Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Time is out


__ADS_3

Mu Lian menatap Ling Zizhou dengan tatapan tidak percaya. Mu Lian dapat merasakan kualitas dan kuantitas chi Ling Zizhou naik ke tingkat yang lebih tinggi.


"Fuh, aku tidak menyangka akan naik ke pembentukan pondasi tahap akhir," kata Ling Zizhou sambil membuka mata.


Ujung bibir Mu Lian berkedut, semenjak tiba di Gunung Kaki Langit, Mu Lian berharap jika kultivasinya akan naik ke tingkat selanjutnya.


Kenyataannya, Ling Zizhou lah yang mendapatkan kesempatan untuk naik ke tingkat selanjutnya.


Mu Lian menghela napas panjang.


Merasa bahwa dirinya melewatkan kesempatan begitu saja, namun rasa penyesalannya tersebut tidak terlalu dalam.


Jika Ling Zizhou bertambah kuat, bukankah kelompoknya jadi memiliki kekuatan lebih untuk mempertahankan diri di Gunung Kaki Langit?


"Selamat Zizhou. Pertahankan kerja kerasmu untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi," kata Meng Zhi.


"Tapi jangan bekerja secara berlebihan dan perhatikan kesehatanmu juga," kata Meimei.


"Terimakasih Senior," jawab Ling Zizhou kepada Meng Zhi dan Meimei.


"Selamat, Zizhou. Ini kuberikan sekantung teh herba untukmu," kata Mu Lian.


"Ini...teh herba yang barusan kita minum?" kata Ling Zizhou setelah mencium wangi yang sama dengan teh yang baru saja diminum.


"Ya," jawab Mu Lian singkat.


"Jangan begini-"


"Itu hadiah dariku sekaligus imbalan untuk menjagaku di Gunung Kaki Langit," kata Mu Lian. Ling Zizhou tidak berusaha berdebat dengan Mu Lian dan menerima teh tersebut.


"Sebaiknya kita makan sebelum dagingnya dingin," kata Meimei.


Terlepas dari chi nya yang sudah pulih, Ling Zizhou tetap minta tambahan daging. Sekali, dua kali, tiga kali.


Mu Lian yang awalnya merasa kasihan menjadi waspada. Mu Lian kemudian menatap ke arah Meimei dan Meng Zhi.


Merasakan tatapan Mu Lian, Meimei akhirnya memberikan bagiannya, berkata bahwa baru beberapa hari yang lalu dirinya makan.


"Tahu tidak bagaimana si rakus tingkat 3?" kata Ling Zizhou. Seusai makan Ling Zizhou duduk di sebelah Mu Lian dan langsung membuka mulutnya.


"Eh? Kau bertemu dengan tingkat 3?" kata Mu Lian terkejut. Seharusnya tingkat 3 berada di atas, di puncak. Mu Lian kira di sini hanya ada tingkat 2.


"Sepertinya semakin banyak spirit beast tingkat 3 yang menuruni gunung," kata Ling Zizhou.


"Bukankah berpatroli akan menjadi sangat beresiko? Seharusnya kita akan baik-baik saja jika berdiam diri di gua selama perlindungan array aktif," kata Mu Lian.


Semenjak tiba di tempat peristirahatan ini, dia menyerah untuk berburu spirit beast. Dalam perjalanan menuju ke sini saja Mu Lian berhadapan dengan tingkat 2.


"Senior Meng penasaran dengan keadaan di Gunung Kaki Langit. Aku pun demikian, jadi kami bersama-sama sepakat melakukan patroli di sekitar gua. Dan hasilnya seperti yang aku ceritakan padamu," kata Ling Zizhou.


"Apa kau merasa bahwa Gunung Kaki Langit sedang menuju perubahan?" kata Mu Lian setelah lama diam.


"Bisa dibilang begitu tapi mau bagaimana lagi. Aku dan Senior Meng akan melakukan patroli selama kita tinggal disini untuk melihat pergerakan spirit beast," kata Ling Zizhou.


