Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
124


__ADS_3

Dila memandang langit-langit kamarnya. Dia telah merelakan semuanya. Karena mencintai Yudi di serakah. Karena sifatnya itu dia hampir saja kehilangan keluarga yang baru beberapa tahun kembali setelah ketidaktahuannya.


Dila merelakan kepergian Yudi ke Italia malam itu. Rencana mereka ikut acara tahunan di Friutland pun dibatalkan. Mereka akan pergi berkeliling bersama esok hari sebelum pulang.


###


Yudi menatap jam di tangannya. Dia berdiri dari kursi dan menarik kopernya setelah mendengar penerbangannya akan segera lepas landas. Yudi menghela nafas dalam, meninggalkan Amerika dengan segala kenangan dan perjuangannya.


Malam itu dia pergi, tanpa diantar siapapun. Arumi mengatakan semua yang terjadi, jadi dia tak bisa datang untuk mengantarnya. Lagi pula mereka akan pulang setelah puas berjalan-jalan nanti.


Yudi menghela saat masuk ke pesawat, berjalan perlahan mencari tempat duduknya. Dan duduk dengan tenang hingga lepas landas.


Teringat saat pertama kali dia pergi lari dari Rania dan Dila. Yang sebenarnya terlalu membuatnya terkejut dengan semua kenyataan yang ada.


Dia tak bisa berpikir jernih saat dia mengatahui Rania kembali dan sebenarnya adalah saudara kembar Dila. Rasa bersalah yang pernah dia rasakan pada Rania membuatnya selalu mengingat momen bersamanya. Namun dia juga begitu sangat ingin tetap bersama Dila yang sudah menerimanya dan selalu menemani dalam suka maupun duka.


Yudi menatap awan dan langit dari jendela. Dia tersenyum dan bersyukur telah mendapatkan Dila. Tetap menjadi teman baik Rania. Dan sahabat baik seperti Vero.


###


Arumi, Vero dan Rania pamit pulang terlebih dahulu. Baru Dila menyusul setelah dia menyelesaikan urusannya di Harvard. Dila melambaikan tangannya pada mereka yang hendak masuk ke koridor pesawatnya.


Dila kembali ke apartemen. Dia melihat seseorang yang sedang menatap apartemen milik Marvin.


"Kau mencari Marvin?" tanya Dila pada pria tegap dan berkacamata itu.


"Tidak, aku menyewa apartemen ini darinya. Sekarang aku tinggal di sini. Kau tinggal di sana?" tanyanya setelah menoleh.


"Iya, tapi aku juga akan menyewakannya pada orang lain. Aku akan kembali ke Indonesia" jawab Dila.


"Wah, kebetulan sekali. Teman-teman ku sedang membutuhkan tempat tinggal, aku akan memberitahu mereka kalau ada yang kosong di sini. Kapan kau pergi? Maksudku, kapan kau pulang?" ucapnya dengan dialek India.


Dila tersenyum mendengar cara bicaranya.

__ADS_1


"Aku akan pulang beberapa hari lagi. Katakan pada mereka datang untuk melihat-lihat" ucap Dila.


"Tidak usah, aku tahu wanita cantik seperti anda pasti sangat rapi dan bersih dalam hal rumah" ucapnya memuji Dila.


"Ok, ok. Siapa namamu?" tanya Dila.


"Karan Sing, panggil saja Karan" jawabnya.


"Ok, Karan aku akan beritahu kamu jika aku sudah siap pulang" ucap Dila.


Dia masuk ke rumahnya setelah melambaikan tangan pada Karan. Dila duduk di sofa dan berpikir untuk mengunjungi klinik untuk pamit pada Marvin. Dia mengingat makanan kesukaan Marvin. Dia akan membelinya dan mengantarkannya untuk sarapan besok.


Dila keluar lagi untuk membeli bahan masakannya. Dia juga membeli barang yang dia perlukan.


Keesokan harinya, dia datang ke klinik mencari Marvin di meja perawat.


"Marvin?" tanya perawat baru menegaskan apa yang dia dengar.


"Iya Marvin. Putra Jason, pimpinan klinik ini" jawab Dila dengan yakin.


