
Marvin masih menggosok karpetnya dengan lap. Dila mendekat dan menepis tangannya, kemudian membubuhi noda kopi itu dengan campuran serbuk soda dan jeruk nipis. Dia menggosok pelan, kemudian melapnya dengan kain basah. Kemudian di lap lagi dengan lap kering. Dila mengambil hair dryer di rumahnya, dia mengeringkan karpetnya sebentar.
"Selesai!" ucap Dila.
Dia mencabut kabel hair dryernya dan menggulungnya. Marvin hanya menatapnya terkesima. Noda kuningnya hilang. Tapi Dila tak mengatakan apapun, dia berjalan ke arah pintu dan hendak pulang.
"Aku pulang!" ucap Dila.
Marvin bergegas berdiri dan mencegahnya. Dia mengerti bahwa dirinya terlalu berlebihan menepis tangan Dila hanya karena noda kopi.
"Maafkan aku!" ucap nya sambil memeluk Dila dari belakang.
Dila bukan marah karena Marvin over reaction terhadap noda. Dia justru merasa bersalah karena sudah kembali membandingkannya dengan Yudi.
Dila melepas tangan Marvin yang memeluknya, kemudian berbalik.
"Aku cape, mau istirahat dulu soalnya besok ada ujian" ucap Dila.
Dia mengecup bibir Marvin kemudian memeluknya sebentar dan pergi. Marvin hanya menatapnya, dia merasakan dinginnya sikap Dila lagi. Dia juga paham bahwa ada yang membuatnya berpikir lagi. Namun dia hanya bisa menghela nafas panjang.
Dila berbaring dan menutup matanya berusaha untuk tidur tapi tak bisa. Dia meraih ponsel dan melihat akun sosial medianya. Scroling beberapa postingan teman dan kenalannya.
Sebuah gambar muncul dan membuat matanya membelalak. Dila bangun dari ranjangnya dan duduk dengan wajah yang sangat terkejut.
"Apa ini? Kenapa ada foto ini?" gumam Dila.
Dia mencari tahu siapa yang mempostingnya. Namun nama itu tak dikenalnya. Melihat dari tanggal bergabung, akun itu baru bergabung dua hari yang lalu.
"Dia baru saja mempostingnya. Siapa dia?" Dila masih bergumam.
Kemudian salah satu temannya menelpon. Dila langsung mengangkatnya.
"Ya hallo!" sapa Dila.
"Apa yang ada di gambar itu kamu?" tanya temannya yang sama berasal dari Indonesia.
Dila tak bisa menjawab, dia kebingungan.
"Hei, jangan bilang itu kamu! ini menakutkan tahu" ucapnya.
Dila mendengar ucapan temannya dan berpikir semua orang pasti sudah melihatnya. Terutama teman dan saudara Marvin, karena gambar itu di post di group mereka.
"Nanti aku telpon lagi!" seru Dila.
Dila menutup telponnya dan menghubungi temannya yang pandai tentang teknologi komputerisasi.
__ADS_1
"Bisakah kau membantuku untuk menemukan siapa orang yang posting foto ini?" tanya Dila dengan cemas.
"Aku nggak yakin, tapi akan ku coba" ucap temannya.
"Makasih!" jawab Dila.
Dia berusaha untuk tidur lagi, tapi dia semakin khawatir dan tak karuan. Dia berpikir semalaman dan menatap gambar itu.
Gambar Rania yang baru ditemukan setelah dia diculik Davin. Foto yang memperlihatkan keadaannya yang sangat buruk. Dia ingat kejadian itu. Kejadian yang dia sebabkan, dendam Davin padanya yang dia lampiaskan pada Rania.
Dila menyesali semuanya, sudah sejak lama. Selalu ingat setiap detik dan merasa tersiksa dengan semua itu.
Dila berpikir, caption dalanm gambar itu mengatakan bahwa mereka seperti mengenalinya. Dila mulai sadar maksud dari postingan itu.
~Apa mereka mengira itu adalah aku?~ tanya hatinya.
"Tidak, itu bukan aku. Jelas itu bukan aku" gumam Dila.
Pikirannya berhenti saat menyadari hari sudah pagi. Kepala Dila berat, semalaman memikirkan semua yang muncul dalam benaknya. Dengan memaksakan diri, dia mandi.
