


"Terimakasih! Terimakasih sudah mau memilih rumah lelang kami sebagai distributor. Anu, biaya menggunakan jasa kami..." kata seorang pria yang duduk di sebelah Jun Mo.


Matanya yang berwarna kuning keemasan serta beberapa sisik yang terlihat di sisi kanan dan kiri lehernya membuat orang-orang yang melihatnya berpikir bahwa pria itu adalah Dilong. Padahal bukan.


Pria itu bernama Mo Fan dan dia terlahir sebagai makhluk setengah Dilong. Mo Fan memperkenalkan dirinya sebagai Dilong paling lemah kepada Meng Zhi, Ling Zizhou dan kelompong Zhi Yuefeng.

__ADS_1


Mungkin karena itu juga Mo Fan tidak pusing-pusing mengenakan pakaian berkerah tinggi. Dia berkata bahwa sisik di lehernya hanya berfungsi sebagai aksesoris saja.


Dan Mo Fan merupakan salah satu pendiri Lereng Kaca. Jadi Lereng Kaca didirikan oleh lima orang, yaitu Jun Mo, Mo Fan dan tiga rekan mereka yang lain.


Namun sepertinya ada masalah internal yang dialami pihak Lereng Kaca. Lihat saja, ketika Ling Zizhou dan Meng Zhi ke rumah lelang hanya untuk 'membuat masalah', keempat pendiri Lereng Kaca tidak repot-repot menerima Ling Zizhou dan Meng Zhi, apalagi melayani keduanya.


Sekarang, giliran ketua Gerobak Ajaib benar-benar datang, Mo Fan dan ketiga pendiri Lereng Kaca yang lain segera menunjukkan wajah mereka. Berusaha membuat ketua Gerobak Ajaib terkesan.


Sikap Mo Fan sungguh kontradiktif. Dia menekankan bahwa dirinya lemah namun memiliki ambisi tinggi dalam hal kekuasaan.


Buktinya saja saat ini Mo Fan terus berusaha menjalin hubungan dengan Zhi Yuefeng, agar Gerobak Ajaib berada dalam genggamannya.


Sayangnya, Zhi Yuefeng hanya berperan sebagai pengganti Mu Lian dan kalau pun yang berada di meja makan saat itu adalah Mu Lian, tentu saja Mu Lian akan menepis Mo Fan jauh-jauh darinya.


Beberapa menit kemudian, dua pendiri Lereng Kaca pamit undur diri untuk mengawasi jalannya acara pelelangan malam ini.


Keduanya terlihat mengalah kepada Mo Fan dan cenderung menganggap Jun Mo tak ada. Keduanya langsung keluar ruangan tanpa berbicara dengan Jun Mo.


Sementara itu, Mo Fan dan satu rekannya lagi berusaha menjilat Zhi Yuefeng yang bergeming di tempat duduknya. Keduanya terlihat tidak mau beranjak dari sana dan ingin menemani Zhi Yuefeng.


"Ehem, Ketua Mo, sebenarnya ketua kami mencari sesuatu. Dan kami percaya bahwa Lereng Kaca memilikinya," kata Meng Zhi.


"Oh, tentu saja! Ketua Jun, tolong antarkan mereka ke penyimpanan utama," karena Mo Fan kemudian melanjutkan,


"Siapa yang akan ikut dengan ketua Jun?"


"Aku dan tiga anggota lain," kata Meng Zhi.


"Baiklah, aku akan menemani Ketua Gerobak Ajaib dan menyelesaikan diskusi kami mengenai kerja sama dengan Gerobak Ajaib," kata Mo Fan dengan penuh percaya diri.


Ling Zizhou nyaris tertawa dibuatnya. Untung saja Meng Zhi segera mencubit lengannya sehingga ekspresi Ling Zizhou kembali serius.


Jun Mo membawa Meng Zhi, Ling Zizhou, Saudara Bei dan satu pendekar bayangan lain keluar ruangan.


Mereka menaiki beberapa anak tangga hingga permukaan yang mereka pijak berubah menjadi lantai gua. Lantai sedikit licin karena lembab namun hal tersebut bukan masalah bagi kultivator.


Selama perjalanan, mereka bertemu dengan staf-staf Lereng Kaca yang cukup banyak. Semakin dekat dengan tujuan, mereka akan sering bertemu dengan staf Lereng Kaca.


Dan ketika tiba di depan pintu besi. Ada beberapa orang yang berjaga di depan pintu besi tersebut. Jun Mo mengangguk ke arah penjaga namun sepertinya Jun Mo di pandang sebelah mata juga oleh para penjaga tersebut.


Meski begitu, karena Jun Mo masih berstatus sebagai 'ketua', para penjaga membuka pintu besi dengan sekuat tenaga.


Mereka menyalurkan chi ke permukaan pintu kemudian pintu beriak seperti permukaan air yang dijatuhi kerikil hingga akhirnya pintu terbuka. Bukan, lebih tepatnya pintu yang tiba-tiba terlihat seperti air itu menyingkir ke sisi kiri dan kanannya.


Aula megah tersingkap dari baliknya. Berbagai macam 'harta' tergeletak disana-sini, mengajak orang yang melihatnya untuk membungkus serta membawanya pergi.


Namun Meng Zhi dan Ling Zizhou tidak memisahkan Jun Mo hanya untuk minta ditemani melihat-lihat pemandangan saja, apalagi mencuri harta yang melimpah ini. Ada agenda tersembunyi yang harus segera diselesaikan agar rencana mereka sempurna.


"Ketua Jun, kalau boleh aku ingin berbicara empat mata saja dengan anda," kata Meng Zhi.


Jun Mo mengangguk dan setelah membujuk para penjaga menyebalkan itu dengan susah payah, Meng Zhi harus menyogok mereka dengan sebotol pil kehidupan, akhirnya Jun Mo dan Meng Zhi boleh masuk berdua saja tanpa pengawasan ke dalam ruang penyimpanan.


Suara seperti orang muntah terdengar ketika pintu ditutup. Riak-riak permukaan pintu besi lah yang membuat suara pintu terdengar menjijikan.


"Ketua Jun, maaf kalau saya lancang tapi apakah ada masalah internal yang terjadi di Lereng Kaca?" kata Meng Zhi, matanya menatap Jun Mo dengan serius.


"Maksud anda?" kata Jun Mo. Suaranya terdengar santai namun matanya seperti menerawang jauh ke depan.


"Aduh, bagaimana menceritakannya ya. Aku takut anda marah, tapi sepertinya anda harus melihat ini. Sungguh, aku tidak berniat jahat kepada anda," kata Meng Zhi. Bukan kepada anda, tapi kepada Lereng Kaca, lanjut Meng Zhi dalam hati.


Meng Zhi menepuk kantung dimensionalnya kemudian menyerahkan berlembar-lembar dokumen kepada Jun Mo.


"Kenapa dokumen-dokumen ini ada di tangan anda?! Tunggu... ini..." kata Jun Mo tidak melanjutkan kata-katanya karena sangat terkejut melihat data-data yang ada di dalam dokumen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2