Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
100


__ADS_3

Keesokan harinya.


Marvin memeriksa keadaan Yudi, dia perawat yang sedang magang. Namun karena disana sedang banyak pasien, dia jadi didaftarkan di banyak jadwal.


Yudi menatap Marvin, dia memperhatikan bahwa Marvin sangat tampan dan pantas bersanding dengan Dila.


Marvin juga memperhatikannya. Dia banyak mendengar cerita tentang kecelakaan yang menimpa Yudi. Dia tahu bahwa Yudi adalah kru dapur di restoran yang cukup terkenal. Assisten chef. Dia mengagumi pekerjaan Yudi yang tak banyak orang mampu bertahan. Banyak yang mengatakan bahwa restoran itu sangat ramai dan sibuk. Jarang orang yang bertahan dan mampu mencapai tingkat menjadi asisten chef. Perlu penuh perjuangan untuk mendapatkannya.


Mereka saling memperhatikan dalam diam.


"Anda bisa pulang setelah perbannya diganti" ucap Marvin.


"Ok, thank you!" jawab Yudi singkat.


Marvin merapikan alat-alat dan membantunya mengganti perban. Lukanya sudah cukup membaik, dia bisa pulang setelah menggantinya.


"Apa anda temannya Dila?" tanya Marvin.


"Yes!" jawab Yudi, lagi-lagi singkat.


"Andaa.."


"Aku hanya masa lalu baginya, jangan berpikir terlalu banyak, katakan suka padanya jika kamu suka, berkencan dengannya. Itu sudah bukan urusan ku lagi" ucap Yudi menyela Marvin yang tak tahu hendak mengatakan apa.


"Anda marah!" Marvin malah tersenyum.


"Tidak, tentu saja tidak!" Yudi mulai kesal ditambah rasa sakitnya.


"Aku menyukainya, tapi sepertinya dia menyukai orang lain, terlihat dari matanya" ucap Marvin.


"Aww...sakit, tolong fokuslah" Yudi memohon.


Marvin membalut lukanya dengan perlahan sesuai permintaannya. Setelah selesai, dia menatap Yudi yang masih meringis.


"Tempo hari saat anda di bawa ke mari, dia memegang tangan anda dengan erat. Aku hanya merasa bahwa dia masih menyukai anda" ucap Marvin.


"Tidak, aku sudah bilang kalau aku hanya masa lalu baginya. Jika kamu mau jadi masa depannya, jadilah pria yang baik untuknya" ucap Yudi.


Marvin masih menganggap Yudi hanya menyerah pada keadaan. Ada hal yang tidak diketahuinya dari hubungan mereka, namun Marvin tahu mereka masih menyimpan sebuah rasa.


"Ok, aku akan mulai mendekatinya, akan aku katakan semua perasaan ku, tapi jika dia menerima ku, berjanjilah anda tidak akan pernah merebutnya lagi"


Marvin memintanya untuk tak mengambil Dila lagi darinya jika mereka sudah berkencan dalam waktu dekat.


"Ya, terserah!" jawab Yudi datar.


Marvin pergi sambil tersenyum. Yudi tak memperdulikannya, dia hanya menahan rasa sakit karena Marvin membubuhi antiseptik lagi pada bekas lukanya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Dila datang dengan pakaian rapi. Dia hendak menjenguk Yudi yang biasanya sedang tidur siang. Namun saat dia hendak mendekati ruangannya, Yudi sudah rapi hendak pulang, namun harus mengambil beberapa obat di apotik klinik yang arahnya berlawanan dengan kedatangan Dila.


Dila berbalik dengan cepat saat Yudi keluar dan berjalan menuju apotik. Marvin berpapasan dengan Dila kemudian menyapanya.


"Hai, kamu di sini?" tanya Marvin.


"Hi, Marvin!" sapa Dila.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Marvin.


"Aku mau melihat mu bekerja" jawab Dila sebagai alasan.


Yudi mendengar suara Dila, dia berbalik dan melihatnya bicara sangat akrab dengan Marvin. Dia menudukkan pandangannya dan berbalik. Dia berjalan dengan perlahan menuju apotik.


"Sangat kebetulan, aku sudah selesai dengan pekerjaan ku, ayo kita jalan-jalan" ajak Marvin.


Dila tersenyum dengan perasaan yang terpaksa, dia tak menyangka alasannya akan dibuat Marvin untuk menganjaknya main.


"Ok, ayo!" Dila terpaksa ikut.


"Aku akan ganti pakaian, tunggu sebentar dan jangan kemana-mana" pinta Marvin.


"Ok!" jawab Dila.


