
Malam itu Rania dan Bondan pulang, hanya perawat Nina yang menjaga Nuri. Vero dan Arumi juga Dila tahu kalau Rania akan seharian mengurus Nuri, maka dari itu mereka tidak datang.
Suasana rumah sakit terlihat sepi, suasana yang biasanya sesekali ada pasien gawat darurat pun sepi.
Tepat tengah malam, seorang pria memakai hoodie berjalan dengan pelan melewati lobi dan masuk saat semua perawat lengah tak memperhatikan. Pria itu masuk ke dalam lift, langkah nya mulai dia percepat saat keluar dari lift di lantai 3.
Dia berhenti di depan ruangan Nuri, bahunya bergerak menunjukkan nafasnya tersengal karena berjalan cepat. Dia melihat perawatan masih menemani Nuri. Dia menunggu dengan berdiri di depan pintu.
Beberapa menit berlalu, dia masih diam memperhatikan perawat itu dari kaca pintu. Nina memeriksa ponselnya yang bergetar, sebuah pesan diterimanya. Dia berdiri dari kursinya dan hendak keluar. Pria itu melihatnya, dia berbaring di kursi tunggu, berpura-pura tidur seolah keluarga pasien yang lain.
Nina melihat keadaan sekitar sebelum meninggalkan Nuri. Dia sangat detil dan memperhatikan semuanya dengan seksama. Namun pesan yang dia dapat membuatnya kembali melihat ponsel kemudian menelpon kakaknya yang memberitahu bahwa dia sedang ada di bawah menunggunya.
Nina pergi dengan terburu-buru, agar tak lama meninggalkan Nuri sesuai dengan keinginan Rania, karena jika dilanggar dia akan mendapatkan sanksi.
Dalam kesempatan ini, pria itu masuk dan duduk di dekat tangan Nuri. Dengan lembut dia membelai Nuri sampai ke tangannya. Nuri terganggu dengan sentuhannya, dia akhirnya terbangun dan melihat wajah pria itu.
"Ryan!" ucap bibir Nuri.
Pelan terkejut, penuh ketakutan dan merasa putus asa. Nuri hendak bangkit dan berlari keluar. Namun tangan Ryan menahannya dengan erat. Nuri mau berteriak, namun dia sedang dalam penyembuhan di pita suaranya. Mengeluarkan sedikit suara membuatnya semakin sakit.
"Maafkan aku!" ucap Ryan lembut.
Nuri berhenti meronta, dia memberanikan diri menatap wajahnya sekali lagi.
"Aku minta maaf, karena kau masih hidup dan ternyata menyulitkan hidupku" lanjut Ryan.
Mata Nuri membelalak dan menangis, dia mengira Ryan menyesal lalu meminta maaf, namun ternyata dia datang untuk membunuhnya. Dia semakin meronta.
"Ssttthh.....diam, nanti pasien yang lain terganggu" ucapnya dengan ekspresi yang membuat Nuri semakin ketakutan.
Nuri menurut dan diam, dia pasrah dan menerima jika hari itu dia mati. Hanya wajah Rania yang tersirat di benaknya. Sahabat yang akan melakukan segalanya untuknya.
"Anita benar, seharusnya hari itu aku tidak menyesal meninggalkanmu dalam kobaran api. Seharusnya aku merasa bahwa ini adalah akhir cinta kita" bisik Ryan di pipi Nuri.
Nuri menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Kau tahu, aku selalu ingat harum tubuh mu. Selalu terbayang bagaimana kita melakukannya. Kau begitu cantik saat tidur di pelukanku. Sial! Aku benar-benar jatuh cinta padamu"
Ryan menatap Nuri yang memejamkan matanya dan menangis. Dia menghapus tangisnya dan mencium bibirnya yang sebagian masih diperban.
"Bibir mu masih manis Nuri!" ucap Ryan.
Nuri membuka matanya dan menatap wajah pria yang pernah sangat dia cintai.
"Sayang sekali, aku marah padamu karena kau memaksakan untuk bicara pada polisi tentangku. Aku kira kau akan diam selamanya dan kembali padaku setelah kau tahu kalau aku menjengukmu tempo hari. Itu karena aku peduli padamu. Aku menyesal karena meninggalkanmu setelah Anita mencekik mu. Dia sangat cemburu, sangat marah"
Ryan mulai meracau dan tak terkendali. Namun tiba-tiba dia menangis.