"Apa Senior Meng masih penasaran dengan sesuatu yang ada di puncak Gunung Kaki Langit, yang menyebabkan semua ini? kata Mu Lian.


"Hmm, aku dengar Senior Meng berencana memeriksa puncak gunung, tapi kita lihat saja perkembangan disini bagaimana," kata Ling Zizhou.


Meimei yang sedang membereskan peralatan seusai makan siang mendengar percakapan Mu Lian dan Ling Zizhou. Kemudian menatap ke arah Meng Zhi, orang yang menjadi topik pembicaraan mereka.


Meng Zhi sedang bermeditasi memang terputus dari dunia luar, namun jika Mu Lian menunggu hingga Meng Zhi selesai bermeditasi Mu Lian bisa mendapatkan info dari sumbernya langsung.


Meimei yang merasakan kedekatan Mu Lian dan Ling Zizhou hanya tersenyum dan membiarkan mereka berdua berbincang.


Menjelang sore Mu Lian berdiri di depan gua dan menatap langit berubah menjadi kemerahan. Demikian pula dengan Ling Zizhou yang berdiri di samping Mu Lian.


"Aku penasaran, sebenarnya apa yang kau lihat di langit itu?" kata Ling Zizhou.


"Matahari," jawab Mu Lian.


"Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Jadi sia-sia saja kau melihat matahari pada waktu ini," kata Ling Zizhou.


"Huft, itulah yang dinamakan melihat sunset. Aku sedang melihat sunset, yah meskipun mataharinya terhalang pepohonan," kata Mu Lian.


"Sunset?" kata Ling Zizhou bingung. Sudah lama dirinya merasa bahwa Mu Lian selalu melontarkan kata-kata aneh dari mulutnya, untung saja dia sudah terbiasa.


"En. Matahari terbenam," kata Mu Lian menjelaskan.


Malam itu Ling Zizhou unjuk gigi dengan kemampuan memasaknya. Pemuda itu memasak sesuai keinginan Mu Lian.


Dengan ilmu jian nya yang tinggi dia mampu memotong daging sangat tipis, kemudian ditumbuk agar lebih empuk.


Mu Lian memakan daging yang telah matang dengan lahap. Setelah menjarah lebih dari satu Opposum, Mu Lin terkapar tak berdaya dengan perutnya yang membuncit.

__ADS_1


Ling Zizhou yang baru saja duduk di sebelah Mu Lian hendak mendiskusikan sesuatu dengannya namun melihat mata Mu Lian yang setengah terpejam dan mulutnya yang terbuka membuat Ling Zizhou memilih bermeditasi.


Keesokan paginya Mu Lian dan Ling Zizhou terlihat di depan gua dengan gerakan-gerakan aneh mereka. Meimei dan Meng Zhi hanya melihat dari pinggir sambil berbincang.


Tak lama cahaya matahari dapat terlihat diantara barisan pepohonan. Meng Zhi dan Ling Zizhou pun pergi berpatroli sedangkan Mu Lian melakukan meditasi.


Selama beberapa waktu Mu Lian fokus pada pengembangan lautan chi nya namun tanpa sadar dirinya telah masuk kembali ke dalam ruang gelap tempat dirinya mengembangkan energi spiritualnya.


Mu Lian tidak ambil pusing dengan perubahan tersebut dan hanya mengikuti arus. Jika dirinya sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya, itu berarti saatnya berkultivasi energi spiritual.


Yang membuatnya terkejut adalah perasaan seperti terbang bebas dirasakan olehnya, padahal baru saja kemarin Mu Lian merasakan perasaan tersebut.


Ketika membuka mata Ling Zizhou sudah berada di sebelahnya duduk dengan sikap sempurna dan larut dalam meditasi.


Mu Lian merasa Ling Zizhou di depannya lebih cocok dengan image Ling Zizhou secara umum. Pendiam, sulit didekati dan tatapannya menusuk.


