
"Cih, siapa yang berani mengedarkan kabar buruk itu!" kata Ling Zizhou geram.
Ling Zizhou duduk membelakangi meja rias dengan kaki kanannya ditumpangkan ke kaki kirinya. Kaki kanannya digoyang-goyangkan dengan gelisah. Sedangkan tangannya disilangkan di depan tubuhnya.
"Kurasa kabar itu bukan sekedar fitnah biasa. Sepertinya ada orang yang berpura-pura menjadi kakek," kata Mu Lian sambil menutup setengah wajahnya dengan kipas. Lukisan seekor naga yang terbang dengan anggun menghiasi kipas tersebut.
"Yang dikatakan Lian jie benar. Jadi, apakah besok kita akan mencari petunjuk mengenai orang yang berpura-pura menjadi Master Mu?" tanya Xiaoxiao dengan mata berbinar. Rasanya mereka seperti bermain 'detektif' saja.
"Kalau orang itu tertangkap, hmph, lihat saja nanti!" kata Ling Zizhou sambil membunyikan jemari-jemari tangannya.
"Jangan bertindak impulsif, Ah Zhou. Aku ingin menanyakan sesuatu pada orang itu," kata Mu Lian sambil memainkan kipasnya.
Ling Zizhou hanya bisa berkompromi, sudah lama dia diajarkan untuk tidak bertindak impulsif oleh Master Yi namun tetap saja kebiasaan jeleknya itu kadang-kadang muncul tanpa sadar.
Apalagi ini menyangkut orang terdekatnya. Keberadaan Mu Haocun kini berada dekat di hati pemuda itu, sama halnya dengan Mu Lian, Meng Zhi, Meimei, Xiaoxiao dan pemuda yang sedang kasmaran itu, Liuzhi.
"Sebaiknya kita tidur lebih cepat agar bisa bangun lebih awal," kata Xiaoxiao.
Semuanya mengangguk. Ling Zizhou bangkit kemudian mengingatkan agar kedua gadis itu tidak terlambat. Mereka berjanji untuk berangkat setelah sarapan.
Keesokan harinya seusai sarapan, Mu Lian, Ling Zizhou dan Xiaoxiao mengatakan bahwa mereka akan berkeliling desa. Meimei hanya menanggapi dengan senyuman, sepertinya tahu apa yang akan dilakukan oleh Mu Lian dan yang lain.
"Hoho, semangat yang luar biasa! Aku jadi rindu masa mudaku dulu! Benar tidak, Ah Yi?" kata Mu Haocun sambil menatap punggung ketiga remaja yang berjalan berdampingan itu dengan pandangan bangga.
Meng Zhi, Meimei dan Master Zhengheng saling menatap. Mereka tahu tujuan sebenarnya Mu Lian dan yang lain, namun orang yang menjadi topik dalam pembicaraan hangat itu malah bersikap seperti tak terjadi apa-apa.
"Hmph, aku harap Ah Zhou tidak membuat masalah," kata Master Yi sambil meletakkan cangkir teh ditangannya dengan keras di atas meja.
Master Yi melihat kesempatan ini agar Ling Zizhou semakin banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial. Master Yi hanya berharap agar pemuda itu mampu menjaga temperamennya! Sifat pemuda itu mirip siapa sih?!
Kalau saja Ling Zizhou mendengarkan ucapan gurunya, pasti pemuda itu memutar bola matanya, 'Siapa suruh mendidikku dengan keras!'
Namun pemuda itu sudah sibuk mengikuti Mu Lian dan Xiaoxiao pergi dari satu kios ke kios yang lain. Sesekali meniru gerakan Mu Lian meminta maaf kepada ibu yang anaknya menangis karena kaget melihat wajah Ling Zizhou.
Di sepanjang pencarian informasi, Mu Lian menggunakan kipas pemberian Mu Haocun untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Semua manusia tidak ada yang sempurna, meski Mu Lian telah terlatih untuk menjaga emosi serta ekspresinya di hadapan orang banyak, Mu Lian tidak yakin jika dihadapkan dengan berita yang terlalu menguras emosinya itu.
Misalnya saja; Mu Haocun pertama kali datang ke desa ini setelah fenomena ledakan panas, Mu Haocun menjual obat racik untuk penduduk desa dengan harga yang sangat mahal,
Obat racik yang dijualnya itu hanya berisi racikan dari rerumputan biasa sehingga sakit yang diderita pasien tidak sembuh-sembuh.
"Ampun tuan muda, nona muda. Saya benar-benar mengatakan yang sebenarnya! Semua orang yang telah membeli obat dari 'Master Mu' ini pun kesulitan dalam mengidentifikasi wajahnya!" kata seorang pria bungkuk sambil bersimpuh. Semakin terlihat menyedihkan saja.
"Hei! Jangan buat kami terlihat seperti orang jahat! Cepat berdiri!" kata Ling Zizhou sambil menggerak-gerakkan kaki pria itu dengan salah satu kakinya.