"Pak Jason sudah tidak memimpin di sini nona! Beliau dan keluarga telah pindah ke Ottawa, Kanada" jawab pria itu.


Dila menoleh, matanya membulat mendengar kabar itu. Tak ada yang mengatakannya. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Marvin berharap. Dila tersenyum dan pamit pada mereka. Dia pulang dengan bungkusan makanan yang sudah dia siapkan untuknya.


~Marvin dan Yudi sama-sama menghindari ku. Seharusnya aku tahu diri, aku sudah menyakiti mereka. Jelas mereka pergi begitu saja~


Dila berjalan kaluar dan menghentikan taksi. Sementara itu, Marvin mengintipnya dari jauh, dia tak pergi. Sengaja mengatakannya agar dia tak kembali berharap Dila mau kembali padanya. Marvin mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan teman-teman yang mau membantunya. Mereka menjawab dengan senyuman.


Dila sampai di rumah, dia bingung mau memberikan makanan itu pada siapa. Dia melihat Karan keluar dari rumahnya.


"Karan!"


Karan menoleh dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Ini, aku punya makanan, ambilah!" ucap Dila sambil menunjukkan bungkusannya.


Karan tersenyum manis dan mengambilnya.Dia kembali membuka pintu rumahnya.


"Hei, katakan pada temanmu lusa aku akan pulang. Jadi datang hari ini atau besok untuk menyewa rumah ini" ucap Dila menambahkan.


Karan membuat bulatan dengan jemarinya.


Dila masuk dan mulai merapikan rumah yang akan ditinggalkannya. Dia juga menaruh sebagian barang yang dia berikan pada orang yang akan menyewa rumahnya.


Tiba waktu Dila pulang, dia menatap rumah yang punya seribu kenangan selama belajar di sana. Menghela beberapa kalipun takkan membuatnya merasa lega. Dila merasa sudah menjadi teman yang buruk bagi Marvin. Bertahan agar dia tak tersakiti justru sangat menyakitinya.


Tujuan utamanya belajar, hanya itu yang dia dapat. Dia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Yudi dalam keadaan buruk. Yang membuatnya tak bisa melepaskan rasa khawatirnya pada Yudi. Dila tersenyum dengan alur takdir yang terjadi.


Dila memberikan sesuatu untuk Michael sebagai kenangan. Michael menerimanya dengan senang hati. Dila juga menitipkan sesuatu dalan sebuah tas kertas untu Marvin jika suatu hari dia pulang untuk melihat rumahnya. Michael berjanji akan memberikannya. Dia memberikan pelukan perpisahan pada Dila. Dia pergi dengan melambaikan tangannya pada Michael.


Terbang dari Massachseth ke Jakarta, Dila sampai dengan selamat. Dia mampir untuk makan sebentar dekan bandara, di tempat yang sering dia kunjungi. Dila memberitahu Vero untuk tak usah menjemput, karena dia akan menginap di rumah sewanya yang dulu pernah jadi tempatnya tinggal bersama Yudi.


Vero menatap pesan dari Dila dan menunjukkannya pada Arumi. Mereka saling bertatapan.


"Beritahu?" tanya Arumi meminta izin calon suaminya.


"Mereka sudah dewasa, sudah mengerti tanggung jawab masing-masing" ucap Vero melanjutkan pekerjaannya.


Arumi tersenyum, dia memeluk lengan Vero dan meyandarkan kepalanya di bahu calon suaminya itu. Vero menghela dan tersenyum.


Dila sampai di rumah sewa, dia melihat lampu rumah menyala. Dia tersenyum mengira Vero dan Arumi sudah sampai di sana dan hendak memberinya kejutan lagi. Dila masuk begitu saja.


"Aku pulang!" seru Dila.


Tanpa melihat dengan jelas, seorang pria sedang masak di dapur. Dila mengira itu adalah kakaknya. Pria itu berbalik dan menatapnya.


"Memangnya kakak bisa memasak? Siapa yang mengajari, Rania?" ucap Dila.

__ADS_1


Dia membuka sepatu dan masuk begitu saja. Saat berdiri dan berbalik, dia menatap pria lain di rumahnya. Dia menganga terkejut dan menjatuhkan tasnya.


__ADS_2