Ini kesempatan bagi Dila untuk mengikuti kemana Yudi pergi. Dia berjalan cepat menuju arah yang sama dengan kepergian Yudi. Namun karena Yudi yang sengaja berdiri di dekat tiang bangunan sembari bersandar. Dila jadi tak bisa menemukannya. Dia memasang wajah sedih karena sangat ingin melihatnya lagi.


"Aku sudah bilang tunggu, ada apa? Siapa yang kamu cari" tanya Marvin


"Tidak ada, aku hanya mau lihat ruang apotek nya" jawab Dila.


Marvin memegang tangannya dengan erat dan mengajaknya pergi. Beberapa teman Marvin menatap mereka dan menyapa Dila. Mereka terlihat senang Marvin memiliki teman wanita.


Marvin membukakan pintu mobil untuk Dila. Dia sangat senang bisa pergi dengan Dila hari ini.


"Terima kasih!" ucap Marvin dengan suaranya yang dalam.


Dila terkejut, dia langsung menatap Marvin yang bicara dalam bahasa Indonesia.


"Kamu sangat bertekad ya!" ucap Dila sambil tersenyum.


"Ya kamu benar, aku sangat menyukai mu, jadi aku harus bekerja keras untuk mendapatkan perhatian mu" jawab Marvin.


Dila menatapnya karena sangat lugas mengatakan perasaannya. Marvin merasa percaya diri karena Vero sudah menitipkan Dila padanya.


"Apa kakak ku mengatakan sesuatu yang membuat mu jadi berani menyatakan perasaan mu seperti ini?" tanya Dila yang merasa bahwa Vero sudah mengatakan sesuatu yang membuat Marvin begitu percaya diri.


"Tidak, ini bukan karena Vero. Aku hanya ingin mengatakan perasaan ku secepatnya"

__ADS_1


"Ini terlalu cepat, kau terlalu jujur. Aku merasa aneh" jawab Dila.


Marvin hanya tersenyum. Dila memperhatikan arah jalannya, dia merasa tak asing.


"Apa kita akan ke museum Fruitland?" tanya Dila.


"Yups, kau pernah ke sana?" tanya Marvin.


"Pernah sekali, dengan keluarga ku" jawab Dila.


"Vero juga pernah ke sana?" tanya lagi Marvin.


"Nggak, kalau dia belum pernah deh kayaknya" jawab Dila.


Marvin melirik padanya.


"Kau benar-benar terlihat canggung" ucap Marvin tersenyum.


"Ya, tentu saja, maksud ku, ini terlalu cepat, menurut ku. Mungkin karena aku belum siap mendengar pernyataan cinta mu" jelas Dila.


"Santai saja, aku akan menunggu mu sampai kamu benar-benar siap" ucap Marvin lembut.


Dila menyamankan duduknya. Dia mencoba menghargai Marvin dengan tidak terlalu menunjukkan rasa canggungnya lagi.


Pernyataan cintanya terlalu cepat, Dila biasanya yang memulai. Dia yang selalu menyukai pria, jadi merasa sangat aneh saat disukai pria dan diberi perhatian.


Sampai di Fruitlands Museum, Marvin mengajaknya untuk makan dulu sebelum memulai perjalanan.


Mereka masuk ke sebuah toko pastry yang menjual semua pastry dengan isian buah-buahan yang terlihat manis.


Dila memilih sebuah croisant dengan isian strawberry dan segelas coklat hangat. Marvin memesan makanan yang sama di tambah sebuah donat.


Sambil menatap pemandangan dari jendela restoran, Marvin menatap wajah Dila yang selalu menikmati makanan dengan lahap.


"Jangan menatap ku seperti itu!"


"Kenapa, kamu malu?"


"Tentu saja!" ucap Dila.


"Ok!" Marvin menyerah.


Selesai menyantap pastry nya, mereka berdua berjalan di sekitar Fruitlands Museum, cuaca cerah sore itu membuat suasana romantis tercipta menurut Marvin. Diam-diam dia mengambil foto Dila yang sedang berjalan. Marvin benar-benar mengagumi Dila.


Mereka mulai membicarakan tentang kampus, mengapa Dila mengambil fakultas Bisnis dan mengapa Marvin bekerja di klinik Harvard.


"Sebenarnya, aku hanya membantu di sana. Ayah ku adalah salah satu pimpinan di sana. Aku sedikit dipaksa untuk membantu, tapi lama kelamaan aku mulai senang membantu dan merawat orang yang sakit. Terutama saat situasi genting, seolah semua bantuan sangat berguna. Setidaknya aku menjadi berguna di sini" jawab Marvin.

__ADS_1


Dila mulai memandang Marvin dengan berbeda, lebih menghargai dan bangga dengan pemikirannya.


__ADS_2