"Bapak. Mohon jangan mempersulit kami, kami akan membayar lebih jika bapak bisa memberikan gambaran dari 'orang itu' dengan jelas," kata Xiaoxiao.
"Kalau tuan dan nona tidak percaya kepada saya, tuan dan nona bisa menemui orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Master-" Pria bungkuk itu tersentak ketika melihat Mu Lian yang menatapnya dengan dingin.
Kipas hitamnya menutupi bagian bawah wajahnya namun pria bungkuk itu tahu kalau gadis itu tidak suka dengan ucapannya "Maksudku 'orang itu'. Aku akan membawa tuan dan nona pada orang-orang tersebut,"
Tanpa memastikan apakah Mu Lian, Ling Zizhou dan Xiaoxiao mengikutinya, pria bungkuk itu membawa ketiganya keluar dari pusat keramaian menyusuri deretan rumah.
Tak lama, Mu Lian dan yang lain berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Pekarangannya berukuran kecil dan hanya beberapa langkah saja dari sana terdapat aula resepsionis yang kecil pula.
__ADS_1
"Pak Donglai, ada apa datang kemari? Siapa mereka? Maksudku tuan dan nona muda ini?" kata seorang pria jangkung.
Pria jangkung itu sampai mengubah cara memanggil Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou karena merasakan aura yang tak biasa dari ketiganya.
Nona muda yang menutup sebagian wajahnya dengan kipas terlihat sangat anggun, seperti putri bangsawan. Nona muda disebelahnya terlihat lemah lembut, seperti putri bangsawan juga.
Sedangkan tuan muda itu, tatapannya sangat tajam dan wajahnya seperti orang yang memimpin organisasi gelap...
Tunggu, apa pemuda itu pantas dipanggil tuan muda? Pria jangkung itu tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Kami kemari karena tuan dan nona muda ini hendak menanyakan sesuatu," kata pria bungkuk.
"O-oh. Silahkan masuk, aku akan membuatkan teh dulu," kata pria jangkung.
"Tidak, terimakasih. Masih banyak orang yang harus kami temui hari ini, jadi kami tidak punya banyak waktu," kata Mu Lian.
Si pria jangkung seperti tersihir ketika mendengar suara jernih milik Mu Lian. Suaranya terdengar jelas dan enak didengar meskipun mulutnya terhalang kipas.
"Ah," kata si pria jangkung tersadar arena dia telah membuang-buang waktu nona muda itu dengan melamun.
Pria jangkung itu pun menjelaskan ciri-ciri 'orang' yang berpura-pura menjadi Mu Haocun kepada Mu Lian.
"Aku ingin melihat obat yang kau beli dari orang itu," kata Mu Lian. Si pria jangkung berlari ke dalam rumahnya kemudian kembali membawa sebuah botol porselen.
Mu Lian memeriksa isinya sambil mengernyit. Terlalu banyak air. Rumput yang biasa digunakan sebagai pakan ternak. Bau aneh apa ini? Mu Lian melepaskan botol yang ada di genggamannya itu secara tiba-tiba.
"Ah. Maaf, botolnya licin," kata Mu Lian sambil tersenyum menyesal.
Xiaoxiao dan Ling Zizhou yang berdiri di samping Mu Lian, memuji akting sempurna gadis itu di dalam hati mereka masing-masing.
Informasi yang didapatkan Mu Lian dari 12 orang yang telah melakukan transaksi dengan si 'impostor' pun terdengar sama.
Wajahnya ditutupi kain hingga hanya terlihat matanya saja. Ketika ditanya mengapa menutup wajahnya menggunakan kain, jawabannya adalah untuk menutupi identitasnya?
Hah?! Tidak salah? Orang itu mengaku bahwa dirinya adalah Mu Haocun namun berusaha menutupi identitasnya?! Mu Lian sampai tak habis pikir mengapa hampir selusin orang terperdaya oleh si 'impostor' itu.
Seharusnya mereka melihat permainan 'Am*ng Us' dari Bumi yang menunjukkan betapa liciknya seorang impostor. Dengan berbagai cara, dia menjebak orang-orang yang dalam keadaan kalut saling menuduh satu sama lain.
"Ckck, mari kita lihat selihai apa orang itu menjadi seorang impostor," kata Mu Lian sambil menutup kipasnya dengan keras.
...
"Bibi Feng! Aku tambah supnya!" teriak seorang pria kekar.
"Bibi Feng! Dimsumnya!"
"Bibi.."
"Cih! Telingaku rasanya mau pecah!" kata Ling Zizhou sambil mengusap telinganya.
"Namanya juga kedai makan, apalagi waktu makan siang seperti ini," kata Mu Lian sambil menyeruput supnya dengan hati-hati.
Beberapa pria yang duduk dekat meja mereka mencuri pandang ke arah Mu Lian. Gadis itu, meski sedang makan saja gerakannya anggun sekali! Ling Zizhou melayangkan pandangan mengancam kepada pria-pria tak tahu diri itu. Beraninya!
"Sup ini enak sekali, LIan jie," kata Xiaoxiao.
