Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
141


__ADS_3

Di rumah milik Dila dan Yudi.


Rania menatap wajahnya di cermin. Tak ada yang dia pikirkan, selain perasaannya yang merasakan hal aneh saat melihat Bondan. Ada rasa sakit di hatinya yang sulit untuk diungkapkan.


~Aku siapa? Meskipun semua orang mengatakan aku Dila, tapi kenapa seolah ada sesuatu yang ingin aku sampaikan?~ ucap hati Rania.


Rania memejamkan matanya, meringis seolah kesakitan mengingat sesuatu yang ingin dia sampaikan.


Yudi yang hendak mengucapkan selamat tidur padanya, masuk ke kamar dan melihat dia sedang kesakitan. Yudi langsung mendekat.


"Kenapa? Apa yang sakit, sayang?" tanya Yudi cemas.


Rania membuka matanya, dia merasa aneh dengan panggilan Yudi padanya. Matanya yang hampir berlinang air mata, menatap wajah Yudi.


"Aku merasakan hal aneh di hatiku, seolah ada sesuatu yang harus aku katakan dan itu membuatku merasa semakin kesal" ucap Rania.


Yudi tersenyum, dia memegang kemudian mencium tangannya.


"Wajar, kamu kecelakaan sangat hebat. Dokter malah mengatakan kemungkinan kamu koma. Tapi mungkin karena aku sudah datang dan sangat merindukan mu, kamu bisa pulih dengan cepat" ucap Yudi.


Rania menatap wajah Yudi, pria yang pertama dia lihat saat membuka mata. Yang begitu telaten merawatnya. Yang mau membantunya bangun dan berjalan kembali dari ranjang rumah sakit. Yang begitu mencintainya dengan selalu mengatakannya.


"Kamu begitu cinta sama aku" ucap Rania.


Yudi tersenyum.


"Bahkan meski fisik ku sekarang sudah berubah" ucap Rania dengan mengusap kepalanya yang mulai tumbuh rambut pendek, namun bekas operasinya masih jelas terlihat.


Yudi mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibirnya. Rania memejamkan matanya. Yudi menatap wajahnya dengan penuh rasa sayang.


Yudi mengantarnya ke ranjang kemudian duduk bersama. Rania menatap wajahnya bergantian pada tangan Yudi yang masih mengusap tangannya.


Malam itu, Yudi merasa sedang sangat ingin melakukan hal itu dengan Dila. Dia mendekatkan diri dan mulai mencumbunya.


Rania yang awalnya merasa canggung, mulai merasa nyaman saat Yudi mulai memeluknya. Dia juga merasakan getaran hormon yang mulai naik atas reaksi dari ciuman Yudi di lehernya.


Mereka tidur bersama malam itu.


###


Bondan tak sengaja melepaskan piring bekas makan malamnya, yang hendak di bawa ke washtable. Dia kehilangan keseimbangan, tangannya menopang ke meja. Berusaha untuk menormalkan ritme nafasnya.


Wajah Rania muncul saat dia memejamkan matanya. Bondan menghela dengan sedihnya. Dia masih merindukan Rania. Dadanya terasa sakit, dia meremas bajunya. Rasa sakit mulai berubah menjadi panas di wajahnya. Air matanya menetes, bersama kerinduannya pada Rania.

__ADS_1


Semakin hari semakin terasa dan membuatnya tak bisa bertahan. Seolah ingin menyusul Rania ke alam baka.


###


Arumi duduk di ranjang, merapikan selimut untuk tidurnya. Dia melihat Vero masih berdiri menatap ke arah luar jendela yang berkeringat karena hujan yang terjadi sepanjang sore hingga malam itu.


Arumi mendekatinya kemudian memeluk Vero.


"Kenapa sayang?" tanya Arumi sambil mencium dagunya.


Vero menatap wajah Arumi kemudian tersenyum.


"Nggak, aku hanya kangen sama Rania, juga sedikit khawatir karena Dila tinggal sama Yudi saja sekarang" ucap Vero.


"Aku juga kangen sama Rania, soal Dila, kemajuan kesehatannya melesat, terutama saat dia bersama kak Yudi. Lagipula mereka akan menikah kan, jadi nggak usah khawatir" ucap Arumi sambil menyandarkan kepalanya di dada Vero.


