Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya

Ahli Alkimia Transmigran Dan Gerobak Ajaibnya
Nomer 5


__ADS_3

"BBQ! BBQ super pedasnya! Dijamin bikin meledak!"


"Kacang bolong, kacang bolong!"


Pedagang kaki lima berdiri tak jauh dari lempeng batu yang luasnya setara dengan lapangan sepak bola.


Lempengan batu tersebut terlihat kokoh dan tingginya mencapai pusar orang dewasa. Hal tersebut membuat pertarungan terlihat dengan jelas meski dilihat dari jauh pun.


Meski suasana di kota G sangat tegang dan perselisihan mudah terjadi dimana-mana, anehnya, kota terasa seperti sedang melangsungkan festival.


Anak-anak pun tak mau ketinggalan ikut dalam festival menegangkan ini. Baik itu muda maupun tua, semuanya berkumpul di pusat kota, di lempeng batu, untuk menonton pertandingan gratis.


Semenjak melihat Sekte Amethys menantang Sekte Fluorite, Mu Lian dan Ling Zizhou turun dari gerobak dan mengajak Xiaobao, Xiaohua, Xiaoleng, Xiaojia, Xiaohan dan Xiaoqiu, menonton pertandingan dua sekte tersebut.


Urusan menemui broker bernama Fei Xuan diserahkan sepenuhnya kepada Meimei dan Meng Zhi karena sangat berbahaya.


Slip menjadi barang paling 'hot' saat ini. Siapa saja yang terlihat memegang slip pasti diincar oleh berbagai pihak.


Mu Lian dan yang lain mengikuti dua sekte yang akan bertanding itu ke arena. Dan memanfaatkan waktu tunggu pertandingan untuk membeli jajanan yang dijual pedagang kaki lima di sekitar sana.


"Bos, kami beli 50 tusuk BBQ. Kalau bisa jangan yang terlalu pedas," kata Mu Lian kepada bibi pedagang BBQ.


"Baik! Ngomong-ngomong, adik-adikmu banyak juga ya. Tapi, apa pemuda itu kakakmu? Kalau bukan, jangan sungkan-sungkan minta tolong pada bibi ya," kata bibi pedagang sambil mencuri pandang ke arah Ling Zizhou yang sedang mengamati pertandingan di arena.


Sebelumnya, memang sedang berlangsung pertandingan antara dua kelompok yang Mu Lian tidak tahu.


Mu Lian hanya tersenyum dan meyakinkan bahwa Ling Zizhou memang saudaranya, bukan penculik. Si bibi menyerahkan 50 tusuk BBQ dengan ragu namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Mu Lian segera meninggalkan stall itu.


"Hmmm! Ini enak!" kata Xiaobao.


"Aku...mau kacang bolong, Lian jie," kata Xiaojia yang diam-diam sudah menghabiskan 6 tusuk BBQ. Mu Lian saja tidak tahu kapan anak itu memakan keenam tusuk BBQ tersebut.


"Err, ya sudah kita beli semua jajanan yang kalian inginkan. Sebentar lagi pertandingan dimulai," kata Mu Lian setelah menyadari bahwa pertandingan sebelumnya telah selesai.


Beberapa orang sedang diangkut keluar arena karena tidak sadarkan diri. Bahkan ada yang diangkut dengan darah yang berceceran kemana-mana.


Mu Lian sempat ragu apakah anak-anak tetap mau membeli jajanan setelah melihat pemandangan tersebut namun melihat anak-anak tetap antusias membeli jajanan kesukaan mereka akhirnya Mu Lian hanya bisa menurut.


"Ibu...hiks...ibu dimana!"


Saat Mu Lian dan yang lain sedang membeli minuman, terdengar suara tangisan anak kecil. Namun suara itu seperti suara yang langsung berbicara ke dalam hati orang.


Mu Lian sangat mengenal suara tipe seperti ini, telepati. Dia dan Xiaobai sering berkomunikasi dengan cara seperti ini.


Mu Lian menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian mendapati seekor kelinci mungil dengan susah payah menghindari diinjak orang-orang.


