
Pagi sekali Rania sudah bangun dan mandi. Dia bersiap berangkat ke kedai, bu Vera menahannya.
"Mau kemana sayang?" tanya Bu Vera.
Rania menoleh kemudian membulatkan matanya. Rania lupa dia hendak melakukan apa. Dia melirik ke seluruh rumah dan berpikir apa yang akan dia lakukan.
"Mau jalan sama aku, iya kan?" ucap Bondan yang datang dan berdiri diambang pintu.
Rania berbalik dengan bersemangat, dia tersenyum lebar saat melihat bahwa itu Bondan. Dia mendekat dengan sedikit berlari. Tapi Bondan buru-buru mendekat, takut Rania benar-benar berlari.
Rania memeluk Bondan dengan erat. Bu Vera menatap dengan tangis di sisi matanya. Bondan memeluknya dengan lembut, dia lega Rania keburu dia peluk dan tak berlari.
Tak ada kata yang terucap, Bondan tetap diam menunggu Rania bicara. Namun yang terdengar hanya tangis yang pelan. Rania mengubah posisi pelukannya, tangannya yang awalnya berada di leher Bondan, dia pindahkan ke pinggangnya, kemudian menangis kembali di dadanya.
Bondan membiarkannya, dia hanya mengusap rambut Rania agar dia merasa lebih tenang.
Adit baru datang dari pekerjaannya, di ambang pintu dia hendak berseru memanggil kakaknya. Tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat Bondan berdiri memeluknya.
Bu Vera juga memberi kode agar dia tak mengatakan apapun. Adit tersenyum senang, Bondan bisa pulang untuk menemani kakaknya.
###
Yudi bersiap untuk mengunjungi Rania. Dia menyiapkan makanan kesukaan Rania dan juga makanan lain yang baik untuknya.
Meskipun dia berpikir banyak makanan yang bisa disiapkan oleh keluarganya di sana, Yudi tetap membuatnya. Dia ingin anaknya memakan masakan yang dia buat sedari perut ibunya.
Tak lupa dia juga menyiapkan satu box untuk Arumi. Mendengar adiknya juga sedang hamil, Yudi sangat bersyukur. Dia berjanji pada dirinya sendiri takkan melakukan hal yang membuat orang-orang yang dia sayangi menderita. Dia akan menerima semua keputusan Rania selama itu baik untuk anaknya.
Selesai masak, Yudi sudah siap berangkat menuju rumah Ruby. Dia menjalankan motornya dan melaju dengan riangnya.
Parkir di dekat taman, Yudi melihat Vero sudah berdiri di depan pintu hendak pergi ke kantor. Dia menatap Yudi tanpa sedikitpun senyum menyapanya.
Yudi menelan salivanya, dia merasa hubungan pertemanannya dengan Vero sudah tak bisa kembali seperti semula. Teman yang selalu ada untuknya itu sudah sangat kecewa padanya. Tapi Yudi menerima semuanya, dia juga mengakui kesalahannya. Semua demi Arumi adiknya.
"Hai Ver!" sapa Yudi.
"Hai!" jawab Vero sambil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Vero menatap box yang dibawa Yudi. Dia mengerti Yudi hendak membawakan masakan buatannya untuk Arumi. Dia berlalu begitu saja saat Bu Min mengantarkan tas yang dititipkan Arumi untuknya.
Yudi menatap kepergian temannya yang bersikap dingin itu. Kemudian masuk setelah mobil Vero menghilang di belokan jalan.
"Arumi ada bu?" tanya Yudi.
"Ada den, lagi di kamarnya habis nemenin bapak makan" jawab Bu Min.
"Dia udah makan belum Bu?" tanya Yudi.
"Belum den, Ibu sudah bilang untuk menyiapkan sarapan buat bapak sama non Dila aja. Katanya ibu mau makan kiriman aden" jelas Bu Min.
Yudi tersenyum, dia menaruh box di meja. Namun meja belum dibereskan. Yudi berpikir, Dila belum turun dan sarapan. Dia tak bertanya lagi setelah suara langkah kaki Dila dengan heels terdengar mendekat ke meja makan.
Dila yang menatap Yudi dari belakang, berjalan dengan perlahan.
"Hai Yud!" sapa Dila yang berusaha menahan diri.
"Hai Dil! Mau berangkat?" jawab Yudi dengan pertanyaan.
"Ya, ada meeting pagi di Mall" jawab Dila.
"Hmm" jawab Dila singkat.