__ADS_1
"Iya kan? Sebaiknya kita tambah lagi, besok atau lusa kita tidak akan bisa mencicipinya lagi," kata Mu Lian. Ling Zizhou hanya memutar bola matanya.
Disaat dirinya sibuk mengusir segerombolan lalat yang hendak mendekati kedua gadis itu, sebaliknya, kedua gadis itu malah menikmati hidangan yang ada di atas meja.
Siang itu mereka menyusup ke sebuah penginapan. Mereka memsan makan siang dan menunggu orang yang dicurigai sebagai impostor Master Mu mendatangi tempat makan ini.
Ketika seseorang mencurigakan dengan deskripsi yang sama dengan yang dideskripsikan oleh 12 korban si impostor datang, Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou mengikuti gerakan orang tersebut dari ujung mata mereka.
Orang itu duduk selang tiga meja dari meja Mu Lian, Xiaoxiao dan Ling Zizhou. Dia hanya memesan secangkir teh yang masih mengepul.
Sesaat kemudian seorang wanita paruh baya datang dan duduk di depan orang itu. Mereka terlihat membicarakan sesuatu. Tidak, jari-jari mereka menunjukkan angka, sepertinya sedang menegosiasikan harga.
Setelah mencapai kesepakatan, si wanita paruh baya menyodorkan sebuah kantung yang diterima orang itu. Kemudian wanita paruh baya itu pun pergi dengan lesu.
"Ckck, sudah ada kabar buruk mengenai Master Mu, masih saja ada yang membeli," kata Ling Zizhou sambil menggelengkan kepala.
"Ayo kita ikuti orang itu," kata Mu Lian kepada Xiaoxiao. Mereka meninggalkan Ling Zizhou untuk membayar makanan mereka.
"..." (Ling Zizhou)
Mu Lian dan Xiaoxiao mengikuti orang itu dengan jarak yang aman. Ketika orang itu berbelok, mereka ikut berbelok dan ketika orang itu berhenti, mereka ikut berhenti.
Orang itu berhenti di sebuah kios yang menjual perhiasan. Beberapa saat kemudian, orang itu berjalan meninggalkan kios perhiasan tersebut.
Orang itu berjalan ke kawasan yang sepi dengan rumah yang mulai terlihat jarang. Mu Lian dan Xiaoxiao mempercepat langkah mereka untuk menyusul orang itu.
Entah insting atau bukan, orang itu membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil. Mu Lian dan Xiaoxiao yang berjalan sangat cepat tidak mengira jika orang itu akan berhenti secara tiba-tiba dan membalikkan tubuhnya. Dengan senjata tajam ditangannya pula! Senjata kecil itu jadi terlihat mematikan.
Tanpa pikir panjang, Mu Lian menggunakan satu-satunya benda yang sedang digenggamnya, kipas pemberian Mu Haocun untuk menangkis pisau kecil tersebut.
Dengan menjentikkan pergelangan tangan kanannya, Mu Lian membuat kipas menangkis pisau kecil tersebut dengan sempurna.
"Trang!"
Suara nyaring terdengar ketika pisau kecil itu beradu dengan kipas miliknya. Setelah berputar di udara beberapa saat, pisau kecil itu jatuh menancap tangan.
"Hmph!" kata Mu Lian sambil menutup sebagian wajahnya lagi.
Siapa sangka, dibalik kipas berwarna hitam itu ekspresi Mu Lian menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Mu Lian tidak menduga bahwa kipas pemberian Mu Haocun sekeras itu!
"Kalian siapa? Apa yang kalian butuhkan dari Master Mu yang bijak ini?!" kata orang itu. Suaranya terdengar seperti pria paruh baya.
Orang itu mundur beberapa langkah setelah kehilangan satu-satunya senjata yang dimilikinya. Kelakuan seseorang yang menegur sambil mundur seribu langkah!
"Lancang! Anda tidak tahu siapa gadis di hadapan anda ini?!" kata Xiaoxiao sambil menunjuk Mu Lian.
Orang itu semakin takut mendengar ucapan Xiaoxiao, tubuhnya bergerak gelisah. Jika gadis itu berhasil menangkis serangannya, itu artinya, gadis itu bukan gadis biasa bukan?
"Aku tidak tahu apa yang nona muda sekalian bicarakan. Jika kalian ingin membicarakan sesuatu denganku, mari kita pindah ke tempat yang lebih baik," kata orang itu mengubah cara bicaranya. Takut bahwa kedua gadis di hadapannya ini 'orang penting'.
"Hmph, kemana nyalimu itu hai impostor!" kata Mu Lian melanjutkan "Sepertinya aku terlalu menaruh ekspektasi tinggi padamu,"
"Hah? Impos- apa?" kata Xiaoxiao dan orang itu bersamaan.
Kadang-kadang Jiejie nya ini suka mengatakan hal yang aneh. Namun kali ini Xiaoxiao kesulitan melafalkan kata yang diucapkan oleh Mu Lian.
__ADS_1