Namun akhir-akhir ini ketika Ling Zizhou membuka matanya pasti dia mengikuti kemanapun Mu Lian pergi sambil terus mengoceh.


Empat hari kemudian, dengan ekspresi cemas yang tidak dapat disembunyikan, Meng Zhi akhirnya menjelaskan hasil penemuan dirinya dan Ling Zizhou ketika mereka berpatroli.


"Aku dan Zizhou sudah berdiskusi mengenai spirit beast yang ada di Gunung Kaki Langit. Berdasarkan pengamatanku selama sepuluh hari terakhir sepertinya spirit beast yang ada di gunung ini sedang menghindari sesuatu.


Mereka yang memiliki tingkat rendah semakin turun ke kaki gunung bahkan ada yang sudah di luar kawasan Gunung Kaki Langit karena spirit beast tingkat 3 turun dari puncak, mengambil alih kekuasaan spirit beast dengan tingkat di bawahnya," kata Meng Zhi.


"Itu artinya..." kata Mu Lian tidak melanjutkan kata-katanya.


"Jika kita tinggal di sini lebih lama, kita akan menemukan kawanan tipe penjebak, si rakus atau tipe pelacak," timpal Ling Zizhou.


"Sebelumnya kami masih bisa menangani beberapa spirit beast karena mereka sendirian. Tapi beberapa hari terakhir, semakin banyak kawanan spirit beast yang kami temukan," kata Meng Zhi.


"Kami tidak tahu dimana tipe pelacak tapi kami menemukan kawanan tipe penjebak dan si rakus," kata Ling Zizhou.


Mu Lian refleks menelan ludah membayangkan sekawanan tipe penjebak dengan jebakan-jebakan mereka yang tertanam dimana-mana.


"Aku akan memeriksa puncak gunung sementara kalian turun lebih dulu. Setelah menemukan penyebabnya, aku akan segera menyusul kalian," kata Meng Zhi.


"Laogong, jaga dirimu," kata Meimei. Mu Lian dan Ling Zizhou hanya saling menatap mereka pura-pura tidak mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan Meimei.


Meng Zhi mendesak agar mereka semua pergi saat ini juga. Meng Zhi mengatakan bahwa kemarin malam instingnya untuk segera pergi terasa sangat nyata.


Mu Lian sontak mengingat peristiwa ketika sekawanan burung terbang menjauhi lokasi yang akan segera dilanda bencana. Mengingat hal tersebut Mu Lian setuju untuk berangkat setelah membereskan semua peralatan.


Meng Zhi memimpin Mu Lian dan yang lain menyusuri barisan pepohonan. Entah mengapa suasana hutan hari itu mencekam.


"Kembali ke gua! Zizhou gendong Lian'er!" seru Meng Zhi.


Ling Zizhou awalnya bingung dengan perubahan sikap Meng Zhi, dengan bujukan Meimei akhirnya Ling Zizhou memanggul Mu Lian.


"Ada apa dengan spirit beast-spirit beast itu?" kata Meng Zhi. Meng Zhi berlari di belakang Ling Zizhou dan Meimei.


"Sebaiknya kita menunggu hingga kawanan menetap di suatu lokasi," kata Meimei.


Spirit beast yang sedang bermigrasi akan melakukan perjalanan dengan kawanan. Namun setiap spirit beast pasti menempati lokasi yang berbeda satu sama lain.


Mereka tidak akan mengurusi sesuatu yang bukan di daerah mereka. Sehingga jika jenisnya di bunuh pun, mereka tidak peduli kecuali si rakus.


Ling Zizhou mengerahkan seluruh kemampuan ginggong miliknya untuk kembali ke gua. Meng Zhi dan Meimei menyamakan kecepatan lari mereka dengan Meng Zhi.


Beberapa menit kemudian Ling Zizhou melakukan gestur tangan untuk mematikan keamanan di sekitar gua.


