Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
40


__ADS_3

Malam tiba, Fajri membantu kasir menyelesaikan perhitungan hari ini. Hari demi hari pendapatan mampu melebihi target. Fajri tersenyum merasa pemarasan yang dilakukan Dila berbuah manis.


Arumi menunggu di salah satu kursi pelanggan. Sesekali dia melihat ponsel menunggu Vero menghubunginya. Namun pesan tak kunjung datang. Wajahnya sangat murung.


Dila memeriksa akun sosial miliknya dan merespon semua komentar yang muncul setelah teman-teman sosmednya melihat semua foto-fotonya tentang menu restorannya.


Yudi keluar dari dapur dan memakai jaketnya. Namun dia berhenti setelah melihat semua orang masih bekerja. Dia duduk dekat Arumi yang menatap ponselnya.


"Dia belum menelpon?" tanya Yudi.


Arumi hanya menggelengkan kepalanya. Dila mendengarkan meskipun matanya masih menatap laptop. Yudi memperhatikan layar laptop dan melihat foto Dila yang begitu cantik. Dia tersenyum dan memujinya dalam hati.


~Dia cantik, menarik dan pandai memberikan perhatian. Berbeda dengan Rania, dia terlalu banyak menanggung semuanya sendiri. Seolah orang disekitarnya tak mampu mendapat kepercayaannya. Astaga! Kenapa aku membandingkan mereka? Kenapa aku kecewa dengan Rania. Kau tahu sendiri Yudi bagaimana Rania menjalani hidupnya. Bukan salahnya jika dia tidak ingin orang lain tahu tentang kesedihannya~


Yudi bergumul dalam hatinya. Sambil menatap Dila, dia berpikir tentang Rania.


Tiba-tiba Dila menoleh padanya, Yudi terkejut.


"Chef, foto mu saat memasak mendapatkan like sangat banyak, mau lihat?" ucap Dila sambil tersenyum manis.


"Oh ya? Mana?" tanya Yudi sambil beralih tempat duduk mendekati Dila.


Dengan riang, Dila menunjukkannya. Dia juga menunjukkan beberapa foto yang likenya paling banyak. Mereka pun berdiskusi tentang menu yang banyak ditanyakan.


Arumi menatap kedekatan mereka dengan mata sinis. Dia seolah tak rela melihat kakaknya bersama Dila yang sifatnya kurang disukainya.


Fajri duduk di dekat Arumi untuk melaporkan pendapatan hari ini. Arumi berhenti memasang mata sinis, kemudian beralih menatap berkas yang dibawa Fajri.


Fajri tersenyum menertawakan kekhawatiran Arumi pada perasaan kakaknya.


"Jangan khawatir, laki-laki biasanya sangat paham dimana seharusnya dia meletakkan hatinya" bisik Fajri.


Mata Arumi membulat, dia tetap tak setuju dengan pemikiran yang beberapa kali ini Fajri ucapkan tentang laki-laki terutama Yudi kakaknya.

__ADS_1


"Tidak! Kau harus tetap menyukai Rania. Bagaimana pun caranya. Jangan sampai karena wajahnya sama, kau jadi suka dia. Dengar! Aku takkan rela!" ucap Arumi dengan keras.


Fajri menganga tak menyangka Arumi akan bicara dengan keras. Yudi dan Dila seketika menatap dirinya yang sangat jelas mengatakan semua yang ingin dia katakan. Dila menelan ludahnya, hatinya kesal mendengar ucapan Arumi yang jelas tak setuju jika dia bersama Yudi.


Sementara Yudi terdiam dan menatap ke arah lain dan berpikir tentang Rania. Kemudian dia menatap Dila yang memasang wajah tak suka mendengar Arumi. Dila membalas tatapannya kemudian memegang tangannya.


"Pikirkan lah! Aku takkan memaksa, toh jika memang benar Rania cinta sejati mu, aku akan memahaminya" ucap Dila.


Arumi menyeringai merasa bahwa Dila hanya berpura-pura baik. Fajri terdiam melihat mereka secara bergantian. Dia merasa canggung dengan situasi yang sebenarnya bermula karena komentarnya.


Yudi berdiri dan mengambil helmnya. Dia berjalan keluar tanpa bicara apapun. Dila buru-buru mematikan laptop dan menaruhnya di ruang kerja Vero. Dia berlari menyusul Yudi yang masih duduk di motornya sambil terdiam menatap motornya.