"Titip sebentar," kata Mu Lian menyerahkan 5 tusuk BBQ nya kepada Xiaohua dan menghampiri kelinci tersebut.

__ADS_1


"Nak, sini ikut kakak," kata Mu Lian segera menggendong kelinci mungil itu.


Si kelinci menatap Mu Lian dengan ragu bercampur takut. Namun tidak menyangka jika Mu Lian dapat berkomunikasi dengannya.


Anak itu pun akhirnya mau digendong oleh Mu Lian setelah mengetahui bahwa Mu Lian tidak bermaksud buruk kepadanya.


Selain anak kelinci ini, Mu Lian juga menemukan anak Dilong dan anak kambing yang belum tumbuh tanduknya di sepanjang membeli jajanan. Dan masih banyak yang lainnya.


Ling Zizhou hanya bisa diam mengamati Mu Lian yang semakin lama terlihat seperti penjaga kebun binatang saja.


Anak kelinci dan anak monyet berada dalam dekapannya, anak Dilong terlihat melingkar disekeliling leher Mu Lian. Di dekat kakinya mengeekor anak kambing dan anak kuda.


"..."


"...apakah mereka adik baru kita?" kata Xiaoleng setelah lama diam. Xiaoleng mengira anak-anak itu yatim piatu seperti mereka sehingga Mu Lian membawa anak-anak itu.


"...bukan, mereka...terpisah dengan orang tua mereka," kata Mu Lian setelah berpikir keras.


"Bukannya kami juga terpisah dengan orang tua kami? Apa bedanya? Sudah, kita bawa saja mereka kembali ke gerobak!" kata Xiaohan. Xiaohua dan Xiaojia menatap anak-anak itu dengan iba.


Mu Lian ingin menepuk keningnya namun kedua tangannya sedang menggendong anak kelinci dan anak monyet.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan," kata Ling Zizhou menggeleng, tidak mau repot-repot meluruskan kesalahpahaman.


Namun Ling Zizhou penasaran dengan apa yang hendak Mu Lian lakukan setelah mengumpulkan anak-anak hilang tersebut.


"Tetap pada rencana sebelumnya, menonton pertandingan. Tapi kita harus mengambil posisi paling strategis sehingga orang tua dari anak-anak ini dapat menemukan kita. Aku yakin orang tua mereka masih menonton di sekitar sini," kata Mu Lian.


Tak jauh dari posisi Mu Lian dan yang lain, beberapa orang berpakaian sewajarnya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali dari mereka, terlihat sedang mengamati kelompok Mu Lian yang semakin menjauh dari mereka.


"Cih, anak-anak itu dibawa pergi!" kata seorang pria dengan tahi lalat di bawah mata kanannya.


"Bagaimana ini?"


"Sabar, masih ada kesempatan lain," kata pria itu lagi.


Orang-orang tersebut segera pergi dari sana. Mereka berjalan menuju restoran yang berada di pilar paling besar diantara semua yang ada.


Mereka menaiki tangga ulir dan memasuki ruangan privat yang berada di lantai paling atas. Didalam ruangan privat, ada 6 orang duduk di tempatnya masing-masing, menikmati secangkir teh. Beberapa makanan ringan terlihat belum tersentuh di piring-piring saji di atas meja.


Aroma makanan dan teh memenuhi ruangan. Meski begitu, ada sedikit aroma darah tercampur diantara aroma-aroma tersebut.


"Lapor, kami tidak bisa meneruskan pengawasan terhadap anak-anak yang menjadi target kita karena banyak sekali kultivator disekitar. Keadaan terbaru, mereka dibawa pergi oleh sekelompok anak muda," kata pria dengan tahi lalat dibawah mata kanannya.


"Terimakasih. Kalian boleh pergi," kata pria dengan luka diagonal di wajahnya. Dari mata kanannya melewati jembatan hidung hingga ke pipi kiri.


Setelah orang-orang yang melapor barusan menutup pintu, ruangan kembali sunyi. Yang terdengar di ruangan itu hanya suara orang sedang menyeruput tehnya dan napas yang berat.

__ADS_1


"Bagaimana luka anda, nomer 3?" kata salah seorang wanita akhirnya.