Mu Lian buru-buru turun dari bahu Ling Zizhou karena merasakan sarapannya naik ke tenggorokan. Dengan terhuyung-huyung Mu Lian mengikuti Meimei masuk ke dalam gua.


"Kau baik-baik saja, Lian'er?" kata Meimei.


"En. Hanya sedikit jetlag," kata Mu lian dengan wajah pucat.


Meng Zhi dan Ling Zizhou berdiri di mulut gua, mengawasi peristiwa yang baru mereka lihat seumur hidup mereka.


Suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Pohon-pohon bergoyang seperti akan tumbang. Mu Lian memegang lengan Meimei dengan kencang karena terkejut.


Ketika Meimei hendak menenangkan Mu Lian terdengar raungan dari spirit beast-spirit beast yang melintas.


Rasa penasaran mengalahkan ketakutan yang tadi Mu Lian rasakan sehingga Mu Lian mengintip dari balik punggung Ling Zizhou diikuti Meimei.


Si rakus terlihat paling besar diantara kawanan spirit beast dengan duri pipih menonjolnya meraung dengan sangat lantang sambil berlari.


Seperti rumornya, si rakus adalah yang paling heboh di antara tipe-tipe spirit beast. Kemudian beberapa tipe penjebak terlihat tak jauh dari si rakus.


Jika si rakus terlihat seperti binatang berkaki empat, tipe penjebak ada yang terlihat seperti ular dan ada yang terlihat seperti sotong.


Diseluruh tubuh tipe penjebak tersebut terdapat beberapa lingkaran berwarna ungu yang tampak seperti memar.


Mu Lian menangkap sekilas salah satu tipe penjebak memiliki bola mata berwarna ungu. Tipe penjebak tersebut dilewati beberapa si rakus.

__ADS_1


"Apa tipe penjebak selambat itu," celetuk Mu Lian.


"Tetap saja, tipe penjebak yang kau lihat ini tingkat 3 jadi mereka lebih cepat darimu. Apalagi si rakus," kata Ling Zizhou.


Beberapa ekor tipe penjebak yang menyerupai ular melintas menandakan berakhirnya gelombang kawanan tersebut.


"Seperti rencana awal kita. Aku akan memeriksa puncak gunung. Kalian, tunggu beberapa saat hingga yakin semua spirit beast telah mengklaim daerah kekuasaan mereka. Lakukan perjalanan menuruni gunung dengan hati-hati," kata Meng Zhi.


"Baik, Senior," kata Mu Lian dan Ling Zizhou.


"Bagaimana kalau kami menunggumu di salah satu tempat peristirahatan?" kata Meimei.


"Baiklah. Gunakan kesempatan itu untuk memulihkan chi yang hilang. Lian'er, apa teh mu masih ada?" kata Meng Zhi.


"Banyak," kata Mu Lian.


"Ya ampun gadis ini, kau memang berniat minum teh di gunung ini ya?" kata Ling Zizhou.


"Sudah. Berkat itu kita terbantu. Baiklah aku pergi dulu," kata Meng Zhi.


Belum sempat Meimei mengatakan sesuatu, Meng Zhi menoleh ke arah datangnya kawanan spirit beast. Meimei refleks menutup mulutnya dan memicingkan mata ke arah yang dilihat Meng Zhi.


Mu Lian mencolek lengan Ling Zizhou meminta penjelasan namun tiba-tiba Ling Zizhou mengangkat tangannya melancarkan beberapa gestur tangan.


Suara dentuman terdengar dari balik pepohonan kemudian nampak makhluk yang menyerupai spirit beast namun nampak seperti campuran dari dua spirit beast yang berbeda.


Tinggi makhluk itu mencapai lima meter, dipenuhi duri dan memar. Di punggungnya duduk tiga orang pria berpakaian serba hitam. Wajah mereka ditutupi kain sehingga hanya mata mereka yang terlihat.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" kata seorang pria. Pria itu memiliki wajah penuh luka dan tubuh yang besar.