"Kenapa Nuri? Kenapa? Kenapa aku harus begitu marah padamu sehingga ingin membunuh mu hari ini....padahal aku sangat mencintaimu"
Nuri menjadi lebih ketakutan.
Ryan menidurkan Nuri dengan lembut, Nuri yang pasrah hanya diam dan menangis tanpa suara. Dengan perlahan tangan Ryan menekan leher Nuri sambil tersenyum kemudian tertawa lepas seperti orang gila.
Namun tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari samping dengan sangat keras. Ryan terpental ke bagian samping kiri ranjang.
"Fajri!" ucap Nuri.
Fajri masih memegang tangan Nuri dan melindunginya. Dia hendak memanggil keamanan dengan berteriak Namun Ryan menatapnya dengan kesal. Terlihat darah mengucur dari telinganya. Ryan menatap kesal kemudian lari ke arah tangga darurat.
Fajri menghela dan menoleh pada Nuri yang terlihat masih ketakutan. Fajri memeluknya dengan lembut dan mengusap punggungnya.
"Sudah tidak apa-apa, dia sudah pergi" ucap Fajri.
Tak berapa lama keamanan datang dan bertanya.
"Ada keributan apa pak?"
Fajri melepas pelukannya dan marah pada petugas keamanan itu.
"Kalian lamban sekali, dia kabur lewat tangga darurat, sebaiknya kalian kejar dia dan tangkap, dia itu buronan polisi" ucap Fajri menunjuk tangga darurat.
__ADS_1
Nuri menatap Fajri yang marah-marah pada petugas keamanan. Dia bertanya-tanya mengapa Fajri datang tengah malam ke rumah sakit.
~Apa Vero menyuruhnya datang?~ ucap hati Nuri.
Fajri berbalik pada Nuri dan mengantarnya kembali ke ranjang untuk istirahat dengan tanpa sedikitpun melepas genggamannya.
"Sekarang istirahat, lupakan semua yang terjadi. Aku akan nungguin kamu sampai pagi" ucap Fajri.
Tak berapa lama Nina datang dengan berlari. Dia terkejut karena Fajri sudah ada di sana.
"Maaf! Tadi saya...."
Belum selesai Nina menjelaskan Fajri sudah berbalik dan marah padanya.
"Aku sudah bilang, kalau kamu ada urusan hubungi aku di bawah. Susah banget sih dibilanginnya?"
Nina menunduk dan merasa sangat bersalah.
"Tunggu disini sekarang, aku harus mengejar dia sampai dapat" ucap Fajri.
Dia menoleh sebentar pada Nuri dan menatapnya khawatir. Namun dia berlari keluar untuk cepat mencari Ryan.
Nuri terdiam, takut dan banyak pertanyaan di benaknya. Nina membantunya untuk tenang dengan mengusap lengannya.
Nuri meminta kertas dan pulpen pada Nina. Dia pun mencarinya dan menyerahkannya padanya. Nuri menanyakan perihal Fajri yang tiba-tiba ada disini.
"Pak Fajri setiap malam datang dan minta untuk memberitahukan keadaan Mba Nuri sama saya. Juga menghubunginya kalo saya ngga bisa nungguin disini" ucap Nina dengan menunduk menyesali perbuatannya.
Nuri tak menyangka, dia kira tak ada siapapun di rumah sakit saat malam. Setelah Rania seharian menemaninya juga merawatnya, ternyata mereka menyuruh Fajri menunggu semalaman di rumah sakit. Dia menangis, kemudian menyentuh dadanya sendiri merasa sangat beruntung berteman dengan mereka.
"Maaf ya Mba Nuri, saya kira tadi kakak saya mau ngomong sebentar tapi...."
Nuri memegang tangan Nina dan menggelengkan kepalanya. Kemudian menuliskan bahwa Nina tidak usah khawatir, karena semua temannya sudah melindunginya.
"Tolong jangan bilang sama bu Rania ya soal ini. Dia pasti marah, semoga pak Fajri juga ngga ngomong soalnya dia jagain Mba juga ngga ada yang tahu kan!" ucap Nina.
__ADS_1
Mata Nuri membulat tak menyangka karena Fajri melakukannya tanpa sepengetahuan Rania dan Vero.
~Apa? Dia melakukannya tanpa sepengetahuan yang lain?~ ucap hati Nuri.