Vero mengusap rambut Arumi dan mencoba untuk meredam gelisah di hatinya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya yang tak sempat berbulan madu itu.


Semua kejadian seperti petir yang menyambar kuat. Menghanguskan semuanya, merampas kebahagiaan yang seharusnya dia rasakan.


###


Vera menatap hujan dari teras rumahnya, dia tinggal sendiri saat Aditya bertugas terbang ke luar pulau. Kenangan bersama Rania membuatnya kembali merindukannya.


"Belum tidur, Ver?" sapa Yuni.


Vera menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak bisa tidur" jawab Vera.


"Hujan padahal Ver" ucap Yuni yang menarik cardigan menutupi dadanya.


"Aku nggak bisa lupa sama tatapan Dila pas dia pulang dari rumah sakit" ucap Vera.


Yuni menoleh dan menatap matanya yang seolah mengingat.


"Kayak mata Rania, aku paham banget gimana mata anak ku Yun, itu matanya Rania" ucap Vera yakin.


Yuni menghela nafas, matanya beralih pada rintikan hujan yang mulai mereda. Dia tak bisa mengatakan pada Vera untuk kuat dalam menerima kepergian Rania. Karena dirinya pun merasa sangat kehilangan.


###


Nuri membelai wajah Vania setelah dia lelap tertidur. Kemudian menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Fajri yang baru keluar dari kamar mandi melihatnya, kemudian melihat jendela yang ditatap Nuri.

__ADS_1


"Masih hujan ya?" tanya Fajri.


Nuri tak menjawab.


"Kamu kenapa?" tanya Fajri.


Nuri menghela nafas keras.


"Aku ngerasa kalau yang Yudi bawa ke rumahnya itu bukan Dila, tapi Rania" ucap Nuri yang mengalihkan tatapannya pada Fajri.


Fajri tersenyum kemudian mendekat.


"Kamu lagi kangen sama Rania ya?" tanya Fajri.


"Bukan gitu" jawab Nuri.


Dia menghadapkan tubuhnya pada Fajri.


"Kamu ingat, waktu dia di rumah sakit, waktu Bondan diperbolehkan pulang" ucap Nuri sambil menggenggam tangan Fajri.


Fajri mengangguk.


"Bondan datang ke kamarnya dan bicara. Waktu itu dia masih diam dan nggak ada yang bisa membuatnya bicara. Tapi setelah Bondan datang, dia bicara dan meminta maaf padanya saat Bondan berharap dia bisa pulang bersama Rania" lanjut Nuri mengulang.


Fajri mengangguk sambil berpikir dan mengingat.


"Sama kejadiannya saat Rania di rumah sakit setelah kejadian buruk itu. Rania hanya mau bicara saat Bondan mendekat. Ini membuat aku yakin bahwa dia itu bukan Dila, tapi Rania. Dia itu Rania, sayang!" Nuri bersikeras.


Fajri membelai wajah istrinya yang sangat yakin itu.


"Dengar sayang, Dila pulih berkat ketelatenan Yudi yang merawatnya. Hal lain hanya pendukung. Clara mengincar Rania, yang selamat adalah Dila, itu yang terjadi. Kini giliran kita menerima agar Rania juga tenang di alamnya" ucap Fajri menenangkan.


Nuri memalingkan wajahnya, dia masih sangat yakin bahwa itu adalah temannya. Tapi tak bisa memaksakan pemikirannya. Dia hanya khawatir hubungan mereka lebih dalam lagi. Saat kemungkinan salah duga bisa saja terjadi.


###


Yudi menatap wajah Dila yang tertidur di hadapannya dengan berselimut tanpa berpakaian. Kemudian membelai wajahnya dan merapikan selimut agar dadanya tertutupi.


Tangannya berhenti saat menyentuh dada Dila yang terdapat sebuah tanda. Yudi mengerutkan dahinya merasa tak pernah melihat itu sebelumnya.


"Apa ini tanda lahir atau bekas luka kemarin?" tanya Yudi pada dirinya sendiri sambil bergumam.


Seingatnya, dulu dia tak pernah melihat tanda itu. Kemudian menjadi ragu dan menatap dengan perasaan bersalah pada wajah itu.

__ADS_1


Yudi menelan salivanya, dia takut sudah salah menduga tentang siapa yang ada di hadapannya. Matanya semakin membulat saat mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.


__ADS_2