Pria itu menuruni punggung makhluk tersebut dan mendekati gua. Dua orang lainnya mengikuti pria dengan wajah penuh luka.


"Hah, kau itu, sudah melanggar perintah ketua untuk tetap menunggu di puncak masih saja melakukan sesuka hatimu," kata seorang pria pendek.


"Aku tidak setuju dengan penunjukannya sebagai ketua dalam misi penting ini! Lihat saja sikap sombongnya! Dia menuruni gunung seorang diri, meremehkan spirit beast-spirit beast yang ada di gunung ini!" seru si pria penuh luka.


"Berhenti berdebat. Karena kita sudah disini sebaiknya aku gunakan array yang ada di depan itu untuk membantu bibit ini menyerap chi," kata pria bertubuh ceking.


Meng Zhi menunjuk si pria penuh luka dan pria pendek. Ling Zizhou dan Meimei mengangguk. Begitu juga dengan Mu Lian meskipun tidak terlalu memahami apa maksud Meng Zhi.


Pria bertubuh ceking berdiri tepat di depan Meng Zhi, di tangannya ada kantung besar berwarna abu-abu.


Meimei menghampiri Mu Lian mengalihkan perhatiannya karena saat itu Meng Zhi mengeluarkan jian dan menebas leher pria ceking sedangkan di saat bersamaan Ling Zizhou mematikan array perlindungan gua.


"Sialan! Nomer 6 serang pria itu!" raung seorang pria.


Meimei mendorong Mu Lian ke dalam gua kemudian bergerak dengan lincah menuju pria pendek.


Mu Lian mengintip dari balik dinding gua dan melihat bahwa pria yang meraung adalah pria yang wajahnya dipenuhi luka.


Pria itu sedang menghadapi serangan bertubi-tubi dari Ling Zizhou sedangkan siluet Meng Zhi terlihat dengan cepat memasuki barisan pepohonan diikuti makhluk besar itu.


"Sialan, sialan, sialan!" raung pria penuh luka.


"Cih, dasar sampah, sampah, sampah!" balas Ling Zizhou dengan suara tak kalah lantang.


Ling Zizhou memainkan jian miliknya, melesatkan beberapa tebasan mematikan. Aura pedangnya menari-nari di udara.


Pemandangan yang indah namun tidak bagi pria penuh luka. Beberapakali dirinya berada sangat dekat dengan kematian karena aura tersebut.


Namun setelah lepas dari kematian, pria penuh luka melancarkan serangan demi serangan dengan *pisau belati kembar miliknya.


Ling Zizhou menggertakan giginya menghadapi lawan di depannya ini. Bukan karena ilmu senjatanya lebih tinggi darinya namun karena tertangkap beberapa kali hendak melancarkan serangan ke arah Meimei atau ke arah Mu Lian.


Baru kali ini Ling Zizhou menghadapi lawan yang liciknya membuat ubun-ubunnya mendidih. Trik-trik kotor lainnya terus dilancarkan pria penuh luka.


Melihat Ling Zizhou kehilangan fokus, pria penuh luka melancarkan serangan ke arah leher Ling Zizhou.


Ling Zizhou terkejut dan refleks menghindari serangan itu yang hanya beberapa mili dari lehernya.


Namun bukannya jengkel melihat Ling Zizhou dapat menghindari serangannya, pria penuh luka itu malah tersenyum.


"Lian'er!" seru Ling Zizhou sambil berlari ke arah gua.


Aura pedang berwarna kehitaman menghancurkan bagian depan gua. Bersamaan dengan hancurnya gua, punggung Ling Zizhou ditebas oleh pria penuh luka.


.........


Note:


* Pisau belati kembar sebenarnya namanya butterfly sword. Pedang kembar disimpan dalam satu sarung. Kalau yg digambar ini besarnya mirip saber ga sih?


__ADS_1


__ADS_2