"Ayo kita jalan-jalan!" ajak Dila sambil naik ke motor lalu memeluknya.


Yudi terkejut dan melirik ke belakang kemudian menatap tangan Dila yang memeluknya. Yudi tersenyum.


~Dila memelukku, dia melakukan sesuatu yang aku ingin Rania lakukan untukku, tapi dia tidak pernah melakukannya~


Yudi memasang helmnya dan menyalakan motornya. Dila tersenyum dan mempererat pelukannya. Yudi merasakan pelukan Dila yang semakin erat. Dia melajukan motornya ke arah taman kota.


"Gemes deh sama Yudi, kok bisa sih!" gumam Arumi.


Fajri menatapnya berharap Arumi melihatnya dan melepas tangannya. Namun Arumi semakin keras meremas lengan Fajri, hingga Fajri tak bisa menahan.


"Aw!" akhirnya Fajri bersuara.


Arumi sadar dan menatap tangannya yang sedang menyakiti tangan Fajri, matanya beralih pada wajah Fajri yang meringis. Buru-buru dia melepas tangannya kemudian mengusap lengan Fajri dengan lembut.


"Maafkan aku! maaf ya!" ucap Arumi berulang.


Fajri tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, asal jangan terlalu sering, nanti lengan ku memar" gurau Fajri.

__ADS_1


Arumi tersenyum manis kemudian tertawa menertawakan dirinya sendiri yang terlalu khawatir dengan perasaan kakaknya.


"Entah kenapa, aku benar-benar tak rela jika Rania digantikan oleh Dila" ucap Arumi.


"Kau tidak bisa memaksa Yudi mempertahankan perasaannya pada Rania yang mungkin saja dia sudah merasa bahwa Rania sudah meninggalkannya" ucap Fajri.


Arumi tertegun mendengar ucapan Fajri kemudian menghela nafas.


"Yudi mungkin saja terluka dengan ketidakpastian cintanya. Apa Rania akan kembali atau tidak? Jika pun kembali apa perasaannya masih sama atau tidak?" ucap Fajri dengan ekspresi datar sambil merapikan kembali map yang Arumi periksa.


Arumi terdiam menatap wajah Fajri dan mendengarkan dengan mendalam. Memahami maksud ucapan Fajri. Mencoba menjadi Yudi yang sedang mengambil langkah, apakah memutuskan untuk menunggu atau mencari cinta yang lain.


###


Yudi menghentikan motornya di sisi kafe tempat terakhir dia kunjungi bersama Rania. Lampu depan kafe masih menyala meski kafenya sudah tutup. Pemandangan di sisi kafe itu sangat indah. Tempat yang pernah jadi saksi keceriaan mereka saat bersama, meski pun banyak hal yang terjadi dalam hidup.


Dila turun, disusul Yudi yang turun sambil mengunci motornya kemudian membuka helm nya. Dila terpana dengan pemandangan di tempat itu. Dia tak bisa mengungkapkan rasa kagumnya melihat semua itu.


Yudi melihat Dila yang sangat mirip dengan Rania, terutama cara mereka terpana. Dila melihat pada Yudi dan menggenggam tangannya untuk mendekat ke pagar dan bersandar di sana.


"Kau sering kesini? Ini indah sekali!" ucap Dila senang.


"Ya, terakhir bersama Rania" ucap Yudi.


Sambil menatap ekspresi Dila saat mendengar ucapannya, Dila terdiam. Dia melepas tangan Yudi, menunduk dan mundur selangkah, namun Yudi menghentikan dan memegang tangannya.


"Maukah kau membantu ku melupakan kenangan bersama Rania?" ucap Yudi.


Dila melihat ke arah Yudi dan tersenyum senang.


"Tentu saja! Aku akan melakukan semua yang aku mampu untuk membuatmu melupakannya" ucap Dila yang langsung memeluk Yudi.


Awalnya tangan Yudi kaku terdiam, merasa ragu meski telah meminta Dila untuk mau menerima keadaan perasaannya. Namun karena merasa nyaman dengan pelukan Dila, dia memeluk tubuh Dila dengan erat membalas perasaan Dila.

__ADS_1


Dila sangat senang, dia merasa telah menang dari pemikiran Arumi yang kekeh bahwa Yudi akan tetap mempertahankan perasaannya untuk Rania. Dia juga senang semua ucapan sumpahnya dapat terwujud.


__ADS_2