"Jangan tanya. Aku masih bersyukur masih hidup untuk menikmati teh ini," kata nomer 3.


"Ck, apa Ahli Array sekuat itu?" kata pria bertubuh pendek.


"Tentu saja. Kau lupa ya? salah satu pahlawan perang besar juga Ahli Array?!" kata pria berwajah tirus.


"Aku curiga ketua kelompok itu masih hidup," kata pria bermata panda.


"Padahal aku benar-benar yakin berhasil meracuni pemuda itu," kata nomer 3 menghela napas panjang. Selain berhasil meracuni pemuda yang diyakini ketua Ahli Array itu, nomer 3 juga berhasil membuatnya terlempar keluar dari Gua Suci.


Namun seperti yang dikatakan pria bermata panda, mereka tidak yakin apakah pemuda itu benar-benar sudah mati.


Mereka tidak sempat memastikan karena harus segera melarikan diri dari Gua Suci, sebelum bawahan-bawahan pemuda itu yang berhasil mereka buat berpencar berhasil bergabung kembali dan bersama-sama menyerang mereka.


Satu orang Ahli Array saja sudah membuat mereka kerepotan. Apalagi sekelompok Ahli Array? Bisa-bisa mereka harus bertarung dengan formasi perang yang terkenal tingkat kesulitannya sangat tinggi!


"Sekarang bagaimana? Kita tidak bisa berkomunikasi dengan yang di atas, memberitahu ada pihak yang berusaha menganggu rencana kita," kata yang paling muda, usianya mungkin hanya 25 tahun.


Semua yang ada di dalam ruangan diam. Pertama kali diberikan misi, semuanya juga sudah menduga bahwa misi ini harus dijalankan hingga mereka mati.


Sehingga setelah dibagikan bibit-bibit dan parasit-parasit, mereka segera dibuang ke dunia bawah dan tidak dipedulikan lagi.


Keuntungan menggunakan cara ini adalah, misi dapat berjalan dengan cepat tanpa harus menunggu perintah dari atasan mereka. Sayangnya, jika ada masalah seperti yang mereka alami saat ini, atasan mereka tidak akan tahu.


"Ngomong-ngomong, mana nomer 5? Dari kemarin suka tiba-tiba menghilang," kata si wanita.


"Ck, seharusnya kau tanya ke orang yang ada tahi lalat di bawah matanya itu," kata pria bertubuh pendek. Si wanita hanya mengedikkan bahu. Ruangan pun kembali sunyi.


Semuanya kembali bersantai dan larut dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan nomer 5, ternyata sedang menunggu pria bertahi lalat di dalam ruang privat lain.


"Tuan, hari ini aku membawa 5 kilo otak,"


"Sedikit sekali?" kata nomer 5.


"Mohon maaf. Pergerakan kami tidak bebas karena banyak kultivator di sekitar sini. Anda juga tahu bukan, kalau perburuan spirit beast diawasi dengan ketat di negeri ini," kata pria bertahi lalat.


"Haish, kalau begini, aku tidak akan bertahan lama sebelum induk parasit mulai memakan habis otakku," kata nomer 5 dengan muram.


Entah apa yang terjadi pada parasit yang ditanam pada salah satu ketua Lereng Kaca itu. Saat dirinya mengirim surat untuk memastikan apakah orang tersebut baik-baik saja, ternyata surat itu sampai ditangan orang tersebut dengan selamat.


"Apa yang terjadi pada anak parasit anda?"


"Tidak tahu. Yang jelas karena sekarang kondisinya mendesak kita harus membuka Gua Suci dengan paksa," kata nomer 5.


Nomer 5 tidak memikirkan lebih jauh apa yang terjadi pada anak parasit yang ditanam pada Mo Fan. Yang pasti, ada sesuatu yang salah pada anak parasit itu.

__ADS_1


Karena pada akhirnya semua yang mengemban misi ini akan mati, nomer 5 tidak panik dan segera merencanakan langkah selanjutnya.


Dengan pertimbangan itu lah nomer 5 tidak menceritakan kondisinya yang semakin memburuk kepada rekan-rekannya.


__ADS_2