Dia menatap dirinya saat berdandan, melihat dengan seksama pada kantung matanya. Menambah sedikit krim yang mampu menyamarkan kantung matanya. Merapikan pakaian dan rambutnya.
Hari ini ada ujian semester, dia sudah menyiapkan jauh sebelumnya. Tapi mengingat postingan semalam, dia hanya berharap apa yang dia persiapkan selama satu minggu ini tak hilang.
Dila membuka pintu dan keluar, Marvin ada di depan pintunya menunggu. Dia menyambut dan memeluk Dila.
"Hu uh, aku nggak bisa tidur, sekarang malah pusing banget" keluh Dila.
Marvin memeluk kepala Dila mengecupnya.
"Mau mampir ke kopi shop, katanya ada menu baru" ajak Marvin.
"Ide bagus, ayo!" Dila setuju.
Keluar dari apartemen, Dila langsung masuk ke mobil Marvin dan mereka menuju kampus. Sampai di dekat kampus, mereka berhenti dan mampir ke coffe shop dan memesan kopi.
Sambil menunggu, Marvin mengajaknya duduk di meja dekat jendela kaca. Beberapa orang memperhatikan mereka. Marvin menatap Dila karena salah satu dari mereka menunjuk ke arahnya.
Dia tersenyum karena mengira mereka memuji penampilan Dila yang modis. Marvin merasa bangga padanya. Dia memegang tangan kiri Dila yang ditaruhnya di atas meja. Sedangkan tangan kanannya memegang ponsel.
"Lihat apa lagi?" tanya Marvin.
"Jadwal, jadwal piket geng kita. Nggak ada nama ku di dalamnya, kenapa diubah ya?" keluh Dila.
Tak ada namanya di grup yang biasanya. Dia mencari namanya namun tak menemukannya.
__ADS_1
~Apa ini? Kenapa namaku hilang?~ tanya hati Dila.
Dila mengirim pesan pada salah satu temannya yang masih satu grup.
[Maaf Dila, kabar buruk membuat ketua geng mengeluarkan mu dari perkumpulan]
[Kabar buruk apa?]
[Aku yakin kau sudah melihatnya semalam]
[Ouh, itu bukan foto ku, itu bukan aku]
[Aku sangat menyesal, tapi aku tetap tidak bisa membantu mu untuk kembali]
[Tidak, Lisa, kamu harus percaya dengan ucapan ku]
[Maaf!]
Dila menghela melihat pesan terakhir Lisa. Matanya mendelik dan kesal. Marvin melihatnya dan cemas.
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Ya, aku bail-baik saja" jawab Dila dengan wajah masih kesal.
Dia berdiri dan tak sabar ingin masuk ke kampus.
"Mana kopinya, kenapa lama sekali!" keluhnya.
Marvin mengusap punggungnya dan meminta barista untuk cepat menyiapkan kopinya. Dila berjalan ke dekat mobil dan menunggu dengan wajah masamnya.
Tak berapa lama, Marvin datang dengan membawa kopi mereka. Dila cepat-cepat masuk dan duduk. Kopinya dia taruh di tempat menyimpan gelas. Marvin melihatnya.
"Benar tidak ada sesuatu yang terjadi?" Marvin semakin khawatir.
Dila mengangguk kemudian memakai safety beltnya.
"Katakan saja, siapa tahu aku bisa bantu" pinta Marvin.
"Maafkan aku, tapi aku nggak bisa katakan sekarang" Dila menolak untuk bicara.
"Oh, ok, aku bisa nunggu, kalau begitu sekarang kita ke kampus?" Marvin mencoba mengerti.
Sampai di kampus, Dila langsung pamit pada Marvin untuk segera ke kelasnya. Dia mencium Marvin di pipinya, kemudian berlari sambil meneteng kopinya.
Marvin tersenyum melihat kepergiannya. Kemudian dia menjadi heran karena beberapa mahasiswa terlihat sedang membicarakannya. Gestur tubuh mereka jelas sedang memperhatikan Dila. Marvin semakin penasaran apa yang terjadi.
__ADS_1
Marvin pergi ke kelas Dila untuk melihat apa dia baik-baik saja. Tapi sayang, ujiannya sudah dimulai. Dila terlihat sedang menyiapkan diri dan hendak memulai mengerjakan lembar ujiannya. Marvin pergi ke kelasnya sendiri dan mencoba untuk tak terlalu khawatir pada Dila.