Tak lama kemudian, Arumi datang setelah Bu Min memberitahunya ada Yudi. Arumi masih suka menghela keras saat melihat Yudi bersama Dila atau sekedar datang ke rumahnya. Rasanya masih terlalu besar kesalahan Yudi dan sulit untuk memaafkannya.
"Hei, sini. Ini semua makanan kesukaan mu, cepat makan. Dila juga sedang mencobanya" ucap Yudi sambil menyambut kedatangan Arumi.
"Aku minta datangnya agak siangan, kenapa jam segini?" keluh Arumi dengan suara pelan.
"Nggak apa-apa Rum, bagus dong jadi aku bisa nyobain masakan barunya Yudi" ucap Dila membela Yudi.
Arumi melirik, tak bisa dia menerima langsung sikap baik Dila dan Vero pada Yudi. Dia masih bersiaga, benar-benar trauma dengan kesalahan kakaknya itu.
Yudi diam saja meski tangannya menyiapkan sepiring makanan untuk Arumi.
"Banyak sekali buatnya, itu yang satu box nggak di buka?" tanya Dila yang menunjuk box yang masih tertutup di atas meja.
__ADS_1
"Ini untuk Rania, aku akan ke rumahnya setelah dari sini" jawab Yudi.
"Nggak usah ke sana lah, Rania sudah banyak yang memperhatikan makanannya. Ngapain kakak ke sana segala" ucap Arumi yang masih takut Dila tersinggung dengan ucapan Yudi.
Dila melirik pada Arumi, kemudian beralih pada Yudi untuk melihat bagaimana ekspresi Yudi yang diminta menjauhi Rania.
"Cuma mau ngasih makanan aja masa nggak boleh" ucap Yudi.
"Pokoknya nggak usah, Dila aja yang nganterin. Bukannya Bondan nginep di rumah Pak Nurdin, kamu juga mau diskusi tentang perusahaan di Ausi kan Dil?" ucap Arumi mengalihkan.
Yudi menatap Dila, dia juga berpikir mendengar Bondan sudah kembali dan menginap di rumah Pak Nurdin. Itu berarti Bu Vera sudah mengizinkan Bondan untuk menemui Rania.
"Aku nggak bisa langsung ke sana, ada meeting pagi" jawab Dila dengan mulut penuh makanan.
Yudi menatap Arumi yang berusaha mencegahnya untuk menemui Rania.
"Antarkan saja, titipkan pada Bu Vera. Ku dengar dari Adit, Rania pergi bersama Bondan sejak pagi" tambah Dila.
Dia menyelesaikan makannya dan berdiri sambil melap mulutnya dengan tisu.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Arumi.
"Hu uh, kenapa?" tanya Dila.
"Ini bawa saja, mampir sebentar ke kantor Vero. Katakan ini aku yang siapkan. Cepat!"
Arumi menyerahkan box yang masih utuh itu pada Dila. Yudi bereaksi seperti tak rela melihat Arumi memberikannya pada Dila untuk diantarkan ke kantor Vero. Tangannya hendak menggapai box itu kembali, namun Arumi menangkis tangannya.
Dila menatap dengan menganga melihat Arumi yang bersikeras, juga Yudi yang tak rela. Namun dia setuju dengan Arumi dan membawa box itu bersamanya.
Tanpa sempat menolak keinginan Arumi, box itu sudah hilang dari pandangan Yudi bersama kepergian Dila. Yudi menghela dengan keras sambil menepis tangan Arumi yang masih memegang tangannya.
Yudi tersenyum dan menatap dengan perasaan yang kesal pada adiknya.
"Kalau kamu nggak lagi hamil udah aku tendang Mi" Yudi bicara dengan gigi yang menutup rapat.
"Jangan macam-macam kak, aku udah deg-degan banget lihat Dila mau duduk bareng kamu di satu meja. Apalagi kamu dengan mudahnya bilang kalau kamu mau ngirim makanan buat Rania di hadapannya. Mikir dong kak!" Arumi kesal kemudian mengelus perutnya dan bergumam "Amit-amit".
__ADS_1
Yudi semakin kesal membaca gerak bibir adiknya, kemudian mencubit lengan Arumi dengan gemas.
Tak ada kata lagi yang bisa membuat Arumi tak khawatir dengan perasaan masing-masing dari mereka. Kekhawatiran Arumi memang sudah mendarah daging, bukan hanya karena di sedang hamil. Dia punya sifat jelek itu sejak kecil, sejak ditinggalkan kedua orang tua mereka.